Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Giant Episode 29

Saturday, June 4, 2011

Sinopsis Giant Episode 29


Tae Sub tidak setuju bila Perusahaan Hangang menjadi anggota komite. Menurutnya, perusahaan itu masih skala medium dan belum pantas menjadi anggota komite. Para anggota komite yang lain juga setuju dengan pendapat Tae Sub.
"Aku ingin bicara berdua denganmu." kata Gang Mo pada Tae Sub.

"Gang Mo, kenapa kau lakukan semua ini padaku?" tanya Tae Sub. "Jika kau masih hidup, seharusnya kau temui aku dulu! Kenapa kau mencekik Manbo dari belakang?"
"Demi mendapatkan lahan Gaepo, Hwang Jeong Shik dan Jo Min Wo berusaha membunuhku." kata Gang Mo.
"Apa?!"
"Berkat mereka, aku belajar banyak mengenai kehidupan di camp Samcheong." tambah Gang Mo. "Aku tidak punya keinginan sama sekali untuk memaafkan orang-orang yang melakukan ini padaku."
"Ya, aku mengerti. Kau pasti merasa diperlakukan salah." kata Tae Sub. "Tapi, Gang Mo... demi aku dan Jung Yeon, tolong maafkan mereka. Apa kau tahu apa yang terjadi pada Jung Yeon ketika mendengar kau tewas?"

Gang Mo hanya diam memandang Tae Sub.
"Aku akan melakukan apapun untukmu, Gang Mo." kata Tae Sub. "Kembalilah padaku. Jika kau dan Jung Yeon bersama, Perusahaan Manbo pasti... Oya, kalian berdua sudah menikah. Aku akan merestui kalian. Bukankah itu sudah cukup? Gang Mo?"
"Kudengar Gaepo akan menjadi zona pembangunan perumahan." kata Gang Mo, tidak menanggapi Tae Sub. "Aku berencana ingin membuat apartemen di sana."
"Ya, jika kau memiliki tanah itu dan kembali padaku, aku akan membantumu membangun kota baru dibawah nama Manbo." ujar Tae Sub.
"Aku butuh izin pembangunan." kata Gang Mo, menandakan ia ingin lepas dari Manbo. "Itulah alasanku ingin bergabung dengan komite."

"Kau benar-benar ingin kita berpisah jalan?" tanya Tae Sub. "Tidakkah dengan memberikan lahan itu membuatmu tahu ketulusan hatiku? Jika kau minta, aku akan membuat Jeong Shik dan Min Woo membayar perbuatan mereka! Dan jika itu belum cukup..."
"Dan apa yang akan kau lakukan untuk membayar kematian ayahku?" tanya Gang Mo dingin.
"Apa maksudmu?" tanya Tae Sub. "Siapa ayahmu?"
"Namanya adalah... Lee... Dae... Soo..."
"Lee Dae Soo?!" seru Tae Sub, teringat sahabatnya. "Jadi kau adalah..."
"Pria yang kau dan Jo Pil Yeon bunuh adalah Lee Dae Soo... Ia adalah ayahku satu-satunya." ujar Gang Mo dengan mata berkaca-kaca.
Tae Sub sangat terpukul hingga terjatuh lemas ke sofa.
"Apa kau... apa akhirnya kau mengerti alasan kenapa aku tidak akan bisa memaafkanmu?!" seru Gang Mo.

Gang Mo berjalan pergi.
Tae Sub menangis. "Lee Gang Mo adalah putra Lee Dae Soo?" gumamnya. "Anak yang kucari selama ini adalah... Lee Gang Mo?"
Tidak lama kemudian, Gyeongok masuk. Ia terkejut melihat Tae Sub menangis.
"Gyeongok, kelihatannya aku akan dihukum." tangis Tae Sub. "Karena mencampakanmu... karena semua yang telah kulakukan..."
Tae Sub berjalan gontai ke luar.

Gang Mo mencoba bernegosiasi dengan para anggota komite.
"Jika kalian menerimaku dalam komite, aku akan mengizinkan semua anggota disini untuk menggunakan metode kami selama 3 tahun secara gratis." ujar Gang Mo.
Para anggota terlihat terkejut.

Walaupun sedang berada dalam penjara, Pil Yeon tidak mau tinggal diam. Ia meminta seorang anggota KCIA untuk memberinya data semua anggota.
"Aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan sia-sia disini." kata Pil Yeon. "Jika tidak ada yang mau mengeluarkanku dari sini, maka aku akan memberi mereka alasan agar bisa mengeluarkanku."

Dengan bersemangat, Min Woo menjemput Mi Joo di perpustakaan. Namun ketika itu, Mi Joo sedang diajari oleh seorang pria.
Senyum Min Woo hilang, berubah menjadi kecemburuan. Apalagi ketika melihat Mi Joo tersenyum pada pria itu.
"Kau tersenyum?" gumam Min Woo kesal.
Min Woo langsung mendekati mereka dan membanting tas di meja.
"Apa dia bosmu?" tanya si pria.
"Bukan, dia..."
"Aku kekasihnya!" kata Min Woo. Dengan galak, ia menyuruh Mi Joo pulang.

Min Woo ngomel-ngomel pada Mi Joo.
"Sejak kapan ia mulai mengajarimu?" tanya Min Woo. "Kenapa kau panggil dia 'kakak'? Kenapa kau tersenyum padanya?"
Mi Joo bingung.

Min Woo mengantar Mi Joo pulang.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Mi Joo.
"Kenapa aku harus marah?"
"Sikapmu seperti orang yang sedang marah."
"Jangan tersenyum pada pria lain jika ada aku." kata Min Woo.
"Kau cemburu, ya?" tanya Mi Joo, tersenyum.
"Aku tidak cemburu." jawab Min Woo sewot. "Jangan bicara pada pria lain. Jangan menatap pria lain. Jangan percaya pada pria lain selain aku."
"Ya." jawab Mi Joo. "Aku akan melakukan apa yang kau inginkan."
Mi Joo turun dari mobil. Min Woo berteriak dari mobil dan mengajaknya kencan hari sabtu.

Tae Sub berpikir seraya menatap surat persetujuan apakah Perusahaan Hangang diperbolehkan menjadi anggota komite. Tae Sub menandatangani surat itu dan menyatakan persetujuan.
Tae Sub lalu menelepon Pengacaranya. Ia ingin mengubah surat wasiat pewarisan perusahaan. Diam-diam, Nam Suk mendengar percakapan mereka. Tapi ia tidak berani mendengar lebih jauh.

Jung Yeon pulang terlambat malam itu. Ia bertanya pada Tae Sub mengenai James Lee dan mengatakan bahwa James Lee sedang mengusahakan izin mendirikan apartemen.
Tae Sub kelihatan tidak mengacuhkan Jung Yeon dan masuk ke dalam kamarnya begitu saja.
"Apa kau sudah menyebarkan desas-desus mengenai harga saham?" tanya Gang Mo pada Gi Hoon.
"Ya." jawab Gi Hoon. "Harga saham perusahaan Manbo sudah turun."
"Ini akan membantumu membuat artikel." kata Gang Mo seraya menyerahkan sebuah berkas.

Saham Manbo turun dengan drastis. Para pemegang saham menjadi uring-uringan dan meminta penjelasan pada Jung Yeon.
"Ini semua karena kami memutuskan seorang wanita yang akan menjadi pemimpin perusahaan!" seru seorang pemegang saham.
Min Woo membantu Jung Yeon menjelaskan.
"Biarkan Direktur Hwang saja yang bicara!" kata pemegang saham. "Kami tahu bagaimana mereka mengambil proyek pembangunan jalan di depan hidungmu!"
"Beri penjelasan!" tuntut para pemegang saham.
Gyeongok hanya diam.

Jung Yeon keluar dari ruang rapat dengan wajah tertekan.
"Bukankah desas-desus ini sangat mencurigakan?" ujar Gyeongok.
"Maksudmu, ada orang yang sengaja menyebar desas-desus untuk menjatuhkan Manbo?" tanya Jung Yeon.
"Pernah mendengar seorang pria yang bernama James Lee?" tanya Gyeongok.
"Belum." jawab Jung Yeon.
"Semua hambatanmu berasal dari Perusahaan Hangang." kata Gyeongok. "Kelihatannya Direktur Hwang mengenal dia dengan baik. Nama koreanya adalah... aku tidak bisa mengingatnya. Tapi ia mirip sekali dengan kekasih yang pernah datang bersamamu ke club."
"Apakah namanya..." Min Woo hendak bicara, namun Jung Yeon memotongnya.
"Tidak mungkin!" ujar Jung Yeon. "Orang itu sudah mati."
"Kenapa kau tidak mau aku membantumu?" tanya Min Woo. "Lihat sekelilingmu! Siapa yang ada disisimu?!"
"Jadi, kau mau membantuku?" tanya Jung Yeon. "Kau tahu betapa besar aku mencintai Gang Mo dan kau juga merencanakan pembunuhannya bersama Jeong Shik. Lalu sekarang kau ingin membantuku? Jangan katakan alasan karena kau mencintaiku. Kau melakukan itu demi dirimu sendiri dan ambisi ayahmu."
"Aku akan menyerahkan surat pengunduran diri." kata Min Woo.
"Setelah membunuh Gang Mo, lalu kau ingin pergi begitu saja dari perusahaan?" tanya Jung Yeon dingin.
"Apa yang kau inginkan? Kau ingin aku mati?"
"Tidak." jawab Jung Yeon datar. "Aku ingin, seumur hidup kau menderita dan menyesal karena telah membunuh Gang Mo."
Min Woo tersenyum. "Bisakah kau melakukan itu?" tanyanya. "Apa kau pikir, kau bisa menang setelah aku tidak lagi memiliki perasaan padamu?"

Tae Sub membuat surat wasiat baru dan meminta pengacaranya melakukan semua yang ada dalam surat wasiat itu jika ia meninggal.

Tae Sub menelepon kantor Hangang untuk mencari Gang Mo. Namun saat itu Gang Mo sedang menemui Komisioner Myeong Seok.
"Kalau begitu, bisakah kau menyampaikan pesanku?" pinta Tae Sub pada Young Chul.
Tae Sub ingin bertemu Gang Mo besok di pemakaman umum.

Gang Mo berusaha bernego dengan Myeong Seok mengenai izin pembangunan apartemen.
"Perusahaan Hangan tidak memiliki kualifikasi." kata Myeong Seok. "Bagaimana pun kau membujukku, aku tetap tidak bisa memberikan izin itu."
"Aku akan menggunakan liabilitas komite." kata Gang Mo.
"Apa komite setuju memberimu itu?" tanya Myeong Seok.
"Jika aku bisa mendapatnya, apa kau mau memberikan izin?" Gang Mo bertanya balik.
"Kau memiliki keahlian bisnis yang lebih baik dari yang kubayangkan." kata Myeong Seok. "Lalu, bagaimana kau akan menggunakan catatan bisnismu yang hampir tidak ada untuk mengajak subkontraktor?"
"Aku sedang bernegosiasi dengan subkontraktor terbaik di negara kita." kata Gang Mo. "Aku yakin kalau aku mempu membangun apartemen yang besar dan aku memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan semua perusahaan besar itu."

Beberapa saat kemudian, pelayan bicara dari luar. Hwang Jung Yeon datang ingin menemui Myeong Seok.
"Aku sedang bicara dengan tamu." kata Myeong Seok. "Suruh ia pergi."
"Aku tidak akan pergi sebelum kau setuju untuk bertemu." kata Jung Yeon.
Myeong Seok berjalan keluar untuk menemui Jung Yeon.
Jung Yeon berlutut di depan Myeong Seok. "Aku memohon bantuanmu, Komisioner." katanya. "Selamatkan Perusahaan Manbo."
"Aku takut, aku tidak punya kekuatan untuk itu." jawab Myeong Seok. "Kau mencari orang yang salah."

"Ayahku berpikir bahwa kaulah yang pertama kali melawan Manbo." kata Jung Yeon.
"Orang yang menggunakan Jo Pil Yeon untuk menempatkan aku di posisi sulit adalah Hwang Tae Sub." kata Myeong Seok.
"Kami tidak pernah melakukan itu." kata Jung Yeon. "Jika kau mau, aku berani mempertaruhkan hidupku untuk membuktikan bahwa tuduhanmu itu salah. Tidakkah kau pernah bertanya pada dirimu sendiri siapa yang ada dibalik kesalahpahaman ini? Orang yang diuntungkan adalah Presiden Perusahaan Hangang, James Lee."
Myeong Seok meminta Jung Yeon untuk pergi. Ia lalu masuk ke dalam dan meminta Gang Mo membawakan liabilitas yang dijanjikan.

Tae Sub menunggu Gang Mo dipemakaman, namun Gang Mo tidak muncul. Gang Mo memang tidak pernah menerima pesan dari Young Chul.
"Dae Soo, kelihatannya putramu tidak datang." kata Tae Sub pada makam Dae Soo.

Di tempat parkir, Gang Mo sengaja melihat kepergian Jung Yeon. Ia tersenyum.
"Jung Yeon, kau menjadi lebih dewasa." katanya dalam hati. "Kau bisa menyetir mobil, kau menjadi lebih kuat, dan kau lebih percaya diri."

"Dae Soo, kau tahu, aku benar-benar menginginkan putramu menjadi putra kandungku." kata Tae Sub. "Takdir seseorang benar-benar dipermainkan. Kau mengutukku dari surga, bukan? Aku sudah mengubah surat wasiatku. Aku memutuskan untuk memberikan setengah dari asetku untuk putramu Gang Mo. Aku tahu kau tetap tidak akan memaafkan aku. Lagipula, siapa yang memintamu memaafkan aku? Aku hanya ingin mengembalikan semua yang menjadi milikmu sejak awal. Lain kali, aku akan membawa Gang Mo kemari. Maafkan aku, Dae Soo."

Jeong Shik menunggu di depan kantor Hangang. Lama ia menunggu, akhirnya So Tae keluar dari dalam kantor.
Jeong Shik sangat terkejut melihatnya.

Jeong Shik mengikuti So Tae ke restoran. Ia memberikan sejumlah uang.
"Ini baru uang muka." kata Jeong Shik. "Akan kuberikan penuh jika kau melakukan perintahku."
So Tae mengambil dan menyimpan uang itu.
"Dimana Presiden Perusahaanmu, James Lee?" tanya Jeong Shik.
"Aku akan membawa dia padamu agar kau bisa melihat sendiri." kata So Tae. "Datanglah ke area konstruksi tengah malam nanti. Presidenku akan datang jam setengah 12 malam."


Saat tengah malam, Jeong Shik datang bersama dua orang anak buahnya. Ketika sedang berjalan, mendadak mereka terperosok ke dalam lubang.
So Tae tertawa. Ia kemudian menyalakan lampu.
"Park So Tae! Kau mau mati?!" seru Jeong Shik dengan badan penuh lumpur.
"Mati? Siapa? Aku?" tanya So Tae.
"Jika kau meninggalkan aku disini, kau akan mati!" teriak Jeong Shik.
"Action!" seru So Tae.
Tiba-tiba sebuah crane bergerak. Crane itu mengambil tanah dan melemparkannya pada Jeong Shik, berpura-pura ingin mengubur Jeong Shik.
Jeong Shik berteriak ketakutan. "Tolong ampuni aku... Ampuni aku..."
Young Chul keluar dari Crane.
"Berikan sisa uangku." kata So Tae.
"Aku adalah James Lee." ujar Young Chul, berbohong.
Jeong Shik memberikan uang pada So Tae.
So Tae dan Young Chul berjalan pergi meninggalkan Jeong Shik.

Gang Mo dan Sung Mo mengajak Mi Joo berbelanja di mall. Mereka membelikan semua barang-barang keperluan Mi Joo, seperti parfum, sepatu dan pakaian.
Setelah selesai belanja, mereka makan siang. Mi Joo lalu buru-buru pergi karena ada janji.
"Apa dia berkencan dengan seseorang?" tanya Gang Mo, tertawa.
"Biarkan dia melakukan apa yang dilakukan orang seumurannya." kata Sung Mo.


Mi Joo berlari menghampiri Min Woo yang sudah menunggu. Saking bersemangatnya berlari, sepatu high heelsnya melenceng dan membuatnya terjatuh.
"Mi Joo!" seru Min Woo cemas, berlari menghampiri. "Kau berdarah! Ayo ke rumah sakit."
Mi Joo tersenyum. "Untuk apa ke rumah sakit hanya untuk luka kecil?"
"Ayo naik ke punggungku!" kata Min Woo.
"Tidak apa-apa."
Min Woo langsung membopong Mi Joo dan membawanya ke rumah sakit seakan Mi Joo sakit parah.

Mi Joo dan Min Woo duduk memandang kota.
Min Woo menarik kepala Mi Joo agar bersandar di bahunya.
Mi Joo merasa tidak nyaman dan menjauh.
Min Woo kesal. Ia berusaha menarik kepala Mi Joo lagi ke bahunya, tapi Mi Jo menahan kepalanya.
"Kau benar-benar..." keluh Min Woo.

"Wah, bintang jatuh!" seru Mi Joo. "Ayo buat permintaan."
Mi Joo memejamkan matanya dan berdoa. Min Woo malah menatap Mi Joo.
"Kau sedang berdoa kan?" tanya Mi Joo tanpa membuka matanya.
"Ya." jawab Min Woo berbohong.
Ia ingin mencium Mi Joo, tapi Mi Joo malah menguap. Min Woo ngambek dan duduk menjauh.

Pil Yeon memperoleh data mengenai pergerakan anggota kongres.
Pil Yeon berusaha mencari sekutu. Ia mengirim surat ke beberapa anggota kongres, seperti Yong Seon dan satu orang lagi, entah siapa namanya. Karena ancaman Pil Yeon, mereka terpaksa menyetujui.

Karena Pil Yeon di diskualifikasi, akhirnya Min Hong Gi yang menjadi anggota kongres.
"Hwang Tae Sub adalah pendukung Pil Yeon." kata Hong Gi. "Apa yang akan kita lakukan padanya?"
"Apapun yang terjadi, berpura-puralah tidak terjadi apa-apa dan tetap bina hubungan baik dengannya." saran Sung Mo. "Atau lebih baik lagi jika Pil Yeon akhirnya memutuskan untuk membunuh Hwang Tae Sub. Kalau Hwang Tae Sub semakin kuat, Pil Yeon akan selalu mendapat kesempatan untuk bangkit lagi. Selesaikan masalahmu mulai dari akarnya."
"Apa kau punya ide?" tanya Hong Gi.

Sung Mo mulai mengadu-domba Tae Sub dan Pil Yeon.
Sung Mo mengatakan bahwa komite mulai mendukung Hong Gi.
"Siapa yang menyebabkan semua ini?" tanya Pil Yeon. "Apa Hwang Tae Sub?"
"Hwang Tae Sub adalah pemimpin komite." kata Sung Mo.
"Aku tahu sekarang alasan dia selalu menghindariku akhir-akhir ini." kata Pil Yeon, termakan omongan Sung Mo. Ia memerintahkan Jae Chun untuk memanggil Tae Sub menemuinya.

Tae Sub menemui Pil Yeon di penjara.
"Kelihatannya komite mulai mendukung Hong Gi." kata Pil Yeon.
Dengan tenang, Tae Sub menjawab, "Ya, kami takut bahwa pengusaha seperti kami tidak bisa terus menunggu kegagalan yang membayangi diri mereka sendiri."
"Kegagalan?!"
"Awan selalu terbang semakin tinggi, sama halnya dengan uang." kata Tae Sub. "Siapa yang mau menginvestasikan uang pada seseorang yang sudah kalah? Aku juga sudah tidak punya uang lagi untuk dibuang padamu. Itu karena aku butuh setengah asetku untuk membayar semua kejahatan yang kulakukan karenamu."
"Apa maksudmu?"

"Sahabatku yang kau bunuh, Lee Dae Soo." jawab Tae Sub. "Putranya sudah muncul. Jadi aku menggunakan kesempatan ini untuk membayar semua dosaku. Itu artinya, ikatan diantara kita sudah putus."
"Lalu siapa putra yang kau bicarakan ini?" tanya Pil Yeon.
"Apa kau takut?" Tae Sub bertanya balik. "Atau mungkin kau akan melakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan pada sahabatku? Kau akan membunuhnya?"
"Hwang Tae Sub!" bentak Pil Yeon.
"Tidak ada alasan lagi kenapa aku harus membiarkan kau menginjak-injak diriku." kata Tae Sub. "Masa lalu, masa kini dan masa depan... Aku tidak akan pernah berlutut padamu dan aku tidak akan mau kehilangan sesuatu hanya demi kau! Kau mengerti?!"
Gang Mo menelepon kantor untuk menanyakan keadaan disana.
Young Chul mengatakan padanya bahwa Tae Sub berulang kali menelepon.
Gang Mo lalu menelepon Tae Sub.
Tae Sub mengajaknya bertemu. Ia mengatakan pada Gang Mo bahwa ia ingin mempertemukannya dengan seseorang sekaligus ingin memberinya sesuatu.

Jung Yeon sangat ingin tahu mengenai James Lee.
"Sudah kubilang, jangan ikut campur mengenai urusan dengan Perusahaan Hangang!" perintah Tae Sub tegas.

"Ini waktunya untuk mengambil kembali Perusahaan Manbo kita." kata Pil Yeon pada Jae Chun.
"Aku mengerti maksudmu." kata Jae Chun.
"Pastikan tidak ada kesalahan." Pil Yeon memerintahkan Jae Chun membunuh Tae Sub.

Malam itu, Tae Sub ingin bertemu dengan Gang Mo. Ia pergi sendirian, tanpa supirnya.
Tanpa ia ketahui, Jae Chun membuntutinya.
Ketika Tae Sub sedang duduk menunggu, Jae Chun mengeluarkan seutas tali dan mencekik leher Tae Sub.
Belum sempat ia membunuh Tae Sub, sebuah lampu mobil menyorot. Itu adalah mobil Gang Mo.
Dari kejauhan, Gang Mo melihat kejadian percobaan pembunuhan tersebut dan bergegas menghampiri.
"Siapa kau?!" teriak Gang Mo, berlari.
Jae Chun melepaskan Tae Sub dan melarikan diri,
Tae Sub terjatuh. Kepalanya membentur kursi. Darah mengucur deras dari kepalanya.
"Direktur! Direktur!" teriak Gang Mo panik.

5 comments:

vanilaeru said...

kasian liat Tae Sub. dia sayang sama Gang Mo. dia juga gak betul-betul berniat bunuh sahabatnya. huwaaa
Un P cepat amat. kumawooo

Anonymous said...

Lanjut...

Anonymous said...

knapa smuax tidak saling berterus terang, knapa saling menyakiti dan menyimpan dendam, dendam itu bagai bara api yg akan membakar dari dalam dan takkan terhentikan yg akhirnya akan menyakiti diri sendiri dan orang2 yg ada dsekitar qt...hehehe...itu pelajaran dari Giant si menurutq...!

-eka kalbar-

noviasaridgp said...

Baguuus!! Tapi sya mau tanya kalau sinopsis drama korea yg kmu buat tuh asli kmu yg buat setelah nnton dramanya? Atau gimana? Oya minta link download drma2 krea doong! Gomawo :)

princess-chocolates.blogspot.com said...

@novi: iya, aku nulis semua yg ada di blog aku sendiri. ga ada yg copas. aku tulis sekaligus nonton. bahkan gambar2 yangada disini semuanya adalah capture-an aku sendiri.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda