Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Jumong Episode 77

Friday, April 16, 2010

Sinopsis Jumong Episode 77

Sinopsis Jumong Episode 77

Jumong, Yuri dan yang lainnya berhasil mengalahkan para pembunuh. Biryu terluka dalam perang.
"Lukanya dalam." kata Jumong.
"Aku membawa obat-obatan." ujar Muk Guh seraya mengambil obat-obatan dan mengobati luka Biryu.
Oyi dan Moo Gul menarik pembunuh yang berhasil mereka tangkap.
"Siapa yang memerintahkanmu untuk membunuhku?" tanya Jumong pada pembunuh itu.
"Katakan!" seru Oyi, mengancam pembunuh itu dengan pedangnya.
Moo Gul marah dan hendak membunuh si pembunuh, tapi Jumong melarang. "Hentikan!" serunya. "Hyeopbo, Muk Guh, bawa Pangeran Biryu kembali ke Goguryeo. Aku akan ke istana BuYeo bersama mereka."
"BuYeo mungkin orang-ornag dibalik semua ini." kata Ma Ri melarang. "Kau tidak bisa kembali ke BuYeo!"
Jumong menoleh melihat Yuri. Moo Gul menarik Yuri dan mendorongnya hingga jatuh ke tanah.
"Katakan padaku!" seru Moo Gul. "Aku tahu kau pasti yang memerintahkan mereka melakukan ini!"
"Aku tidak tahu." kata Yuri.
"Bukankah kau yang memberitahu mereka dimana kami?!" bentak Oyi. "Jika kau tidak memberitahu kami, aku akan membunuhmu!"
"Aku tidak tahu." jawab Yuri bersikeras.
Moo Gul mengangkat pedangnya dengan marah.
"Mundur!" seru Jumong memerintahkan. Yuri bangkit dan berdiri.
"Aku mempercayaimu." kata Jumong. "Terima kasih sudah menolong kami. Kau boleh pergi."
Yuri memberi hormat, kemudian berjalan pergi.
Geum Wa menjenguk Wan Ho di kamarnya.
"Kudengar kau akan meninggalkan istana." kata Wan Ho. "Tapi kau terlalu sakit dan tidak bisa pergi kemana-mana."
"Aku ingin bertemu dengan rakyat BuYeo." ujar Geum Wa. "Ketidakmampuanku membuat rakyat menderita. Aku ingin membayarnya sebelum aku mati."
"Kau sangat peduli pada rakyatmu, tapi kenapa kau tidak peduli padaku?" tanya Wan Ho dengan mata-berkaca-kaca. "Tidakkah kau tahu penderitaan yang kualami selama bertahun-tahun karena kau? Aku hanyalah wanita yang menginginkan cinta suaminya. Kaulah yang membuatku menjadi orang berhati dingin."
"Sepanjang sisa hidupku, aku akan berusaha menembus penderitaan yang kau alami." kata Geum Wa. "Maafkan aku."
Wan Ho menangis. Geum Wa menggenggam tangan Wan Ho.
Setelah itu, Geum Wa pergi meninggalkan istana BuYeo. Semua pihak BuYeo mengantar kepergiannya.
Yuri minum dan makan seorang diri di kedai. Ia teringat ketika Jumong berkata bahwa ia mempercayai Yuri.
"Yuri." panggil seseorang dari belakang.
Yuri menoleh. "Ibu." katanya.
Yuri dan Ye Soya berjalan pulang bersama.
"Apakah kau sudah menemukan barang itu?" tanya Ye Soya. "Kau harus menemukannya dan segera pergi dari BuYeo."
"Raja Dae So menyukaiku." kata Yuri. "Sekarang aku bisa menjagamu dengan baik. Kenapa aku harus pergi dari sini?"
"BuYeo bukan tempatmu untuk menetap." Ye Soya menjelaskan. "Temukan bukti itu."

Seol Ran membujuk Dae So untuk membunuh Jumong, namun Dae So menolak. "Ini bukan saat yang tepat." katanya.
Seol Ran kesal dan memerintahkan Hao Chen mencari pembunuh bayaran dengan diam-diam.
Jumong kembali ke istana BuYeo dan membawa dua orang pembunuh yang ia tangkap.
"Mereka adalah pembunuh yang mencoba membunuhku di Gunung Chun Mo." kata Jumong pada Dae So. "Mereka prajurit BuYeo, bukan?"
"Kenapa aku melakukan sesuatu yang bodoh seperti itu ketika para utusan dari berbagai negara ada di BuYeo saat ini?" tanya Dae So.
"Lalu perbuatan siapa ini?" seru Jae Sa. "Semua ini terjadi di wilayah BuYeo. Kau harus menemukan siapa yang ada dibalik semua ini. Jika tidak, Goguryeo tidak akan pernah memaafkan BuYeo."
"Apa kau mengancamku?!" seru Dae So.
"Kami tidak mengancammu." kata Jumong. "Tapi kami memperingatkanmu. Pilihlah dengan bijaksana."
Dae So memerintahkan Na Ru membawa pembunuh itu dan mencari tahu siapa orang dibalik konspirasi itu.

Young Po tertawa, merasa yakin dan percaya diri bahwa Dae So tidak akan bisa menemukan identitas si pembunuh.
Na Ru menyiksa kedua pembunuh dengan menggunakan besi panas.
"Siapa yang memerintahkan kalian?!" seru Na Ru. Tapi kedua pembunuh tidak mau bicara.
Moo Gul mengintip Na Ru menyiksa pembunuh dengan kejam, kemudian melapor pada Jumong.
"Mereka menyiksa pembunuh dengan brutal." kata Moo Gul. "Mungkin mereka tidak berbohong."
"Tetap saja, sekarang kita tahu bahwa ada orang di BuYeo yang ingin membunuh Yang Mulia." kata Jae Sa. "Kita harus menemukan mereka."
"Yang Mulia, kita harus segera kembali ke Goguryeo." saran Ma Ri.
"Pikirkan baik-baik." ujar Jumong. "Di BuYeo ada orang yang hendak membunuhku. Mereka tidak ingin BuYeo dan Goguryeo membina hubungan baik. Jika kita kembali ke Goguryeo sekarang, mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kita tunggu sampai kita tahu siapa dalang kejadian ini."
Saat Biryu kembali dalam keadaan terluka, So Seo No sangat cemas.
"Ada apa?" tanyanya. "Dimana Yang Mulia?"
"Yang Mulia baik-baik saja." kata Hyeopbo menenangkan.
Biryu diobati oleh tabib istana.
"Bagaimana keadaannya?" tanya So Seo No cemas.
"Lukanya dalam, tapi tulangnya tidak cedera." jawab Tabib.

Pihak Goguryeo mengambil kesimpulan sendiri, yaitu BuYeo-lah yang merencanakan pembunuhan tersebut.
"Aku ingin Jenderal Bu Wi Yeom dan Bu Beo No untuk menyiagakan Pasukan Besi di perbatasan BuYeo." ujar So Seo No memerintahkan.

Pihak BuYeo mengetahui bahwa Pasukan Besi Goguryeo sudah bersiaga di perbatasan BuYeo. Dae So bingung.
"Perdana Menteri, apa yang harus kita lakukan?" tanya Dae So. "Jika terjadi perang, maka kita akan kalah."
"Yang Mulia, aku yakin orang-orang yang ingin membunuh Raja Jumong dikirim oleh Han." kata Perdana Menteri. "Han tidak ingin BuYeo dan Goguryeo bersekutu. Bunuh para pembunuh dan katakan bahwa Han berada dibalik kejadian ini."
"Maksudmu, kita harus bersekutu dengan Goguryeo?" tanya Dae So.
"Kita harus menerima tawaran Raja Jumong untuk saat ini." saran Perdana Menteri. "Kita harus membangun negara yang kuat agar bisa melawan Han dan Goguryeo."
Dae So akhirnya memutuskan untuk bersekutu dengan Goguryeo.
"Keputusan yang bijaksana." kata Jumong. "Goguryeo akan mengajari teknik persenjataan pada BuYeo. Kami juga akan memberi makanan, garam dan obat-obatan untukmu."
"Terima kasih." kata Dae So, menahan rasa malu dan marah yang menyelimuti hatinya.
"Aku akan membuatnya membayar penghinaan yang kualami setelah BuYeo menjadi kuat." kata Dae So pada Perdana Menteri setelah keluar dari ruangan Jumong.

Jumong dan para pejabatnya sadar bahwa Dae So bersekutu dengan Goguryeo tidak tulus. Namun paling tidak, BuYeo tidak akan bersekutu dengan Han. Untuk sementara ini, hal ini sudah cukup baik.
"Segera setelah kita kembali ke Goguryeo, kita akan bersiap-siap menyerang Liaodong." kata Jumong.
Jumong dan rombongan kembali ke Goguryeo. Ye Soya dan Yuri melihat bersama kerumunan warga.
"Aku akan masuk ke istana malam ini dan menemukan bukti itu." kata Yuri pada ibunya.

Saat Yuri masuk ke istana, ia berpapasan dengan Ma Oo Ryeong. Yuri menunduk untuk memberi hormat, kemudian berjalan pergi.
"Berhenti!" seru Ma Oo Ryeong memanggil. Ia menatap Yuri lekat-lekat. "Siapa namamu?"
"Namaku Sang Chun." jawab Yuri.
"Baik, kau boleh pergi." kata Ma Oo Ryeong.

Malam itu, dengan hati-hati Yuri mencari kediaman Yoo Hwa dan menyusup ke dalamnya. Ia mencari belati rusak dibawah setiap pilar. Akhirnya di salah satu pilar, Yuri menggali dan menemukan sesuatu yang dibungkus dengan kain. Yuri membuka bungkusan kain itu. Isinya adalah patahan belati.
Yuri pulang dan menunjukkan belati tersebut pada Ye Soya.
"Sekarang katakan padaku, dimana ayah?" tanya Yuri.
Ye Soya diam, menatap patahan belati itu dengan seksama.
"Ibu.." panggil Yuri.
Ye Soya meletakkan belati tersebut di meja. "Ayahmu adalah Raja Goguryeo."
Yuri terkejut. "Raja Jumong dari Goguryeo adalah ayahku?" tanyanya tidak percaya.
"Bawa belati ini dan temui ayahmu." kata Ye Soya. "Jika kau menunjukkan belati ini padanya, ia akan mengenalimu."
"Aku tidak mengerti." kata Yuri bingung, sekaligus marah. "Jika ayahku adalah Raja Goguryeo, kenapa selama ini kita hidup dalam kemiskinan?! Kenapa ia mencampakkan kita?! Kenapa dia tidak mencari kita?!"
"Ada alasan untuk semua itu." kata Ye Soya.
"Kenapa selama ini kau harus hidup menderita?!" seru Yuri, makin lama suaranya makin meninggi. "Aku tidak pecaya! Aku tidak percaya ia adalah ayahku!" Yuri berjalan keluar dengan marah.
Ye Soya menangis.

Malam itu, Yuri mabuk-mabukan. Kedua sahabatnya menemaninya.
"Yuri ada apa?" tanya Du Bong. "Ibumu akan marah jika tahu kau minum-minum. Berhenti minum!"
"Tinggalkan aku sendiri!" teriak Yuri.

Hwang marah besar karena mengetahui BuYeo dan Goguryeo bersekutu. Ia memerintahkan pengawalnya untuk menangkap Young Po.
"Ampuni kami!" kata Young Po memohon.
"Bawa mereka!" perintah Hwang pada pengawalnya.

Geum Wa, Song Ju dan beberapa pengawal melakukan perjalanan. Pertama-tama, Geum Wa ingin pergi ke Gunung Chun Mo. Ia berdiri di atas tebing.
"Hae Mo Su, apakah kau melihat wilayah GoJoSeon yang dibangun oleh Jumong?" ujar Geum Wa dalam hatinya. "Wilayah yang kau dan aku ingin bentuk. Jumong sekarang sudah mewujudkannya. Maafkan aku karena selama ini mencoba menghentikan Jumong."
Melihat padang rumput yang ada di Gunung Chun Mo membuat Geum Wa merasa sedih dan menyesal atas semua yang telah ia lakukan. Penyesalannya pada Hae Mo Su dan terlebih lagi pada Yoo Hwa, wanita yang sangat ia cintai.
Geum Wa diam, menangis.

Di BuYeo, Ma Oo Ryeong memanggil Na Ru dan bertanya perihal Sang Chun a.k.a Yuri.
"Dia adalah pemenang turnamen." kata Na Ru.
"Wajahnya dipenuhi energi jahat." kata Ma Oo Ryeong. "Dia akan membawa bencana bagi Yang Mulia suatu saat nanti."
Na Ru bergegas memerintahkan pengawal BuYeo untuk mencari Yuri.
Yuri berlutut di hadapan ibunya.
"Apakah kau sudah mengambil keputusan?" tanya Ye Soya.
"Aku akan pergi menemui ayah." kata Yuri.
"Bagus." ujar Ye Soya, tersenyum lega.
"Tapi, aku datang hanya untuk bertanya kenapa ia mencampakkan kita dan kenapa ia membuat kita hidup dalam penderitaan." kata Yuri. "Aku pergi dulu." Yuri bangkit dan berjalan pergi.
Ye Soya menangis mendengar perkataan putranya itu.

Yuri pergi dari BuYeo bersama kedua sahabatnya.
Tidak lama kemudian, beberapa pengawal istana BuYeo datang ke rumahnya.
"Ada apa?" tanya Ye Soya.
"Aku datang untuk mencari Pengawal Sang Chun." kata Pengawal.
"Dia pergi setelah mendengar bahwa pamannya sakit." kata Ye Soya berbohong. "Mungkin ia tidak sempat melapor pada atasannya."
"Jika ia kembali, suruh dia melapor ke istana." kata pengawal seraya berjalan pergi.
"Kita harus pergi dari sini." Ye Soya mengajak Ibu Du Bong. "Tempat ini berbahaya. Ayo."
Ibu Du Bong kebingungan.

Yuri dan kedua sahabatnya tiba di Goguryeo.
"Untuk apa kita ke Goguryeo?" tanya Du Bong.
"Aku datang untuk bertemu dengan Raja Jumong." jawab Yuri dingin. "Ia adalah ayahku."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Yuri berjalan ke gerbang istana.
"Ada apa?" tanya penjaga gerbang.
"Aku ingin bertemu dengan Raja." jawab Yuri.
"Apa?" tanya penjaga tidak percaya. Ia melihat penampilan Yuri dari bawah sampai atas. "Untuk apa kau ingin bertemu dengannya?"
"Aku akan mengatakannya sendiri padanya setelah bertemu." jawab Yuri. Ia berjalan untuk masuk, namun penjaga mendorongnya. Yuri memelintir lengan penjaga dengan berani.
"Ada apa ini?!" seru Mo Pal Mo, keluar bersama Onjo. "Apa yang kau lakukan?!" tanya Mo Pal Mo marah.
Yuri melepaskan penjaga itu.
"Dia ingin bertemu dengan Yang Mulia." kata penjaga.
"Kenapa kau ingin bertemu dengan Yang Mulia?" tanya Mo Pal Mo, menoleh pada Yuri.
"Tolong berikan ini padanya." Yuri mengeluarkan patahan belati yang dibungkus kain dan menyerahkannya pada Mo Pal Mo. "Jika melihat ini, ia akan tahu siapa aku."

Mo Pal Mo masuk ke istana dan menemui Jumong.
"Seseorang memintaku memberikan ini padamu." kata Mo Pal Mo, menyerahkan potongan belati yang terbungkus kain.
Jumong menerima bungkusan itu dan membukanya. Ia sangat terkejut ketika melihat potongan belati tersebut. "Dimana orang yang memberikan ini padamu?" tanyanya cepat.
"Dia ada diluar gerbang." jawab Mo Pal Mo.
Jumong kemudian memerintahkan Hyeopbo untuk membawa Yuri masuk.

Hyeopbo keluar untuk menjemput Yuri.
"Kau?!" seru Hyeopbo. "Untuk apa kau kemari?!"
"Kau akan tahu setelah aku bertemu dengan Yang Mulia." jawab Yuri.

Jumong mengambil sebuah peti kecil. Ia membuka peti tersebut dan mengambil pasangan potongan belati yang satunya. Ia mencocokkan belati itu. Ternyata memang pas.
Hyeopbo datang danmembawa Yuri masuk.
"Apakah kau yang membawa belati ini?" tanya Jumong. "Siapa namamu?"
"Namaku Yuri." jawab Yuri tanpa ekspresi.
Hyeopbo dan Jumong terkejut dan shock.
"Siapa... nama ibumu?" tanya Jumong.
"Nama ibuku adalah Ye Soya."
"Yang Mulia!" seru Hyeopbo senang.
Jumong bangkit dari duduknya. "Apakah kau benar-benar Yuri? Apakah kau Yuri?" tanyanya terharu.
"Apakah kau ayahku?" tanya Yuri dingin.
"Aku... aku ayahmu." kata Jumong dengan mata berkaca-kaca, menunjuk dirinya. "Aku ayahmu."
"Lalu kenapa kau mencampakkan kami?" tanya Yuri dengan nada tinggi. "Kenapa kau membiarkan kami hidup dalam penderitaan?"
Jumong menatap Yuri sedih.

10 comments:

icha donk said...

akhirx.... jumong dpt brtemu dgn yuri..... mengaharukan bgt,,,,
So sweeeeeeeet.....

merlin said...

Wah, Bagus sekali! Bagus! tanpa basa-basi. tidak tedeng aling-aling, "Kenapa kau mencampakkan kami?" - tanya Yuri.
Yuri muda, kau tidak mengerti masa lalu, nak. Seandainya kau tahu, kisahnya tak akan seperti ini. :)

あり said...

hikshiks...kata2 yuri tajam tapi sungguh bermakna......tapi jumong juga kasian @_@

Anonymous said...

kasian jumong

kinyobi satsuki said...

Writernya tega. 15 thn Yuri m ibunya menderita, 15 thn Jumong hidup kesepian. Jumong, andaikan kau dl tdk menyerah mncari Istrimu. Ye soya, andaikan dl kau temui sj Suamimu. Oh drama..

chika said...

Hmmm ngeliat penderitaan yuri selama ini wajar aja dia semarah itu ke jumong. Apalagi setiap yuri ingat penderitaan yang ditanggung ye soya bertahun-tahun.
Anak mana yang terima ngeliat ibunya menderita lahir batin...
Tapi ya emang udah takdir dari scriptwriter sih,,, (hehehe)
sabar yuri... kebahagiaan kalian akan segera kembali

Anonymous said...

"yuri, maaf ya..... kau dicampakan karena aku. krn jumong lebih suka padaku he..........."pede bgt.

weleh.....weleh....... bakal jd lautan tangisan nih, anak n ayah bertemu

put thank. capcus cin.......

febykuchiki said...

Ya ampun sdh bngt. Yuri, bnr2 dingin berhdpn dgn jumong. D filmx saat jumong mw menyenth yuri, yurix mundur n menghndr. Pkkx dingin bngt n gk mw maafin jumong. Tenang yuri, but wjr aj sech yuri kan ngelht pendrtaanx mamax...hiks...hiks...hiks...

febykuchiki said...

@kinyobi satsuki: bnr2 negh penulis scriptx bwt kt terharu biru. Hiks...hiks...yuri...maafkan ayhmu ya nak. Ibumu jg pst akn mengtkn hal i2...

secret said...

mbk...jumong kan dah selesai tu.....dong yi nya di terus in mbk...oitu critanya bagus bgt lho.......sumpah deh.....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda