Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Jumong Episode 57

Monday, April 5, 2010

Sinopsis Jumong Episode 57

Sinopsis Jumong Episode 57

"Aku ingin tahu kenapa Yang Jung memanggil Dae So sebelum ia mengirimkan pasukan ke Jolbon." kata Jumong pada Oyi. "Kita harus mencari tahu kenapa Dae So datang ke Hyeon To."

Dae So dan Seol Ran langsung menemui Yang Jung begitu tiba di Hyeon To.
"So Seo No telah mengambil alih GyehRu." kata Yang Jung bercerita pada Dae So."Song Yang berencana untuk menyerang GyehRu dan kami setuju untuk mengirimkan pasukan bantuan pada Song Yang. Setelah ia menyerang GyehRu, kita akan menyerang dan mengambil alih Jolbon."
Dae So terkejut mendengar hal tersebut, demikian halnya dengan Na Ru.
"Itu ide yang bagus, Ayah." kata Seol Ran. "Jika kau mengambil alih Jolbon, maka Han akan menyambut kita dengan baik."
"Pengran Dae So, bagaimana jika kau yang memimpin pasukan kami?" tanya Yang Jung. "Bukankah Geum Wa dan BuYeo sudah melupakanmu? Bersama Seol Ran, bergabunglah denganku."
Dae So terdiam.
Seol Ran menyarankan pada Dae So agar menerima tawaran ayahnya.
"Apa kau menyuruhku meninggalkan BuYeo?" tanya Dae So. "Walaupun aku disingkirkan, tapi aku tetap Pangeran BuYeo. Jika aku menjadi Jenderal Pasukan Han, Raja akan mencemoohku."
"Dunia sudah melupakanmu." kata Seol Ran menghasut. "Raja dan BuYeo sudah melupakanmu. Pangeran seharusnya melupakan mereka juga."
Dae So kelihatan ragu.
Pengawal kepercayaan Dae So yang baru bertanya pada Na Ru, "Pangeran tidak akan mengkhianati BuYeo, bukan?"
"Berpura-puralah tidak mengetahui apapun." kata Na Ru.
"Itu artinya ia bisa saja mengkhianati BuYeo?"
"Aku yakin Pangeran akan membuat keputusan yang tepat." jawab Na Ru. "Yang harus kita lakukan adalah mengikuti perintahnya."
"Aku tidak bisa." kata pengawal baru. "Jika Pangeran berdiri di barisan depan Pasukan Han, maka aku akan meninggalkannya."
"Tutup mulutmu!" seru Na Ru. Tanpa sengaja, Na Ru melihat Jumong dan Oyi berjalan tidak jauh dari mereka.

Dae So menolak tawaran Yang Jung. "Aku tidak bisa mengkhianati BuYeo." katanya.
"Kau sangat keras kepala." kata Yang Jung. "Langit sudah meninggalkan BuYeo. Jika ini terus berlangsung, maka BuYeo akan hancur. Han tahu hal ini dan bisa saja menyerang BuYeo untuk menjadikannya negara jajahan. Jika kau bersedia bergabung denganku, maka kau bahkan akan mendapatkan BuYeo. Kenapa kau begitu keras kepala?"
"Aku tidak bisa melakukannya." kata Dae So yakin, kemudian berjalan keluar dari ruangan.
Na Ru datang tergesa-gesa. "Pangeran, Jumong ada di Hyeon To saat ini. Ia hanya bersama Oyi."
Dae So memimpin pasukan Hyeon To untuk menangkap Jumong.
"Dimana dia?" tanya Na Ru pada pengawal baru.
"Ia ada di dalam penginapan."
Dae So memerintahkan pasukan untuk mengepung penginapan. Jumong dan Oyi mengetahui hal itu dan bergegas pergi. Namun sudah banyak sekali prajurit yang mengepung tempat tersebut sehingga mereka berdua terjepit.
Jumong dan Oyi menyerang para prajurit.
Dae So tiba-tiba datang dan menyerang Jumong. Terjadi pertarungan. Jumong bisa mengalahkan mereka, kemudian melarikan diri bersama Oyi.
"Kemana kita akan pergi sekarang?" tanya Oyi pada Jumong.
Jumong terdiam sejenak. "Ke BuYeo." jawabnya.
Jumong dan Oyi tiba di BuYeo.
Keadaan BuYeo dangat buruk. Bahan makanan langka dan rakyat kelaparan. Rakyat saling berebut makanan dan mengais-ngais makanan dari tanah. Jumong dan Oyi sedih melihat kejadian itu.
Jumong dan Oyi kemudian makan di sebuah kedai. Sebelum makanan datang, pemilik kedai meminta uang terlebih dahulu karena akhir-akhir ini banyak orang yang makan tanpa bayar.
Oyi menyerahkan uang pada pemilik kedai. "Bawakan kami sup, nasi dan arak." katanya.
"Kalian belum dengar?" tanya pemilik kedai bingung. "Dari mana kalian berasal?"
"Kami bukan dari sini." jawab Oyi.
"Pantas saja kalian tidak tahu. Saat ini di BuYeo, jika kami menjual arak maka kami akan mati!" kata pemilik kedai.
Oyi menatap Jumong sekilas. "Kalau begitu bawakan kami sup dan nasi."
"Jika kalian bisa membayar, maka aku akan memberikan arak yang bagus." pemilik kedai menawarkan.
"Aku ingin bertanya padamu." kata Jumong tanpa menoleh. "Saat ini di BuYeo, apakah ada cara untuk mendapatkan air?"
"Mereka mencoba menggali sumur, tapi sepertinya mustahil. Desas-desus mengatakan bahwa mereka akan pergi berperang untuk mendapatkan makanan. Bagaimana mereka bisa berperang tanpa kekuatan? Tapi aku tidak peduli. Jika kami tidak mati berperang, maka kami akan mati kelaparan."
Oyi mencoba memancing informasi. "Kudengar istri Jenderal Da Mul masih di BuYeo dan membesarkan anaknya. Apa kau tahu dimana dia?"
"Bagaimana kalian bisa mengetahui hal itu?" tanya pemilik kedai. "Kudengar Permaisuri bersikap kasar pada Lady Yoo Hwa dan Lady Ye Soya. Alasan kenapa mereka masih hidup sampai sekarang adalah karena Raja menjaga mereka."
Mata Jumong berkilat sedih.

"Raja mengatakan bahwa ia akan mengirim Lady Ye Soya pada kita jika waktunya sudah tepat." kata Oyi. "Tapi kenapa Raja belum juga mengirimnya? Kita punya kesempatan untuk menyerang BuYeo, tapi kita tidak menyerang. Apa sebenarnya yang direncanakan Raja?"
"Raja berusaha mendekati Pasukan Da Mul." kata Jumong.
"Kalau begitu, kita harus mengeluarkan Lady Ye Soya secepatnya."
"Jika kita melakukannya, Raja mungkin akan mencelakai istri dan ibuku. Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menunggu." kata Jumong.
Di istana, Ye Soya dan putranya, Yuri berjalan-jalan di istana berdua.
"Yuri, tadi malam aku memimpikan ayahmu." kata Ye Soya, tersenyum pada putranya. "Ia kelihatan begitu nyata. Kau harus tahu sehebat apa ayahmu."
Yuri mengangguk.
"Ia meninggalkan kesenangan hidup demi menyelamatkan para pengungsi dan melawan Han. Ayahmu dan Pasukan Da Mul sangat hebat. Setiap negara dan klan ketakutan jika mendengar nama Pasukan Da Mul. Coba sebutkan, siapa nama ayahmu?"
"Jumong." jawab Yuri.
Ye Soya tertawa. "Benar. Kau tidak boleh melupakan nama itu."
Ye Soya memeluk putranya.

Geum Wa berniat mencari seorang peramal bernama Bi Geum Sun di gunung pendiri dan menanyakan bagaimana cara menyelesaikan kesulitan yang saat ini sedang menimpa BuYeo. Walaupun belum ada seorang pun yang pernah bertemu dengan Bi Geum Sun, Yoo Hwa bersikeras pergi. Ia yakin, jika ia meminta dengan sepenuh hati, maka Bi Geum Sun akan menemuinya.
Geum Wa berjanji pada Yoo Hwa bahwa sekembalinya dari perjalanan, ia akan mengirim Ye Soya dan Yuri pada Jumong.
Geum Wa tiba di gua. Ia meminta semua pengawalnya menunggu di luar dan masuk seorang diri ke dalam gua.
Geum Wa berteriak meminta Bi Geum Sun menampakkan diri.
Tiba-tiba, seorang wanita tua bercahaya muncul di hadapan Geum Wa.
"Apakah kau Bi Geum Sun?" tanya Geum Wa.
"Benar." jawab Bi Geum Sun. "Kau adalah orang pertama yang masuk ke gua ini. Aku sudah menunggumu."
"Kau tahu aku akan datang?"
"Bukankah kau datang untuk bertanya padaku bagaimana cara agar BuYeo lepas dari kesulitan ini?" tanya Bi Geum Sun, mengetahui maksud kedatangan Geum Wa.
"Benar." kata Geum Wa. "Aku akan melakukan apapun agar BuYeo bisa lepas dari kesulitan ini. Aku bahkan rela menyerahkan nyawaku jika memang itu yang diinginkan langit. Tolong katakan padaku."
"Yang Mulia, krisis yang terjadi di BuYeo karena kekeringan panjang akan segera membaik seiring dengan berjalannya waktu." kata Bi Geum Sun. "Tapi, ada musibah besar yang sedang mengancam BuYeo."
"Musibah besar?"
"Aku yakin Yang Mulia melihat gerhana matahari yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Gerhana itu adalah pertanda bahwa matahari baru akan muncul. Setelah GoJoSeon hancur, para pengungsi terpencar dan wilayah GoJoSeon terpecah-belah menjadi banyak negara dan klan. Tapi, seorang pria yang lahir dengan energi matahari baru akan membangun sebuah negara baru. Ia akan merebut kembali wilayah GoJoSeon yang hilang dan memimpinnya."
"Maksudmu, BuYeo akan hancur?"
"BuYeo akan terus melemah sampai akhirnya hancur."
"Beraninya kau mengatakan padaku bahwa negaraku akan hancur!" seru Geum Wa marah.
"Aku hanya menyampaikan pesan langit." kata Bi Geum Sun. Ia pamit, kemudian menghilang.

Pihak GyehRu melatih dan menyiapkan pasukan untuk berperang. Chan Soo ikut dalam pasukan tersebut. Ia sudah bertekad akan membantu So Seo No mempertahankan GyehRu.

Dae So dan Seol Ran kembali ke BuYeo. Permaisuri Wan Ho sangat senang dan lega melihat mereka.
Setelah berbincang di ruangan Wan Ho, Dae So berjalan keluar. Ia berpapasan dengan Perdana Menteri.
"Kurasa Yang Mulia belum memanggilmu kembali." kata Perdana Menteri. "Ada keperluan apa kau kemari? Jika kau meninggalkan benteng depan tanpa perintah Yang Mulia, maka itu adalah sebuah pelanggaran serius."
Dae So tertawa sinis. "Apakah kau akan menghukumku atau semacamnya?"
"Aku akan menghukummu jika itu yang Yang Mulia perintahkan." kata Perdana Menteri.
"Biar aku berjanji satu hal padamu." ancam Dae So. "Jika aku mendapat kesempatan kedua, maka kau akan menjadi orang pertama yang menjadi target belatiku."

Geum Wa tiba kembali di istana BuYeo. Dae So langsung menemui dan berlutut dihadapannya. Dae So meminta maaf pada Geum Wa, kemudian menceritakan bahwa Yang Jung memintanya memimpin pasukan untuk menyerang Jolbon, namun Dae So menolak. Dae So berkata bahwa ia tidak lagi terobsesi pada kekuasaan dan memohon kesempatan kedua pada Geum Wa.
Geum Wa berpikir sejenak, dan bersedia memberikan kesempatan pada Dae So.

Yoo Hwa mengingatkan kembali janji Geum Wa untuk mengirimkan Ye Soya dan Yuri pada Jumong. Namun Geum Wa berubah pikiran.
"Akan sangat sulit bagi Yuri dan Ye Soya untuk melakukan perjalanan jauh." kata Geum Wa memberi alasan. "Kenapa kita tidak menunggu sampai Yuri sedikit lebih tua?"
"Aku akan memastikan mereka sampai di Gunung Bon Gye dengan selamat." janji Yoo Hwa.
"Perdana Menteri dan semua pejabat tidak akan setuju. Mereka tidak tahu kapan Jumong akan menyerang BuYeo."
Yoo Hwa terkejut. "Maksudmu, kau akan menjadikan Ye Soya dan Yuri sebagai tawanan?"
"Jangan anggap mereka tawanan." bantah Geum Wa. "Aku tidak punya pilihan lain jika aku ingin menjaga hubungan antara BuYeo dan Pasukan Da Mul.'
"Itu alasan yang sangat menyedihkan. Kau tidak seperti dirimu." Yoo Hwa keluar dari kamar Geum Wa dengan marah.

"Bagaimana, Ibu?" tanya Ye Soya, berharap. "Apakah Yang Mulia bersedia mengirim kami?"
"Soya, Yang Mulia ingin menjadikan kau dan Yuri sebagai tawanan."
Ye Soya terkejut sekaligus sedih.
"Jangan khawatir. Aku akan melakukan apapun untuk mengirim kau dan Yuri pada Jumong." janji Yoo Hwa.
Di Gunung Bon Gye, Mu Duk telah berpaling pada Moo Gul. Mu Song sangat cemburu dan kesal melihat mereka.
Ma Ri, Hyeopbo dan Jae Sa berdebat mengenai apakah mereka akan membantu GyehRu melawan pasukan Jolbon dan Han atau tidak.
Mo Pal Mo dan Muk Guh mengembangkan sebuah senjata baru berupa bom asap dan bom ledak.
Sayong tiba di markas Da Mul untuk menanyakan keputusan Jumong. Tapi sayang Jumong belum kembali.
Jumong dan Oyi kini akan menuju gua di gunung pendiri. Melihat gua itu membuat Jumong teringat masa lalunya ketika ia dan kedua kakaknya datang ke tempat tersebut untuk melihat Busur Da Mul.
Jumong dan Oyi masuk ke dalam gua.
"Bukankah itu sebuah busur?" tanya Oyi.
"Itu adalah benda keramat BuYeo, Busur Da Mul." jawab Jumong.
"Kau datang kemari untuk melihat benda keramat BuYeo?" tanya Oyi.
"Aku pernah datang kemari bersama Dae So dan Young Po untuk melihat Busur Da Mul." kata Jumong bercerita. "Aku mematahkan Busur Da Mul. Aku kemari karena ingin tahu bagaimana aku merusaknya dan apakah itu merupakan pertanda kehancurkan BuYeo. Aku ingin melihatnya sekali lagi."
Jumong mendekati busur Da Mul dan mengambilnya. Ia memasang tali busur, kemudian meregangkan busur tersebut. Angin datang entah dari mana dan Bi Geum Sun muncul dari belakang mereka.
"Busur Da Mul itu bukan milik BuYeo." kata Bi Geum Sun. "Busur itu adalah milikmu dan Pasukan Da Mul."

10 comments:

Anonymous said...

kok aq liat2 jumong itu mirip vj daniel yeh.... Seperti kata SBY put lanjutkan........ kamsahapnita/arigatou put

Anonymous said...

Ad yg prnh nton the legend pux Bae yong jun, kok bca sinopx raja ke 19 dr goguryeo. Bkanx it kerajaan yg dbngun jumong nti, ap msh ad kaitanx y??

Put said...

Pemimpin yang baik bisa berubah ya jadi tidak amanah karena mempertahankan kekuasaan, seperti Raja Gem Wa yg menyandera keluarga Jumong. Salute u/ Putri. Lanjut!.

secret said...

asuh.......put...aku juga ga tau tu di blog ku namanya secret gitu.......aku lupa mau gantinya gmn...tapi nama ku Dara...ok......jad u bisa panggil diriku dara...wkwkwkwkwwkwkwkwkw....l
eh put untuk hari ini kok blom ada sinopsis jejoongwon......aku tiap hari nunggu 2 put.......itu ampek brapa episode thow........makasih put...n semangat selalu.....

Anonymous said...

kak.,,,put...itu yang jadi peramal yang rambutnya putih itu apa yang jadi peramal juga di queen sen deok yach???? bener gak????
tahnkz sinopna...lanjutin iyah.....ditunggu....

emond said...

kak.,,,put...itu yang jadi peramal yang rambutnya putih itu apa yang jadi peramal juga di queen sen deok yach???? bener gak????
tahnkz sinopna...lanjutin iyah.....ditunggu....

Anonymous said...

Put... Setelah Jumong Selesai...
nanti lanjutin sm Kingdom of the Wind ya...
Itu yg lanjutannya Jumong...
Kisah cucunya Jumong yg main Song Il Gook juga...
Makasih before....

あり said...

ck..ck..geum wa sdh kelihatan jahatnya @_@ makin seru ni put, epsode ini dah nonton ari tapi ya itu putus nyambung tapi lebih seru baca disini :)

Anonymous said...

put tolong tampilin lagi donk sinopsis QSD, saya pingin membcanya lagi,.....sebenarnya sih saya dah nonoton dan membaca sinopsissnya tapi keingin membacanya lagi,.....heheheee pisss

puisi_febykuchiki said...

duh,,,tersentuh banget lihat yuri ma ye soya berpelukan... tumpah deh air mataku...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda