Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Jumong Episode 72

Tuesday, April 13, 2010

Sinopsis Jumong Episode 72

Sinopsis Jumong Episode 72

Jumong dan Pasukan Jolbon datang ke Hyeon To. Mereka disambut dengan sorak-sorai para pengungsi dan pasukan yang berjaga disana.
Malamnya, Pasukan Jolbon, Pasukan Da Mul, dan para pengungsi mengadakan jamuan makan malam untuk merayakan keberhasilan mereka mengusir Pasukan Han. Mereka tertawa, berdansa dan bersenang-senang.
Yeon Ta Bal terharu melihat So Seo No bahagia setelah sekian banyak penderitaan yang telah diterimanya.

Jumong dan ketujuh perwiranya (sekarang ditambah Bu Wi Yeom dan Bu Beo No sedang pergi) minum bersama untuk merayakan keberhasilan mereka.
"Sejak hari aku menjadi Pangeran BuYeo sampai saat aku memimpin kalian hari ini, kalian selalu mendukungku." kata Jumong. "Tanpa kalian, aku tidak akan bisa mwujudkan mimpiku disini saat ini."
"Sungguh kehormatan bagi kami bertemu dan minum denganmu saat ini." kata Jae Sa.
"Minum-minum seperti itu, aku seperti melihat Mu Duk." kata Moo Gul.
"Siapa Mu Duk?" tanya Bu Wi Yeom.
"Dia kekasihku." kata Moo Gul, tertawa.
"Benar!" ujar Hyeopbo. "Sangat membosankan hanya minum bersama kalian!"
"Apa kau memikirkan Sayong?" tanya Oyi mengejek.
"Bukankah Sayong itu laki-laki?" tanya Bu Wi Yeom polos.
"Bagi kita, Sayong memang laki-laki." kata Ma Ri. "Tapi bagi Hyeopbo, Sayong adalah perempuan!"
Mereka semua tertawa. Hyeopbo marah-marah. Bu Wi Yeom bingung.
Jumong pergi keluar, menunggu Bu Beo No. "Bagaimana?" tanyanya ketika Bu Beo No tiba.
"Aku sudah mencari ke seluruh Hyeon To, tapi tidak bisa menemukan Putri Ye Soya dan Yuri." kata Bu Beo No menyesal. "Mulanya kupikir Pangeran Young Po mengatakan kebenaran, tapi kurasa itu hanya kebohongan."
Jumong kecewa dan sedih. Harapannya musnah.
"Ini salahku karena tidak bisa membawa Lady yoo Hwa dan Putri Ye Soya ketika meninggalkan BuYeo." ujar Bu Beo No sedih. "Seharusnya aku melakukan segala cara untuk membawa mereka kemari."
"Aku ingin menerima kematian mereka, tapi sangat sulit melepaskan mereka karena aku belum pernah melihat Yuri." kata Jumong dengan mata berkaca-kaca. Jumong mencoba menahan air matanya, namun gagal. "Bu Beo No, seperti apa Yuri?"
"Ia memiliki mata yang jernih." kata Bu Beo No. "Aku belum pernah melihatmu ketika kau masih kecil, tapi aku yakin ia mirip denganmu." Iya lah, siapa dulu ayah dan ibunya. Anaknya pasti ganteng. Hehe..
Jumong menangis.
Dae So dan Na Ru tiba di BuYeo, mengabarkan kekalahan pihak Han.
"Jenderal Heuk Chi mungkin sedang menuju kemari bersama pasukan yang tersisa." kata Na Ru pada para pejabat.
Dae So, dengan marah besar berjalan cepat menuju kuil ramalan.
Ia berdiri di ruang persembahan dan mengambil papan nisan Lady Yoo Hwa kemudian membuangnya. "Bakar papan nisan Ladu Yoo Hwa!" teriak Dae So. "Bakar!"
"Apa yang kau lakukan?!" seru Geum Wa, muncul dari pintu. Geum Wa memerintahkan mereka semua keluar karena ia ingin bicara berdua dengan Dae So. "Kau kembali hidup-hidup setelah meninggalkan pasukanmu. Seharusnya kau menyesal! Apa yang kau lakukan?"
"Dia adalah ibu Jumong, orang yang membawa kehancuran BuYeo." kata Dae So. "Bagaimana bisa kita meletakkan papan nisannya di kuil kita?"
"Aku sudah mengatakan bahwa aku menghormati Lady Yoo Hwa sebagai Permaisuri." kata Geum Wa. "Aku akan melepaskanmu karena saat ini kau sedang marah akibat kekalahanmu."
"Tolong izinkan aku mengerahkan passukan." kata Dae So. "Aku ingin memimpin pasukan untuk membunuh Jumong saat ia merayakan kemenangannya!"
"Tidak." jawab Geum Wa. "Jumong sudah mengusir Pasukan Hyeon To, bagaimana kau bisa mengalahkan dia? Jumong sudah ditakdirkan untuk membangun negara baru."
"Maksudmu, kau akan menerima bahwa BuYeo akan hancur?" tanya Dae So. "Aku tidak bisa menerima itu. Aku tidak akan membiarkan Jumong membangun negara baru. Jika langit ingin menghancurkan BuYeo, maka aku akan melawan langit!"
"Tidakkah kau tahu bahwa pasukan Jumong dipersenjatai Pasukan Besi?" tanya Geum Wa.
"Aku lebih takut padamu." kata Dae So, menangis. "Kenapa kau selalu meragukan aku? Aku melakukan segalanya untuk mendapatkan pengakuanmu dan melindungi BuYeo! Tapi ayah tidak pernah percaya pada keputusan dan kemampuanku. Kau masih berharap pada Jumong. Apakah kau tahu sedihnya perasaanku? Kau dipengaruhi oleh arwah Hae Mo Su dan Yoo Hwa! Selama kau masih dipengaruhi, aku akan melakukannya. Aku akan membunuh Jumong dan menyelamatkan BuYeo!"
"Aku tidak akan membiarkanmu melampaui kekuasaanku lagi!" seru Geum Wa. "Jika kau mengerahkan pasukan, aku akan menganggapmu pemberontak."
Geum Wa keluar dari kuil. Mendadak ia jatuh. Mulutnya mengeluarkan darah.
"Yang Mulia!" seru Song Ju cemas.

Di lain pihak, Young Po kelabakan mencari Ye Soya. Jika ia tidak bisa menemukan Ye Soya, maka ia akan dituduh pemberontak.
Karena sudah kepepet, Young Po kembali ke BuYeo bersama Ma Jin. Sesampainya disana, ia dikepung oleh pengawal dan diseret ke kamar Wan Ho. Wan Ho mengatakan bahwa Dae So sudah mengerahkan prajuritnya untuk mencari Young Po. Wan Ho tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantunya. Akhirnya, Young Po memutuskan untuk pergi meninggalkan BuYeo.
Jae Sa menanyai para tawanan satu per satu. Ia menanyai Tuan Hwang, tapi ia berbohong. Hwang mengatakan ia datang ke Hyeon To hanya untuk berdagang. Seseorang membisiki telinga Muk Guh.
"Hwang Ja Kyung!' teriak Muk Guh. Hwang Ja Kyung menoleh. "Dia adalah Hwang Jwa Kyung dan berhubungan dengan Perdana Menteri Han!" kata Muk Guh pada Jae Sa.
Para pengungsi tahu dan ingin membunuh Hwang. Muk Guh dan Jae Sa berusaha menghentikan, namun para pengungsi sudah sangat dendam pada Hwang.
"Kami tidak akan membunuhmu dengan cepat." kata seorang pengungsi. "Kami akan membuat kematianmu panjang dan menyakitkan, seperti yang telah kau lakukan pada kami!"
"Aku mengerti kemarahan kalian." kata Jumong menenangkan. "Tapi tolong tenanglah."
"Kami tidak ingin harta dan kekayaan. Kami hanya ingin kepalanya!" kata pengungsi. "istriku diperkosa oleh Han sebelum dibunuh! Aku ingin membunuuhnya untuk membalaskan dendam istriku!"
Jumong berjalan mendekati Hwang dengan tenang. Andai Jumong tahu kalau yang menyekap istri dan anaknya adalah Hwang, Jumong juga pasti akan marah.
"Aku bisa saja membunuhmu saat ini, tapi aku tidak mau." kata Jumong.
"Bunuh dia!" teriak para pengungsi. "Bunuh dia!"
"Para pengungsi GoJoSeon masih dikurung dan dipekerjakan dengan paksa diseluruh tempat di Han." kata Jumong menenangkan pengungsi. "Jika kita membunuh tawanan kita, maka para pengungsi tidak akan bisa kembali dengan selamat. Aku ingin menukar para pengungsi dengan tawanan kita."
Para pengungsi terdiam.
Jumong menambahkan, "Tapi jika kalian tidak bersedia, aku tidak akan memaksa kalian. Terserah pada pilihan kalian, ingin membalas dendam pada Han dengan membunuh tawanan kita atau menyelamatkan para pengungsi."
Para pengungsi menyesal. Mereka memilih ingin menyelamatkan nyawa para pengungsi.
Moo Gul dan Oyi menyeret Seol Ran ke hadapan Jumong.
"Bawa mayat Gubernur Yang Jung dan kembalilah ke BuYeo." kata Jumong.
"Kau pikir kau akan selamat setelah berani melawan Han?" tanya Seol Ran mengancam. "Kaisar kami di Chang An dan Pangeran Dae So akan membalaskan dendam ayahku!"
"Diam!" bentak Oyi.
"Jenderal, kenapa kita tidak menjadikan dia tawanan?" tanya Moo Gul.
"Pangeran Dae So menikahinya karena ia butuh bantuan Han." kata So Seo No. "Sekarang Gubernur Hyeon to sudah tewas, dia tidak berharga apa-apa lagi bagi BuYeo."
"Lancang!" jerit Seol Ran marah.
"BuYeo tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkanmu." tambah So Seo No. "Kau sudah dicampakkan. Itulah kenyataannya."

Yeon Ta Bal menawarkan diri untuk pergi ke Chang An sebagai utusan Jolbon melakukan perundingan. "Izinkan aku melakukan sesuatu untuk Goguryeo." katanya.
"Baiklah." ujar Jumong setuju. "Perwira Sayap Kiri dan Kanan akan mendampingimu."

Geum Wa jatuh sakit. Song Ju dan Perdana Menteri melindungi Geum Wa dari Dae So.
Di sisi lain, Dae So bertekad menjadi Raja agar ia bisa melawan Jumong.
Seol Ran tiba di Hyeon To. Ia mengatakan pada Dae So bahwa ia akan melakukan apapun demi membuat Dae So menduduki tahta.
"Hao Chen, cari tabib terbaik untukku." kata Seol Ran. "Aku akan melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh Pangeran Dae So."
Ketika Hao Chen berjalan bersama tabib tersebut, Song Ju tidak sengaja melihat. Ia memerintahkan anak buahnya menyelidiki siapa tabib yang dibawa Hao Chen.
"Jika kau melaksanakan perintahku, aku akan mengangkatmu menjadi tabib istana." kata Seol Ran pada tabib. "Kau akan mempertaruhkan nyawamu. Apakah kau mau melakukannya?"
"Ya." jawab Tabib.
Seol Ran mengeluarkan sebuah kantong. "Ini adalah racun yang kubawa dari Chang An." katanya. "Kudengar orang tidak akan tahu apakah ini obat atau racun. Jika seseorang memakan obat ini, maka tubuhnya akan kaku sampai mati. Campurkan ini pada obat Yang Mulia."
Tabib terlonjak kaget.
"Jika kau menolak, aku tidak punya pilihan lain selain membunuhmu." kata Seol Ran mengancam. "Apa kau ingin mati?"
Tabib ketakutan.
Ma Ri kembali dari Chang An. Pihak Chang An menyetujui pertukaran tawanan dengan para pengungsi. Perundingan mereka berhasil.
Jumong memerintahkan para tawanan dikirim ke Chang An.
"Aku akan mengingatmu!" seru Hwang, menunjuk Jumong. "Aku Hwang Ja Kyung!"
"Katakan pada Han bahwa tanah ini sudah menjadi milik GoJoSeon jauh sebelum Han lahir." kata Jumong. "Sampai akhir hidupku, aku akan bertarung mengalahkan Han dan mengembalikan kejayaaan negara ini."

Yeon Ta Bal, Ma Ri dan Jae membawa para pengungsi ke Hyeon To.
Para pengungsi bersujud di hadapan Jumong.
"Bangunlah!" kata Jumong.
"Tidak! Kau adalah pahlawan kami!" seru pengungsi. "Kami berhutang nyawa padamu!"
"Mulai hari ini, kalian adalah warga Hyeon To." kata Jumong. "Nama kota Hyeon To akan kembali seperti dulu, yakni Deok Cheon. Aku akan membantu kalian agar bisa menetap di Deok Cheon."

Pihak So Seo No menginginkan So Seo No menjadi Ratu Goguryeo. Chae Ryeong memutuskan bicara dengan Kepala Klan Song Yang untuk membicarakan hal tersebut.
Chan Soo menemui So Seo No untuk bertanya langsung.
"Aku sudah berjanji pada Jenderal Jumong bahwa aku akan mengabdi padanya sebagai Raja Goguryeo." jawab So Seo No.
"Tidak." kata Sayong. "Kau harus menjadi Ratu negara ini."
So Seo No terdiam.

Seorang pengungsi tua menemui Jumong. "Aku tahu dimana letak cermin pengunggu, simbol Raja GoJoSeon, disembunyikan." kata pria tua itu. "Aku adalah seorang sejarahwan yang mempelajari sistem tulisan GoJoSeon. Warga Han berusaha mencuri cermin perunggu tersebut, tapi kami menyembunyikan dan melindunginya dengan nyawa kami. Cermin ini adalah benda keramat GoJoSeon."
"Dimana letaknya?" tanya Jumong.
"Di dalam perpustakaan bawah tanah di Hyeon To." jawab pria itu.

Pria tua itu mengantarkan Jumong dan Oyi ke sebuah perpustakaan bawah tanah yang gelap. Di perpustakaan tersebut banyak sekali catatan bambu yang tersimpan.
"Diama cermin perunggu itu?" tanya Jumong.
Pria itu membuka dinding rahasia dan mengeluarkan sebuah kotak dari dalam.
Oyi membuka kotak itu. Jumong mengambil sebuah cermin. Cermin tersebut tertulis simbol-simbol yang tidak mereka kenal.
"Itu adalah alfabet GoJoSeon." kata pria tua. "Ini adalah Cheonbugyeong yang dianugerahkan pada Raja-raja GoJoSeon."
Jumong tertawa senang.
Ketiga benda keramat GoJoSeon (Baju Perang, Busur Da Mul dan Cermin Perunggu) telah terkumpul. Jumong mengadakan upacara ritual untuk menghormati benda-benda tersebut.
"Langit dan bumi, aku telah mengumpulkan ketiga benda keramat GoJoSeon." ujar Jumong. "Para pengungsi JolBon dan GoJoSeon telah berhasil mengalahkan Pasukan Han. Kami mempersembahkan benda keramat ini untuk kalian. Raja-raja GoJoSeon, tolong jagalah kami."

11 comments:

Netizen said...

Andwae.. Tanda2 Jumong mo nikah ma seo no ny. Hiks..

あり said...

hiks...hiks... yesoya & yuri cepat kembali hiks3

Anonymous said...

ah.... jumong dah muncul lagi. put emang hebat.......

puisi_febykuchiki said...

memohon bgmana pun yuri and ye soya gk bkl ktmu jumong!!!!
i hate this situation...
dewa langit dan bumi...
belum cukupkah penderitaan ye soya sebagai wanita dan seorang istri? mengapa hal itu terjadi??? hwe...hwe...hwe...
mau gk ,mw nagis dech...

あり said...

jadi nanti yesoya dan yuri ga bakalan ketemu jumong?? atau pas ending aja ketemunya?

Anonymous said...

4 jempol dah buat mba putri...baru 2 hari g liat blognya, dah banyak jg jumongnya...salutt...
skrg sy penggemar blog ini loh.. (yanti)

put said...

Terimakasih buat So Seo No yang telah mendampingi Jumong untuk mendirikan negara baru.
Hiks..Ye Soya dan Yuri ada dimana kalian? hiks..hiks..

Anonymous said...

Bwt penggemar ye soya jgn khawatir bis nkah mrka te2p ad d smping jumong. So seo no nti endingx tnglkan jumong sblumx pamit ma yesoya. Mlah jumong mati di umur 40thn. Yuri kan nti jd raja.

Putri said...

Iya,, yuri pas jd raja juga kasihan. kehilangan 3 orang anaknya.

kinyobi satsuki said...

Weitz, so impossible desire. People of Jolbon, how could u ever think to promote Soseono, the ruler of Goguryeo will be?! To raise glory, it's more than just a wealth. It's rather to soul. Pemimpin harus bisa menyatukan & melindungi bangsanya. Dn yg melakukan hal itu d sepanjang episode adl Jumong. Writernya tll memaksakan dasar pernikahan k-2 Jumong nih.

nana said...

sori put keluar konteks, ost iljimae di blg p bs di kopi ga? kl sa caranya gmn? kalo ga ada tempat nyari ost korea yang recommended g?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda