Hime no Sarange: All about Korean Drama: Jumong Episode 44

Thursday, March 25, 2010

Jumong Episode 44

Sinopsis Jumong Episode 44
Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo datang ke perkemahan pengumpulan para pengungsi. Disana, mereka melihat para prajurit BuYeo memukuli para pengungsi. Jumong dan yang lainnya melihat-lihat keadaan.
"Ada sekitar 50 prajurit yang menjaga mereka." kata Oyi.
"Ada sekitar 10 prajurit yang bersedia bergabung bersama kita." kata Ma Ri.
"Berhati-hatilah agar jangan sampai ada orang lain yang tahu mengenai rencana kita." kata Jumong memperingatkan.
Mereka mencari keberadaan Man Ho.
Man Ho ada di sebuah tenda dan sedang dalam keadaan sekarat karena mencoba untuk kabur. Hyeopbo sangat sedih dan menggenggam tangan Man Ho.
"Pangeran..." Man Ho berusaha bicara. "Aku ingin bertemu denganmu sebelum aku mati. Ini sebuah keberuntungan karena aku bisa bertemu denganmu."
"Kau tidak akan mati." kata Hyeopbo sedih. "Aku akan menyelamatkanmu dan kita semua akan pergi dari BuYeo."
"Pangeran..." ujar Man Ho lemah. "Paling tidak, aku sempat berjuang melawan Han bersamamu. Jika tidak, maka kematianku akan sia-sia. Maafkan aku karena marah padamu. Aku tidak tahu mengenai rencanamu."
"Akulah yang seharusnya minta maaf." kata Jumong sedih. "Aku tidak berhasil dalam peperangan dan membuat para pengungsi mengalami situasi yang sulit seperti ini. Tapi, itu tidak akan terjadi lagi. Bersama para pengungsi, kita akan membuat Pasukan Da Mul. Jadi, tetaplah kuat dan cepat sembuh. Aku butuh bantuanmu."
"Aku bisa melihat Jenderal Hae Mo Su dalam dirimu." Man Ho berkata sedih. "Aku akan selalu berdoa, akan kita bisa merebut kembali wilayah kita yang hilang." Man Ho kesakitan, berusaha bicara lagi. "Aku... akan selalu berdoa untuk... keberhasilan... Pasukan Da Mul." Man Ho meninggal.
"Man Ho!" panggil Jumong. "Man Ho!"
"Paman!" Hyeopbo berseru, menangis. Ma Ri dan Oyi juga menangis.
Peramal Ma Oo Ryeong mengatakan pada Wan Ho agar mereka segera melenyapkan Burung Berkaki Tiga. Burung Berkaki Tiga tersebut merupakan simbol Pangeran Jumong.
Jika tidak segera dilenyapkan, maka ia akan membahayakan masa depan Pangeran Dae So.
Namun Wan Ho tidak bisa berbuat apa-apa karena kini Dae So telah mempercayai Jumong sepenuhnya.
Malam itu, Jumong mendatangi bengkel pandai besi untuk bertemu Mo Pal Mo dan Mu Song.
"Beberapa hari lagi kita akan meninggalkan BuYeo." kata Jumong. "Namun sebelum pergi, aku ingin kau melakukan sesuatu."
"Katakan, Pangeran." ujar Mo Pal Mo.
"Pertama, pilihlah beberapa pekerja pandai untuk ikut bersamamu." kata Jumong. "Untuk melawan Han, kita perlu membuat banyak senjata. Kita harus mendirikan bengkel pandai besi untuk Pasukan Da Mul."
"Baik, Pangeran." kata Mo Pal Mo.
Jumong berpaling pada Mu Song. "Setelah aku, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo meninggalkan BuYeo, tugasmu adalah untuk mengantar Ye Soya dan Mo Pal Mo dengan selamat kepada kami. Bisakah kau melakukannya?"
"Jangan khawatir, Pangeran." kata Mu Song. "Tapi bagaimana dengan Nyonya Yoo Hwa?"
Jumong terdiam.
Dengan diam-diam, Hao Chen sedang memata-matai mereka.

Hao Chen mengikuti Jumong, namun Jumong menyadari keberadaannya. Ia menjebak Hao Chen dan mengarahkan pedangnya ke leher Hao Chen.
"Kau mengikutiku?" tanya Jumong. "Apa alasanmu?"
Hao Chen diam.
"Siapa yang memerintahkanmu?" tanya Jumong lagi. "Jika kau tidak memberitahu aku, aku akan membunuhmu."
Hao Chen memberi tahu Jumong. Jumong memanggil Seol Ran keluar.
"Sungguh sikap yang sangat tidak pantas mengancam pengawalku dengan pedang seperti itu." kata Seol Ran.
"Apakah pantas jika kau memerintahkan dia untuk mengikutiku diam-diam?" Jumong balas bertanya. "Aku ingin tahu alasanmu melakukan semua itu. Apa kau memata-matai BuYeo?"
"Apa?" tanya Seol Ran.
"Kau adalah istri Dae So. Tapi bagiku, kau adalah orang Han. Jika ia mengikuti aku lagi, aku akan memperlakukan dia sebagai mata-mata dan membunuhnya." Setelah berkata itu, Jumong memberi hormat dan berjalan pergi.
Seol Ran sangat marah. Ia menampar wajah Hao Chen. "Terus ikuti Jumong. Jika aku dihina seperti ini lagi, aku akan memenggal kepalamu."
"Aku mengerti." kata Hao Chen.
Jumong, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo berunding. Sebelumnya, Jumong meminta mereka untuk berhati-hati karena Seol Ran mengirim orang untuk memata-matainya, jadi mungkin Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo juga dimata-matai.
"Setelah kita meninggalkan BuYeo, kita akan pergi ke selatan, kemudian berpindah arah segera setelah kita melewati perbatasan." Jumong membuka petanya.
"Inikah tempat dimana kita berpindah arah?" tanya Ma Ri, menunjuk ke peta.
"Untuk mengecoh Dae So, kita harus melewati BiRyu." Jumong menambahkan. "Lalu kemudian berpindah arah. Kita akan berpindah ke barat di antara BiRyu dan Hyeon To."
"Jalannya sangat terjal dan banyak sisi tebing." kata Hyeopbo. "Walaupun mereka mengejar kita, mereka tidak akan mudah menangkap kita."
"Setelah itu, kemana kita akan pergi?" tanya Oyi.
"Kita akan menetap di Gunung Bon Gye." jawab Jumong. "Kalian bertiga, pergilah ke gunung Bon Gye dan temukan tempat yang bagus untuk menetap."
"Baik!"
Yoo Hwa memanggil Ye Soya ke kamarnya. Ia memberitahu bahwa ia tidak akan ikut pergi bersama Ye Soya dan Jumong.
"Ibu, bagaimana aku bisa pergi tanpamu?" tanya Ye Soya cemas.
"Aku sudah membicarakannya dengan Jumong, jadi keputusan ini sudah bulat." kata Yoo Hwa. "Aku ingin kau tahu alasan kenapa Jumong harus meninggalkan BuYeo. Dia meninggalkan BuYeo bukan hanya untuk menyelamatkan para pengungsi, melainkan juga untuk membentuk sebuah negara baru. Aku yakin kau bisa membayangkan betapa sulitnya hal itu untuknya. Tapi ini adalah takdirnya. Cita-cita besarnya adalah untuk membuat sebuah negara baru, untuk mengembalikan kejayaan GoJoSeon, dan untuk merebut kembali wilayahnya yang hilang. Sedangkan takdirmu adalah untuk mendukung Jumong. Apa kau mengerti?"
"Ya." jawab Ye Soya.

Jumong berpikir sendirian di ruangannya. Ia melihat bendera pemberian Yeo Mi Eul dan teringat kata-kata Yeo Mi Eul padanya.
"Pangeran." Yeo Mi Eul berkata. "Ada makna penting dari Burung Berkaki Tiga. Burung Berkaki Tiga tidak bisa hidup di BuYeo. Keluarlah dari matahari BuYeo dan terbang ke negara yang lebih besar. Setelah itu, Burung Berkaki Tiga akan membuat sarang untuk rumahnya. Itu artinya, kau akan membuat sebuah negara baru. Negara Burung Berkaki Tiga."

Dae So berubah pikiran. Ia memanggil Jumong dan berkata bahwa ia akan memerintahkan Na Ru untuk mengantar para Pengungsi ke Han.
"Aku ingin kau membantuku menyelesaikan masalah yang lebih penting." kata Dae So.
"Aku bisa melakukannya setelah kembali dari Chang An." kata Jumong.
Dae So menggeleng. "Tidak ada alasan bagimu untuk melakukan sebuah pekerjaan yang mudah seperti itu. Lakukan apa kataku."
"Ya." ujar Jumong dengan berat hati.
Jumong berusaha memikirkan cara yang lain.
Di Han, China, Yang Jung mengirimkan seorang pria bernama Ma Jin untuk membantu semua yang dibutuhkan oleh Young Po.
Young po meminta Ma Jin membawakan gadis, tapi Young Po malah marah. "Apakah semua gadis di Han jelek seperti itu?!" omelnya.
Ma Jin menyuruh gadis tersebut keluar.
"Apakah namamu Ma Jin?" tanya Young Po. "Kau pikir, berapa lama kira-kira aku akan berada di sini?"
"Pangeran bukan seorang tawanan." jawab Ma Jin. "Aku mengenal banyak orang berkuasa disini. Jika kau mengenal mereka, maka kau bisa memanfaatkan mereka untuk kepentinganmu."

So Seo No merasa tertekan. Song Yang meminta pajak dalam jumlah besar pada GyehRu sehingga GyehRu tidak bisa memenuhi permintaan itu. Song Yang sengaja menyulitkan pihak GyehRu untuk menurunkan So Seo No sebagai pemimpin klan.
"Apakah kau sudah mendapatkan sebuah cara?" tanya Sayong tersenyum.
"Apa kau menemukan cara?" tanya So Seo No berharap.
"BuYeo tidak memiliki masalah garam karena kita mengirim supply garam dari Go San." kata Sayong. "Buat kesepakatan dengan BuYeo menggunakan garam."
So Seo No kemudian meyuruh Gye Pil memanggil Bae Mang ke GyehRu. Bae Mang adalah orang yang bertanggung jawab dalam proses transportasi garam dari Go San ke BuYeo.
Setelah itu, So Seo No menemui Song Yang dan mengatakan agar ia diizinkan untuk mengirimkan barang-barang (sebagai pajak) ke BuYeo.
"Jika aku gagal, aku akan turun dari jabatanku." kata So Seo No. Song Yang setuju.
Bae Mang tiba di GyehRu. So Seo No berunding denganya.
"Kau ingin aku melawan BuYeo?" tanya Bae Mang.
"Aku tidak meminta kau melawan BuYeo." kata So Seo No. "Kondisi kami sedang dalam bahaya. Kami butuh bantuanmu untuk keluar dari masalah ini."
"Baiklah." kata Bae Mang setuju. "Tanpamu, aku tidak akan mungkin ada disini. Aku akan melakukan apapun untuk membantumu. Apa yang harus aku lakukan."
So Seo No tersenyum lega.
Setelah Bae Mang setuju, Oo Tae pergi ke BuYeo untuk meminta izin pada Jumong. Oo Tae berkata bahwa So Seo No ingin menggunakan garam Go San untuk melakukan kesepakatan dengan BuYeo. Jumong setuju.

Yeo Mi Eul memutuskan bahwa inilah waktu yang tepat untuk meninggalkan GyehRu. Burung Berkaki Tiga akan segera pergi dan membuat sarang, maka Yeo Mi Eul akan mengikutinya.
Jumong punya rencana. Ia memberitahukan rencananya tersebut pada Geum Wa dan Yoo Hwa.
Geum Wa memanggil Dae So. "Aku ingin meminta tolong padamu." kata Geum Wa. "Lady Yoo Hwa sedang sakit. Dia menjagaku siang dan malam hingga sakit, ia pasti sangat letih. Tabib mengatakan bahwa kolam air panas akan menjadi tempat yang baik untuk pengobatannya. Jadi, aku ingin pergi bersama Lady Yoo Hwa."
"Yang Mulia akan pergi bersamanya?" tanya Dae So.
"Ia jatuh sakit karena aku. Jadi aku harus menjaganya." jawab Geum Wa.

Dae So mendiskusikan masalah ini dengan Wan Ho. Wan Ho mengatakan agar Dae So tidak membiarkan mereka pergi. Jika rakyat melihat bahwa Geum Wa sudah sehat, maka apa yang akan dipikirkan oleh rakyat?
Pelayan Yoo Hwa masuk. "Tabib berkata bahwa Nyonya Yoo Hwa memang sedang sakit." katanya melaporkan.

Hari pengiriman para pengungsi ke Han.
"Pangeran, kami sudah siap untuk mengirimkan para pengungsi." kata Na Ru pada Dae So.
"Kita harus menundanya." kata Dae So.
Dae So akhirnya menyetujui permintaan Geum Wa. Dae Si memerintahkan Na Ru dan prajuritnya agar mengantar dan melindungi Geum Wa dan Yoo Hwa.
Rencana Jumong berhasil.
Persiapan keberangkatan Geum Wa dan Yoo Hwa.
"Ibu..." Jumong menemui Yoo Hwa sebelum ibunya pergi. Ini adalah saat terakhirnya untuk bertemu Yoo Hwa sebelum meninggalkan BuYeo.
"Jika kau meninggalkan BuYeo, jangan pernah menoleh lagi ke belakang." kata Yoo Hwa, mencoba menguatkan diri. "Lupakan segalanya tentang BuYeo. Aku.. Yang Mulia... Pikirkanlah tentang takdirmu. Itulah hal terakhir yang harus kau lakukan untuk menjadi seorang anak yang baik untukku."
"Ibu..." Jumong menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. Ia kemudian bersujud dihadapan ibunya.
Yoo Hwa memeluk Jumong.
Jumong mengantar kepergian Yoo Hwa dan Geum Wa.
"Maafkan aku karena tidak bisa ikut bersama kalian." kata Jumong pada Geum Wa.
"Jangan khawatir. Aku akan menjaganya." kata Geum Wa.
"Ayah, jagalah kesehatanmu." kata Jumong sedih.
Yoo Hwa dan Geum Wa menaiki tandu. Arak-arakan itu berjalan mejauh.
Yoo Hwa menoleh untuk melihat Jumong. Ia menangis.
Jumong kembali ke kamarnya dan berbincang dengan Ye Soya.
"Aku harus pergi terlebih dahulu, lalu kau akan menyusul bersama Mo Pal Mo ke Gunung Bon Gye." kata Jumong. "Ini akan menjadi perjalanan yang berat."
"Perjalanan yang berat bukan masalah." kata Ye Soya. "Tapi, memikirkan bagaimana perasaanmu karena meninggalkan ibumu disini, pasti terasa lebih berat. Setelah kau berhasil mewujudkan impianmu, kau bisa membawa ibumu pergi. Jangan khawatir."
Jumong tersenyum. "Terima kasih karena sudah mempercayai aku." katanya. Jumong maju untuk memeluk Ye Soya.
Paman Dae So melaporkan pada Dae So para pejabat lain bahwa pengiriman garam ke BuYeo dirampok. Dae So memerintahkan Jumong untuk membawa pasukan dan merebut supply garam yang dirampok.
Jumong pergi bersama pasukannya menuju ke perkemahan para pengungsi.
"Aku akan menggantikan Na Ru untuk membawa para pengungsi." kata Jumong pada penjaga kemah.
"Pangeran Dae So tidak memberikan perintah apa-apa tentang itu." kata penjaga kemah.
"Beraninya kau!" teriak Jumong. "Apa kau tidak mempercayai kata-kataku?"
"Bukan begitu. Tolong tunggu sebentar karena aku harus mengklarifikasi perintah itu."
Jumong langsung membunuh si penjaga kemah.
"Bawa para pengungsi sekarang!" perintah Jumong. "Kita akan membawa mereka ke Han!"

9 comments:

nana said...

ye soya pantes buat dapetin cinta Jumong ya Put... lagian So Soe No juga dah hamil inih.. baru episode 44 yah.. perjalanan masih panjang.. haaa..

あり said...

hehehe...semangat put, iya yesoya cantik.....banget deh...semangat put, pelan2 aja...

Anonymous said...

sekarang kok melambat nulisnya.... semangat banyak yg nunggu put...

Anonymous said...

sekarang kok melambat nulisnya.... semangat banyak yg nunggu put...

Putri said...

Semakin banyak yg protes n buru2in aku, aku bakal semakin lambat cz aku males klo dburu2in. Jd plis jgn buru2in aku. Mksh.

あり said...

@putri=setuju bangettttt, pelan2 aja put
@utk teman2 yang lain jangan2 diburuin putri, kasian putri ..putri kan juga perlu istirahat

Anonymous said...

Jumong sayang bener ma Yesoya, ane suka bener pas scene ini... cm sedih bgt liat Jumong pisah ma Yoohwa,...
AJA AJA FIGTHING Putri....

dunia12 said...

BiarPun yesoya cntix ato baik tp aq tTep pngen nya jum0ng ma so seo no T_T...smangat pUt istrhat z dlu puT xlo lg gk m0od...

Anonymous said...

Jumong selamat ya, punya dua bidadari So Soe No dan Ye Soya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda