Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Giant Episode 1

Friday, March 11, 2011

Sinopsis Giant Episode 1


Gangnam, sebuah wilayah di selatan Sungai Han, menjadi awal dari sebuah perkembangan tak terduga dimana seluruh dunia masih mengganggap hal tersebut sebuah keajaiban.
Hanya dalam waktu 4 tahun, harga tanah di Gangnam membumbung tinggi beberapa ratus kali lipat. Perebutan dalam mengambil peluang emas di tanah ini lebih kejam dibandingkan perang manapun yang pernah terjadi.

Dengan tangan gemetar, seorang pria mengacungkan pistol ke kepalanya sendiri. Ia berniat bunuh diri. Namun setelah melihat sebuah berita di televisi, mengenai penganugerahan CEO pada Lee Gang Mo, ia mengurungkan niatnya. Pria itu yang hendak bunuh diri tersebut bernama Jo Pil Yeon.

Malam itu, Pil Yeon menemui Gang Mo.
"Lama tidak berjumpa." sapa Gang Mo. Kelihatannya ia tidak kaget melihat Pil Yeon.
"Aku adalah Jo Pil Yeon!" seru Pil Yeon seraya mengacungkan pistol ke arah Gang Mo. "Gangnam adalah wilayah ciptaanku! Aku mengorbankan darah dan air mataku demi perkembangan negara ini! Tapi kau merebut semuanya dariku! Kau merebut semua hasil perjuanganku dan dunia yang kuciptakan!"
"Jika bukan karena kau, kota ini akan menjadi tempat yang lebih baik." kata Gang Mo. "Kalian yang menghancurkannya. Ketika kalian fokus pada pembangunan, ketamakan membutakan mata kalian."

Seperti orang gila Pil Yeon memerintahkan Gang Mo bersujud dan memohon ampun padanya. "Seharusnya dulu aku juga memberi kesempatan pada ayahmu untuk memohon ampun." katanya. "Jika saat itu ia bersujud dan memohon padaku, mungkin aku akan mengampuninya. Tapi semua berakhir hanya dengan satu tembakan. Darah mengalir keluar dari dadanya."
Mendengar itu, Gang Mo sangat marah dan langsung menerjang Pil Y eon.
Dengan mudah, Gang Mo berhasil menjatuhkan Pil Yeon.
"Bunuh aku!" seru Pil Yeon. "Biarkan pembunuh ayahmu merasakan pembalasan."
Namun Gang Mo tidak sanggup membunuh seseorang.
Pil Yeon terus berteriak menyuruh Gang Mo membunuhnya dan membalaskan dendam ayahnya.
Amarah Gang Mo mencapai batas. Ia lalu menembakkan satu peluru. Peluru tersebut melesat melewati kepala Pil Yeon ke arah kaca jendela. Kaca jendela tersebut pecah.
"Kau ingin aku mengotori tanganku dengan darah kotormu?" tanya Gang Mo. "Jika kau memang ingin mati, melompatlah keluar. Jika kau dikubur di kotamu sendiri, kurasa kau pasti akan puas."
Pil Yeon menerjang Gang Mo, namun Gang Mo mengelak.
"Camkan ini baik-baik." ujar Gang Mo tajam, "Semua dosa yang kalian lakukan akan terus kuingat selamanya dengan menguasai kota ini."
"Brengsek!" teriak Pil Yeon marah.
~~ OooOooO ~~

Flashback beberapa puluh tahun kemudian.
Busan, tahun 1970.
"Aku tidak mencuri celenganmu!" seru Gang Mo membela diri ketika kakaknya, Lee Sung Mo mengejarnya dengan marah.
"Semua orang tahu kau mencurinya!" Lee Mi Joo, seorang gadis kecil balas berteriak.
"Aku dan Mi Joo menabung untuk membeli hadiah ulang tahun untuk ibu." kata Sung Mo.
Gambar dari kiri ke kanan. Baju biru-Lee Gang Mo, gadis kecil-Lee Mi Joo, Baju hitam-Lee Sung Mo.
Karena terus didesak, Gang Mo akhirnya mengembalikan uang yang dicurinya.

Sepertinya sudah hobi Gang Mo mencuri. Ia menyelundup ke sebuah truk dan mencuri coklat di dalamnya. Secara tidak sengaja, ia mendengar percakapan dua orang pria di dalam truk. Mereka membicarakan apakah Lee bisa mereka percaya menjadi supir truk. Emas batangan akan datang akhir minggu ini dan mereka harus bisa mendapatkan orang yang bisa dipercaya.
Rupanya kedua pria tersebut adalah penyelundup barang. Orang bermarga Lee yang mereka bicarakan tidak lain adalah ayah Gang Mo.
Ayah Gang Mo bekerja sebagai supir pengantar barang ke markas militer.

Gang Mo menceritakan semua pembicaraan yang didengarnya pada ayahnya.

Gang Mo dan ayahnya langsung melaporkan hal tersebut pada pihak markas militer, yang tidak lain adalah Jo Pil Yeon.
Sebagai ucapan terima kasih karena telah melapor, Pil Yeon memberi Gang Mo hadiah. Dengan informasi tersebut, mereka akan bisa menangkap penyelundup yang sudah lama mereka cari-cari.
Saat ulang tahun ibu, keluarga Lee berjalan-jalan di pasar malam. Mi Joo menarik ibunya melihat-lihat perhiasan. Ibunya sepertinya menyukai salah satu cincin yang ada dipajang disana, namun berpura-pura tidak menyukai barang tersebut karena harganya mahal.
Setelah ayah dan ibunya pergi, Mi Joo memanggil Sung Mo dan menunjukkan cincin tersebut.

Ayah Gang Mo menginvestasikan uangnya untuk membeli lahan di Gangnam. Orang yang mengurus investasinya itu adalah Hwang Tae Sub. Hwang Tae Sub hampir bangkrut dan berhutang banyak pada bank. Namun Ayah Gang Mo tidak mengetahui hal ini.

Kehidupan ekonomi keluarga Lee sangat sulit. Mereka bahkan harus berhemat untuk makan.
Mi Joo mengeluarkan hadiah yang dibeli dan memberikannya pada ibunya.
Mi Joo dan Sung Mo membelikan ibunya sebuah cincin perak.
"Ini sangat cantik." kata ibu senang.
"Berikan cincin itu padaku." kata ayah. "Ini tidak pantas untukmu."
Dengan berat hati, ibu memberikan cincin itu pada ayah. Ayah menyimpan cincin itu di sakunya.
Bagi ayahnya, membeli cincin tersebut hanyalah membuang-buang uang. Tidak lama lagi mereka akan pindah ke Seoul, jadi harus melakukan penghematan sebesar mungkin.
Mi Joo dan Sung Mo kelihatan sangat sedih.

Setelah selesai makan, keluarga Lee berfoto bersama.

Disisi lain, Pil Yeon mendapat kabar bahwa ia tidak akan mendapat promosi dari militer pusat dan malah mengangkat orang lain. Hal ini membuatnya sangat marah.
"Kita harus mempertaruhkan karir kita demi sesuatu yang lebih besar." kata Pil Yeon. "Jika kau ingin berhasil di jalan ini, kita harus membina hubungan dengan pemerintah pusat. Dan untuk itu, kau butuh uang. Orang yang tidak punya koneksi dan uang seperti kita akan selalu menjadi orang kedua dan dibuang di pinggiran sepanjang hidup kita."
"Tapi darimana kita bisa mendapat uang?" tanya anak buah Pil Yeon, Jae Chun.
"Emas batangan." jawab Pil Yeon.

Hwang Tae Sub memiliki dua orang anak. Si cantik Hwang Jung Yeon dan si gendut Hwang Jeong Shik.
Jung Yeon adalah anak kesayangan Tae Sub sementara Jeong Shik adalah anak kesayangan istri Tae Sub. Kalau ada Tae Sub, istrinya bersikap manis pada Jung Yeon, tapi begitu Tae Sub tidak ada, ia bersikap kejam pada putri tirinya itu.
Tae Sub bicara pada Pil Yeon apa yang kira-kira bisa dilakukannya untuk membayar semua hutang-hutangnya. Pil Yeon mengajaknya menangkap penyelundup emas batangan dan mengambil emas batangan mereka. Tae Sub setuju walau dengan berat hati. Ia terpaksa melakukannya.
"Ketika supir truk mengantarkan emas batangan, bunuh dia dan ambil emasnya." kata Pil Yeon. Itu artinya, Tae Sub dipaksa membunuh sahabatnya sendiri, tapi Tae Sub tidak tahu.

Di pagi buta, Mi Joo dan Gang Mo masih terlelap. Ayah dan Sung Mo bersiap-siap berangkat bekerja.
Ayah menarik tangan ibu dan memasangkan sebuah cincin emas dijarinya. Rupanya ayah menukar tambah cincin perak yang dibeli Sung Mo dan Mi Joo dengan sebuah cincin emas.
"Terima kasih." kata ayah. "Sejak kau pertama kali bertemu denganku, kau tidak pernah mendapatkan sesuatu yang berharga. Kau tidak pernah mendapat pakaian indah. Namun tidak sekalipun kau mengeluh. Bersabarlah sedikit. Jika uang hasil tanah sudah bergerak, kita akan memiliki kamar sendiri. Kita akan mekan daging babi yang kita inginkan. Kita juga bisa mengirim anak-anak ke universitas. Hidup kita akan sedikit lebih baik."

Ibu menangis. Oya, sekedar informasi, saat itu ibu sedang hamil besar.
Ayah mendapat uang untuk membeli cincin emas dari Gang Mo. Uang tersebut adalah hadiah pemberian Pil Yeon padanya.

Sung Mo dan ayahnya berangkat. Para penyelundup memerintahkan mereka mengikuti mobilnya.
"Bagaimana jika para penyelundup itu tahu kita melaporkan mereka dan mencelakai kita?" tanya Sung Mo.
"Jika semua orang berpikir seperti itu, maka tidak akan ada lagi orang yang berani berbuat benar." jawab ayah. "Jika ayah sudah tua nanti, kau akan menjadi kepala keluarga. Kau tahu apa yang terpenting? Keberanian. Keberanian melindungi keluargamu. Keberanian berkorban demi mereka.

Di rumah, ibu sedang berjuang melahirkan anaknya.

Di tengah perjalanan, mendadak truk Sung Mo dihadang batang-batang kayu pohon besar. Seorang pengendara motor memberi isyarat pada ayah Sung Mo agar membelokkan truk. Para penyelundup kelabakan karena kehilangan truk mereka.
Truk Sung Mo dan pengendara motor tiba di sebuah tempat. Ayah memerintahkan Sung Mo tetap berada di dalam truk dan jangan keluar.
Ayah turun dari truk dan menemui si pengendara motor yang tidak lain adalah Tae Sub.
Tae Sub dan ayah Sung Mo sangat terkejut bertemu satu sama lain.
"Kenapa dari sekian banyak orang, harus kau?!" seru Tae Sub. "Dengar baik-baik, mereka bukan ingin menangkap penyelundup. Mereka hanya ingin mencuri barang itu!"
Ayah Sung Mo terkejut.
"Bawa keluargamu dan pergi ke Seoul sekarang juga!" perintah Tae Sub. "Aku akan mengatur segalanya disini."
Mendengar pernyataan Tae Sub, ayah Sung Mo malah semakin marah karena beranggapan Tae Sub juga ikut andil bagian dalam pencurian emas batangan tersebut.
"Aku butuh uang!" seru Tae Sub. "Kita akan kehilangan semua tanah yang kau beli di Gangnam."
Ayah Sung Mo tetap berpegang teguh pada kebenaran. "Aku akan membawa emas ini ke polisi!"
"Lee Dae So!"
"Aku tidak ingin menjadi ayah yang tidak dihormati oleh anak-anakku!" seru Ayah Sung Mo.

Tidak lama kemudian, Pil Yeon dan anak buahnya datang.
Tae Sub berpura-pura mengacungkan pistol pada Ayah Sung Mo.
Sung Mo melihat kejadian itu dari dalam truk dan terkejut. Ia mencari linggis sebagai senjata.

"Lari." bisik Tae Sub pada Ayah Sung Mo. "Cepat lari! Aku tidak bisa membunuhmu. Kumohon padamu, cepat lari!"
Ayah Sung Mo berbalik hendak melarikan diri, tapi mendadak sebuah suara tembakan terdengar. Dada Ayah Sung Mo mengeluarkan darah. Ayah Sung Mo tertembak.

Yang menembak bukanlah Tae Sub, melainkan Pil Yeon.
Ayah Sung Mo meninggal seketika, bersamaan dengan lahirnya anaknya yang keempat.

Sung Mo shock dan menangis. Dari kaca spion, ia melihat Pil Yeon mengacungkan pistol. Tanpa pikir panjang, Sung Mo keluar dari truk dan berlari kabur. Anak buah Pil Yeon mengejarnya.

Pil Yeon berniat membunuh Tae Sub, namun Tae Sub mengatakan bahwa tidak ada gunanya membunuhnya. Ia adalah seorang pengusaha yang akan bermanfaat bagi Tae Sub. Tae Sub berjanji pada Pil Yeon bahwa emas batangan tersebut bisa ia jadikan keuntungan yang berkali lipat.
"Jika kau mengampuni aku, semua yang kulakukan adalah untukmu." janji Tae Sub. "Aku akan setia padamu."
Pil Yeon setuju.

Anak buah Pil Yeon terus mengejar Sung Mo ke hutan, namun kesulitan menangkapnya.
Hingga akhirnya Sung Mo bisa meloloskan diri.
"Ayah..." tangis Sung Mo. "Ayah..."

Sung Mo datang ke kantor polisi untuk melapor. Namun Pil Yeon sudah berada disana terlebih dahulu.
"Ayahku..." kata-kata Sung Mo terpotong karena terkejut melihat Pil Yeon.
"Ayahmu kenapa?" tanya polisi.
"Ayahku... mabuk." lanjut Sung Mo, berbohong. Ia menangis karena tidak bisa melaporkan pembunuhan ayahnya.
Setelah selesai bicara dengan polisi, Pil Yeon berjalan keluar. Sung Mo melihat nama di seragam Pil Yeon dengan pandangan benci.

Sung Mo pulang ke rumah. Begitu sampai, ia sudah disambut oleh para penyelundup emas batangan. Gang Mo dan Mi Joo langsung memeluk Sung Mo.

Sung Mo mengatakan pada para penyelundup bahwa ayahnya meninggal, namun mereka tidak percaya.
"Siapa yang membunuhnya?" tanya penyelundup.
"Jo Pil Yeon." jawab Sung Mo. "Ia adalah pejabat tinggi dan namanya Jo Pil Yeon."
Para penyelundup hutang terkejut mendengarnya.

"Katakan padaku dimana ayahmu?!" seru ibu ketakutan.
"Ia meninggal." jawab Sung Mo sedih. "Ayah... sudah meninggal."
Ibu langsung pingsan begitu mendengarnya.

Para penyelundup menemui Pil Yeon dan minta bagian dari emas batangan yang dicuri.
Pil Yeon malah memerintahkan anak buahnya untuk menangkap mereka.
"Kami akan memberikan semua emas itu, tapi ampuni kami." kata penyelundup.
"8o persen untukku dan 20 persen untuk kalian." kata Pil Yeon menawarkan. "Tapi siapa diantara kalian yang melihatku dari dalam truk? Bukankah dia salah satu dari kalian?"

Setelah sadar dari pingsan, ibu mengajak anak-anaknya segera membereskan barang-barang dan pergi. Pil Jeon dan para penyelundup pasti akan mencari mereka.
Ketika para penyelundup tiba di rumah, rumah tersebut sudah kosong.

Sung Mo dan keluarganya pergi ke stasiun kereta menuju Seoul.
Para penyelundup berusaha mengejar, namun gagal. Sung Mo berhasil mencegah mereka naik ke dalam kereta.

Anak-anak murung. Ibu berusaha memberi mereka semangat.
"Kita akan ke Seoul." ujar Ibu. "Dengan lahan yang dibeli ayah kalian di Gangnam, kita tidak akan kesulitan hidup. Walaupun tanpa ayah, aku akan mengirim kalian ke universitas dan menikahkan kalian semua."
"Lalu bagaimana dengan jenazah ayah?" tanya Gang Mo. "Kenapa kita pergi begitu saja dan meninggalkan jenazahnya?"
Ibu menahan tangis. "Suatu saat nanti, kita akan kembali dan mengambilnya." katanya. "Kita akan mencari orang-orang itu dan membuat mereka membayar apa yang telah mereka lakukan. Setelah itu, kita bisa menemui ayah."
Tae Sub menguburkan jenazah Ayah Sung Mo.
"Jika aku tahu itu kau, aku tidak akan pergi kesana." kata Tae Sub di depan makam. Ia menangis. "Kau mati karenaku. Ini semua salahku."
Ia berjanji pada dirinya sendiri dan makam Ayah Sung Mo bahwa ia akan menjadi orang berhasil. Semua uang di dunia ini akan jatuh ke tangannya.

Gang Mo menangis di gerbong. Sung Mo menemaninya.
"Jangan menangis." kata Sung Mo.

Kereta berhenti di sebuah stasiun. Dari jendela, Sung Mo bisa melihat seorang penyelundup sudah berada di stasiun itu.
Ia bergegas menarik Gang Mo dan membangunkan ibunya dan Mi Joo.
"Gang Mo, dengar baik-baik." ujar Sung Mo. "Saat kereta hendak berjalan, kau dan ibu harus turun. Mengerti?"
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya ibu cemas.
"Kita kita pergi bersama, mereka pasti akan menangkap kita." ujar Sung Mo. "Aku akan mengulur waktu. Bawa ibu dan pergilah lebih dulu ke Seoul."
"Lalu bagaimana kita bertemu?" tanya Gang Mo.
"Pada akhir bulan ini, kita bertemu di gedung tertinggi Seoul." jawab Sung Mo. "Mengerti? Cepat pergi! Kita akan segera bertemu lagi."

Sung Mo berlari dan memancing perhatian para penyelundup agar mengejarnya.
Di sisi lain, Gang Mo dan yang lainnya berhasil turun dari kereta.
"Ibu, tunggu disini bersama Mi Joo." kata Gang Mo seraya berlari pergi mencari Sung Mo.

Dari dalam kereta, Sung Mo menyuruh Gang Mo pergi.
Kereta semakin kencang berjalan. Gang Mo kehilangan Sung Mo.

"Kakak!" teriak Gang Mo, menatap kepergian kereta. "Jangan lupakan janji kita! Kita harus bertemu lagi!"

Sung Mo sampai di gerbong terakhir dan terpojok.
"Pil Yeon adalah orang yang mengambil emas kalian." kata Sung Mo. "Kenapa kalian mengejar kami?"
"Kau melihat kematian ayahmu." ujar penyelundup.
"Karena itukah kalian ingin aku mati?" tanya Sung Mo, perlahan bergeser sedikit dan bersiap membuka pintu gerbong samping.
"Dimana keluargamu?" tanya penyelundup.


Sung Mo membuka pintu samping.
"Katakan pada Pil Yeon." katanya. "Suatu hari nanti aku akan datang untuk membalaskan dendam ayahku."
Sung Mo kemudian melompat keluar kereta dan terjatuh di tanah berbatu.
Gang Mo dan ibunya tiba di sebuah tempat. Ibunya terjatuh dan demam tinggi. Gang Mo masuk ke sebuah penginapan dan meminta kamar. Karena biaya sangat mahal, Gang Mo hanya memesankan tempat menginap untuk ibu dan kedua adiknya. Ia sendiri terpaksa tidur dan kedinginan di stasiun.
Disana, ia bertemu lagi dengan para penyelundup, namun ia bersembunyi dibalik koran.
Gang Mo mendengar percakapan para penyelundup bahwa Sung Mo menjatuhkan diri ke luar kereta.

Diam-diam, Gang Mo mengendap-enap pergi dan masuk melewati sebuah pintu untuk bersembunyi. Rupanya itu adalah toilet perempuan.
Ketika hendak mengintip dari pintu, mendadak putri Tae Sun, Jung Yeon hendak masuk ke dalam toilet.
"Pergi sekarang." bisik Gang Mo.
"Ini toilet perempuan." kata Jung Yeon. "Kaulah yang seharusnya pergi."
Karena para penyelundup mendekat, secara spontan Gang Mo menarik Jung Yeon masuk dan langsung menuntup pintu.

"Kau pencopet, bukan?" tuduh Jung Yeon. "Kalau kau disini untuk mencuri, kau pasti tahu tempat ini dengan baik. Aku sedang mencari seseorang, tapi belum pernah bertemu dengannya. Maukah kau membantuku? Kelihatannya kau tidak punya uang dan butuh tempat tinggal. Aku akan memberimu 1000 won."
Jung Yeon datang untuk mencari ibu kandungnya.
"Kau..."
"1500. Tidak bisa lebih dari itu." kata Jung Yeon angkuh.
"Aku tidak butuh uangmu. Enyah dari hadapanku." kata Gang Mo.

Jung Yeon membuka pintu dan hendak berteriak memanggil penyelundup. Gang Mo menarik dan menutup mulutnya.
Jung Yeon menampar wajah Gang Mo. "Beraninya kau menyentuhku dengan tangan kotormu, dasar pencuri!"
Jung Yeon beranjak pergi, tapi Gang Mo menariknya lengannya dengan kasar. "Aku bukan pencuri."
"Lalu?"
"Lee Gang Mo." jawab Gang Mo tegas. "Nama yang ayahku berikan padaku adalah Lee Gang Mo."

8 comments:

Ari RF said...

jyah masih mabuk soo hyun daebak p, 60 episode lho fighting hohohohohohoho

achi said...

lanjut kak P.....!!!!

Anonymous said...

horee,,unnie putri bwt sinop ge,,,
jd da bacaan ge ne,,,
slmat berjuang unnie,,,
THx..
= nura =

wee chan said...

yayayay...semangatttt kak.....

Miss 'U said...

keliatannya ceritanya bakal seru.... :D
Smangat P :D

Anonymous said...

k p nanya dong
ini lagu yang jadi backsoundnya lagu siapa y? thx

Phoo Purarora said...

ternyata ceritanya seru juga ya...
lanjutin ya P,,,

Phoo Purarora said...

ternyata seru juga ceritanya...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda