Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Jumong Episode 80

Saturday, April 17, 2010

Sinopsis Jumong Episode 80

Sinopsis Jumong Episode 80

Oyi menyiagakan pasukannya di dekat perbatasan untuk berjaga-jaga kalau ada serangan mendadak dari musuh. Tidak lama kemudian, Moo Gul tiba. Ia melapor pada Oyi bahwa Raja Geum Wa sedang berada tidak jauh dari desa di perbatasan.
"Untuk apa dia disana?" tanya Oyi.
"Aku tidak tahu." jawab Moo Gul.

Rakyat di desa dekat perbatasan takut karena mengetahui akan terjadi perang. Jumong dan para pejabatnya berunding mengenai sistem yang bisa dipakai untuk menyelesaikan hal itu.
"Bagaimana jika kita memberlakukan sistem sinyal api?" tanya Bu Wi Yeom. "Dengan menyalakan api dari tempat tinggi, kita bisa mengirimkan pesan tertentu ke markas."
Jumong setuju. Ia memerintahkan Jae Sa dan Ma Ri mempersiapkan sinyal tersebut bersama Bu Wi Yeom.
Jumong berpaling pada Yuri, yang juga ikut serta dalam rapat. "Kau harus pergi ke perpustakaan istana untuk mempelajari pembentukan Goguryeo." perintah Jumong. "Kau akan belajar bagaimana Goguryeo dibentuk dari darah dan keringat orang-orang kita."
"Ya." ujar Yuri.
Oyi masuk ke ruangan. "Yang Mulia, di dekat sini, di wilayah BuYeo, ada sebuah desa kecil bernama Yang Chon." kata Oyi. "Saat ini, Raja Geum Wa ada disana."
"Apa yang dilakukannya?" tanya Jumong.
"Setelah Raja Geum Wa meninggalkan istana BuYeo, ia melakukan perjalanan ke semua wilayah BuYeo untuk bertemu rakyatnya." jawab Oyi.
Jumong memutuskan untuk menemui Geum Wa bersama Yuri. Geum Wa tinggal di sebuah rumah sederhana di desa Yang Chon.
Jumong dan Yuri membungkuk untuk memberi hormat pada Geum Wa.
"Ia adalah Yuri." Jumong memperkenalkan Yuri.
Geum Wa terkejut dan langsung bangkit dari duduknya. "Apa kau... benar-benar Yuri?" tanyanya, menatap Yuri lekat-lekat.
"Ya." jawab Yuri.
"Apakah ibumu masih hidup?" tanya Geum Wa.
"Ya." jawab Yuri lagi.
Geum Wa diam sejenak, kemudian meraih tangan Yuri. "Aku melakukan dosa besar padamu dan ibumu." katanya sedih. "Maafkan aku."
Yuri tersenyum tipis.

Jumong dan Geum Wa berbincang empat mata.
"Kudengar BuYeo bersekutu dengan Goguryeo?" tanya Geum Wa.
"Ya." jawab Jumong. "Tapi persekutuan itu hanya nama saja. Raja Dae So hanya melakukan itu dalam upaya diplomatik dengan Goguryeo dan Han."
Geum Wa terdiam.
"Perang akan terjadi sebentar lagi." tambah Jumong. "Jika BuYeo tetap seperti itu, mereka akan mengalami kerugian lebih banyak dibanding keuntungan. Aku tidak berharap Raja Dae So dengan tulus bersekutu dengan Goguryeo, tapi BuYeo dan Goguryeo harus bergabung dalam perang kali ini. Tolong bantulah Raja Dae So agar mengambil keputusan yang tepat."
"Aku tidak yakin bisa membujuknya." ujar Geum Wa. "Tapi aku akan berusaha keras membuatnya mengerti."

Keesokkan harinya, Jumong dan rombongannya melakukan perjalanan pulang. Beberapa prajurit Chae Ryeong memata-matai mereka, kemudian melaporkan pada Chae Ryeong dan Yang Tak.
"Dia mungkin akan kembali ke istana melewati Lembah Sunwoo." kata Yang Tak. "Kita harus menyerang mereka disana."
Chae Ryeong mengangguk. Ia dan Yang Tak lalu menemui Biryu yang menunggu tidak jauh dari sana. Mereka memberitahu Biryu mengenai rencana penyergapan di lembah Sunwoo. Biryu kelihatan ragu.
"Pangeran, kau tidak bisa mundur sekarang." kata Yang Tak. "Jika kita tidak membunuh Raja Jumong dan Pangeran Yuri, maka kitalah yang akan mati."
"Ingatlah, kami melakukan ini untukmu dan Permaisuri." tambah Chae Ryeong.
Biryu terdiam.
Pasukan Chae Ryeong bersembunyi untuk menyergap rombongan Jumong di lembah Sunwoo. Begitu mereka siap menyerang, Pasukan So Seo No tiba di belakang mereka dan memasang kuda-kuda berperang.
Peperangan terjadi antara kubu Chae Ryeong dan kubu So Seo No. So Seo No juga ikut turun tangan untuk bertarung.
So Seo No menyerang Yang Tak dan berhasil mengalahkannya. Pasukan Chae Ryeong mengalami kekalahan.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk menghindari pertikaian?" tanya So Seo No marah. "Aku benar-benar tidak percaya!"
"Aku hanya melakukan apa yang tidak bisa kau lakukan." kata Chae Ryeong.
"Permasuri, kami hanya berusaha mengembalikan tahta padamu tanpa membuat tanganmu kotor oleh darah." kata Yang Tak membenarkan tindakannya. "Kenapa kau menghentikan kami?"
"Diam!" bentak Yeon Ta Bal, mengeluarkan pedang dan mengarahkannya ke leher Yang Tak. "Permaisuri, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!"
"Sebelum kalian membunuh kami, cari tahu terlebih dahulu siapa yang merencanakan pemberontakan ini!" kata Chae Ryeong.
"Apakah ada orang lain yang terlibat?" tanya Yeon Ta Bal.
Beberapa saat kemudian, Sayong datang bersama dengan pasukannya, menangkap Biryu. So Seo No menoleh dan terkejut melihat putranya itu.
"Biryu.." gumam So Seo No.
So Seo No membawa Yang Tak dan Chae Ryeong ke perkemahan. Ia memutuskan hukuman untuk Yang Tak dan Chae Ryeong, yaitu mengusir mereka dari Goguryeo.
"Jika kalian berani menginjakkan kaki di Goguryeo lagi, aku akan membunuh kalian berdua!" ancam So Seo No.
Setelah itu, So Seo No meminta Biryu masuk ke tenda untuk bicara dengannya. Ia kelihatan sedih sekaligus kecewa pada putra sulungnya itu.
"Duduk." perintah So Seo No. "Apakah kau.. benar-benar mencoba membunuh Yang Mulia?"
"Aku berpikir bahwa itulah cara satu-satunya untuk menyelamatkan kita berdua." jawab Biryu.
"Aku percaya padamu." kata So Seo No kecewa. "Aku tidak percaya kau bisa jatuh dalam perangkap Yang Tak. Kenapa kau tidak punya keyakinan pada Yang Mulia?!"
"Aku takut!" jawab Biryu. "Aku takut melihat cara Yang Mulia memandang Yuri! Aku takut Yang Mulia akan mencampakkan kita! Ibu, kau tahu bagaimana kerasnya aku berusaha untuk menjadi Raja Goguryeo. Katakan padaku, apakah usaha kita dulu akan sia-sia?! Jika ibu memang peduli pada masa depanku, ibu tidak akan menyerahkan kedudukanmu sebagai Permaisuri! Mungkin kau akan menyerahkan kedudukanmu, tapi aku tidak akan pernah melakukannya!"
So Seo No menangis.
"Kenapa kau memaksakan keputusanmu padaku?!" seru Biryu, menangis. "Kenapa kau berusaha menghancurkan masa depan anak-anakmu?!"

Jumong memeriksa persiapan perang, mulai dari produksi senjata sampai pada pelatihan pasukan. Ia juga membicarakan strategi perang bersama para perwira dan pejabat kepercayaannya.
Jumong memanggil So Seo No ke ruangannya untuk menceritakan mengenai persiapan perang mereka.
"Bengkel pandai besi sudah bisa berproduksi lagi." kata Jumong. "Tapi kita punya masalah."
"Apa itu?" tanya So Seo No.
"Karena Heng In dan OkJo Utara akan bergabung dengan kita, maka kita membutuhkan lebih banyak supply kebutuhan." kata Jumong.
"Aku berencana mengirim orang melakukan perjalanan dagang ke Selatan untuk membawa lebih banyak kebutuhan." ujar So Seo No.
"Kalau begitu, aku akan memberi tanggung jawab padamu untuk mengatur supply kebutuhan makanan dan perang." kata Jumong.
"Ya."
"Istriku, kau kelihatan sedih." kata Jumong. "Apa ada masalah?"
So Seo No ragu sejenak. "Yang Mulia, aku mengusir Chae Ryeong dan Yang Tak dari Goguryeo." katanya. "Maafkan karena aku bertindak tanpa izinmu."
"Aku percaya pada penilaianmu." ujar Jumong. "Tapi, kenapa kau mengusir mereka?"
"Mereka mencoba membuat kericuhan di Goguryeo." jawab So Seo No sedih. "Aku akan memastikan bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi."
Jumong mengangguk.

Ye Soya mencari Yuri. "Apa yang kau lakukan akhir-akhir ini?" tanyanya.
"Aku pergi ke perpustakaan istana dan membaca sejarah Goguryeo." jawab Yuri. "Aku belajar mengenai betapa sulitnya usaha ayah membangun Goguryeo. Semua itu membantuku agar lebih mengerti tentangnya."
"Yuri, keberadaan kita bisa menyebabkan keributan untuk orang-orang yang telah membangun Goguryeo." ujar Ye Soya. "Kau harus bersikap bijaksana agar tidak membawa masalah untuk Yang Mulia. Kau mengerti?"
Yuri mengangguk. "Ya." jawabnya.
Tanpa mereka ketahui, So Seo No mendengarkan pembicaraan mereka. Ia teringat kata-kata Biryu, dan menangis.

"Aku tidak tahu bahwa Biryu begitu putus asa." kata So Seo No sedih pada Yeon Ta Bal. "Aku tidak bisa memahami kedua putraku. Aku tidak tahu bahwa mereka begitu terpukul dengan keberadaan Pangeran Yuri. Aku tidak tahu apapun. Aku hanya memaksa mereka menyerahkan segalanya."
Yeon Ta Bal berusaha menenangkan. "Suatu saat nanti, aku yakin kedua Pangeran akan mengerti." katanya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya So Seo No sedih. "Bagaimana aku bisa mengabdi pada Yang Mulia dan Goguryeo serta melindungiku kedua putraku pada saat bersamaan? Bagaimana aku bisa menyelamatkan Biryu dari kemarahan dan keputusasaan?"

Jumong meminta Ma Ri mencari tahu alasan So Seo No mengusir Chae Ryeong dan Yang Tak. Setelah Ma Ri berhasil mengetahuinya, ia melapor pada Jumong. Jumong memerintahkan Ma Ri agar merahasiakan masalah itu.

Di pihak lain, Hwang sangat marah setelah mengetahui bahwa Dae So mengirimkan pandai besi ke Goguryeo.

Di BuYeo, yang dilakukan Young Po hanyalah minum dan mabuk-mabukan. Dae So memerintahkannya menemani Geum Wa berkeliling wilayah BuYeo. Mulanya Young Po menolak, namun Dae So memaksanya.

Yuri berlatih bela diri bersama Oyi. Moo Gul, Muk Guh dan Du Bong menonton mereka. Yuri cukup mampu bertarung seimbang dengan Oyi, namun akhirnya Oyi berhasil mengalahkan Yuri.
"Aku tidak cukup hebat untuk mengalahkanmu." kata Yuri.
"Tidak, Pangeran." bantah Oyi. "Kemampuan bela dirimu lebih meningkat dibanding saat aku melihatmu di turnamen BuYeo."
"Aku akan membantumu berlatih." Moo Gul menawarkan.
"Terima kasih." kata Yuri, tersenyum.
Biryu berjalan mendekati mereka. Yuri menunduk untuk memberi hormat.
"Apakah kau berlatih bela diri?" tanya Biryu.
"Ya." jawab Yuri.
"Pangeran, maukah kau bertarung dengan Pangeran Yuri?" tanya Oyi.
"Untuk apa aku melakukannya jika aku sudah tahu hasilnya?" tanya Biryu. "Aku tidak bisa mengalahkan Yuri."
"Aku tidak pernah berlatih bela diri dengan teratur." kata Yuri. "Aku ingin belajar darimu."
"Tidak." tolak Biryu. "Aku tidak tertarik lagi belajar bela diri. Kau harus terus berlatih agar bisa membantu dalam perang melawan Han." Biryu berjalan pergi.
Oyi dan Moo Gul bingung dengan sikap dingin Biryu. Yuri hanya diam, memandang kepergian Biryu.
So Seo No meminta izin pada Jumong agar membiarkan Onjo dan Biryu pergi bersama rombongan dagang ke selatan. Walaupun awalnya menolak, Jumong akhirnya setuju.
Setelah itu, So Seo No memanggil Biryu dan Onjo. "Aku ingin kalian memimpin rombongan dagang." katanya. "Biryu, ini perjalanan yang sulit, tapi aku yakin kau bisa menyelesaikan tugas ini. Onjo, ini perjalanan yang berat, bisakah kau melakukannya?"
"Aku akan melakukannya." jawab Onjo.
"Kalau begitu, pergilah." ujar So Seo No. Ia melakukan semua itu agar Onjo dan Biryu tahu lebih banyak mengenai kehidupan.

Di sebuah desa, Geum Wa memeriksa sistem pertanian dan kehidupan warganya. Ia bisa lebih mengerti mengenai kehidupan rakyatnya.
Young Po tiba di desa itu. Ia berbincang dengan Geum Wa.
Geum Wa mengajak Young Po melakukan perjalanan keliling dunia agar pikiran Young Po lebih terbuka memandang kehidupan danYoung Po bisa belajar banyak hal karena bertemu dengan banyak orang.

Salah seorang prajurit Hwang memberitahu bahwa Geum Wa sedang melakukan perjalanan berkeliling BuYeo.
"Benarkah?" tanya Hwang. Ia berpikir, seperti merencanakan sesuatu.
Malam itu, beberapa penyusup menyerang rumah tempat Geum Wa dan Young Po menginap. Song Ju dan beberapa pengawal berusaha bertarung melawan mereka.
Geum Wa dan Young po berusaha melarikan diri, namun para penyusup terlalu banyak. Mereka terkepung. Young Po mengeluarkan pedangnya dan bertarung melawan para penyusup.
"Bawa ayah pergi dari sini!" teriak Young Po. "Sekarang!"
Geum Wa bertarung melawan dua orang penyusup. Mereka berusaha membunuh Geum Wa. Seorang penyusup lagi ikut menyerang Geum Wa. Dengan diam-diam, ia mengeluarkan sebuah belati kecil dan menusuk perut Geum Wa.
Geum Wa mencoba melawan, tapi penyusup itu menusuk Geum Wa dari belakang.
Geum Wa sekarat.
"Ayah!" teriak Young Po ketakutan. Ia berlari mendekati ayahnya. "Ayah..." tangis Young Po.
"Young Po..." panggil Geum Wa berusaha bicara seraya menyentuh wajah putranya.

Wan Ho bingung memikirkan putranya, Dae So. Dae So belum juga bisa memiliki anak. Bahkan selir-selir Dae So tidak juga mengandung sampai sekarang.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan." kata Seol Ran.
Tiba-tiba, Paman Dae So datang berlari-lari dengan panik. Ia mengatakan bahwa Geum Wa kembali dalam keadaan sekarat.
Wan Ho bergegas pergi ke kamar Geum Wa.
"Yang Mulia!" seru Wan Ho, kelihatan sangat terpukul. "Yang Mulia, kau bilang kau akan membayar kesalahanmu padaku. Bangunlah... Aku masih belum selesai menyampaikan keluhanku padamu..." Ia menangis.
Geum Wa membuka matanya.
"Raja..." panggilnya pada Dae So. "Aku tidak bisa mewujudkan cita-citaku. Kau adalah satu-satunya yang bisa mewujudkan cita-citaku untuk membuat BuYeo kuat dan mampu melawan Han."
"Aku akan melakukan itu!" janji Dae So. "Ayah, cepatlah sembuh."
"Raja..." Geum Wa berusaha bicara. "Kau harus bergabung dengan Goguryeo. Itulah satu-satunya cara agar bisa mengalahkan Han."
Dae So menangis, menggengggam tangan Geum Wa. Geum Wa meninggal dunia.
"Ayah!" teriak Dae So, menangis keras.
"Yang Mulia!" tangis Wan Ho.
Para pejabat BuYeo menangis dari luar kamarnya. "Yang Mulia!" tangis mereka.

Pasukan bantuan dari Chang An akan segera datang beberapa hari lagi. Jumong dan yang lainnya merencanakan penyerangan sebelum pasukan bantuan itu tiba di Liaodong.
Mendadak Oyi masuk. "Yang Mulia, Raja Geum Wa meninggal dunia." lapornya.
Jumong terkejut.

Dalam keadaan berduka dan sedih, Dae So berusaha menepati janjinya pada Geum Wa.
"Perdana Menteri, aku ingin pergi ke Goguryeo dan bertemu Jumong." kata Dae So. "Aku ingin kau menemaniku."

Onjo dan Biryu kembali dengan selamat dari perjalanan dagang mereka. Perdagangan mereka lancar dan sukses. So Seo No tersenyum bangga.
"Bagaimana keadaan di selatan?" tanya So Seo No.
"Aku sangat terkejut bagaimana luas dan suburnya tanah disana." kata Biryu.
"Cuaca di selatan sangat nyaman dan hangat." kata Onjo menambahkan. "Hidup disana sepertinya lebih baik daripada disini."
So Seo No tersenyum. "Benar sekali." katanya. "Suatu hari nanti, kita akan menetap dan hidup di sana."
"Apa maksudmu?" tanya Biryu bingung.
"Kalian akan tahu jika waktunya tiba." jawab So Seo No.
Dae So tiba di Goguryeo setelah hari gelap. Kedatangannya cukup mengejutkan untuk pihak Goguryeo.
"Aku datang untuk mewujudkan keinginan terakhir Raja Geum Wa." kata Dae So pada Jumong. "Aku ingin mencari cara menaklukkan Han bersamamu. Mulanya aku bersekutu dengan Goguryeo agar bisa melewati krisis. Tapi kali ini, aku dengan tulus bicara padamu. Aku ingin menaklukkan Han dan membalaskan dendam Raja Geum Wa."
"Keputusanmu sangat bijaksana." kata jumong. "Jika Goguryeo dan BuYeo bersatu, kita pasti bisa menaklukkan Han."
"Aku tidak yakin BuYeo bisa membantu." ujar Dae So. "Kami tidak memiliki cukup persediaan perang dan makanan. Kami juga tidak memiliki pasukan sebanyak Goguryeo."
"Kami memiliki cukup persediaan perang dan makanan untuk pasukan sekutu." kata Jumong. Ia kemudian memanggil Hyeopbo dan memerintahkan para Jenderal berkumpul untuk membicarakan strategi perang.
"Aku percaya pada Raja Jumong." ujar Dae So setelah mendengar strategi yang diungkapkan Jumong. "Pimpinlah agar kita memenangkan perang ini."

11 comments:

Asahy Baidha said...

Ghee: Put,,, salam kenal,,, terusin sinopsisnya put... 1 episodee lgee... oya,, JJW lanjutannya mana put?.. hehe...

febykuchiki said...

Hohoho... Emng jumong pngn bngt yuri jd penggantix y. Wjr bngt biryu ktktn. Tp, kl d perhtkn yuri emng pux baxk klbhn d bndngkn biryu. Kasian...kasian...kasian... Duh ye soya, teramt sngt jls kl dy n yuri gk gila ama yg nmx kedudukan. Bnr2 ibu n istri yg bijaksana. Kashn so seo no, persanx pst malu bngt ama perbwtn biryu. Untng dy pux cr yg tpt. Smngt kak put, tnggl 1 lg... ^_^

chika said...

Biryu...biryu... lu kok maen belakang sih?? kasian tu mami so seo no...
Tega-teganya ngebuat so seo no dalam keadaan yang sulit. Ckckck (huh)

febykuchiki said...

Oh y, kl d lht2 emng smw perwirax jumong jauh lbh syg n pengen yuri jd peneruzx jumong dech. Yah, slh st penyebab jg negh. @chika: iy, biryu bkn malu so seo no aj neghz. Yuri mah gk bkl gt, cb ngomong baek2. Kykx yuri bkl ngash kedudukanx deh. Kan dy gk nafsu2 bngt, yuri kan sygx cm bwt mamax. Yg pntng mamax bhgia d smpng papax...

Anonymous said...

Hadoh 1 episod Lg...cha ryeong menikah saja kau dg Yoem jong ..hehe
So seo no Yg sbr ya nanti biar perang ma Deokman ja sama" wanita super kalian b'2..
Ye so ya sama cheonmyoeng ya sama" lemahlmbut sikp nya cocok deh
Jumong lwn Yushin n
Bidam Lawan aku . .hahaha
Smangat put ..thank u .V0NY

Anonymous said...

Mba' putrii,,
nisa ampe nangs" bca..a
kasian so seo no yg brda di saat sul!t,, selain ngebyngin ank..a
jg ngebyangin kebhagiaan ye soya yg udh mendrita. . .

LoVE u pUTRi,,
lo udh buat sinopsis yang sngt berharga buatt yg bcA. . .

By: nissa

kia said...

hahaha chae ryeong nikah sama yeomjong??? wah ide bagus tuh.
kekekeke

Anonymous said...

baju perang yg dpake ga kebesaran, emangnya ga ada ukuran S, M, L

seo no itu ga kaya wan ho, pkrnny lbh maju dan luas, dia bikin negara baru untuk anaknya biar ga ada perebutan tahta lg. hidup so seo no.........!!!!!

put ceman94t...........

put said...

Yuri lebih pengertian dan bijaksana dari Biryu, makanya so seo no sediih. Biryu kan biasa hidup mewah dan penuh ambisi akan kekuasaan. Salut Mbak Putri!

kinyobi satsuki said...

Koq sifat Biryu mirip banget m Daeso y?

ambar said...

Tes... tes... komen saya kok ga pernah bisa muncul ya? kalah cepet niy sama penggemar2nya mba Putri, hehehe

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda