Hime no Sarange: All about Korean Drama: Jumong Episode 33

Monday, March 15, 2010

Jumong Episode 33

Sinopsis Jumong Episode 33

"Padamkan api! Padamkan api!" prajurit Han kelabakan mematikan api, sementara pasukan BuYeo memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang Han.
Pasukan Jumong dan Pasukan Geum Wa bertemu di markas perkemahan Han. Mereka menyerang dan membunuh pasukan Han. Sepertinya keadaan sangat menguntungkan bagi BuYeo.
Geum Wa dengan bersemangat menyerang musuh.
Jenderal Heuk Chi khawatir. "Yang Mulia, terlalu riskan bagimu untuk bertarung. Kau harus kembali sekarang." katanya.
"Pergi dari hadapanku!" kata Geum Wa, tidak memedulikan kata-kata Heuk Chi.
Geum Wa maju kembali untuk bertarung.Ia melihat Yang Jung menaiki kudanya, hendak melarikan diri.
Di lain sisi, Cheon Dong, yang ikut bertarung, kalah dari Iron Army dan tertusuk.
"Cheon Dong!" teriak Jumong, maju dan membunuh Iron Army yang telah menusuk Cheon Dong.
"Komandan... Tolong balaskan dendam... untuk orang tuaku..." Cheon Dong berusaha keras bicara. Cheon Dong menangis, kemudian meninggal.
"Cheon Dong!" panggil Jumong, menetesan air mata. Ia mengambil pedang yang terjatuh di tanah, dan dengan kemarahan yang meledak, menyerang Pasukan Han.
So Seo No, Sayong dan Oo Tae tidak ikut bertarung. Tentu saja, kerena mereka bukan prajurit, melainkan supplier.

"Komandan, aku menemukan gubernur Jinbun." kata Oyi, mengajak Jumong.
Jumong dan kawan-kawannya membunuh pengawal Gubernur Jinbun. Setelah itu, tanpa ragu, Jumong menebas kepala Gubernur Jinbun hingga tewas.
Geum Wa menyerang prajurit Han. Tanpa ia sadari, ada satu orang prajurit yang bersembunyi di balik gerobak dan mengarahkan panah padanya. Geum Wa tertusuk, tepat di dada. Ketika si penembak hendak maju untuk menyerang, Geum Wa membunuhnya.
"Yang Mulia!" teriak Song Ju.
"Jangan biarkan pasukan BuYeo tahu." kata Geum Wa, kesakitan. "Bantu aku berdiri."
Dengan tertatih-tatih, Geum Wa berjalan. Makin lama pandangannya semakin kabur. Geum Wa pingsan.

Saat subuh, pertarungan selesai. Yang Jung memerintahkan pasukannya untuk mundur.
Yang Jung sangat terpukul karena kekalahan itu. "Brengsek kau Jumong!" gumamnya marah.

BuYeo menang.
"Hidup BuYeo!" teriak Jumong, diikuti oleh pasukannya.
"Hidup Yang Mulia!" teriak Jumong lagi.
Seluruh prajurit sangat senang, mungkin kecuali Dae So dan Young Po.
"Kumpulkan prajurit yang mati." kata Jumong. "Kita akan kembali ke markas."
Jumong menoleh, menarap Dae So, kemudian mendekatinya. "Kau bertarung dengan baik, Dae So." katanya.
"Kau juga." kata Dae So terpaksa.

Jumong memerintahkan Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo untuk mencari tahu dimana Pasukan Han mundur. Ia ingin menyerang mereka sampai mereka lenyap, kemudian mengambil alih Jinbun dan Imdun.

Para pengungsi menangisi kematian Chaeon Dong.
"Aku pasti akan membalaskan dendam Cheon Dong." kata Jumong.berjanji.
"Komandan!" panggil Man Ho, datang berlari-lari. "Aku melihat Gubernur Imdun melarikan diri dari markas Pasukan Han."
"Tolong izinkan kami untuk memenggal kepala Gubernur itu untuk membalaskan kematian Cheon Dong!" kata pengungsi.
"Gubernur hanya dikawal oleh sedikir prajurit." kata Man Ho. "Izinkan aku pergi dan membunuhnya!"
Jumong berpikir sejenak, kemudian pergi bersama Man Ho dan para pengungsi.
Na Ru mendengar pembicaraan mereka, dan melaporkan pada Dae So.
Dae So memerintahkan Na Ru untuk memberi informasi tersebut pada Yang Jung.
Na Ru ragu, namun Dae So meyakinkannya bahwa BuYeo sudah memenangkan perang dan ia tidak perlu khawatir.

Geum Wa memaksakan diri untuk terlihat kuat, walaupun sebenarnya kondisinya kritis.
Dae So, Young Po dan yang lainnya mengabarkan kemenangan BuYEo padanya.
Geum Wa senang. Ketika hendak berdiri, ia terjatuh.
Na Ru memberi informasi pada Yang Jung. Yang Jung tersenyum senang, kemudian memerintahkan prajuritnya intuk memanggil Iron Army.

Denyut nadi Geum Wa sangat lemah. Ia harus segera dibawa kembali ke BuYeo. Namun Jumong tidak juga datang.

Di tempat lain, Putri Bintang merasakan pertanda tidak baik. Burung Berkaki Tiga tiba-tiba lenyap. Yeo Mi Eul sangat cemas.
Yeo Mi Eul memanggil Yang Tak, orang yang bertanggung jawab disana, kemudian meminta tolong padanya mencari kabar tentang Jumong.

Peramal Ma Oo Ryeong merasakan sesuatu yang baik akan terjadi pada Dae So. Ia melihat Dae So dengan sangat megah. Mungkin ini adalah pertanda baik bagi masa depan Dae So.
Wan Ho sanagt senang mendengarnya, sementara Yoo Hwa menjadi cemas. Ia juga merasakan firasat buruk.

Waktu telah berlalu, Jumong tak juga muncul di markas Pasukan BuYeo.
Tiba-tiba Man Ho datang dengan babak belur dan menangis.
"Ada apa?" tanya Dae So. "Dimana Jumong."
"Pangeran..." Man Ho menangis.
"Aku tanya, dimana dia?!" tanya Young Po.
"Ketika kami hendak kembali setelah membunuh Gubernur Imdun, kami disergap oleh Iron Army." kata Man Ho. "Semua pengungsi terbunuh."
"Bagaimana dengan Jumong?" tanya Dae So. "Apa yang terjadi padanya?"
"Walaupun Komandan bertarung dengan Iron Army sampai akhir, tapi aku tidak tahu... apakah ia masih hidup atau tidak... karena aku pingsan setelah tertusuk." Man Ho menangis.
Dae So memerintahkan Jenderal Heuk Chi untuk mencari Jumong.

Ma Ri dan Hyeopbo belum mengetahui berita buruk tentang Jumong. Mereka malah memerintahkan pasukan agar siap menyerang Jinbun dan Imdun.
Tiba-tiba Oyi datang dengan raut wajah sedih. "Komandan menghilang." katanya. "Dia diserang oleh Iron Army setelah berhasil membunuh Gubernur Imdun. Semua pengungsi Juga mati. Yang masih hidup hanyalah Paman Man Ho."

Oo Tae memberitahu So Seo No. "Pangeran Jumong menghilang. Kita tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati." katanya.
So Seo No sangat terpukul. "Apa maksudmu? Dia menghilang? Apa yang terjadi?!"
Oo Tae menunduk dengan wajah sedih.
So Seo No menangis, dan pergi mencari Jumong.

Iron Army yang menyerang Jumong melapor pada Yang Jung.
"Jumong jatuh dari tebing setelah tertusuk panah." kata Iron Army.
"Apakah aku dia mati?" tanya Yang Jung.
"Dia mungkin mati." jawab Iron Army.
"Hahahaha..Bagus sekali!" kata Yang Jung tertawa. "Kalian telah mengambil jantung Pasukan BuYeo!"
Yang Jung suga sudah mengetahui bahwa Geum Wa sekarat. Ia kemudian memerintahkan pasukannya bersiap menyerang BuYeo.
So Seo No, Ma Ri, Oyi, Hyeopbo, dan yang lainnya mencari Jumong di sepanjang sungai. So Seo No menangis-nangis histeris.
"Dia tidak mungkin mati semudah itu." kata So Seo No. "Kita harus menemukannya!"
So Seo No bangkit, namun tiba-tiba pingsan.
Mereka membawa So Seo No kembali ke perkemahan. So Seo No jatuh sakit dan tidak sadarkan diri.
Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo menangis.
Karena Jumong menghilang dan Yang Mulia sekarat, maka Dae So mengambil alih pimpinan pasukan.
Mengetahui bahwa Yang Jung hendak menyerang pasukan BuYeo, Dae So ingin mengadakan perundingan.
"Hentikan pertarungan." kata Dae So pada Yang Jung. "Kami tidak akan menyerang Jinbun dan Imdun."
Yang Jung tersenyum. "Jumong menghilang, Geum Wa sekarat dan pasukan Yo Dong hampir datang. Sekarang kau mau menghentikan perang dan pulang? Kurasa itu tidak adil."
"Jika kami melanjutkan perang, mungkin kami akan bisa menghabisi Hyeon To sebelum pasukan Yo Dong datang. Lagipula, aku sebenarnya tidak menyetujui peperangan melawan Han dan menolongmu. Jika aku kembali ke BuYeo, aku pasti akan menjadi Putra Mahkota. Dan jika terjadi sesuatu pada Yang Mulia, mungkin aku akan menjadi raja. Jika itu terjadi, maka aku akan mengangkat Seol Ran sebagai Ratuku, seperti yang sudah kujanjikan."
Yang Jung berpikir dan setuju.

Dae So kembali ke markas dan memerintahkan pasukannya untuk mundur dan kembali ke BuYeo.
"Dae So!" protes Young Po. "Jika kita menyerang Jinbun dan Imdun sekarang, maka kita bisa memenangkan peperangan ini. Berikan pasukan padaku. Aku akan menyerang mereka."
Dae So tidak setuju, dan tetap pada keputusannya, yaitu kembali ke BuYeo.

Dae So menjenguk Geum Wa, yang sedang pingsan. "Putra kesayanganmu menghilang." kata Dae So. "Aku tahu kau mungkin tidak akan suka, tapi sekarang segalanya akan jatuh ke tanganku. Aku akan menunjukkan padamu bahwa semua yang kau percayai selama ini, hanyalah sebuah ilusi. Tunggu dan lihat saja."

Mendengar keputusan Dae So, Oyi, Hyeopbo dan Ma Ri protes. Mereka berlutut di depan Dae So.
"Pangeran, kirim kami." kata Ma Ri.
"Pangeran, kami ingin membalaskan dendam Komandan kami!" kata Oyi. "Kami akan menghabisi Pasukan Han."
"Kita tidak bisa kembali seperti ini." kata Hyeopbo.
Na Ru membentak mereka dan menyuruh mereka pergi.
"Pangeran, Komandan merencanakan perang ini untuk menyelamatkan para pengungsi di Jinbun dan Imdun." kata Oyi bersikeras. "Kita belum melakukan apapun. Kita tidak bisa kembali. Pangeran, kirimkan kami pergi!"
Dae So tidak menggubris mereka.
"Komandan... Komandan..." gumam mereka, menangis.
So Seo No telah sadar. Ia menangis dan menangis lagi.
"Aku tahu hatimu sedih." kata Dae So. "Tapi Jumong sudah meninggal."
"Komandan Jumong hanya menghilang." kata So Seo No. "Kenapa kau yakin dia sudah mati?"
"Jika dia masih hidup, dia pasti akan kembali." kata Dae So, tersenyum senang.
"Dia masih hidup." kata So Seo No. Ia mengambil kudanya dan pergi ke tepi sungai, teringat Jumong dan menangis.

Di bengkel BuYeo, Mo Pal Mo menciptakan sebuah pedang yang sangat luar biasa. Dia khusus membuat pedang tersebut untuk Jumong. Itu adalah pedang yang lebih hebat dibanding pedang Han.
Pasukan BuYeo telah kembali ke BuYeo.
Mu Duk memberi tahu Yoo Hwa bahwa Pangeran Jumong tidak kembali bersama mereka. "Pangeran Jumong menghilang. Kita tidak tahu apakah ia masih hidup atau tidak."
Yoo Hwa menangis.
Mu Song memberikan kabar yang sama pada Mo Pal Mo.
Mo Pal Mo menangis. "Tidak mungkin. Tidak mungkin. Pangeran... Pangeran, kemana kau pergi, meninggalkan aku seperti ini?" gumam Mo Pal Mo sedih.
So Seo No kembali ke rumah GyehRu. Yeon Ta Bal memeluk putrinya.

Semua usaha yang dilakukan oleh Jumong dan Geum Wa, Dae So-lah yang mendapat semua penghargaannya.
Permaisuri Wan Ho sangat senang. Jika Geum Wa mati, maka Dae So bisa menjadi Raja.
"Ini hanya permulaan." kata Dae So, tersenyum. "Aku akan membuat mereka semua membayar penghinaan yang pernah mereka berikan pada kita."

5 comments:

kimi said...

c dae so nYebelIn bgd.....g tw Bls Budi..

Putri said...

Setuju Kim,, sebel bgt sm pengkhianat. Apalagi pangeran yang mengkhianati negaranya sendiri.

Anonymous said...

Kak putri jumong sebenarx ada dimana? Aq penasaran niih!

あり said...

put ga sabar ntar jumong diselamatin ama yesoya ya..lanjutkan put ^^

Anonymous said...

ga tega liat SoSeoNo sedih bgt keilangan Jumong.....
n kurang ajarnya DaeSo, Jumong ilang dia malah maksa SoSeoNo jd selirnya... Grrrr,

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda