Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Jumong Episode 63

Saturday, April 10, 2010

Sinopsis Jumong Episode 63

Sinopsis Jumong Episode 63

Bu Beo No memulai pekerjaannya sebagai prajurit depan. Saat hari gelap, dengan diam-diam ia menyusup menuju kamar Jumong. Ketika Jumong sudah hendak tertidur, Bu Beo No mengeluarkan pisaunya. Namun mendadak Sayong dan So Seo No berjalan ke kamar Jumong. Bu Beo No menyimpan kembali pisaunya. Ini bukan waktu yang tepat.

Sayong dan So Seo No mengatakan pada Jumong bahwa aktivitas perdagangan GyehRu di Heng In diberhentikan dan managernya dibunuh.
"Bukankah GyehRu dan Heng In menjalin hubungan baik?" tanya Jumong. "Ada apa?"
"Persekutusan antara Han dan BuYeo menekan Heng In untuk menghentikan perdagangan dengan Jolbon." kata Sayong. Ngajak perang nih Han sama BuYeo.
Karena masalah pemberhentian perdagangan dengan Heng In, para Kepala Klan Jolbon datang ke GyehRu untuk mengadakan rapat.
Para Kepala Klan melapor bahwa beberapa klan termasuk Klan MalGal dan OkJo Selatan menghentikan perdagangan dengan Jolbon karena takut akan tekanan Han dan BuYeo.
"Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan tanganku sendiri." kata Jumong. "Jangan khawatir."
"Kau harus melewati Suh San jika ingin membawa garam Go San." kata Song Yang. "Sejauh yang kutahu, Suh San juga melakukan embargo."
"Rakyat akan mati kelaparan sampai mati jika kita tidak bisa membawa makanan." kata Kepala Klan.
"Jika kau tidak bisa menyelesaikan masalah ini, maka kami mungkin akan mengambil keputusan yang tidak kausukai." kata Song Yang.
Di BuYeo, para Kepala Klan yang bersedia menghentikan perdagangan dengan Jolbon datang. Banyak sekali yang bersedia, kecuali Mau. Perdana Menteri mengatakan bahwa Mau masih bersikeras tidak bersedia menghentikan perdagangan dengan Jolbon.
"Jenderal Heuk Chi, siapkan pasukan untuk menekan Klan Mau." perintah Geum Wa. "Jika mereka masih menolak, bunuh Kepala Klan."
"Klan dan negara yang tidak bersekutu dengan Geum Wa dan aku akan hancur!" seru Yang Jung mengancam.
"Negara yang melakukan perdagangan dengan Jolbon akan menjadi negara pertama yang akan diserang oleh persekutuan Han dan BuYeo." kata Geum Wa menambahkan.
Para Kepala Klan terkejut dan cemas.
Saat Mo Pal Mo, Mu Song dan Gye Pil sedang memagikan makanan pada para pengungsi yang datang, seorang anak mencuri kantong uang Gye Pil. Anak itu menggunakan bubuk bunga sebagai senjata ketika Mu Song hendak menangkapnya.
Mo Pal Mo terkesan pada anak itu karena tahu mengenai bubuk bunga, kemudian menajak anak-anak itu bergabung bersamanya di bengkel pandai besi.

Jumong dan para perwiranya mengadakan rapat untuk mencari solusi masalah makanan di Jolbon. Keputusan yang diambil adalah berusaha membawa garam GoSan secepatnya ke Jolbon. Sayong bersedia pergi untuk bertanya pada Bae Mang apakah ia punya cara untuk membawa garam ke Jolbon.
Malam itu, Bu Beo No dengan beberapa penjaga gerbang depan berjaga malam. Bu beo No mendengarkan percakapan dua orang penjaga mengenai masalah makanan di Jolbon. Mereka yakin Jenderal Jumong akan menyelesaikan masalah itu.
Tidak lama kemudian, Jumong datang untuk melihat keadaan.
"Jenderal, kami dengar Jolbon sedang dilanda masalah serius." kata penjaga. "Tapi, kami percaya sepenuhnya padamu."
Jumong menepuk pundak penjaga itu. "Bukankah nama putramu yang lahir di San Chae adalah San Chun?"
Penjaga itu tersenyum. Temannya menjawab untuknya, "Ya dan ia akan segera memiliki anak kedua. Ia punya kemampuan dalam membuat anak."
"Aku akan memberi nama pada anak keduamu." kata Jumong. "Katakan padaku jika ia lahir."
Jumong menoleh pada Bu Beo No. "Aku tidak punya kesempatan untuk mengenalmu." kata Jumong. "Apakah kau sudah menikah?"
"Belum." jawab Bu Beo No.
Kedua penjaga mengatakan pada Jumong untuk mencarikan seorang gadis untuk Bu Beo No. Jumong tertawa dan menjawab bahwa jika ia sudah menemukan seorang gadis, ia akan segera memberitahunya. Jumong berjalan pergi untuk melihat keadaan penjaga yang lain.
"Apakah Jenderal benar-benar memberi nama pada putramu?" tanya Bu Beo No.
"Ya, dia memberi nama semua anak yang lahir ketika kami ada di San Chae."
"Disaat-saat sulit, Jenderal akan membantu menyuapi anak-anak." tambah penjaga yang satunya. "Pasukan Da Mul siap untuk memberikan nyawa kami untuk Jenderal jika diperlukan."
Bu Beo No terdiam.

Dae So merasa senang karena Jolbon mengalami banyak masalah.
"Jumong akan melakukan apapun untuk menyelesaikan masalah embargo ini." kata Dae So. "Ia tidak memiliki apa-apa kecuali garam Go San. Tutup semua jalan agar garam Go San tidak bisa mencapai Jolbon." perintah Dae So pada Na Ru.

Malamnya, rombongan pembawa garam Go San, Sayong dan Bae Mang berjalan melewati sebuah jalur. Disana, Na Ru dan pasukannya sudah bersembunyi untuk melakukan penyergapan. Ketika rombongan itu sudah mendekat, pasukan Na Ru menyerang mereka.
Dalam peperangan itu, Bae Mang terbunuh. Sayong berhasil melarikan diri.
"Hanya ada satu cara untuk mendapatkan makanan." kata Jumong setelah Sayong menceritakan kejadian tadi malam. "Yaitu membawa dari selatan."
"Aku tahu daerah selatan memiliki banyak biji-bijian kerena cuaca yang bagus dan tanah yang subur." kata Sayong. "Tapi jaraknya 10.000 li. Bagaimana kita bisa membawanya kesini? Itu mustahil."
"Jika kita menyerah, maka tidak akan ada jalan untuk menyelesaikan embargo." kata So Seo No. "Kita harus melakukan sesuatu."

Oyi melihat para prajurit berlatih. Ia masih merasa curiga pada Bu Beo No.
"Dia mengatakan bahwa ia datang dari OkJo." kata Oyi pada teman-temannya. "Tapi caranya bertarung mengatakan bahwa ia berasal dari BuYeo. Kenapa seorang pria dari OkJo bertarung seperti ia berasal dari BuYeo?"
"Apa salahnya dengan cara dia bertarung?" tanya Hyeopbo. "Dia kelihatan hebat."
"Tidakkah kalian ingat kalau kita ppernah bertemu dengannya sebelumnya?" tanya Oyi, berpikir.
Teman-temannya tidak meminta Oyi jangan berpikir bodoh, tapi Oyi tetap saja curiga.

Malamnya, Bu Beo No kembali mencoba menyusup untuk membunuh Jumong.
Dilain sisi, Oyi masih terus berpikir dan mengingat-ingat Bu Beo No. "Dia kelihatan tidak asing lagi." pikir Oyi.
Oyi keluar dari kamarnya untuk mencari Bu Beo No, tapi ternyata Bu Beo No tidak ada di depan gerbang.
"Belum lama dia masih disini." kata penjaga gerbang.
Oyi menjadi cemas dan bergegas masuk ke dalam.

Bu Beo No menggunakan kain penutup wajah. Ia mengeluarkan pisaunya dan membuka pintu kamar Jumong. Jumong sedang tidur.
Dengan berhati-hati, Bu Beo No mengangkat pisaunya untuk menusuk Jumong. Namun mendadak Jumong bangun. Rupanya ia sudah menyadari ada penyusup yang masuk.
Bu Beo No mencoba berlari kabur, namun Jumong berhasil menangkapnya.
Di saat yang sama, Oyi datang. Ia membuka penutup wajah Bu Beo No.
Bu Beo No diikat dan dibawa ke depan bangunan utama GyehRu.
"Darimana kau berasal?" tanya Oyi.
"Aku berasal dari OkJo." jawab Bu Beo No.
Oyi menendang Bu Beo No. "Katakan yang sebenarnya!" Namun Bu Beo No tetap bersikeras mengatakan bahwa ia berasal dari OkJo. "Aku tahu kau berasal dari BuYeo." kata Oyi. Ia mengeluarkan pedangnya dan mengarahkan ke leher Bu Beo No. "Katakan padaku, siapa yang mengirimmu?"
Bu Beo No diam.
"Apakah kau benar-benar berasal dari BuYeo?" tanya Jumong tenang. "Katakan padaku, siapa yang mengirimmu?"
Bu Beo No mendongak menatap Jumong. "Pangeran Dae So memerintahkan aku untuk membunuhmu. Dia menyut=ruhku menyamar menjadi pengungsi. Aku adalah prajurit istana dibawah pimpinan Pangeran Dae So. Bunuh saja aku. Tapi, aku ingin mengatakan sesuatu sebelum aku mati."
Jumong diam, mendengarkan.
"Beberapa waktu yang lalu, aku diperintahkan oleh Pangeran Dae So untuk memata-matai Pasukan Da Mul ketika kalian meninggalkan Gunung Bon Gye menuju ke GyehRu." kata Bu Beo No.
Akhirnya Oyi teringat.
"Aku mencoba menyusup ke markas untuk membunuhmu." Bu Beo No melanjutkan. "Tapi, aku sangat terkejut melihat bagaimana kau memimpin pasukan dan menganggap mereka seperti bagian tubuhmu sendiri. Aku pernah mengabdi pada banyak pemimpin BuYeo, tapi aku tidak pernah melihat seorang pemimpin sepertimu." Bu Beo No terdiam sesaat, kemudian menambahkan. "Walaupun kau adalah musuh yang harus kubunuh, tapi di hatiku yang terdalam aku mengagumimu. Jika langit memberiku kesempatan untuk mengabdi padamu sebelum aku bertemu dengan Pangeran Dae So, hidupku pasti akan berbeda."
"Diam!" seru Jae Sa.
"Kami tidak perlu mendengarkan ini." tambah Moo Gul. "Jenderal, penggal kepalanya dan kirim pada Pangeran Dae So."
"Aku mangatakan semua ini bukan untuk memohon pengampunan." kata Bu Beo No. "Aku mencoba membunuhmu karena Pangeran Dae So mengancam akan membunuh keluargaku. Tapi aku sangat senang bisa mengabdi padamu selama aku tinggal di GyehRu." Bu Beo No menangis. "Jika aku dilahirkan kembali, aku pasti akan mengabdi padamu. Sekarang, bunuhlah aku."
Jumong terdiam beberapa saat. "Buka ikatannya." katanya.
"Jenderal, jangan termakan kata-katanya." ujar Ma Ri. "Dia mencoba membunuhmu."
Hyeopbo membuka ikatan Bu Beo No.
"Pergilah ke BuYeo." kata Jumong.
"Jika aku tidak membunuhmu, maka Pangeran Dae So akan membunuhku." kata Bu Beo No. "Aku lebih memilih mati di tanganmu dibanding di tangan Pangeran Dae So. Tolong bunuhlah aku."
"Pergilah ke BuYeo dan katakan pada Dae So bahwa kau telah membunuhku." kata Jumong. "Dae So tidak akan mempercayaimu kecuali jika kau membawa kepalaku. Tapi aku akan membantumu agar dia bisa mempercayaimu. Katakan padanya kau telah membunuhku, lalu selamatkan keluargamu."
"Jenderal!" Bu Beo No berlutut di depan Jumong.
Keesokan harinya, Bu Beo No kembali ke BuYeo dan mengatakan pada Dae So bahwa ia berhasil membunuh Jumong. "Aku tidak bisa membawa kepalanya karena prajurit mengejarku."
Na Ru dan Dae So ragu. Na Ru berkata bahwa tidak mungkin Bu Beo No berhasil meloloskan diri dari GyehRu tanpa terluka sedikitpun.
Dae So berpikir. "Na Ru, kirim pesan pada mata-mata kita di GyehRu untuk memastikan kata-kata Bu Beo No." perintahnya. "Awasi Bu Beo No dan keluarganya."

Atas bujukan Ma Jin, Young Po kembali ke Chang An. Ia kini bertemu dengan seorang pejabat Han bernama Tuan Hwang. Young Po menawarkan kerjasama dengannya. Young Po belum mendengar bahwa Han dan BuYeo telah bersekutu.
"Ini semua berkat Pangeran Dae So." kata Tuan Hwang mengomentari persekutan itu. "Tapi, masih ada kesempatan untukmu. Aku akan pergi ke Hyeon To. Kaisar mengirimku ke Hyeon To untuk menggantikan Gubernur Yang Jung dan menghukumnya. Jika aku perggi ke Hyeon To, aku akan membantumu."
"Terima kasih!" seru Young Po senang.

Jumong mengajak beberapa prajuritnya untuk menemui bajak laut Eu Pru di Utara OkJo. Ia berniat meminta bantuan kapal bajak laut untuk pergi ke selatan dan membawa makanan yang mereka butuhkan.
"Aku tidak yakin mereka akan membantumu." kata So Seo No ragu. "Lagipula, sangat sulit melewati perbatasan karena embargo dari Han dan BuYeo."
"Itulah resiko yang harus kuambil." kata Jumong.

Mata-mata BuYeo tidak bisa mengetahui keberadaan Jumong. Jumong tidak terlihat dimanapun. Kabar ini segera disampaikan ke BuYeo.
Malam harinya, Jumong dan yang lainnya menyamar dan pergi dari GyehRu. Jumong meminta Yeon Ta Bal agar tidak memberitahukan siapapun mengenai kepergian mereka.

Walaupun sudah mendapat informasi dari mata-matanya, namun Dae So masih ragu mengenai kematian Jumong. Ia meminta Peramal Ma Oo Ryeong untuk mencari tahu apakah Jumong memang sudah mati atau belum.
"Aku tidak tahu apa artinya." kata Ma Oo Ryeong setelah berdoa. "Tapi awan hitam sedang menyelimuti Jumong dan Jolbon. Kurasa, sesuatu pasti terjadi padanya."
Dae So tersenyum senang.

Kabar kematian Jumong dampai di telinga Permaisuri Wan Ho. Dengan perasaan senang dan menang, ia menemui Yoo Hwa dan memberitahukan kabar tersebut.
Yoo Hwa terkejut, tapi ia tidak percaya bahwa Jumong sudah meninggal.

Dae So menemui Geum Wa. Setelah menceritakan mengenai kematian Jumong, Dae So meminta pasukan. Ia akan memimpin pasukan untuk menyerang dan mengambil alih Jolbon. Geum Wa setuju.
Di lain pihak, Jumong dan kawan-kawannya kesulitan untuk pergi melewati OkJo untuk menuju ke Eu Pru karena Han dan BuYeo menutup semua jalan.
"Kita akan menyerang pasukan sekutu Han dan BuYeo, kemudian pergi ke OkJo." kata Jumong. "Bersiaplah."
Pasukan Jumong bersembunyi dan bersiap menyerang markas pasukan Han dan BuYeo yang menutupi jalan ke OkJo.
Mereka mengenakan penutup wajah dan membunuh semua pasukan Han dan BuYeo.
Setelah semua prajurit tewas, Jumong membuka gerbang perbatasan. Dari seberang gerbang, banyak pasukan berlarian menyerang.

6 comments:

puisi_febykuchiki said...

uhh...seronok sangat!!!semangat kak!!!

Anonymous said...

makin seru.....

put said...

makin seru! ayo serbu! ..

Anonymous said...

kali ini gw bangga sm bo beo no. hidup jumong......... serang............. pasukan han buyeo. ayo..........put.......lanjt.........kan.

Anonymous said...

Serang!!!
Dah bc sinopnya aj seru,aplagi klo nonton jg.pntas aj korean drama trbaik versi kak putri no1 i2 jumong.

あり said...

mantap put, makin keren smangat...jngan lupa istirahat jg hehhe

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda