Hime no Sarange: All about Korean Drama: Jumong Episode 18

Tuesday, March 2, 2010

Jumong Episode 18

Sinopsis Jumong Episode 18

So Seo No dibawa untuk menemui Bae Mang dan mengadakan perundingan.
"Aku tahu kau sangat pemberani." kata Bae Mang. "Tapi aku benar-benar tidak mengira kau akan datang sendiri kesini."
"Kudengar kau kehilangan pekerjaanku karena gagal melakukan pertukaran denganku." ujar So Seo No. "Aku minta maaf."
Bae Mang menggebrak meja. "Aku tidak ingin mendengar itu darimu!"
"Aku dan rombonganku melakukan perjalanan ke Go San." kata So Seo No memulai. "Itu adalah sebuah negara yang sangat jauh dan miskin. Jika sebuah rombongan pedagang pergi ke sana, tidak akan ada sesuatu yang berharga yang bisa dipertukarkan. Bukankah kau ingin tahu kenapa aku membawa rombonganku pergi ke negara semacam itu?"
So Seo No diam sejenak. Bae Mang mendengarkan dengan seksama.
"Aku dengar kau kehilangan segalanya karena aku." So Seo No melanjutkan. "Sekarang, aku akan mengembalikan segalanya padamu. Apa kau mau bekerja sama denganku?"
Di lain pihak, Do Chi memberitahu Young Po bahwa Jumong sudah mati karena dibunuh oleh bandit. Young Po senang sekali mendengarnya dan bergegas menceritakan hal ini pada Dae So dan Wan Ho.
Dae So tidak senang karena khawatir terjadi sesuatu pada So Seo No. "Lalu apa yang terjadi dengan rombongan pedagang?" tanyanya.
"Aku tidak mendapat informasi tentang itu." jawab Young Po.
"Jangan sembarangan bicara jika kau tidak melihatnya langsung dengan matamu sendiri." kata Dae So.
"Kakak, tolong percayalah padaku paling tidak untuk masalah ini." bujuk Young Po.
"Mengingat kebodohanmu yang lalu, aku tidak bisa mempercayaimu." kata Dae So seraya berjalan pergi.

Bu Young menemui Yoo Hwa untuk menceritakan hal yang didengarnya dari Do Chi tentang Jumong. Yoo Hwa menjadi panik dan cemas. Ia memutuskan untuk pergi menemui Yeon Ta Bal.
Dae So berkunjung ke rumah Yeon Ta Bal. "Kudengar So Seo No dan rombongan pedagang sedang dalam bahaya." katanya.
"Pangeran, sebuah kelompok pedagang pasti berkali-kali mengalami masalah dan bahaya di pejalanan." kata Yeon Ta Bal santai. "Ada juga saat kau menghadapi bandit dan hidupmu dalam bahaya. Sebagai seorang pedagang, kami harus menerima semua ini. So Seo No sangat kuat lebih dari yang kau kira. Jika ia mengalami masalah, ia pasti bisa melewatinya. Jangan khawatir."
Dae So meminta Yeon Ta Bal jangan terlalu yakin dan menyuruhnya mengirim orang untuk melihat keadaan rombongan. Yeon Ta Bal tertawa dan tetap kukuh pada pendiriannya.
Dae So memohon diri untuk pulang. Di saat yang sama, Yo Hwa memasuki gerbang utama rumah klan GyehRu.
Yoo Hwa bicara pada Yeon Ta Bal. Yeon Ta Bal meminta Yoo Hwa agar jangan khawatir, namun Yoo Hwa tidak bisa terima. "Aku merasa kau tidak benar-benar mengerti bahaya apa yang sedang menimpa rombongan itu." kata Yoo Hwa. "Aku dengar bahwa Jumong saat ini ditangkap oleh para bandit dan hidupnya dalam bahaya."
Yeon Ta Bal akhirnya mengirim Oo Tae untuk melihat keadaan rombongan So Seo No.
Jumong menunggu dengan cemas. Tiba-tiba anak buah Bae Mang muncul dan menyuruhnya keluar. Bae Mang memerintahkan anak buahnya untuk melepas tali yang mengikat Jumong.
"Maafkan kekasaran kami." kata Bae Mang.
"Maafkan kami!" seru anak buah Dae Mang mengikuti.
Jumong terheran-heran dan menatap So Seo No, mita penjelasan. So Seo No tersenyum menenangkan, mengisyaratkan bahwa perundingan berjalan lancar.

Sayong memuji kepintaran So Seo No dan Gye Pil sangat bersyukur mereka bisa melanjutkan perjalanan dengan selamat.
Jumong dan ketiga rekannya minum untuk merayakan keberhasilan rombongan mereka. Ma Ri bertanya-tanya kenapa So Seo No berani mempertaruhkan hidupnya demi mereka.
"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?" tanya Jumong.
"Yang mau aku katakan adalah... tidak mungkin So Seo No tidak memiliki perasaan khusus pada Pangeran." katanya, tersenyum dan melirik ke arah Hyeopbo. "Benar kan?"
"Benar!" seru Hyeopbo menyetujui. "Aku yakin dia tidak melakukannya karena dia adalah pemimpin rombongan, tapi ia melakukannya untuk orang yang dia suka."
Ma Ri dan Hyeopbo tertawa. Jumong mengalihkan perhatian dengan mengajak mereka minum.

So Seo No termenung sendirian di kamarnya dan tersenyum. Ia teringat kata-kata Jumong, "Aku akan menempatkan takdirku berdampingan denganmu."
So Seo No tertawa.

Rombongan pedagang melanjutkan perjalanan. Kelompok bandit dibawah pimpinan Bae Mang mendampingi mereka.
Di BuYeo, keadaan menjadi sulit karena garam sangat langka. Mo Pal Mo membagikan sekantung kecil garam pada para prajurit. Mu Song protes kenapa kantung garam itu begitu kecil. "Bagaimana aku bisa hidup dengan ini?" keluhnya.
"Kondisi kita sedang sulit. Tolong jangan mengeluh." kata salah seorang prajurit.
"Kau tahu bahwa kita sedang berperang dengan Han." ujar Mo Pal Mo. "Ini adalah perintah dari Raja. Untuk sementara ini, terima apa adanya!"
Setelah selesai membagikan garam, Mo Pal Mo menyerahkan garamnya pada Mu Song. "Apa ini?"
"Kau bilang kau punya istri yang harus kau urus, kan?" tanya Mo Pal Mo. "Aku hidup seorang diri, jadi aku bisa dengan mudah mencari cara untuk mendapatkan garam. Aku sangat berharap Pangeran Jumong kembali secepatnya."

Yeon Ta Bal berjalan-jalan di pasar. Di sana, ia melihat orang berkelahi memperebutkan garam.
Kondisi langkanya ketersediaan garam membuat pihak istana kalang kabut. Geum Wa bingung bagaimana cara menyelesaikan masalah ini.

Oo Tae kembali dan memberikan laporan pada Yeon Ta Bal bahwa So Seo No, Pangeran Jumong dan yang lainnya baik-baik saja. "Aku melihat mereka berjalan menuju Go San." ujar Oo Tae.
Yeon Ta Bal tersenyum lega. "Kita akan pergi ke istana. Bersiaplah."
Yeon Ta Bal berkunjung ke istana untuk menemui Geum Wa dan menawarkan bantuan. "Aku akan memberimu 200o karung garam." katanya.
Geum Wa tersenyum. "Jika kau melakukan itu, aku akan sangat berterima kasih. Tapi kau bukan tipe orang yang melakukan sesuatu tanpa mengambil keuntungan. Apa yang kau inginkan sebagai gantinya?"
Yeon Ta Bal tertawa. "Mendengarmu bicara seperti itu, aku sepertinya bukan ingin membantu, tapi melakukan perdagangan."
"Jika pun perdagangan, itu tidak masalah." ujar Geum Wa. "Katakanlah."
"Yang Mulia, keinginku adalah membuat bengkel senjata di GyehRu." kata Yeon Ta Bal. "Tolong kirimkan seseorang yang ahli dalam pembuatan persenjataan untuk mendirikan bengkel tersebut."
Geum Wa berpikir sejenak dan akhirnya menyetujui pertukaran itu.
Dalam perjalanan pulang, Yeon Ta Bal bertemu dengan Yoo Hwa dan mengatakan bahwa Pangeran Jumong baik-baik saja dan saat ini sedang melanjutkan perjalanan ke Go San.
Yeo Mi Eul dan para peramal yang lain mencari cara bagaimana menenangkan masyarakat. Namun mereka menemui jalan buntu.
Wan Ho menemui peramal Ma Oo Ryeong. "Hubungan Yeo Mi Eul dan Yang Mulia semakin lama semakin memburuk." katanya. "Aku takut hal ini akan mempengaruhi pemerintahan dan kita terpaksa mencari Peramal Suci Istana yang baru. Jika Dae So berhasil menduduki tahta, dia pasti akan mengangkatmu sebagai Peramal Suci yang baru."

Yeo Mi Eul menemui Yoo Hwa untuk menyatakan penyesalannya karena ia telah mengurung Hae Mo Su. Namun ia melakukan itu untuk melindungi BuYeo.
Yeo Mi Eul kemudian meminta tolong pada Yoo Hwa untuk membujuk Geum Wa karena Yoo Hwa lah satu-satunya orang yang saat ini mau didengarkan oleh Geum Wa. Tapi Yoo Hwa menolak.
"Tujuan Yang Mulia adalah mengalahkan Han." ujar Yoo Hwa. "Hal itu juga merupakan impian Jenderal Hae Mo Su. Aku akan membantu mewujudkan impian mereka."

Jumong dan rombongannya akhirnya sampai di Go San. Negara itu ternyata negara yang sangat miskin. Masyarakat di sana seperti gelandangan, bahkan untuk makan saja sangat sulit.
Jumong mencoba bertanya pada warga mengenai keberadaan gunung garam, namun para warga ketakutan dan melarikan diri ketika melihat mereka.
Ma Ri dan yang lainnya berkeliling kota tersebut untuk mencari petunjuk, namun tidak menemukan petunjuk apapun. Yang ada di sana hanyalah orang-orang miskin yang kelaparan. Jika memang di sana ada garam, tidak mungkin warga yang tinggal disekitarnya begitu miskin.
Mereka tidak menyerah. Keesokkan harinya, Jumong dan yang lain terus mencari petunjuk mengenai keberadaan garam namun tetap saja tidak menghasilkan apa-apa. Mereka mulai ragu.
Tiba-tiba seorang pria tua muncul.
"Sejak dahulu, masyarakat di Go San sangat miskin." Pria tua itu bercerita. "Tapi sejak ditemukannya gunung garam, masyarakat memperoleh kembali harapannya. Semua orang berpikir, gunung garam pasti bisa menghidupi mereka selamanya. Namun semua itu berubah setelah Cho Yoo Sung menjadi Peramal Go San. Dia percaya bahwa gunung garam dikutuk dan menutup semua jalan masuk ke gunung tersebut. Sejak saat itu, tidak pernah ada lagi orang yang bisa menginjakkan kaki di sana."
"Apakah kau bisa mengantar kami ke sana?" tanya So Seo No.
"Tentu saja."
"Lalu apa yang kau inginkan dari kami?" tanya Sayong.
Pria tua itu tertawa, kemudian menggeleng. "Aku tidak menginginkan apapun. Aku sudah hidup sangat lama. Sebelum aku mati, aku ingin memberi sedikit harapan pada warga."

Pria tua itu menunjukkan jalan menuju gunung garam. Semua jalan masuk ke gunung tersebut dijaga oleh prajurit. Sayong memberi saran agar mereka menyusup masuk saat hari gelap.
Ketika hari sudah gelap,mereka menyusup masuk. Mereka berjalan hingga sampai di sebuah gua. Pria tua itu masuk ke dalam gua dan membawa sebuah gumpalan besar seperti batu namun berwarna putih. Ma Ri menjilat batu putih tersebut dan berseru, "Ini garam!"
Jumong ikut menjilat batu tersebut dan tertawa senang. "Nona, ini benar-benar garam!"
Tiba-tiba sebuah panah menusuk si pria tua dan membuatnya mati seketika.
Beberapa prajurit datang dan mengepung mereka.
Jumong dan yang lainnya ditangkap dan dikurung dalam penjara.
Jumong hendak keluar untuk bicara dengan pemimpin para prajurit itu, namun So Seo No melarangnya. "Akulah pemimpin rombangan ini, jadi aku yang harus menemuinya." kata So Seo No.
Ia kemudian dibawa untuk menemui seorang peramal. "Dari mana asalmu?" tanya peramal itu.
"Namaku So Seo No, putri Yeon Ta Bal, kepala klan GyehRu." ujar So Seo No memperkenalkan diri.
"Kenapa kau datang ke Go San?"
"Aku mendengar bahwa di sini ada gunung garam, jadi aku datang untuk berbisnis." jawab So Seo No.
"Gunung garam itu adalah sumber kehidupan negara ini. Kau pikir siapa dirimu, merasa berhak berbisnis dengan hal yang begitu penting?"
"Seperti seekarang ini gunung salah bukan sesuatu yang dipergunakan untuk kepentingan masyarakat." ujar So Seo No. "Seumur hidupku, aku tidak pernah melihat sebuah negara dengan masyarakat yang begitu miskin seperti di Go San. Jika kau mau bekerja sama denganku, warga di negara ini bisa hidup lebih baik. Bagaimana bisa seorang peramal tidak memperhatikan kesulitan yang dialami warganya?"
"Kau adalah gadis yang cerdas." kata peramal itu. "Pemilik gunung garam itu bukanlah aku. Bukan pula warga negara ini. Dulu, Go San pernah di serang. Saat itu Go San bisa bertahan karena bantuan dari klan HaBaek. Aku tidak bisa melupakan kebaikan hati mereka, karena itulah aku memberikan gunung garam itu pada klan HaBaek. Pemilik gunung garam itu adalah seseorang yang berasal dari klan HaBaek."
"Tapi klan HaBaek sudah dimusnahkan oleh Han." kata So Seo No.
Peramal itu mengangguk. "Aku tahu." katanya. "Tapi, aku yakin bahwa di suatu tempat masih ada keturunan klan HaBaek yang masih hidup. Sampai au bisa bertemu dengan orang ini, aku akan terus melindungi gunung garam."
So Seo No terdiam dan berpikir. Tiba-tiba ia teringat kata-kata Jumong, "Kakekku adalah kepala klan HaBaek. Mereka sering berinteraksi dengan para pedagang, jadi mungkin saja ia mendengar tentang garam di Go San dari para pedagang tersebut."
So Seo No tersenyum lega.

Jumong mondar-mandir di dalam penjara dengan cemas. Salah seorang prajurit memanggil dan membawanya keluar.
Jumong diantar untuk bertemu dengan So Seo No dan sang peramal.
"Ia adalah Pangeran Jumong." kata So Seo No pada si peramal.
Peramal tersebut bangkit dari dudunya dan berjalan mendekati Jumong. Ia kemudian bersujud di hadapan Jumong.
Jumong lagi-lagi bingung dan menatap So Seo No dengan pandangan bertanya-tanya.
Di istana, Geum Wa memikirkan cara bagaimana mendapatkan garam. Ia mengumumkan pada para pejabatnya untuk mempersiapkan pasukan.
"Kita akan menyerang OkJo dan merebut garam yang kita butuhkan." kata Geum Wa.
Para pejabat terkejut.
"Jenderal!" panggil Geum Wa. "Aku akan memimpin sendiri pasukan kita. Bersiaplah."
"Ya, Yang Mulia!" ujar Jenderal Heuk Chi.
Dae So maju dan menawarkan diri untuk memimpin pasukan, menggantikan Geum Wa. Dae So tidak memikirkan apa-apa kecuali cara bagaimana memperoleh pengakuan Geum Wa.

Yang Jung mendengar informasi mengenai rencana BuYeo untuk menyerang OkJo. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan pasukan. "Aku akan melindungi OkJo." kata Yang Jung.
"Lalu bagaimana dengan pasukan bantuan yang akan dikirimkan ke Sonam?" tanya anak buah Yang Jung.
Yang Jung tersenyum. "Kita tidak perlu mengirim pasukan. Alasanku meminta pasukan bantuan dari Geum Wa hanyalah untuk mengujinya."

Mo Pal Mo mulai sibuk memproduksi senjata untuk persiapan perang, sementara Dae So dan Young Po mempersiapkan pasukan.
Jenderal Heuk Chi memberitahu Geum Wa bahwa Hyeon To City mengirimkan pasukan bantuan ke OkJo. Informasi itu cukup mengejutkan Geum Wa.

Geum Wa memutuskan untuk menyerang OkJo hari ini. Namun tanpa disangka-sangka Jumong dan So Seo No telah kembali dan mememui Geum Wa.
"Siapa gadis yang bersamamu?" tanya Geum Wa pada Jumong.
"Namaku So Seo No, putri Yeon Ta Bal." ujar So Seo No memperkenalkan diri.
"Untuk apa kalian datang kemari bersama?" tanya Geum Wa lagi.
"Yang Mulia, kita tidak perlu berperang dengan OkJo." kata Jumong.
"Apa maksudmu?"
"Aku, bersama So Seo No dan rombongan pedagang Yeon Ta Bal, baru saja kembali dari Go San. Di sana, kami menemukan sebuah gunung garam yang bisa digunakan oleh BuYeo. Yang Mulia, BuYeo tidak lagi perlu mengemis pada Han demi garam. Kita bisa memperoleh garam sebanyak yang kita butuhkan."

6 comments:

Anonymous said...

jumong keren dan cewek di samping jumong cantik ya. Kayak aku..dilihat dari gunung...hi...hi...

ari said...

makin keren put, ga sabar mau baca yg ke 19 @_@..dan pengen nonton filmnya

Ikha said...

Gimana ya reaksinya pangeran lain?

secret said...

kak.....gos nya dilanjutin dongsssssssssssssssssss....seru2 nya nih

Anonymous said...

Lanjut dunk Jumong na..
Please...
Keren banget sih...

shant azka said...

put kapan episode selanjutna, dah ga sbar neh...........

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda