Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Giant Episode 10

Tuesday, May 17, 2011

Sinopsis Giant Episode 10


Mi Joo kembali ke depan Gedung 31 untuk menunggu kedua kakaknya.

Gang Mo, So Tae dan komplotan mereka dilempar ke penjara.
Orang-orang Manbo dibebaskan terlebih dahulu karena anak buah Tae Sub datang menebus mereka semua.

Pihak Manbo mengadakan rapat mengenai cara untuk menekan biaya pembangunan dan tenaga kerja. Hampir tidak mungkin menekan biaya pembangunan karena harga bahan bangunan sedang melambung. Cara satu-satunya untuk mengurangi biaya adalah menekan biaya tenaga kerja.
Dengan percaya diri, Jung Yeon menawarkan diri untuk menangani urusan ini. Ia akan membujuk tenaga kerja.

Jung Yeon berusaha membujuk para penyedia tenaga kerja agar memberi diskon, tapi tentu saja ia ditolak mentah-mentah.
Di salah satu tempat, Jung Yeon melihat seorang tenaga kerja mengangkat bata dengan punggungnya. Pekerja itu sudah tua, tapi bosnya menyuruhnya membawa lebih banyak bata.
Gang Mo melihat usaha Jung Yeon dari dalam mobil. Ia melihat bagaimana Jung Yeon ditolak mentah-mentah, bahkan sampai diusir.

Ketika Jung Yeon sedang berusaha membujuk, di pekerja tua tadi menjatuhkan bata dari atas karena tidak kuat mengangkat.
Si bos marah-marah pada pekerja tua dan Jung Yeon. Ia menarik kerah kemeja Jung Yeon dan mengusirnya pergi.
"Putri pemilik Manbo dipermalukan." gumam Sideok pada Gang Mo.
"Kita harus mencari cara untuk membuat kesepakatan dengan subkontraktor." ujar Gang Mo, tidak tega melihat Jung Yeon diperlakukan seperti itu. "Kita harus mencari tahu mengenai pekerjaan konstruksi mereka yang sekarang dan pekerjaan yang lalu. Temukan apapun yang bisa kau temukan. Kelihatannya ada sesuatu yang tidak beres. Aku ingin membantu nona."

Gang Mo mendekati si pekerja tua yang menjatuhkan bata. Pekerja tua itu dipecat dari pekerjaannya.
"Mereka pikir mereka tidak bisa tua?!" seru pekerja itu marah-marah. "Dasar pencuri!"
"Apa maksudmu?" tanya Gang Mo hati-hati. "Pencuri?"
"Beberapa hari yang lalu aku mabuk dan tertidur di tempat konstruksi." kata pekerja. Pekerja itu membuka mulutnya untuk bercerita, tapi kemudian mengurungkan niatnya. "Aku tidak seharusnya bercerita mengenai itu."
Gang Mo berpikir cepat. "Jadi maksudmu, dengan diam-diam mereka menjual bahan bangunan?" tebaknya.
"Jika kau sudah dewasa, pilih rumahmu dengan benar." kata pekerja. "Kau tidak pernah tahu kapan bangunan yang dibuat pencuri itu ambruk."

Jung Yeon terpukul ketika tanpa sengaja mendengar dua orang pegawai bergosip menjelek-jelekkan dia.

Malam itu, Min Woo mengajak Jung Yeon ke sebuah restoran mewah. Disana sudah menunggu beberapa teman Min Woo. Jeong Shik juga ada disana.
Min Woo memperkenalkan Jung Yeon pada teman-temannya, yang kesemuanya merupakan penerus dari perusahaan keluarga mereka sendiri.
"Jadi dia adalah saudaramu?" tanya salah seorang dari mereka pada Jeong Shik.
"Adik?" gumam Jeong Shik. "Sejak kapan kita anak haram bisa bergaul dengan kita? Ini sangat menyebalkan."
Semua terkejut mendengar perkataan Jeong Shik.
Jung Yeon berbalik hendak pergi, tapi Min Woo menahannya.
"Jeong Shik, hati-hati dengan ucapanmu." kata Min Woo. "Jung Yeon datang kemari sebagai kekasihku."

"Sejak kapan kau mulai menggoda Jo Min Woo?" tanya Jeong Shik pada Jung Yeon.
"Apa?" tanya Jung Yeon.
"Min Woo, aku ingin memberimu nasehat." kata Jeong Shik, bangkit dari duduknya. "Kau tahu siapa ibu kandungnya?"
Jung Yeon mengambil gelas, hendak menyiram Jeong Shik, namun terlambat. Min Woo sudah lebih dulu memukul wajah Jeong Shik hingga terjerembab ke lantai.
"Jika kau berani bicara lagi, aku akan menghajarmu!" seru Min Woo.
Tanpa berkata apa-apa. Jung Yeon melempar gelas yang dipegangnya ke meja dan berjalan pergi.

Min Woo mengejar Jung Yeon.
"Jangan pergi." ujar Min Woo.
"Kenapa?" tanya Jung Yeon sinis. "Agar aku bisa melihatmu sok baik di depanku? Kau sangat menyedihkan. Kau pikir aku adalah wanita gampangan? Orang sepertimu membuatku muak!"
"Apa kau sudah selesai bicara?"
"Belum." jawab Jung Yeon. "Biar aku katakan satu hal sebelum aku pergi. Aku tidak akan selamanya bekerja dibawahmu. Aku akan ingat semua ini karena orang sepertimu tidak akan bisa membantu perusahaan."
"Mereka semua adalah orang yang ingin berinvestasi di Manbo." kata Min Woo. "Uang mereka bisa membuat kita berkembang. Tapi kau malah berbuat kesalahan besar di hadapan mereka. Jadi, sebelum kau berniat memecatku nanti, pikirkan perbuatanmu."
"Jadi, kau membawaku kemari agar aku menyerah?" Jung Yeon berkata dengan mata berkaca-kaca. "Maaf, tapi aku tidak akan menyerah. Tidak akan!"

Gi Pyo memikirkan bagaimana cara untuk menggagalkan Tae Sub mendapatkan proyek kereta bawah tanah. Jika proyek ini berjalan lancar, maka Perusahaan Daeryuk akan hancur.
Beberapa saat kemudian, seorang gadis masuk membawa buah-buahan. Gadis itu adalah Mi Joo.
Mi Joo bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Hong Gi Pyo.
Mendadak terdengar bunyi lonceng yang sangat berisik. Mi Joo bergegas berlari ke luar.

"Kenapa kau lama sekali?" omel seorang wanita.
"Tidakkah kau lihat aku berlari kemari seperti anak panah?" tanya Mi Joo ceria.
"Kau... Aku kelaparan seharian karena kau!" omel wanita itu lagi.
"Kau memperbolehkan aku libur setiap akhir bulan." ujar Mi Joo. "Lagipula aku sudah menyiapkan makanan sebelum pergi."
Wanita itu kelihatannya sangat mengesalkan.
"Kau bosan ya?" tanya Mi Joo. "Kau ingin bermain denganku, kan?"
Gi Pyo sangat menyukai Mi Joo karena Mi Joo sangat sabar. Ia bahkan menawarkan diri untuk mencari kedua kakak Mi Joo.

Mi Joo masuk ke kamarnya dengan kecewa. Hari itu, lagi-lagi ia gagal menemukan kakaknya.
"Permainan petak umpat sudah lama berakhir." ujar Mi Joo pelan, menangis. "Kenapa kalian tak juga muncul? Kak Sung Mo... Kak Gang Mo..."
Mi Joo menangis dan memeluk sepatunya.

Saat hari sudah gelap, Gang Mo dan Sideok datang ke tempat konstruksi. Mereka akan menunggu pencuri itu melakukan aksinya.
"Cara ini tidak akan berhasil." kata Gang Mo. "Kita harus mencari cara lain. Akan lebih mudah jika kita bisa menemukan catatan penjualan mereka. Jika mereka menjual bahan bangunan, mereka pasti memiliki catatan khusus untuk transaksi."
Sideok berbaring di alas. "Ya. Terserah kau saja." katanya. "Gang Mo, jangan jatuh cinta pada Jung Yeon. Aku kesal karena kau rela melakukan semua ini demi dia."
"Bukan begitu." bantah Gang Mo.
"Aku yakin memang begitu." ujar Sideok bersikeras. "Aku hanya takut ia akan menyakitimu."
Gang Mo hanya diam.

Ibu tiri Jung Yeon menemui Jung Yeon dan memberinya seamplop uang. Ia ingin mengusir JungYeon jauh-jauh agar tidak bisa menjadi penerus Manbo dan ingin Jeong Shik yang akan menjadi penerus.
"Keluar dari perusahaan sekarang dan hidup sendiri." katanya. "Uang ini cukup untuk menyewa kamar kecil dan membiayai kehidupanmu beberapa bulan."
"Ambil uangmu kembali." kata Jung Yeon. "Aku akan segera keluar dari rumah. Jangan khawatir. Tapi aku tidak akan keluar dari perusahaan."
"Kenapa?"
"Kau tidak tahu?" tanya Jung Yeon sinis. "Aku yakin kau lebih tahu dari orang lain."
"Kau pikir kau akan mewarisi perusahaan?" tanya Ibu Tiri.
Jung Yeon tersenyum. "Kau tahu apa kesalahan terbesarmu?" tanyanya. "Kesalahanmu adalah kau tidak membesarkan putramu dengan benar. Jika Jeong Shik sedikit pintar, apakah aku bisa bermimpi mewarisi perusahaan?"
Jung Yeon bangkit duduknya dan beranjak pergi.
Ibu Tirinya juga bangkit dan langsung menampar Jung Yeon. Saat itu Min Woo sedang memperhatikan mereka dari jauh.
"Aku lebih memilih perusahaan itu menjadi hancur ketimbang harus menyerahkannya padamu!" seru Ibu Tiri.
Ibu tiri pergi. Jung Yeon duduk kembali di sofa. Dengan tangan gemetar menahan marah, ia mengambil segelas air dan minum.
Gang Mo dan Sideok sengaja masuk menjadi pekerja subkontraktor. Gang Mo ingin mencari celah dimana bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Gang Mo berhasil mengetahui siapa yang biasa mengatur akuntansi perusahaan. Orang itu adalah seorang wanita gemuk.

Jung Yeon datang lagi untuk membuju subkontraktor. Ia bahkan membawakan makanan untuk mereka. Tapi Jung Yeon tidak diperlakukan baik. Subkontraktor malah melempar pasir agar debunya mengenai Jung Yeon.
Jung Yeon terbatuk-batuk.
Gang Mo kasihan melihatnya.

Saat sedang istirahat makan siang, Gang Mo menyuruh Sideok mendekati wanita akunting.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" keluh Sideok.
"Cepat." perintah Gang Mo.
"Aku tidak bisa."
"Sudah cepat sana." suruh Gang Mo.
Akhirnya Sideok mendekati wanita itu. Mulanya wanita itu tidak menanggapi Sideok. Tapi begitu Sideok mengatakan bahwa ia adalah mahasiswa yang bekerja paruh waktu, wanita itu mulai tertarik.

Saat kencan, Sideok berhasil mengetahui dimana letak catatan penjualan, yakni di sebuah brankas di dalam kantor.

Sung Mo menjadi penembak yang sangat handal. Ia mengesankan Hong Gi dan Pil Yeon.

Seusai latihan menembak, Pil Yeon berkata pada Sung Mo, "Kelihatannya kau sangat ingin menembak jantung musuhmu. Siapa musuhmu?"
"Seseorang yang membunuh orang tuaku." jawab Sung Mo.
"Katakan padaku siapa orangnya." ujar Pil Yeon. "Aku akan membantumu."
"Aku berterima kasih padamu." kata Sung Mo, menatap Pil Yeon. "Jika Anda tidak kebaran, aku ingin pergi karena ada suatu hal yang harus kulakukan."
Sung Mo bangkit dari duduknya dan berjalan pergi.
"Kadang matanya membuatku takut." gumam Pil Yeon.
Sebuah surat gelap datang ke rumah Gi Pyo. Mi Joo yang menemukanya di luar pagar.
Orang yang memberi surat tersebut tidak lain adalah Sung Mo.
Mi Joo langsung menelepon Gi Pyo di kantor.

Pil Yeon memperingatkan ketiga anggota komite agar jangan berani-berani mengkhianati Tae Sub atau mereka akan merasakan akibatnya.
Gi Pyo frustasi karena undangannya untuk para anggota komite tidak dipenuhi. Tidak ada satu pun anggota komite yang datang. Gi Pyo menunggu bersama wanita pemilik club.
Sung Mo menelepon Gi Pyo.
"Apa kau sudah melihat amplop yang kukirim padamu?" tanyanya. "Kelihatannya belum. Di dalamnya ada rencana untuk menghentikan Hwang Tae Sub."

Gi Pyo pulang dan dengan terburu-buru mencari amplop dari Sung Mo.
Amplop tersebut berisi foto-foto dan artikel.
Foto dan artikel tersebut adalah benda yang digunakan Tae Sub untuk memaksa ketiga anggota komite agar berpihak padanya.
"Kita akan lihat bagaimana jika senjatamu ini akan berbalik melawanmu." ujar Gi Pyo.

Hari pelelangan untuk proyek kereta bawah tanah.
Tae Sub sudah menunggu, tapi tak seorangpun datang ke tempat pelelangan. Lelang tersebut dibatalkan.

Saat itu, para anggota komite sedang berada di Royal Club bersama Gi Pyo. Ia meminta mereka kembali ke rencana awal, yakni memilihnya.
"Apakah Hwang Tae Sub akan membiarkan hal ini begitu saja?" tanya Cheon.
"Maksudmu, kau takut pada Hwang Tae Sub tapi tidak padaku?" tanya Gi Pyo.
"Direktur Jo Pil Yeon ada di pihak Hwang Tae Sub." kata anggota komite yang lain. "Kami juga diintimidasi olehnya!"
"Masalah itu, biar aku saja yang selesaikan." kata Gi Pyo.
Gang Mo berhasil mengetahui kalau para anggota komite saat ini berada di Royal Club.
Tae Sub, Min Woo dan yang lainnya langsung menuju kesana. Min Woo menelepon Pil Yeon. Pil Yeon dan Jae Chun juga menuju kesana.
Belum sempat mereka masuk ke Royal Club, segerombolan pria dibawah komandi So Tae menghadang jalan mereka. Namun segerombolan pria itu tidak bisa berbuat apa-apa karena lawan mereka adalah Pil Yeon.
Pil Yeon, Tae Sub dan yang lainnya masuk ke dalam Royal Club.
Di sebuah ruangan, para anggota komite berkumpul, termasuk Min Hong Gi. Min Hong Gi mensupport Gi Pyo seperti Pil Yeon mensupport Tae Sub demi uang untuk kampanye mereka.

"Ini bukanlah tempat dimana seharusnya anggota KCIA berada." kata PIl Yeon pada Hong Gi.
"Kelihatanya kau mengancam para pengusaha ini." ujar Hong Gi tidak mau kalah.
Pil Yeon dan Hong Gi berargumen hingga akhirnya saling mengacungkan pistol satu sama lain.
"Tugasku di KCIA adalah menyelidiki pejabat yang melakukan korupsi!" seru Pil Yeon.
"Jadi kau mau mengungkap bahwa aku melakukan korupsi?!" seru Hong Gi.
"Kau pikir aku tidak bisa?!"
"Silahkan saja!" seru Hong Gi. "Kau pikir aku tidak bisa menghabisimu?!"

Tidak lama berselang, wanita pemilik Royal Club masuk.
"Para wartawan menunggu kalian di ruangan sebelah." katanya.
Pil Yeon dan Hong Gi menurunkan senjata mereka.
Pil Yeon berjalan pergi.
"Hwang Tae Sub!" panggil Hong Gi. "Jangan berpikir untuk mengintimidasi para anggota komite lagi atau kau akan berakhir di penjara!"

Tae Sub mengadakan rapat mendadak. Ia bertanya apakah Jung Yeon sudah bisa membuat subkontraktor setuju untuk menurunkan harga. Karena Jung Yeon belum berhasil, Tae Sub melemparkan tugas tersebut pada Min Woo.

Gang Mo mulai bertindak.
Malam itu ia datang ke tempat konstruksi dengan beberapa anak buahnya.
"Kau menjual bahan bangunan, bukan?" tanya Gang Mo pada subkontraktor. "Dimana catatan penjualan bahan bangunan itu?"
"Menjual bahan bangunan?! Apa kalian sudah gila?! Aku akan menelepon polisi!"
Anak buah Gang Mo langsung memegangi subkontraktor.
Gang Mo mengambil kunci yang dikalungkan di leher subkontraktor, kemudian menggunakanya untuk membuka brankas. Disana, ada beberapa buku berisi catatan penjualan.
"Ini catatan yang sangat bagus." kata Gang Mo, mengancam halus. "Polisi akan senang jika kami menyerahkan catatan ini pada mereka."
"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya subkontraktor, memohon.

Min Woo mengumpulkan para direktur subkontraktor dan melakukan persentasi.
Tentu saja persentasi itu ditolak mentah-mentah oleh para direktur subkontraktor.
"Kami juga butuh uang untuk hidup!" seru salah seorang dari mereka.
"Kau menyuruh kami berkorban demi Manbo?!" kata yang lain.
"Kau hanya membuang-buang waktu kami! Ayo kita pergi!"

Para direktur subkontraktor bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.
Tepat pada saat itulah Gang Mo tiba.
"Kurasa semua direktur datang hari ini." ujar Gang Mo. "Kalian harus melakukan negosiasi ulang dengan Perusahaan Manbo."
Para direktur saling berpandangan. "Apa kau bicarakan?" gumam mereka pada Gang Mo.
Jung Yeon dan Min Woo terlihat bingung.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda