Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Bad Guy Episode 1

Thursday, May 27, 2010

Sinopsis Bad Guy Episode 1


Cerita dimulai ketika seorang gadis sedang berdiri di atas atap sebuah gedung. Mendadak seorang lelaki muncul. Gadis itu menjatuhkan bangau kertasnya ke lantai.
"Jangan mendekat!" teriak gadis itu, tersudut sampai ke tepi gedung, hampir terjatuh. "Jangan mendekat!!"

Moon Jae In mengemudikan mobilnya perlahan di tengan jalan raya. Ia menangis, mengingat masalah yang dialaminya sebelumnya.

"Kyo Han, aku ada di hotel karena ibumu meneleponku." kata Jae In, bicara di telepon dengan seorang kekasihnya. "Aku sangat takut dan gugup!"
Jae In menemui seorang wanita berpakaian mewah. "Nona, karena kau lulus dari sekolah terkemuka, seharusnya kau mengerti." katanya. "Aku sangat membenci wanita yang tidak memiliki apapun tapi bergantung pada otaknya yang pintar. Mereka tidak tahu posisinya sendiri dan sangat tamak."
Wanita itu memberikan satu buah amplop kecil. "Ini tidak banyak." katanya. "Sepertinya Kyo Han-ku memiliki perasaan yang dalam padamu. Tapi, kita akhiri saja sampai disini. Tidak perlu malu. Kami memberikan banyak uang pada ribuan tempat amal setiap bulan. Kami akan menganggap kau salah satu dari mereka."
Jae In tidak bisa menahan tangisnya dan menangis makin keras. Ia sampai tidak melihat bahwa lampu lalu lintas berwarna merah.
Mendadak, seorang pria menyebrang dan tertabrak mobil Jae In.
Jae In terkejut dan shock. Ia bergegas turun dari mobil dan mendekati pria itu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jae In, panik. "Apa yang harus kulakukan?"
Jae In mengambil ponselnya dan menelepon 911.
Pria tersebut berdiri.
Jae In menoleh dan terkejut melihat luka baretan di sobekan pakaian di punggung pria itu.
Tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita. Jae In terkejut, dan ketika ia menoleh lagi, pria tadi sudah tidak ada.
Seorang gadis jatuh dari atap gedung.
Para polisi sibuk menyelidiki tempat kejadian. Seorang detektif muda bernama Detektif Lee, mengatakan bahwa gadis itu bunuh diri, namun atasannya tidak sependapat.
Salah atasan detektif melihat bangau kertas milik gadis itu dan berpikir.

"Apakah tamu kamar 175 belum datang?" tanya atasan detektif pada polisi.
"Kami sudah bersiap ekstra ketat, tapi dia belum datang." jawab polisi.
Keesokkan harinya, Jae In datang ke sebuah tempat pernikahan. Ia mengintip sejenak, kemudian berjalan mendekati pasangan pengantin dengan marah.
"Kau pikir tempat apa ini?!" seru pengantin pria, Kyo Han, seraya menarik Jae In. "Kau ingin mempermalukan aku?"
Jae In menampar pria itu di depan semua orang. "Aku tidak ingin mempermalukanmu, karena itulah aku meneleponmu berulang kali." katanya marah. "Kau bisa putus setelah berkencan dengan seseorang, Pernikahan? Jika kualifikasinya tidak cukup, aku akan mencari orang lain yang lebih baik. Aku selalu mencoba memahami posisimu. Walapun kiat putus, masih ada aturan yang harus dijaga! Tidak seharusnya kau membuatku seperti anjing kau bisa kau usir!"
"Itu..." Kyo Han mencoba menjelaskan.
"Kyo Han, siapa wanita ini?!" tanya pengantin wanita.
"Apakah aku melakukan kesalahan besar?" tanya Jae In, mulai menangis. "Apakan menjadi miskin adalah kesalahanku? Apakah bermimpi menikah denganmu tanpa uang adalah kesalahan?"
"Maafkan aku..." kata Kyo Han.
Jae In melempar amplop pemberian ibu Kyo Han. "Kembalikan ini pada ibumu." katanya marah. "Jika ia ingin beramal, cari tempat lain! Selamat atas pernikahan kalian."

Beberapa hari sudah berlalu, para detektif belum juga bisa menemukan pembunuh si gadis.
"Tutup saja kasusnya." kata Lee.
"Detektif Lee, ketika aku melihat pembunuhan itu, aku merasa ada sesuatu yang belum lengkap." kata atasan Detektif. "Itu artinya, kasus belum selesai.
"Bagiku sudah selesai." kata Detektif Lee.
"Kau melihat luka baretan di pergelangan tangan korban?" tanya Detektif. "Baretan itu terjadi tidak lama sebelum kematiannya. Kenapa ia harus melukai tangannya terlebih dahulu sebelum melompat dari gedung? Periksa alibi kekasih Choi Sung Young dan pastikan bahwa itu benar. Sampai saat itu, aku tidak akan menyatakan kasus ini pembunuhan ataupun bunuh diri."
"Tapi di cctv, Choi Sung Young naik ke elevator sendirian." protes Detektif Lee.
"Tapi tangga tidak memiliki cctv." bantah Detektif.

Di tempat lain, di sebuah pesawat, seorang pria melakukan terjun payung.
Di bawahnya, sebuah kapal kecil berlayar di tengah laut. Hong Mo Ne, seorang gadis yang sedang berada di atas kapal tersebut menoleh ke atas dengan terkejut karena pria itu mendarat dengan kasar di kapalnya.
Hong Tae Ra, Kakak Mo Ne, yang saat itu berada di dalam kapal, juga sangat terkejut.
Pria itu adalah Shim Gun Wook. "Apakah kau merekamnya dengan benar?" tanyanya.
"Apa?" Mo Ne bingung.
"Jangan diam saja disana, cepat bantu aku." kata Gun Wook. Mo Ne menurut. "Apa tim produksi pergi ke suatu tempat?"
Mo Ne berjalan namun kemudian tersandung dan jatuh. Tae Ra melihat itu dan bergegas keluar.
"Tuan, apa kau sedang syuting?" tanya Mo Ne. Ia tahu bahwa Gun Wook sedang salah orang. "Film? Drama? Siapa namamu?"
"Apa yang kau lakukan disana?" tanya Tae Ra.
"Kakak, kurasa pria ini sedang syuting." kata Mo Ne.
"Kau salah kapal." kata Tae Ra.
"Ini kapalmu?" tanya Gun Wook.
"Tidak, ini kapalku." kaya Mo Ne, terlihat sangat tertarik pada Gun Wook. "Siapa namamu?"
"Dia pria malaikat." kata seorang gadis kecil, So Dam, putri Tae Ra.
Gun Wook tersenyum padanya.
Mendadak sebuah kapat boat mendekat. "Oy! Gun Wook!" teriaknya menggunakan pengeras suara. "Apa yang kau lakukan di kapal orang lain? Cepat kemari!"
Gun Wook tersenyum dan melambai. Ia bergegas menuju boat itu.
"Tuan, apa kau besok akan jatuh kemari lagi?" tanya Mo Ne.
Gun Wook tidak menjawab dan berjalan menuju krunya.
Jae In datang ke sebuah museum seni. Museum tersebut adalah milik ibu Mo Ne, dari keluarga Hong yang kaya raya.
"Manajer, aku akan pergi ke Pulau Jeju untuk pameran topeng," kata Jae In.
"Ah, tentu saja." kata Manajer. "Lebih baik kau pergi sekarang. Jika kau punya waktu, temui putriku Mo Ne."
"Mo Ne ada di Pulau Jeju?"
"Dia pergi kesana bersama kakaknya untuk merayakan ulang tahu. Temui dia dan bersenang-senang sedikit."
Ibu Mo Ne melihat museum itu berantakan dan memanggil seorang wanita bernama Ji Yeon untuk merapikannya. Bukan meminta tolong dengan baik, ia malah berteriak dan membentak Ji Yeon.
"Kenapa ia seperti itu?" keluh Ji Yeon. "Apa mungkin karena Hong Tae Sung?"
"Siapa Hong Tae Sung?" tanya Jae In.
"Kau tidak tahu dia?" tanya Ji Yeon, ia kemudian berbisik di telinga Jae In. "Dia adalah putra gelap Presiden Perusahaan Hae Jin di luar pernikahannya."
Ji Yeon menyarankan agar Jae In mendekati Tae Sung untuk membalaskan dendam pada Kyo Han.

Jae In pergi ke sebuah toko, membeli hadiah untuk Mo Ne. Ia terpaksa membelikan sebuah pena mahal dengan kredit selama 12 bulan.
Setelah itu, ia pergi ke Pulau Jeju dan tiba di sebuah hotel.
Gun Wook berkelahi dengan beberapa pria di dekat kolam renang. Saat itu, tidak sengaja Jae In juga sedang berjalan lewat sana. Seorang wanita menjatuhkan koper dan tas Jae In.
Ketika Jae In hendak mengambil kembali tasnya. Gun Wook datang dan menarik Jae In, seperti menjadikannya tawanan.
"Siapa kau?" tanya Jae In.
"Huussh..." Gun Wook menyuruh Jae In diam. Dengan cepat, ia mengambil pisaunya kemudian menodongkan pada Jae In untuk mengancamnya.
Para pria pengejar melempar koper Jae In ke arah Gun Wook. Jae In telempar. Gun Wook berkelahi lagi dengan para pria itu.
Jae In mengambil ponselnya dan menelepon 911.
"CUT!" teriak Gun Wook.
"Ada apa ini?" tanya sutradara, menunjuk Jae In. "Siapa dia?"
Jae In bingung. Rupanya semuanya hanya syuting.
"Nona, apa yang kau lakukan disini?" tanya sutradara. Ia kemudian memarahi krunya karena tidak menjaga dan membiarkan orang masuk ke area syuting.
Seorang kru kemudian meminta Gun Woo melepas pakaiannya untuk adegan selanjutnya, tapi Gun Wook menolak.
"Lakukan jika kau ingin dibayar!" bentak kru.
"Bukankah aku seorang aktor?" tanya Gun Wook. "Bukankah aku peran pengganti tokoh utama?"
Kru terpaksa meminta orang lain melakukannya.
"Kenapa harus aku?" tanya pria itu. "Gun Wook punya badan yang lebih bagus!" Pria itu membuka kaos Gun Wook dan melihat luka baretan besar di punggung Gun Wook. sama dengan luka yang dilihat Jae In saat menabrak seorang pria.
Gun Wook berjalan pergi. Di rumput, ia menemukan pena milik Jae In yang terjatuh, kemudian mengambilnya.
Ketika Mo Ne sedang naik mobil bersama kakaknya, ia melihat Gun Wook.
"Hentikan mobil!" katanya. "Kakak, kau pergi duluan. Aku ingin melihat syuting film."
"Bibi, aku juga." kata So Dam, mengikuti Mo Ne.
"Hati-hati dan jangan sampai tersesat." ujar Tae Ra.
Mo Ne dan si gadis kecil mencoba mengejar Gun Wook.
"Permisi." panggil Jae In ketika Tae Ra turun dari mobil di depan hotel. "Kau kakak Mo Ne bukan? Aku melihat fotomu di kamar Mo Ne. Aku bekerja di museum seni Nyonya Shin. Namaku Moon Jae In." Jae In menyerahkan kartu namanya.
"Kudengar ibuku membuka museum." ujar Tae Ra. "Kau bekerja disana sebagai karyawan?"
Jae In tertawa. "Aku bukan karyawan, tapi penulis lepas di pamerannya yang pertama. Dimana Mo Ne?"
"Dia baru saja pergi." jawab Tae Ra. "Mo Ne tidak memberitahuku bahwa ia punya rencana lain. Ada keperluan apa?"
"Aku datang kemari untuk berbisnis. Tapi karena kudengar Mo Ne berulang tahun, aku datang berkunjung."
Tae Ra berjalan mendahului masuk hotel dengan angkuh. Jae In mengikuti di belakangnya.
"Kau lebih cantik dari yang di foto. Nyonya Shin dan Mo Ne juga. Kalian memiliki kecantikan yang luar biasa." kata Jae In, memuji dan berusaha berbincang.
"Aku akan memberi tahu Mo Ne." kata Tae Ra datar. "Kau boleh masuk."

Mo Ne dan So Dam salah mengikuti orang. Ketika Mo Ne sedang bingung mencari, So Dam melihat Gun Wook dan berlari mengejar, tanpa sepengetahuan Mo Ne. Itu membuat Mo Ne kelabakan mencari So Dam.
"Kakak, apa So Dam ada bersamamu?" tanya Mo Ne panik.
Tae Ra bergegas berlari dengan cemas dan meminta orang untuk mencari So Dam

Gun Wook tahu bahwa dirinya diikuti. Ia bersembunyi sebentar, kemudian sengaja memperlihatkan diri di depan So Dam agar So Dam mengikutinya.
Gun Wook tersenyum ramah di depan So Dam, namun ketika berbalik, wajahnya berubah kejam. (Waduh, tipikal Bidam banget nih!).
"Ah! Kakak malaikat!" seru So Dam senang seraya berlari mengejar.

Dengan cemas, Mo Ne menekan tombol elevator menuju atas. "Kakak, kurasa aku melihat So Dam." katanya.
Gun Wook pergi ke atas gedung. So Dam terus mengikutinya.
"Sampai kapan kau akan mengikutiku, Nona Kecil?" tanya Gun Wook.
"Kakak Malaikat, apa sayapmu sudah kering?" tanya So Dam polos. "Saat itu kau jatuh ke air. Apa sayapmu sudah kering?"
Gun Wook tersenyum. "Aku tidak tahu." jawabnya.
"Tapi kenapa kau menyimpan sayapmu di atas kepalamu, bukan di punggung?" tanya So Dam. Maksudnya adalah parasut.
"Malaikat jaman sekarang bisa mengubah posisi sayap dimanapun yang ia mau." jawab Gun Wook.
So Dam meminta Gun Wook terbang. Gun Wook berdiri di tepi gedung dan merentangkan tangannya, seperti hendak terbang.
"So Dam!" teriak Mo Ne, berlari panik.

"Aku menemukan Kakak Malaikat!" teriak So Dam. "Ia bilang, ia bisa terbang. Paman, cepat terbang!" So Dam mendorong Gun Wook. Gun Wook terjatuh.
Mo Ne berteriak histeris dan bergegas berlari.
"Bantu aku naik." kata Gun Wook. Rupanya ia berhasil berpegangan pada dinding.
Mo Ne membantu Gun Wook naik.

Tae Ra dan supirnya tiba di atap. Begitu datang, Tae Ra langsung menampar Gun Wook hingga pipinya berdarah.
"Kenapa kau membawa seorang anak kemari?" tanya Tae Ra marah. "Apa kau mencoba mengancamku dengan menggunakan anakku? Anakku tidak cukup dan kau juga ingin menggunakan Mo Ne? Apa yang ingin kau lakukan?"
"Kakak, tidak seperti itu!" seru Mo Ne.
"Aku mendengar kau berteriak!" kata Tae Ra. "Jika tidak, kenapa kau membawa anak kemari? Katakan sesuatu! Aku melihatmu kemarin di kapal dan sekarang disini. Itu artinya kau memang menginginkan sesuatu."
Gun Wook diam dan mendekati Tae Ra, kemudian mengambil sehelai rambut patah di dekat dada Tae Ra.
Tae Ra diam sejenak, kemudian menampar Gun Wook dengan marah. Ia memerintahkan supirnya untuk melaporkan Gun Wook ke polisi, lalu menarik So Dam dan Mo Ne pergi.
Mo Ne mencoba melepaskan diri dari kakaknya. "Dia hampir saja mati karena So Dam!" serunya. "Paman, jangan laporkan." Mo Ne meminta maaf pada Gun Wook.

Setelah turun dari elevator, So Dam mengatakan bahwa ialah yang terlebih dulu menemukan dan mengikuti Gun Wook. Mo Ne ngambek dan mengatakan pada kakaknya agar tidak bersikap sok kaya di mana saja. Pihak hotel mengetahu hal ini dan datang menemui Tae Ra. Tae Ra mengatakan pada mereka bahwa So Dam hanya bermain-main dan Mo Ne-lah yang terlalu membesar-besarkan masalah.
Mo Ne senang. Itu tandanya, Tae Ra tidak akan melaporkan Gun Wook ke kantor polisi.

Jae In menelepon adiknya, Won In, dari sebuah kamar hotel yang mewah. Ia bertanya pada Won In, haruskah ia mendekati Hong Tae Sung, seorang pria kaya?
Won In tersedak. "Apa mereka mengundangmu?" tanyanya.
"Aku bisa membuat mereka mengundangku." kata Jae In.

Jae In melihat-lihat kamar hotel itu.
"Kakak." panggil Mo Ne.
Jae In, yang saat itu sedang mencoba bathtub, menjadi sangat terkejut.
Jae In menyerahkan hadiah ulang tahun pada Mo Ne. Tapi isi kotak itu bukan pena, melainkan pisau. Ah, penanya tertukar dengan pisau Gun Wook.
Jae In mencoba menjelaskan.
Mo Ne mengambil pisau itu. "Kau tidak akan bisa terluka dengan pisau ini." katanya. "Ini boleh buatku?"
"Tentu saja." jawab Jae In. "Apa yang kau kenakan di hari ulang tahunmu? Semua keluargamu datang, bukan?"
"Tidak." jawab Mo Ne. "Kakak tertua dan kakak iparku tidak datang."
"Bagaimana dengan kakak keduamu?"
"Kakak, kau tahu mengenai kakak keduaku?" tanya Mo Ne.
"Kau bilang kakak tertua, berarti ada kakak yang satu lagi." kata Jae In, memberi alasan. "Apa kau punya kakak kedua?"
"Ya." jawab Mo Ne. "Namanya Tae Sung. Tapi berpura-puralah tidak tahu didepan ibu dan kakak perempuanku."
Mo Ne menunjukkan baju yang akan ia pakai. Tae Ra masuk. Mo Ne meminta izin agar Jae In diizinkan ikut pada acara besok, tapi Tae Ra menolak. "Besok adalah acara keluarga." katanya. "Maafkan aku, Jae In."

Gun Wook tertidur di atap. Ia memimpikan masa kecilnya yang mengerikan. Belum jelas, hanya sekelibatan kecil yang terpotong-potong.
Mendadak, Gun Wook terbangun karena seorang wanita datang mendekatinya. Ia adalah seorang aktris bernama Hee Joo.
Seorang wanita lain, Da Lim, datang dengan panik dan memberitahukan bahwa jadwal syuting diganti. "Kita akan melakukan syuting di dalam ruangan dulu. Kau harus segera ganti baju."
Da Lim terjatuh. Hee Joo menolongnya dengan ramah, kemudian pamit pada Gun Wook untuk turun.
Di tangga darurat, Hee Joo menampar Da Lim dan memarahinya. "Kau pikir bajuku adalah bantal tempat kau jatuh?!" bentaknya. "Kau tidak bisa melakukan apapun dengan benar!"

Ketika Jae In dan Mo Ne hendak makan bersama, Tuan Um menjemput. Mo Ne lupa bahwa ia sudah punya janji untuk makan malam.
"Kau sudah punya janji?" tanya Jae In. "Tidak apa-apa, pergilah."
Mo Ne pergi bersama Tuan Um, meninggalkan Jae In sendirian.

Gun Wook berdiri sendirian. Ia menulis sesuatu di selembar kertas, kemudian merobeknya dan membuat sebuah bangau kertas. Bangau tersebut terbang tertiup angin dan ditemukan oleh Jae In. Jae In menyimpan bangau kertas itu.

Detektif berpikir dalam-dalam sambil melihat foto bangau kertas yang terkena darah. Ia bertanya-tanya kenapa wanita itu meninggalkan bangau kertas tersebut.
Di lain sisi, anak buahnya Lee, malah bermain game di ponsel.
"Tuan Um, kenapa kau mau menikah denganku?" tanya Mo Ne ketika ia dan Tuan Um sedang makan malam di sebuah kafe.
"Karena aku menyukaimu." jawab Tuan Um. "Apa kau tidak menyukaiku?"
"Bukan begitu." jawab Mo Ne. Mendadak, ia melihat Gun Wook datang dan memesan minuman. "Tapi untuk sebuah pernikahan, kita harus menyukai satu sama lain."
Gun Wook beranjak pergi.
"Tunggu sebentar." kata Mo Ne pada Tuan Um. Ia bergegas mengejar Gun Wook.

Gun Woo mencuci tangannya di toilet. Ia melirik sedikit, menyadari kedatangan Mo Ne, namun pura-pura terkejut.
"Ini toilet pria." kata Gun Wook.
"Aku minta maaf atas kejadian sebelumnya." kata Mo Ne. "Kakak tidak biasanya seperti itu."
"Jangan khawatir." kata Gun Wook.
Gun Wook dan Mo Ne hendak berjalan keluar toilet, namun Tuan Um datang. Mo Ne menarik Gun Wook masuk ke salah satu kamar mandi.

Setelah Tuan Um pergi, Gun Wook dan Mo Ne keluar.
"Siapa namamu?" tanya Mo Ne gugup.
"Shim Gun Wook." jawab Gun Woo datar.
"Terima kasih, Kak Gun Wook. Namaku Hong Mo Ne."

So Dam bertanya pada Tae Ra apakah ia bisa bertemu lagi dengan Paman Malaikat.
"Kau tidak boleh mengikuti orang seperti itu lagi, mengerti?" ujar Tae Ra.
"Walaupun ia tersenyum?"
"Ia tersenyum?" tanya Tae Ra, berpikir dan curiga.
Ketika Hee Joo sedang mengemudikan mobil bersama dengan Tuan Um, Hee Joo menggoda Tuan Um. Itu membuatnya tidak memperhatikan jalan dan menabrak seseorang yang mengendarai motor. Hee Joo bersembunyi dalam mobil.
Tuan Um turun dari mobil. "Seharusnya kau hati-hati jika mengendarai motor." katanya.
Gun Wook melihat ke arah mobil. "Kurasa kau bisa pengemudinya." ujarnya dingin.
Tuan Um mengeluarkan sejumlah uang dari dompet.
"Kau sangat melindungi pacarmu." kata Gun Wook, mengancam. "Aku jadi semakin penasaran."
Tuan Um menyerahkan selembar cek, kemudian masuk ke mobil.

Gun Wook duduk seorang diri. Ia mengeluarkan korek api, kemudian membakar cek tersebut.

Jae In datang ke tempat syuting untuk menanyakan pada para kru apakah mereka menemukan sebuah pena. "Aku menjatuhkan pena. Tolong tanyakan pada yang lain. Itu pena mahal." katanya.
Kru itu berteriak, namun tidak ada yang mengaku. Gun Wook menoleh, namun tidak mengatakan apa-apa.
Para kru sibuk mempersiapkan adegan sky diving.
Da Lim mengendap-endap di pesawat dan berniat memotong sebuah kabel. Tidak sengaja, Gun Wook melihat kemudian menariknya.
"Dengar baik-baik." kata Gun Wook. "Jika kau ingin memotong, potong kabel yang ini atau yang ini." ujarnya mengajari.
"Lepaskan aku." kata Da Lim.
"Apa yang kau lakukan?"
"Lepaskan aku!" Da Lim meronta-ronta dan memaksa dilepaskan. Pisau yang dipegangnya mengenai tangan Gun Wook.
"Kau tidak tahu betapa kejamnya Choi Hee Joo!" seru Da Lim emosi. "Kau tahu berapa banyak ia menginjak-injak orang lain? Dia memaki tanpa alasan! Dia memukul tanpa alasan! Dia mengancam dan berteriak! Aku muak padanya! Aku ingin membunuhnya! Aku berharap dia mati!"
"Tenanglah!" teriak Gun Wook. "Apakah itu akan mengubah hidupmu? Apakah hidupmu akan berubah jika Choi Hee Joo mati? Jika dia mati, akan ada Choi Hee Joo lain yang akan menginjak-injak dirimu. Lalu kau akan membunuh lagi?"
Da Lim diam.
"Membunuh seseorang sangat mudah." kata Gun Wook tenang. "Kau ingin aku mengajarimu? Kau tahu apa yang lebih sulit dari membunuh? Itu adalah melampaui Choi Hee Joo berdiri lebih tinggi darinya. Kemudian, tidak membiarkan orang lain menginjak-injak dirimu lagi. Mulai sekarang, jangan pernah berpikir melakukan hal seperti itu lagi."
Gun Wook dan Hee Joo melakukan sky diving.
Sambil terjun, Gun Wook bertanya apakah pria yang tadi malam adalah kekasih Hee Joo.
Di kapalnya, Mo Ne menemukan sebuah walkie talkie. Percakapan Gun Wook dan Hee Joo terdengar dari walkie talkie itu. Mo Ne memasang headset untuk mendengar percakapan tersebut.
"Apa hubunganmu dengan pria di mobil tadi malam?" tanya Gun Wook pada Hee Joo.
"Jangan khawatir, ia hanyalah pacar yang kukebcani sebentar." jawab Hee Joo.
"Kau mencintainya?" tanya Gun Wook. "Aku tahu dia, Dia dari Perusahaan Chung Soo, Um Tae Seong, bukan?"
"Dia akan segera menikah." kata Hee Joo. "Calon istrinya sangat kaya."

Mo Ne terkejut mendengar percakapan mereka. Tuan Um datang dan memberikan bunga serta sebuah kalung untuk hadiah ulang tahun Mo Ne.
"Aku mencintaimu." kata Tuan Um di telinga Mo Ne. Mo Ne diam. Ketiak Tuan Um hendak mencium bibir Mo Ne, Mo Ne muntah di bajunya.

Kini waktunya Gun Wook dan Hee Joo melepas parasut. Gun Wook bisa melakukannya dengan sempurna, namun parasit Hee Joo macet dan tidak bisa terbuka.
"Konsentrasi!" teriak Gun Wook.
Hee Joo panik. "Tolong aku! Tolong!" jeritnya.
Gun Wook melepas parasutnya sendiri dan melayang untuk membantu Hee Joo.
Dengan bantuan Gun Wook, akhirnya parasut Hee Joo bisa terbuka. Namun Gun Wook sendiri terlambat melepas parasut cadangannya. Gun Wook terjatuh ke laut dengan keras.
Para kru cemas dan terjatuh lemas.

"Detektif! Aku menemukannya!" kata Detektif Lee. "Kekasih wanita yang bunuh diri, Choi Sun Young."
"Sudah kubilang dia mungkin tidak bunuh diri." kata Detektif. "Dimana dia?"
"Di Pulau Jeju.

Para kru menolong Gun Wook.
Dalam pingsannya, Gun Wook teringat masa kecilnya bersama orang tuanya.
Ayah Gun Wook adalah seorang yang menderita bisu tuli. Gun Wook ingin sekali membelikan ayahnya alat bantu pendengaran dan berjanji bahwa ia akan membuat ayahnya bisa mendengar.

Ayah dan ibu Gun Wook membawa Gun Woo pergi.
"Ayah kandungmu mencarimu." kata Ayah Gun Wook. "Ayah kandungmu adalah orang yang sangat kaya di Seoul. Jadi kau harus hidup bersama di Seoul. Mulai sekarang, namamu bukan Choi Tae Sung, tapi Hong Tae Sung."
Gun Wook menangis. "Tidak. Kau adalah ayah kandungku!"
Ayah dan ibu Gun Wook mengantar Gun Wook pergi. Gun Wook menangis-nangis histeris, menolak untuk pergi. "Aku tidak mau! Aku tidak mau!" teriaknya.
Ayah dan ibu Gun Wook menangis, terpaksa melakukan itu demi masa depan putranya.
Sejak tinggal di rumah mewah itu bersama ayah kandungnya, Gun Woo tidak mau bicara dan hanya bicara dengan isyarat. Ibu dan ayah barunya mengatakan bahwa jika Gun Wook bersikap baik dan mau mendengarkan mereka, ayah dan ibu lamanya akan menjadi kaya dan akan datang menjemput Gun Wook.
Gun Wook percaya dan akhirnya mau bicara.
Gun Wook berbisik di telinga ibu barunya bahwa ia menginginkan alat bantu pendengaran.
Ibu barunya setuju, kemudian menyuruhnya memanggi Presiden Hong, 'ayah'.

Di ruang pameran seni, Jae In tanpa sengaja menjatuhkan sebuah bangau kertas yang diambilnya dari rumput waktu itu. Ia membuka kertas itu dan membacanya. Disana tertulis nama-nama orang-orang Perusahaan Hae Shin. Dibawah nama-nama itu, tertulis sebuah puisi.
"Malam hari sangat gelap." Jae In membaca tulisan itu. "Dimana langit? Dimana tanah? Semuanya hanya bayangan. Cahaya ataupun cahaya bintang. Aku tidak bisa melihat perbedaannya."

"Beraninya kau berbohong dan datang ke rumah ini!" teriak Presiden Hong.
"Aku Tae Sung!" tangis Gun Wook. "Kemana aku bisa pergi? Buka pintu!"
Gun Wook didorong dengan kasar dan terjatuh. Itulah yang menyebabkan bekas luka dipunggungnya.

Gun Wook membuka matanya di dalam air ketika ia terjatuh.
Semua kejadian demi kejadian itu bukanlah kebetulan...

16 comments:

nana said...

another recaps..kenyang deh kita hahaha

Anonymous said...

eonni,,,,,,,,,,,
kngen......

Qies ^_^

quensha said...

thanks...k pu3 bad gay na..
lanjutkan terus ya k..
Hehehehe bidamku...
Masih terasa di sosok geun wok..

Anonymous said...

slm knal aq shenas waaaaa bru tyg kmrin sinopsis lgsg terbit thx unni

aq mo nny selain viikii dmn lg kt bs liat ni drama scr cepet coz aq buka viikii error

oppa oppa kereeeen unni lanjutkan

put said...

ngeri lihat matanya...hii...

put said...

Bidam nggak ada disini dong, adanya GW. KNG tetap MANTAP.

SaLAM supER......... said...

sumpahhhh...... makasih banget wat sinopsis CSnya....

saphire88 said...

sip put....lanjudkan!

Anonymous said...

waw... keren bgt BG-nya kak...
oppa KNG emang the best!!!
tatapan matanya gak nahan..wkwkwk
semangat kak!hwaiting!!!

-karinna-

Patrarush said...

Maf dech n0ona klo ngerasa kita ngedesak tpi CINDERELLA'S SISTER X duluan aja. . . .

Anonymous said...

maksih kak pu3 buat recapsny...


Keren be-ge-te,

LANJUTKAN!!!

miiko said...

waaaaaa.....kerenz..heheh
pgn cpt2 liat flmnya...
kira2 berapa episod ya...

Anonymous said...

Endingnya gimana ya?

phan2_xoxo said...

sinopsis episode selanjutnya mana nih?

Anonymous said...

Back Song blog ni judulnya pa iuph?? n cp yg nyanyi??

boyraffly said...

My Inspirasion gun wook..
thanks sobat bwt sinopx ..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda