Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Jumong Episode 55

Thursday, April 1, 2010

Sinopsis Jumong Episode 55

Sinopsis Jumong Episode 55
Ma Jin berbisik pada Young Po.
"Apa?!" seru Young Po tidak percaya. "Ayah mengurung Jumong? Aku tidak percaya kalau aku tidak melihatnya sendiri."
Young Po bergegas menuju penjara untuk memastikan. "Apakah Jumong dikurung dalam penjara?" tanyanya pada penjaga.
"Ya." jawab penjaga.
"Aku harus bertemu dengannya." kata Young Po.
"Maafkan aku, tapi Perdana Menteri memerintahkan aku agar tidak membiarkan siapapun masuk." kata penjaga.
"Minggir!" bentak Young Po. "Beraninya kau menghentikan aku dan menuruti perintah Perdana Menteri! Apa kau ingin mati?! Minggir!"
"Pangeran!" panggil seseorang dari belakang. Perdana Menteri datang. "Kau tidak boleh masuk ke dalam."
"Perdana Menteri, apa yang terjadi?" tanya Young Po. "Benarkah Yang Mulia mengurung Jumong?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena dia adalah musuh BuYeo." jawab Perdana Menteri. "Jika Pangeran bicara dengannya, maka Pangeran mungkin akan dituduh berbagi informasi dengan musuh BuYeo."
Young Po terpaksa pergi.
Di penjara, Jumong hanya duduk diam, tidak mengatakan apapun.
"Aku tidak bisa lagi mempercayai siapapun, tidak juga Yang Mulia dan Jenderal Heuk Chi!" seru Oyi marah.
"Tenanglah." kata Jae Sa. "Kita harus mencari cara keluar dari sini."
"Kita semua akan mati!" seru Hyeopbo kesal. "Bagaimana aku bisa tenang?! Perwira Sayap Kanan, kenapa kau tidak menggunakan otakmu dan rencanakan sesuatu?"
"Diam!" bentak Ma Ri. "Diam saja dan duduk!"
Hyeopbo menuruti perintah Ma Ri dengan kesal.
"Jenderal, apa yang harus kita lakukan?" tanya Ma Ri pada Jumong.
Jumong menarik napas. "Aku salah." katanya. "Sekarang, Yang Mulia hanya memiliki setengah kekuasaan. Perdana Menteri memiliki setengahnya lagi. Perdana Menteri mengendalikan dan menekan Yang Mulia. Aku tidak menyadari hal itu."
"Kita harus mencari cara untuk keluar." kata Jae Sa.
"Kita dikurung tanpa senjata apapun." kata Ma Ri. "Bagaimana kita bisa keluar?"
Jae Sa menoleh ke arah Muk Guh. Dengan diam-diam, Muk Guh mengeluarkan senjata rahasianya.
"Ini adalah sengat racun." kata Muk Guh. "Aku bisa membunuh sekitar 3 orang penjaga."
"Kita akan bergerak setelah mengetahui keadaan yang terjadi." kata Jumong berbisik.
Yeon Ta Bal dan So Seo No dibawa pulang kembali ke GyehRu. Sesampainya disana, Chae Ryeong menampar So Seo No.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Yeon Ta Bal marah.
"Kupikir kalian sedang melakukan perjalanan dagang ke Heng In." kata Chae Ryeong sinis. "Lalu kenapa kalian berada di BuYeo? Karena sekarang Raja Geum Wa sudah berhasil merebut kembali tahtanya, maka kalian ingin bersekongkol dengannya? Aku tidak akan memaafkanmu hanya karena kau adalah kakakku." Chae Ryeong kemudian memerintahkan pengawalnya untuk mengurung Yeon Ta Bal di kamarnya.
Yeon Ta Bal menghempaskan tangan pengawal. "Mundur!" bentaknya. Yeon Ta Bal menatap Chae Ryeong dan tertawa. "Walaupun kau dibutakan oleh kekuasaan, aku sudah memaafkanmu di hatiku. Tapi mulai saat ini, aku akan melupakan fakta bahwa kita berasal dari orang tua yang sama. Ingatlah ini baik-baik. Kekuasaan seperti halnya pasir. Semakin kencang kau menggenggamnya, maka semakin banyak pasir itu keluar dari genggamanmu. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa saat ini pasir itu jatuh dari genggamanmu."
Yeon Ta Bal pergi ke kamarnya.
"Jika kau membuatku marah lagi, aku tidak akan memaafkanmu." ancam Chae Ryeong pada So Seo No, kemudian pergi.
Setelah itu, Chan Soo meminta maaf pada So Seo No mengenai sikap ibunya yang keterlaluan.

Sayong mendapat kabar bahwa Jumong sedang di kurung dalam penjara BuYeo. Gye Pil dan So Seo No sangat terkejut.
"Sayong, karena aku dan ayah sedang dalam pengawasan, kau harus meneruskan pembangunan istana dan melatih pasukan." pesan So Seo No.
"Aku mengerti." kata Sayong.
Geum Wa berkutat dengan pikirannya sendiri. Ketika Yoo Hwa dan Ye Soya hendak menemuinya, Geum Wa menolak untuk bertemu.
Yoo Hwa dan Ye Soya berjalan kembali. Mereka berpapasan dengan Permaisuri Wan Ho.
"Bagaimana perasaan kalian setelah dikhianati oleh Yang Mulia?" tanya Wan Ho sinis.
"Aku yakin Yang Mulia akan membuat keputusan yang bijaksana." kata Yoo Hwa.
"Keputusan bijaksana?" tanya Wan Ho, tertawa. "Kau masih belum mengerti, bukan? Kau mungkin berpikir bahwa Yang Mulia akan melindungi Jumong, tapi kau salah. Walaupun Yang Mulia tahu bahwa Dae So membunuh Hae Mo Su, ia tidak menghukum Dae So. Kau pikir kenapa Dae So tidak membunuh Yang Mulia untuk merebut tahtanya? Karena Yang Mulia terikat pada anak kandungnya. Walaupun ia tidak memperlihatkan, tapi Yang Mulia sangat terikat pada anak kandungnya. Yang Mulia akan memilih Dae So, bukan Jumong. Tunggu dan lihat saja."
Waj Ho berjalan pergi. Yoo Hwa dan Ye Soya terdiam.
"Ibu, bagaimana jika apa yang dikatakan Permaisuri benar?" tanya Ye Soya cemas. "Sekarang aku merasa takut pada Yang Mulia."
"Permaisuri berkata begitu karena ia merasa terpojok. Jangan khawatir." kata Yoo Hwa, berusaha yakin.
Mu Song dan Mo Pal Mo sudah berada di BuYeo, namun mereka tidak mendapatkan cara agar bisa masuk ke istana.
Mendengar kabar bahwa Jumong akan dieksekusi, Mo Pal Mo merasa sangat sedih dan tidak berdaya.
Mu Song punya sebuah cara. Ia memanggil salah seorang temannya yang bekerja sebagai prajurit istana.

Tuan Chin meminta Young Po membujuk Geum Wa agar mau mengirimkan Jumong ke Han. Young Po ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menaikkan reputasinya dihadapan Geum Wa dan para pejabat BuYeo.
Young Po menemui Perdana Menteri.
Mu Song menyamar sebagai prajurit pengantar makanan ke penjara.
"Jenderal, Mo Pal Mo ada di luar." kata Mu Song pada Jumong.
"Ada apa?" tanya Ma Ri.
"Yeo Mi Eul menghilang." kata Mu Song. "Aku tidak tahu siapa yang melakukannya. Tapi seseorang menyusup ke markas dan menculik Yeo Mi Eul."
"Aku yakin BuYeo yang melakukannya." kata Jae Sa.
Jumong sangat terkejut dan khawatir. "Apakah ada hal lain yang terjadi di markas?" tanyanya cemas.
"Tidak." jawab Mu Song.
Jumong menarik napas lega. "Mu Song, pergi dari sini secepatnya dan kembali ke Gunung Bon Gye bersama Mo Pal Mo." katanya. "Jika sesuatu terjadi pada Mo Pal Mo, maka itu akan menjadi kehilangan besar bagi Pasukan Da Mul. Perkuat pertahanan markas dan pastikan bahwa Pasukan Da Mul dan para pengungsi aman."
"Ya. Tapi bagaimana dengan Jenderal?"
"Jangan khawatir." kata Jumong. "Aku akan kembali ke Gunung Bon Gye apapun yang terjadi."
Mengetahui ide Young Po untuk mengirim Jumong ke Han membuat Geum Wa sangat marah. Ia menoleh pada Tuan Chin.
"Apa yang kau lakukan di istana BuYeo?" tanya Geum Wa pada Tuan Chin. "Kembalilah."
"Aku datang kemari sebagai pembawa perintah Kaisar untuk mengambil barang-barang yang diminta oleh Han dan untuk membawa Jumong." kata Tuan Chin. "Kenapa kau menyuruhku kembali padahal aku belum mendapat apa yang kuinginkan?"
Geum Wa menarik pedang Song Ju dan mengarahkannya pada Tuan Chin. "BuYeo bukan bawahan Han! Lagipula, Jumong adalah masalah BuYeo. Akulah yang memutuskan apakah aku ingin membunuhnya atau tidak!" seru Geum Wa. "Jika kau tidak pergi sekarang, aku akan memenggal kepalamu!"

Jumong dan kawan-kawannya mengkhawatirkan markas mereka. Jumong meminta Muk Guh bersiap-siap karena mereka akan pergi malam ini.
Yeo Mi Eul dibawa ke kuil ramalan BuYeo.
"Apa yang terjadi?" tanya Ma Oo Ryeong.
"Perdana Menteri memerintahkan kami untuk membawanya ke kuil." kata prajurit. "Kami akan berjaga disekitar kuil."
Para penjaga keluar.
"Apa yang terjadi pada Pangeran Jumong?" tanya Yeo Mi Eul.
"Ia sedang berada dalam penjara." jawab Ma Oo Ryeong.
Yeo Mi Eul cemas.
Prajurit melapor pada Perdana Menteri bahwa mereka telah berhasil membawa Yeo Mu Eil ke kuil BuYeo. Perdana Menteri menuju kamar Geum Wa.
"Yang Mulia, kami berhasil menangkap Yeo Mi Eul." kata Perdana Menteri. Ia berusaha memprovokasi Geum Wa. "Alasan kenapa Jumong melanggar aturan adalah karena Yeo Mi Eul. Alasan kenapa Jumong ingin membentuk sebuah negara baru bersama Pasukan Da Mul adalah karena Yeo Mi Eul."
"Dimana Yeo Mi Eul?"
Perdana Menteri mengantarkan Geum Wa ke kuil.
"Yeo Mi Eul." ujar Geum Wa. "Hidup Jumong kini ada ditanganmu. Katakan pada Jumong agar membubarkan Pasukan Da Mul dan kembali ke BuYeo. Jika kau melakukannya, maka aku tidak akan menyakiti siapapun. Aku akan memberikan segalanya pada Jumong. Aku akan mengangkat Jumong sebagai Putra Mahkota. Dengan demikian, maka tidak akan terjadi pertumpahan darah lagi di BuYeo."
Yeo Mi Eul menatap Geum Wa tajam. "Yang Mulia, berhentilah berbohong pada dirimu sendiri." katanya. "Kau tidak akan pernah menyerahkan tahta sampai kau mati. Mungkin kau berkata begitu saat ini, tapi kau akan melenyapkannya jika ia mengancam kekuasaanmu."
"Yeo Mi Eul."
"Bahkan saat sahabat Yang Mulia, Hae Mo Su, mati yang kau pikirkan hanyalah kekuasaan dan keselamatanmu sendiri." kata Yeo Mi Eul tajam. "Bagaimana mungkin aku percaya bahwa kau akan memberikan kekuasaan pada putra Hae Mo Su? Jenderal Jumong akan membangun sebuah negara baru bersama Pasukan Da Mul. Itulah yang diinginkan Hae Mo Su dan takdir dari langit."
Perdana Menteri memanggil prajurit dan memerintahkannya untuk membawa Jumong ke kuil itu.
"Katakan pada Jumong agar membubarkan Pasukan Da Mul." kata Geum Wa. "Jika tidak, maka kalian berdua akan mati."
Prajurit mengantar Jumong ke kuil. Jumong sangat terkejut melihat Yeo Mi Eul.
"Apakah kau menculik Yeo Mi Eul setelah memanggilku ke BuYeo?" tanya Jumong pada Geum Wa.
"Akulah yang melakukannya." kata Perdana Menteri.
"Kenapa kelakuanmu begitu rendah?" tanya Jumong marah. "Pembubaran Pasukan Da Mul adalah masalahku, kenapa kau menculik Yeo Mi Eul?!"
"Kau menjadi musuh BuYeo karena Yeo Mi Eul." kata Perdana Menteri. "Dan Yeo Mi Eul-lah satu-satunya orang yang bisa membujukmu."
"Diam!" bentak Jumong. "Mendirikan sebuah negara baru adalah impian ayahku. Aku ditakdirkan untuk mewujudkan mimpinya!"
"Di langit hanya akan ada satu matahari!" seru Perdana Menteri.
"Jenderal, jangan terpengaruh oleh ucapannya." kata Yeo Mi Eul. "Kau melihat gerhana itu. Matahari BuYeo akan hilang."
"Diam!" bentak Perdana Menteri.
"Langit tidak akan pernah meninggalkan kau dan Pasukan Da Mul!" seru Yeo Mi Eul.
Perdana Menteri menarik pedang dan membunuh Yeo Mi Eul, kemudian mengarahkan pedang pada Jumong.
"Perdana Menteri!" teriak Geum Wa. "Turunkan pedangmu!"
Perdana Menteri membuang pedangnya, kemudian pergi.
"Yeo Mi Eul!"seru Jumong, berlari meraih Yeo Mi Eul.
"Aku senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Jenderal Hae Mo Su dan memohon maaf." kata Yeo Mi Eul. "Jiwaku akan selalu ada di negaramu dan melindungi Burung Berkaki Tiga." Yeo Mi Eul menatap Geum Wa. "Yang Mulia..."
"Yeo Mi Eul.." Geum Wa menatap Yeo Mi Eul dengan mata berkaca-kaca.
"Setelah meninggalkan BuYeo, aku tidak pernah membuang rasa cintaku padamu, jauh di dalam haiku." ujar Yeo Mi Eul lemah.
Yeo Mi Eul meninggal.
"Yeo Mi Eul!" panggil Jumong, menangis. "Yeo Mi Eul!"
Geum Wa meneteskan air mata.

Perdana Menteri dan para pejabat menekan Geum Wa agar cepat mengambil keputusan perihal masalah Jumong. Perdana Menteri mengatakan bahwa Geum Wa tidak bisa menyelamatkan Jumong dan BuYeo sekaligus. Jika Geum Wa tidak bisa membunuh Jumong, maka dialah yang akan melakukannya.
Perdana Menteri memanggil Jenderal Heuk Chi dan memintanya untuk membunuh Jumong tanpa sepengetahuan Geum Wa.

Jumong dibawa kembali ke penjara. Ia merasa sangat sedih dan marah sekaligus.
Ia dan teman-temannya memulai rencana pelarian mereka. Muk Guh membunuh penjaga penjara. Mereka keluar dan mencoba melarikan diri.
Jenderal Heuk Chi dan pasukannya mengepung Jumong.
"Pangeran, aku adalah pengabdi BuYeo." kata Heuk Chi seraya menunduk memohon maaf. "Tolong maafkan aku." Ia kemudian memerintahkan pasukannya untuk menangkap Jumong dkk.
Terjadi pertarungan antara Jumong dan Jenderal Heuk Chi.
"Berhenti!" Geum Wa tiba-tiba muncul dan menengahi pertarungan mereka. "Jenderal, mundur!" perintah Geum Wa pada Heuk Chi. "Jika kau ingin membunuh Jumong, maka bunuh aku terlebih dahulu."
Heuk Chi memerintahkan pasukannya untuk mundur.
Geum Wa berpaling menghadapi Jumong. "Pergilah." katanya pelan. "Mulai saat ini, aku akan memutuskan ikatanku denganmu."
"Yang Mulia."
"Aku akan menjaga Lady Yoo Hwa dan Ye Soya." kata Geum Wa dengan sedih. "Aku akan mengirim mereka padamu jika saatnya tepat. Sekarang, pergilah." Geum Wa membelakangi Jumong.
Jumong terdiam, menatap Geum Wa. Ia kemudian bersujud di hadapan Geum Wa.
"Ayo." ujar Jumong mengajak teman-temannya pergi.
Geum Wa menangis.

Geum Wa kembali ke kamarnya dan memanggil Yoo Hwa dan Ye Soya.
"Aku sudah memutus ikatanku dengan Jumong." kata Geum Wa. "Keeberadaan kalian disini akan mencegah hubungan Jumong dan BuYeo menjadi lebih buruk lagi. Aku akan mengirimkan kalian pada Jumong jika saatnya sudah tepat."

Perdana Menteri sangat kesal dan marah karena mengetahui Geum Wa membiarkan Jumong pergi. Ia mengatakan pada Geum Wa bahwa suatu saat nanti Geum Wa pasti akan menyesal karena telah melepaskan Jumong.
Geum Wa tertawa pahit.

Jumong dan kawan-kawannya kembali ke Gunung Bon Gye. Ia memberitahu So Ryeong dan yang lainnya bahwa Yeo Mi Eul sudah meninggal. Semua orang bersedih dan menangis.
Di BuYeo, akhirnya Geum Wa membebaskan Dae So dan Seol Ran.
"Bersiaplah untuk meninggalkan kota bersama Seol Ran." kata Geum Wa pada Dae So.
"Kemana kami harus pergi?" tanya Dae So.
"Aku akan menjadikanmu Komandan Benteng Timur." kata Geum Wa.
Dae So sangat terpukul. "Yang Mulia, kenapa kau tidak membunuhku saja?" tanyanya.
"Pergilah dan hapuskan obsesimu pada kekuasaan." ujar Geum Wa, tidak mengindahkan Dae So. "Jika kau sudah berhasil menghapusnya, maka aku akan memberikan segalanya padamu."
Dae So dan Seol Ran pamit pada Wan Ho dan pergi ke Benteng Timur.
Benteng tersebut terlihat sangat gersang dan menyedihkan.
"Disinikah kita harus tinggal?" keluh Seol Ran. "Sampai kapan kita akan menerima penghinaan ini?"
"Belatiku untuk balas dendam sedang tumpul saat ini." kata Dae So. "Aku akan tinggal disini sampai belati itu tajam kembali."
Jumong berusaha menyemangati Pasukan Da Mul. Walaupun mereka telah kehilangan Yeo Mi Eul, yang menjadi penuntun jalan mereka, namun mereka tidak boleh terus-menerus berduka.
"Kesulitan dan kesedihan akan memotivasi kita untuk menyatukan semua klan dan negara yang saat ini berada dibawah Han dan BuYeo." kata Jumong. "Membangun sebuah negara baru bersama Pasukan Da Mul adalah jalan satu-satunya untuk menghormati Yeo Mi Eul."

Pasukan Da Mul terus berlatih agar menjadi pasukan yang kuat. Beberapa tahun berlalu setelah hari itu. Pasukan Da Mul berhasil memperluas wilayah mereka.

13 comments:

mowmiaw said...

Mantep bro postnya,gw paling demen jumong sekarang.Lanjutkan!

mira said...

saluttttt..... memualai hari dengan jumong semangattt

Anonymous said...

Jumong..Jumong..Jumong..

Anonymous said...

Ntu gmbar terakhr jumong dah berkumis & brjenggot kn?

あり said...

jumong makin keren....dan geum wa makin jahat ya @_@

Anonymous said...

Bagus kak put.lanjutin terus jumongnya.
(jadi tambah penasaran)

Anonymous said...

Di tunggu kelanjutannya..
56 dst... ^^
Mbak Putri baik deh... ^^

Anonymous said...

Di tunggu kelanjutannya..
56 dst... ^^
Mbak Putri baik deh... ^^

Anonymous said...

Di tunggu kelanjutannya..
56 dst... ^^
Mbak Putri baik deh... ^^

Anonymous said...

Semangat kak....aq penggemar sinopsis2mu.....

Anonymous said...

Semangat kak....aq penggemar sinopsis2mu.....

Anonymous said...

Keren mbak, pokoknya saya nurut aja. Nggak mau mendesak mbak untuk kejar tayang..(padahal penasaran..he3x)

mira said...

mau tana neee.. kalau uri ketemuan sama jumong di episode berapa.. ya..??? salam

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda