Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Jumong Episode 61

Friday, April 9, 2010

Sinopsis Jumong Episode 61

Sinopsis Jumong Episode 61

Na Ru dan Song Ju memimpin para pengawal BuYeo untuk mencari Yoo Hwa, Ye Soya dan Yuri. Saat mencapai hutan, mereka berhasil mengejar namun Yoo Hwa bersembunyi dan berhasil lolos.
"Kita tidak akan bisa menemukan mereka dengan cara seperti ini." kata Na Ru. "Kita harus menutup jalan menuju Jolbon dan menangkap mereka disana."

Pasukan BuYeo menutup jalan menuju Jolbon dan memeriksa setiap orang yang hendak menyebrangi sungai.
"Semua jalan ditutup, Ibu." kata Ye Soya. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Kita harus menunggu sampai matahari terbenam." kata Yoo Hwa.
Ketika akan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi, mereka bertemu dengan kelompok pedagang Chun Gyeong Sul.
"Kami tidak bisa menyebrangi sungai karena mereka menjaga dengan ketat." kata Yoo Hwa, menjelaskan keadaan mereka. "Aku butuh bantuanmu."
"Aku mengerti." kata Gyeong Sul.
Yoo Hwa dan Ye Soya menyamar sementara mereka menyembunyikan Yuri di dalam tumpukan karung.
"Tidak perlu takut." kata Ye Soya pada putranya. "Bertahanlah sebentar."
"Ya." kata Yuri.
Rombongan pedagang tersebut meneruskan perjalanan mereka menuju ke perbatasan.

"Kupikir kau akan pergi ke BuYeo." kata penjaga pada Gyeong Sul. "Bukankah kau baru saja melewati perbatasan?"
"Aku memutuskan untuk kembali karena aku harus melakukan perdagangan penting di Jolbon." kata Gyeong Sul.
"Apakah kau melihat beberapa wanita di dekat perbatasan?" tanya penjaga.
"Siapa yang kau cari?"
"Beberapa orang berbahaya berusaha keluar dari BuYeo." kata penjaga. "Ada tiga orang wanita dan satu anak-anak. Segera laporkan pada Pasukan BuYeo jika kau melihat mereka." Satu orang wanita lagi adalah pelayan Yoo Hwa.
"Aku mengerti." kata Gyeong Sul.
"Kalian boleh lewat!" teriak penjaga.
Rombongan hendak berjalan melewati gerbang. Namun mendadak Na Ru dan Song Ju datang.
"Tahan!" perintahnya.
Na Ru memeriksa karung-karang barang dagangan Gyeong Sul, kemudian menusukkan pedang ke dalam karung. Yoo Hwa dang Ye Soya ketakutan dan panik. Yuri ada di antara karung-karung tersebut.
Gyeong Sul turun dari kudanya. "KAu menghancurkan dagangan kami!" serunya.
Na Ru mengarahkan pedang ke leher Gyeong Sul. "Mundur!" perintahnya.
Na Ru terus menusukkan pedang ke dalam karung, gerobak demi gerobak. Dan ketika ia hendak menusukkan pedang ke gerobak tempat Yuri bersembunyi, Ye Soya berteriak, "Hentikan!"
Yoo Hwa berbalik. "Hentikan." katanya.
Ye Soya menangis.
Na Ru memerintahkan prajuritnya membuka tumpukan karung. Yuri ada di dalamnya. Na Ru kemudian mengarahkan pedang ke leher Yuri.

Ye Soya, Yoo Hwa dan Yuri dibawa kembali ke BuYeo, termasuk Chun Gyeong Sul.
"Kami menemukan mereka mencoba melewati perbatasan dengan menyamar sebagai pekerja dagang." kata Song Ju melapor pada Geum Wa.
Yoo Hwa menatap Geum Wa tajam.
"Bagaimana kau bisa mengenal Lady Yoo Hwa?" tanya Geum Wa pada Gyeong Sul.
"Secara tidak sengaja, aku bertemu dengannya di dekat perbatasan dan dia memohon...." Jawaban Gyeong Sul dipotong oleh Geum Wa.
"Kau mempertaruhkan nyawamu untuk menolong seseorang yang baru saja kau temui?" tanya Geum Wa curiga. "Aku berani bertaruh bahwa kau bekerja untuk Jumong."
"Itu tidak benar!" kata Gyeong Sul.
Yoo Hwa membela Gyeon Sul. "Tuan Chun tidak melakukan kesalahan apa-apa." katanya. "Aku bertemu dengannya di dekat perbatasan dan memintanya membawaku ke Jolbon."
"Siksa dia sampai dia mengatakan kebenaran dan kurung Ye Soya dan Yuri dikamar mereka." perintah Geum Wa.

Ye Soya dipaksa berjalan menuju kamarnya. Di tengah perjalanan, ia bertemu Seol Ran.
Seol Ran menamparnya. "Satu-satunya cara untuk meninggalkan BuYeo adalah mati sebagai tawanan." katanya.
"Aku sudah mengatakan bahwa aku akan mengirim Ye Soya dan Yuri jika saatnya sudah tepat." kata Geum Wa pada Yoo Hwa. "Selama ini kau selalu mempercayai aku. Kenapa kau berubah?"
"Kaulah yang berubah." kata Yoo Hwa. "Kaulah yang mengingkari janjimu padaku dan menjadikan Ye Soya dan Yuri sebagai tawanan."
"Aku adalah Raja BuYeo." kata Geum Wa. "Mengetahui bahwa Jumong akan membuat BuYeo hancur, aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menentangnya. Aku menahan Ye Soya dan Yuri untuk menghindari perang dengan Jumong. Apakah kau mengerti?"
"Impian Jumong bukan untuk menghancurkan BuYeo." kata Yoo Hwa. "Jumong hanya ingin merebut kembali wilayah GoJoSeon yang hilang. Jika BuYeo dan Jumong bergabung, maka kita bisa membangun sebuah negara yang kuat dan mengembalikan kejayaan GoJoSeon."
"Kehilangan nama sama halnya dengan hancur." kata Geum Wa. "Bagaimana aku bisa menemui tetua BuYeo setelah aku mati?" Geum Wa bangkit dari duduknya dan mendekati Yoo Hwa. "Kenapa kau melakukan semua ini padaku? Aku tidak bisa mengirimmu. Lebih baik aku mati daripada mengirimmu pergi."
"Bunuh aku." kata Yoo Hwa. "Bunuh aku dan lepaskan Ye Soya dan Yuri."
Geum Wa menangis.

Na Ru menyiksa Gyeong Sul agar mengaku. Namun Gyeong Sul bersikeras bahwa ia tidak bekerja untuk Jumong.
Young Po cemas. Ia takut bahwa Gyeong Sul akan mengatakan bahwa Young Po-lah yang yang memberikan catatan GoJoSeon padanya. Young Po memerintahkan Ma Jin untuk membunuh Gyeong Sul.
Gyeong Sul tewas.

Salah satu anak buah Jae Sa datang. Ia melaporkan bahwa Yoo Hwa dan Ye Soya ditangkap ketika hendak melewati perbatasan. Jae Sa bergegas memberitahukan informasi ini pada Jumong.
"Tuan Chun disiksa sampai mati karena ia mencoba menolong mereka keluar dari BuYeo." kata Jae Sa.
Jumong sangat terkejut dan sedih.
Semalaman, Jumong hanya diam dan berpikir. Hatinya sangat sedih memikirkan nasib ibu, istri dan putranya yang menjadi tawanan BuYeo.

Keenam perwira Jumong ikut sedih sekaligus marah.
"Ketimbang menyerang Song Yang, lebih baik kita menyerang BuYeo." kata Oyi kesal.
So Seo No dan Sayong berjalan mendekati Oyi dan yang lainnya.
"Dimana Jenderal Jumong?" tanya So Seo No. "Aku ingin merundingkan sesuatu yang penting dengannya."
"Kurasa saat ini bukan waktu yang tepat." kata Jae Sa.
"Ada masalah apa?" tanya Sayong.
"Ladu Yoo Hwa dan Ledy ye Soya mencoba pergi ke GyehRu." kata Hyeopbo. "Tapi mereka ditangkap oleh prajurit dan dibawa kembali ke istana BuYeo."

Jumong berdiri diam, mengepalkan tangannya erat-erat.
So Seo No melihatnya dari jauh dengan sedih.

Dae So menawarkan bantuan pada Song Yang. BuYeo bersedia mengirimkan pasukan bantuan dengan syarat Song Yang memberi mereka stok kebutuhan perang dan makanan. Namun Song Yang tidak bisa memenuhi syarat itu karena kelangkaan makanan yang sedang menimpa Jolbon.

Mendengar bahwa di GyehRu tidak ada kelaparan, rakyat BuYeo berbondong-bondong pergi menuju GyehRu. Ditambah lagi, Pasukan Da Mul dan GyehRu menerima semua orang dari klan dan negara apapun.
Masalah itu membuat pihak BuYeo pusing.
Orang-orang yang mencoba melarikan diri melewati perbatasan ditangkap dan dibawa ke istana.
"Kalian menyebut diri kalian warga BuYeo?!" seru Dae So marah. "Aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri!"
Dae So menarik pedang dan hendak menebas para warga.
"Hentikan!" Geum Wa berseru menahan Dae So. "Apa yang terjadi?"
"Mereka ingin meninggalkan BuYeo dan pergi ke GyehRu." jawab Dae So.
"Mulanya kami tidak terpikir meninggalkan BuYeo." kata salah seorang warga ketakutan. "Tapi keluarga kami kelaparan hingga mati di depan mata kami sendiri."
"Kudengar GyehRu memiliki cukup makanan." kata warga lain. "Kenapa BuYeo tidak bergabung saja dengan GyehRu untuk menyelamatkan rakyat?"
"Yang Mulia, bergabunglah dengan Pangeran Jumong dan selamatkan kami!" seru warga yang lain.
"Siapa raja kalian?" tanya Geum Wa. "Jumong atau aku?"
Warga terdiam.
"Dae So." panggil Geum Wa. "Penggal kepala orang-orang ini dan gantungkan di jalan. Perketat penjagaan di perbatasan dan pengal semua orang yang mencoba melewati perbatasan."
"Ya, Yang Mulia!" seru Dae So.

Para warga yang berhasil kabur dan datang ke GyehRu langsung diberi makan.
Chae Ryeong dan Yang Tak protes. Jika mereka terus memberi makanan pada pengungsi, maka rakyat GyehRu-lah yang akan mati kelaparan.
Mo Pal Mo dan Mu Song bergegas melapor pada Jumong bahwa pihak GyehRu tidak mau memberikan makanan pada pengungsi.
Jumong menemui Yeon Ta Bal dan So Seo No. "Aku akan mengatur segalanya." kata Jumong meyakinkan. "Tolong keluarkan stok makanan."
Yeon Ta Bal setuju. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mengeluarkan stok makanan.
"Aku akan berusaha mencari jalan untuk menyatukan Jolbon tanpa peperangan." kata Jumong.
"Bagaimana kita bisa melakukannya tanpa perang?" tanya So Seo No. "Selama semua kepala klan tunduk pada Song Yang, kita tidak bisa menyatukan Jolbon tanpa perang."

Jumong kemudian meminta Yeon Ta Bal menceritakan sifat dan karakteristik kepala klan JolBon.
"Dibandingkan dengan Hwanna dan Yunna, Gwanna berdiri melawan Song Yang dalam jangka waktu yang lama sebelum akhirnya terpaksa menyerah." kata Yeon Ta Bal. "Kepala klan Hwanna memiliki hati yang sangat lemah dan tidak mendambakan kekuasaan. Sedangkan Kepala klan Yunna sangat setia pada Song Yang."
Setelah berpikir, Jumong mengerahkan pasukannya menuju ke Gwanna.
Moo Gul dan Oyi dengan diam-diam menangkap dan membawa Kepala Klan Gwanna ke hadapan Jumong.
"Aku tahu kau memihak Song Yang karena terpaksa." kata Jumong. "Tugasmu adalah melindungi rakyatmu. Tidak seharusnya kau membiarkan rakyatmu yang kelaparan menumpahkan darah di medan perang. Jika Song Yang memenangkan perang melawan GyehRu, ia akan menyerahkan Jolbon pada Han. Belum terlambat untuk bergabung dengan kami. Jika kau bersedia bergabung, kami akan melindungi rakyatmu."
Kepala Klan Gwanna mendongak menatap Jumong, merasa ragu.
Jumong menunduk di depan Kepala Klan Gwanna. "Ketimbang hidup dibawah Song Yang dan Han, kenapa kau tidak membangun sebuah negara baru bersamaku?"
Kepala Klan Gwanna terdiam beberapa lama, kemudian bersedia bergabung dengan Jumong.

Keesokkan harinya, Jumong meminta Kepala Klan Gwanna menyampaikan pesan pada Kepala Klan Hwanna. Jika Kepala Klan Hwanna tidak besedia bergabung dengan Jumong, maka Pasukan Da Mul akan menyerang mereka. Kepala Klan Hwanna akhirnya bersedia bergabung dengan Jumong.
Ma Ri dan Jae San datang ke BiRyu untuk menyampaikan pesan pada Song Yang.
"Jenderal Jumong tidak ingin rakyat Jolbon saling berperang satu sama lain." kata Jae Sa.
"Ia ingin kau bergabung dengan Pasukan Da Mul untuk mengusir Han dan merebut kembali wilayah GoJoSeon yang hilang." tambah Ma Ri. "Apakah kau bersedia bergabung dengan kami?"
"Kalian telah diusir dari BuYeo!" seru Song Yang. "Beraninya kau meminta kami bergabung dengan kalian?! Pergi dan katakan pada Jumong. Walaupun Gwanna dan Hwanna menyerah, aku tetap teguh dan kuat. Aku akan mengalahkan Pasukan Da Mul dan mengembil alih GyehRu."
"Pilihlah dengan bijaksana." saran Jae Sa, namun Song Yang tetap bersikeras menolak.
Jae Sa dan Ma Ri saling bertukar pandang, kemudian berjalan pergi.

Dalam keadaan kritis, Song Yang datang ke Hyeon To untuk meminta bantuan pasukan pada Yang Jung. Namun Yang Jung menolak.

Pasukan Da Mul mulai bersiap menyerang BiRyu. Song Yang dalam keadaan terjepit. Ia mengirim utusan ke markas Pasukan Da Mul untuk menyampaikan pesan pada Jumong.
"Kepala Klan Song Yang ingin bicara dengan Jenderal Jumong." kata utusan tersebut.
"Dimana?" tanya Jae Sa.
"Di markas kami." jawab utusan. "Ia ingin kau datang sendirian."
Jumong dan para perwiranya mengadakan rapat. So Seo No, Oyi dan Jae Sa curiga bahwa Song Yang merencanakan sesuatu untuk mencelakai Jumong dan menyarankan agar Jumong tidak pergi.
Jumong terdiam sesaat kemudian berkata, "Warga BiRyu adalah warga Jolbon yang juga harus kita bawa dibawah sayap kita."
Para perwira Jumong terdiam.
"Kita sedang mengambil mengambil langkah awal untuk merebut kembali wilayah dan mengembalikan kejayaan GoJoSeon." kata Jumong. "Penyatuan Jolbon adalah langkah awal untuk membangun sebuah negara baru. Jika kita menumpahkan darah sekarang, maka jalan kita akan dipenuhi darah. Jika keinginanku sama dengan keinginan langit, aku yakin langit tidak akan meninggalkan kita. Aku akan menemui Song Yang."
Jumong mengendarai kudanya dan pergi seorang diri ke markas Song Yang.

7 comments:

あり said...

sukses utk jumong ^^....put ari suka banget ama foto yuri dan jumong ^^

yoora said...

mantap dah jumong.. pemimpin yg bagus yaa..
yuri ny alucu yaa ri..
:)

Anonymous said...

mabelus...mabelus...mabelus pasti gara2 jumong mikirin ibuny, istri dan anaknya jd makan habis, mandi tak basah, tidur tak nyenyak sepeti si rambo ha........ put msh semangatkn boleh lanjut donk he.....

Anonymous said...

put smangat yach bwt lanjutin jumong......kasian bgt dech ma ye soya n yuri...T_T

put said...

Waah Jumong menantang maut lagi. Hebat Jumong!

Anonymous said...

Hampir aj yuri mati.emang yuri itu umur brp sih,koq dah tw mksud prkataan org dewasa ya.evi.

puisi_febykuchiki said...

kurang ajar tuh seol ran... yang sabar ya.. ye soya. kamu dan yuri pasti bs ketemu jumong!!!fighting!!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda