Hime no Sarange: All about Korean Drama: Jumong Episode 25

Tuesday, March 9, 2010

Jumong Episode 25

Sinopsis Jumong Episode 25

"Kejar mereka!" seru prajurit Han.
"Lari!" seru Jumong pada teman-temannya.
Percuma saja, senjata yang Jumong dan teman-temannya gunakan tidak mempan melawan pasukan Han itu. Jumong dan teman-temannya melarikan diri.
"Aku pernah mendengar tentang mereka, tapi tidak tahu jadinya benar-benar seperti ini!" seru Oyi, masih tegang.
"Mereka disebut Iron Army." kata Ma Ri. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Kita tidak akan menang berhadapan langsung dengan Iron Army." kata Jumong. "Mereka pasti sedang mencari kita sekarang. Aku akan menghadapi dan mengalihkan perhatian mereka. Kalian selamatkan para pengungsi."
"Itu terlalu berbahaya!" kata Oyi.
"Jangan khawatir. Lakukan saja yang kukatakan." kata Jumong, sepertinya sudah memiliki sebuah ide di kepalanya.

Saat hari gelap, Jumong dan kawan-kawannya mengintai pasukan Han. Iron Army berkeliling untuk memeriksa, sementara pasukan Han biasa menjaga para pengungsi.
Oyi, Ma Ri dan Hyeopbo menyerang pasukan Han biasa dan membebaskan para pengungsi.
Jumong menghadapi Iron Army sendirian. Ia sengaja memanah ke baju perang Iron Army agar mereka menuju ke arahnya. Setelah itu, ia berdiri dan menembakkan panah tepat menuju ke bagian wajah Iron Army. Iron Army terjatuh. Itulah titik kelemahan mereka, satu-satunya tempat yang tidak dillindungi oleh baju perang yang mereka gunakan.
Jumong menang.

Keesokkan harinya Yang Jung mendapat kabar bahwa Iron Army dan pasukan yang lain telah dikalahkan dan para pengungsi melarikan diri.
"Siapa?! Siapa orang yang berani berperang melawan Iron Army?!" seru Yang Jung marah.
"Itu adalah serangan mendadak. Kami tidak berhasil menemukan identitas si penyerang!"
"Kirim pasukan untuk menangkat mereka!" seru Yang Jung penuh kemarahan.
Kota Hyeon To mengirimkan beberapa Iron Army dan banyak pasukan Han biasa untuk mencari si pelaku.

Ahli persenjataan Han, Sa Nong Seung, telah tiba di Hyeon To. Yang Jung menceritakan semua hal yang terjadi di sana. Ia juga bercerita bahwa Pangeran BuYeo, Dae So, akan mengadakan kesepakatan dengannya. Dae So menginginkan rahasia metode pembuatan senjata besi.
Untuk pertama kalinya, Dae So bertemu dengan calon istrinya, Yang Seol Ran. Seol Ran ragu apakan Geum Wa akan menerima pernikahan mereka. Dae So mengatakan padanya agar tidak perlu khawatir. Ia pasti akan menepati janjinya.
Na Ru bertanya apa Pangeran Dae So benar-benar ingin menikahi putri Yang Jung. "Bagaimana dengan Nona So Seo No?" tanyanya.
"Aku akan menjadi Raja BuYeo." jwab Dae So. "Tidak akan ada yang peduli jika aku memiliki 10 orang selir. Menikah dengan Seol Ran, tidak berarti apa-apa untukku. Yang terpenting adalah bagaimana agar So Seo No mau menerimaku."

Yeon Ta Bal sudah tiba di Hyeon To, namun mereka tidak akan mudah bertemu dengan ahli persenjataan. Ia kemudian mengirimkan permintaan untuk bertemu dengan Yang Jung. Yang Jung menerima.
Yeon Ta Bal berniat melakukan transaksi dengan ahli persenjataan.

Peramal Tertinggi Ma Oo Ryeong melakukan upacara dan berusaha petunjuk cara menyelesaikan masalah yang terjadi. Orang yang dia anggap harus mereka temui terlebih dahulu perihal masalah tersebut adalah Yeo Mi Eul.
Peramal So Ryeong dan Bei Er berkunjung ke ruangan Yoo Hwa.
"Anak ini disebut Putri Bintang." kata So Ryeong memperkenalkan Bei Er. "Bahkan Yeo Mi Eul mengakui kemampuannya. Putri Bintang ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Pangeran Jumong harus meninggalkan kota BuYeo." kata Bei Er. "Pangeran Jumong harus meninggalkan BuYeo untuk selamanya. Jika tidak, ia akan mati."
Jumong dan kawan-kawannya mengantarkan para pengungsi ke perbatasan Hyeon To.
Para pengungsi berjalan dengan sangat lambat. Jika seperti ini terus, mereka akan diserang oleh pasukan Han.
"Hyeopbo, kau harus mengantar para pengungsi pergi ke tempat mereka aman dari pasukan Han." kata Jumong. "Aku akan mengalihkan perhatian pasukan Han."

Yeon Ta Bal menemui Yang Jung. Ia mengatakan pada Yang Jung bahwa ia ingin diberi kesempatan untuk bertemu dengan ahli persenjataan Han, Sa Nong Seung. Yang Jung tersenyum dan menyatakan bahwa ia akan mengatur pertemuan itu.
So Seo No menunggu ayahnya di luar. Di sana, ia berpapasan dengan Yang Seol Ran, yang berjalan melewatinya.
"Nona, Pangeran Dae So ada di Hyeon To." Oo Tae datang untuk melapor.
"Apa kau tahu kenapa dia di sini?" tanya So Seo No terkejut.
"Ia datang untuk menyesuaikan list barang-barang untuk diperdagangkan." kata Oo Tae.
"Dia datang hanya untuk itu?!" kata So Seo No curiga.

Yang Jung mengatur pertemuan antara Yeon Ta Bal dengan ahli persenjataan Han, Sa Nong Seung. Setelah basa-basi beberapa saat, Yeon Ta Bal menyatakan keinginannya.
"Aku ingin membeli senjata Han." katanya.
Sa Nong Seung dan Yang Jung sangat terkejut.
Sa Nong Seung marah. "Kenapa ini?! Jika aku harus melakukan transaksi yang tidak direncanakan, aku akan pergi!" serunya pada Yang Jung, kemudian beranjak pergi.
"Beraninya kau bersikap kasar pada Sa Nong Seung!" teriak Yang Jung marah pada Yeon Ta Bal. "Apa maksudmu, kau ingin membeli senjata dengan tiba-tiba?!"
"Dengarkan aku terlebih dahulu." kata Yeon Ta Bal. Ia lalu menjelaskan pada Yang Jung bahwa menjual senjata padanya di saat seperti ini akan menguntungkan untuk Han. Selain itu, jika ini berhasil, posisi Yang Jung akan naik.
Yang Jung berjanji akan bicara pada Sa Nong Seung.
Yeon Ta Bal tahu bahwa jika hanya dengan membeli, mereka tidak akan bisa mengetahui teknik pembuatan senjata. Namun lama-kelamaan, jika mereka terus melakukan transaksi dengan Han, mereka yakin akan menemukan rahasia teknik dasar yang digunakan.
Young Po berkutat sendiri dengan dirinya. Ia berpikir bagaimana cara memenangkan kompetisi ini. Do Chi menyarankan padanya bahwa ia harus melenyapkan Yeon Ta Bal. Pangeran Dae So selalu mendapat bantuan dari Yeon Ta Bal, sementara Pangeran Jumong berhasil menemukan gunung garam atas bantuan Yeon Ta Bal.
"Lagipula," Do Chi melanjutkan. "Aku curiga ia punya niat tersendiri berada di BuYeo dalam jangka waktu yang lama. Yeon Ta Bal dan putrinya sedang tidak ada di BuYeo sekarang. Ini saat yang baik bagi Pangeran untuk bertindak."
Young Po segera mengerahkan pasukan ke rumah GyehRu dan mengambil catatan laporan-laporan yang ada disana.
"Aku curiga ada mata-mata di klan ini. Karena itulah aku ingin menyelidiki." kata Young Po pada Yeon Chae Ryeong.
Young Po membaca catatan laporan tersebut dan membaca satu per satu isinya. Ia menemukan satu laporan, kemudian menyerahkannya pada Geum Wa. Itu adalah laporan tentang kedatangan ahli persenjataan Han. Yeon Ta Bal tidak melaporkan hal tersebut pada Geum Wa.
Geum Wa marah padanya.

Jumong, Oyi dan Ma Ri berpapasan dengan beberapa Iron Army. Jumong melepaskan panah ke wajah para prajurit itu dan berhasil mengalahkan mereka dengan mudah.
Malamnya, Jumong menyiapkan jebakan untuk Iron Army. Ia sengaja memancing Iron Army agar mengejarnya, kemudian mengalahkan mereka dalam sekejap.

Berita kekalahan Iron Army dan keberhasilan para pengungsi melarikan diri sampai di telinga Yang Jung dan Dae So.
"Bukankah kalian sudah mengirim pasukan untuk mengejar mereka?!" tanya Yang Jung.
"Mereka bilang, orang yang menyelamatkan para pengungsi memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Jumlah mereka hanya sedikit, tapi kekuatan persenjataan mereka sangat hebat." kata pengawal Yang Jung, Gong Hu, melaporkan.
"Persenjataan?" gumam Yang Jung, shock.

Hyeopbo pergi ke Hyeon To untuk bertemu dengan Jumong, Ma Ri dan Oyi.
"Apakah para pengungsi selamat?" tanya Jumong.
"Ya." jawab Hyeopbo. "Aku melihat sendiri mereka melewati perbatasan Hyeon To dan menuju ke BuYeo."
Jumong dan yang lainnya lega. "Kerja bagus."
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Hyeopbo.
"Tentu saja." jawab Oyi. "Kakak mengalahkan semua pasukan."
Jumong dan yang lainnya kemudian pergi makan. Jumong meminta bantuan Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo untuk mencari tahu berapa jumlah pengungsi yang ditawan dan dimana letak perkemahan budak.
Oyi bingung. "Apa yang akan kakak lakukan?" tanyanya.
Jumong hanya tersenyum. "Apa kalian tahu kenapa aku mundur dari kompetisi putra mahkota?" tanya Jumong. "Aku mundur karena aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika menjadi Putra Mahkota. Aku merasa malu karena berusaha mendapatkan gelar Puta Mahkota tanpa tahu apa maksud dari gelar tersebut. Namun sekarang, aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan."
Sayong dan Gye Pil tiba-tiba datang dan melihat Jumong. "Pangeran!" serunya terkejut.

Na Ru memberitahu Dae So bahwa ia melihat Yeon Ta Bal dan So Seo No di Hyeon To. Dae So segera pergi untuk menemuinya.

Gye Pil mengantarkan Jumong ke rumah tempat mereka tinggal.
"Nona, lihat siapa yang datang!" kata Gye Pil. Ia memanggil Jumong masuk.
Gye Pil keluar. Ia kemudian berbincang dengan Sayong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo.
"Ma Ri dan yang lainnya pamer bahwa mereka berhasil mengalahkan Iron Army dan menyelamatkan para pengungsi.
Gye Pil terkejut. "Kalian sudah gila! Sayong, mereka gila!" serunya.
Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo tertawa bangga.
So Seo No menahan napas mendengar cerita Jumong. "Itu sangat berbahaya. " katanya.
"Aku tidak bisa meninggalkan para pengungsi itu begitu saja." kata Jumong, tersenyum.
"Aku bersyukur kau selamat." So Seo No berkata lega.
Jumong terkejut melihat cincin yang dikenakan So Seo No. Ia memandang So Seo No dan tersenyum.
"Apa kau datang kemari untuk bertarung dengan pasukan Han?" tanya So Seo No cemas.
"Aku ingin melihat para pengungsi dengan mataku sendiri." kata Jumong. "Aku juga ingin pergi ke Nan Nak, Imdun dan Jinbun. Aku tidak akan melakukan hal yan bodoh, jadi Jangan khawatir. Nona, untuk apa kau ke Hyeon To?"
"Ayah ingin membeli senjata Han untuk membantumu menciptakan senjata baja." jawab So Seo No. "Kita hanya tinggal menunggu hasilnya."
Di saat yang sama, Dae So tiba di rumah So Seo No. Ia mengetuk pintu kamar So Seo No, kemudian masuk. Ia terkejut melihat Jumong ada di sana.
"Kudengar kau meninggalkan BuYeo." kata Dae So begitu melihat Jumong. "Apa yang kau lakukan di Hyeon To?"
"Aku hanya singgah disini dalam perjalananku." jawab Jumong tenang.
"Jadi kalian sengaja bertemu di sini?"
"Kami bertemu secara tidak sengaja." kata So Seo No.
Dae So tertawa. Ia menyuruh mereka untuk duduk.
"Saat ini, keadaan BuYeo sedang tidak stabil, dan kau, sebagai seorang pangeran, melakukan perjalanan dengan bebas. Hidupmu pasti sangat menyenangkan." kata Dae So tajam.
"Kenapa kau datang kemari, Kak?" tanya Jumong, tidak terpengaruh pada ucapan Dae So. "Sering melihatmu disini, membuatku berpikir bahwa kau membuat semacam perjanjian rahasia."
"Apa?!" tanya Dae So marah. "Apa kau mencurigai aku?"
"Aku hanya penasaran, kenapa calon Putra Mahkota sepertimu datang ke Hyeon To ketika BuYeo sedang berada dalam bahaya."
So Seo No melirik Dae So, kelihatan senang karena Dae So dipojokkan.
"Aku kemari untuk merundingkan perdagangan. Tidak ada perjanjian rahasia seperti yang kau maksud!" bentak Dae So marah.

Dae So kembali ke kamarnya. Ia memanggil pengawal Yang Jung, Gong Hu.
"Apa kalian akan mengenali orang yang menolong para pengungsi dan menyerang pasukan Han, jika melihatnya?" tanya Dae So.
"Ya. Kurasa begitu." kata Gong Hu. "Jika pasukan yang pernah bertarung dengannya melihatnya. Tapi kenapa kau menanyakan ini?"

Jumong beranjak dari duduknya dan memohon diri untuk pamit pada So Seo No. "Aku akan pergi ke Imdun dan Jinbun. Mungkin akan butuh waktu dua bulan."
"Berhati-hatilah." kata So Seo No cemas.
Jumong tersenyum dan memeluk So Seo No.
Tiba-tiba Ma Ri datang. "Kakak, pasukan Han sedang menuju kemari!" katanya.
So Seo No menyuruh Jumong dan yang lainnya lari lewat pintu belakang. Ternyata pasukan Han sudah mengepung tempat itu. Terjadi pertarungan sengit 4 lawan banyak dengan pasukan Han. Jumong dan yang lainnya berhasil melarikan diri.

Keesokkan harinya, Dae So kembali ke BuYeo dengan membawa beberapa pandai besi Han untuk membuatkan senjata bagi BuYeo.
"Darimana kau menemukan mereka?" tanya Geum Wa.
"Mereka adalah para pengungsi." kata Dae So berbohong. "Mereka melarikan diri bengkel pandai besi Hyeon To dan sudah menjadi budak dalam jangka waktu yang lama."
Geum Wa memerintahkan Dae So untuk membawa mereka ke bengkel agar bisa melihat senjata yang mereka hasilkan.
Para pandai besi Han dibawa ke bengkel pandai besi BuYeo. Mereka melihat-lihat bengkel itu dengan ekspresi meledek.
"Ini hanya bisa digunakan oleh para wanita untuk memasak." ejek ketua pandai besi Han, mengambil pedang hasil buatan Mo Pal Mo dan anak buahnya.
"Seburuk apapun kelihatannya, tapi senjata itu dibuat dengan darah dan keringatt para pekerja di bengkel ini!" seru Mo Pal Mo marah.
"Aku akan menunjukkan senjata yang benar-benar dibuat dengan darah dan keringat." kata ketua pandai besi Han. "Mulai saat ini, ketika kami bekerja, tidak boleh ada satu orang pun yang masuk."
"Jika kami tidak disini, bagaimana kami bisa mempelajari pembuatan senjata?" tanya Mo Pal Mo.
"Jika kalian tidak menuruti perintahku, aku akan pergi sekarang juga!"
Keeseokkan harinya, pedang buatan pandai besi Han telah selesai. Mo Pal Mo datang dan melihat pedang tersebut dengan cermat.
Geum Wa memasuki bengkel dan memukulkan pedang tersebut ke besi. Pedang itu utuh, tidak patah dan tergores sama sekali. Geum Wa mengambil pedang yang lainnya dan memukulkan pedang itu ke besi. Pedang tetap utuh.

Jumong dan ketiga kawannya mengendarai kuda mereka.
"Kakak, kau tidak kembali ke BuYeo?" tanya Hyeopbo.
"Kita akan ke gunung Cho Mu." kata Jumong.
Sesampainya di gunung Cho Mu, Jumong memandang padang rumput di sana dengan sedih.
Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo bingung.
"Kakak, kenapa kau ingin datang ke sini lagi?" tanya Ma Ri.
"Sebelum kembali ke BuYeo, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian." ujar Jumong. "Aku kembali ke BuYeo bukan sebagai seorang pangeran, melainkan sebagai keturunan Pasukan Da Mul. Ayah kandungku adalah Jenderal Pasukan Da Mul, Hae Mo Su."
Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo terkejut.
Jumong menarik napas, kemudian melanjutkan, "Cita-cita ayahku yang belum tercapai, kini akan menjadi cita-citaku. Aku akan menyelamatkan para pengungsi yang menderita karena negara Han dan merebut kembali wilayah kami yang hilang. Untuk alasan itulah aku kembali ke BuYeo."
Jumong menatap teman-temannya. "Ma Ri, Hyeopbo, Oyi, apa kalian bersedia berjuang bersamaku?"
"Ya!" jawab mereka bersamaan.

5 comments:

wyne said...

I am one of people who are addict of JUMONG. I really like the story specially when he met his son YURI again, it was so touching. I have watched the entire movie and it was thrilling, touching, full of action and the love triangle of Jumong, Soya and seoseo no

fatihrizky said...

kereeeeennn.....

sayang Jumong dan So Seo No akhirnya ga bersatu.... hiks

apa film kolosal khasnya begini ya?

あり said...

hiks..hiks..iya klo so soe no & jumong ga bersatu..put ga sabar pengen lihat lanjutannya

Anonymous said...

ingat QSD, sama BIDAM nggak jadi, sama Yushin juga nggak jadi. Tipikal drama saeguk....yang happy ending gitu, biar indah dikenang.

Anonymous said...

duh liat SoSeoNo dipeluk Jumong, aduh kyknya dah cinta mati yach...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda