Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Giant Episode 30

Sunday, June 5, 2011

Sinopsis Giant Episode 30



Tae Sub dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans.
Tae Sub membuka matanya. "Gang Mo..." Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh Gang Mo.
Gang Mo membuang muka, namun perlahan menyentuh tangan Tae Sub.
Tae Sub hendak mengatakan sesuatu, namun mendadak pingsan.

Tae Sub tiba di rumah sakit dalam kondisi kritis.
Gang Mo bergegas pergi begitu keluarga Tae Sub tiba.
"Aku yakin itu adalah Lee Gang Mo." pikir Jae Chun, mengawasi diam-diam.

Gang Mo menemui Sung Mo. Jae Chun terus membuntutinya.
Sung Mo tersenyum melihat Gang Mo, namun ketika Jae Chun mengikuti tepat di belakang, ia menjadi waspada.
Sung Mo memberi isyarat pada Gang Mo agar tidak menyapanya.
Gang Mo mengerti.
Mereka berdua berjalan melewati seakan tidak saling mengenal.
"Ada apa?" tanya Sung Mo pada Jae Chun, menghalangi jalannya.
"Apa kau lihat Lee Gang Mo lewat?" tanya Jae Chun. "Dia pasti Lee Gang Mo. Tangkap dia."
"Tunggu sebentar." kata Sung Mo, mengulur waktu. "Apa maksudmu?"
"Dia masih hidup!" teriak Jae Chun. "Kita harus menangkapnya!"

Jae Chun mengejar Gang Mo. Sung Mo mengikutinya dari belakang.
Di sebuah ruangan, Sung Mo melihat bayangan Gang Mo yang sedang bersembunyi dari cermin.
Gang Mo bertatapan dengan Sung Mo.
Sung Mo mengisyaratkan agar Gang Mo menutup cermin itu.
Terdengar bunyi kletok pelan.

Jae Chun langsung berjalan menuju asal suara.
Sung Mo berpikir sejenak, lalu berteriak ke arah berlawanan, "Siapa disana?!"
Ia berlari mengejar orang fiktif itu. Spontan, Jae Chun juga ikut mengejar.
Gang Mo menarik napas lega.

Operasi Tae Sub sudah selesai. Dokter berkata bahwa Tae Sub mengalami kerusakan otak. Mereka harus melakukan observasi sebelum memastikan apa yang bisa dilakukan.
Jung Yeon sangat terpukul.
"Selamatkan suamiku!" tangis Nam Suk histeris.

Sung Mo datang ke kamar Gang Mo.
"Aku yakin Pil Yeon ada dibalik semua ini." kata Gang Mo. "Jae Chun pasti mengikutiku sejak dari rumah sakit."
Sung Mo diam saja.
Gang Mo menatap kakaknya. "Apa kau yang melakukannya?" tanyanya. "Jo Pil Yeon tidak punya alasan untuk menyerang Direktur Hwang. Hubungan mereka mendadak memburuk."
"Maksudmu, aku yang menciptakan jurang pemisah antara mereka?" tanya Sung Mo. "Dan bagaimana jika memang aku?"

"Kakak, kita memang berjanji akan membalaskan dendam ayah kita." kata Gang Mo. "Tapi bukan dengan cara seperti ini."
"Aku tahu betapa kau ingin mengalahkan Perusahaan Manbo dengan jujur." ujar Sung Mo. "Bukan aku yang melakukannya. Membuat mereka bermusuhan akan menyebabkan pertumpahan darah. Itu bukan gayaku."
"Kita tidak boleh bersikap seperti Pil Yeon dan Tae Sub." kata Gang Mo. "Ayah tidak akan menyukainya."
"Tapi aku tidak sependapat denganmu, Gang Mo." pikir Sung Mo dalam hati. "Para bajingan itu membunuh ayah kita tanpa belas kasihan. Mata dibayar mata. Gigi dibayar gigi. Seperti itulah yang namanya pembalasan dendam."

Jung Yeon mengunjungi ayahnya yang masih tak sadarkan diri.
"Saat ini Gang Mo sudah tidak ada disisiku." tangis Jung Yeon. "Jika kau juga meninggalkan aku, apa yang harus kulakukan? Bangunlah, Ayah..."

Gang Mo berpikir.
"Jo Pil Yeon sudah mengetahui keberadaanku." katanya dalam hati. "Mungkin ini saatnya aku untuk keluar dari bayangan. Saat inilah pertarungan yang sesungguhnya akan dimulai."
Setelah mendapat laporan dari Jae Chun, Pil Yeon yakin bahwa James Lee adalah Lee Gang Mo. Ia memerintahkan Sung Mo untuk mencari dan menangkapnya. Ia ingin melempar Gang Mo kembali ke penjara.
Pil Yeon memanggil Jae Chun.
"Menurut Hwang Tae Sub, putra Lee Dae Soo sudah muncul." Sung Mo mendengar Pil Yeon berkata. "Kelihatannya kita menghadapi orang yang sama. Aku yakin ia pasti berada disekeliling Hwang Tae Sub. Cari tahu mengenai hal ini."

Nam Suk memanggil pengacara Kim untuk melihat surat wasiat. Namun pengacara menolak.
"Ayo kita bernegosiasi." kata Nam Suk. "Jika kau memperlihatkan surat wasiat itu dan membuat perubahan yang kuminta, aku akan memberimu 5 persen dari bagianku."
"Semua orang tahu mengenai kondisi Direktur." kata pengacara. "Mengubah surat wasiat tanpa kewenangan bukanlah hal yang mudah."
"Jika ia mati, kau akan melaksanakan wasiat itu?!"
"Masalahnya adalah berapa lama ia bisa bertahan." kata pengacara. "Jika ia tidak mati, aku yakin akan ada cara untuk menyelesaikan semua ini."
"Apa perubahan surat wasiat itu?!" bentak Nam Suk.
Nam Suk langsung menemui Tae Sub.
"Hwang Tae Sub, bertahanlah hidup." katanya. "Bertahanlah dengan cara apapun. Kau ingin mencampakkan aku dan Jeong Shik, lalu mengirim kami ke jalanan? Kau tidak bisa mati. Setelah aku mengucah surat wasiat, baru kau boleh mati."

Para pemegang saham Manbo ribut-ribut.
Jung Yeon membohongi mereka dengan mengatakan bahwa Tae Sub sudah siuman.
"Jika kalian tidak mempercayai perkataanku, kalian boleh menjual saham kalian sekarang juga." kata Jung Yeon. "Aku tidak bisa menerima pemegang saham yang tidak percaya pada perusahaan."
Para pemegang saham akhirnya percaya.
"Kau mungkin bisa membohongi mereka, tapi bukan aku." kata Gyeongok setelah semua pemegang saham pergi. "Apa ada peluang ia bisa sadar lagi? Percayalah. Direktur Hwang bukan tipe orang yang akan meninggalkanmu sendirian. Ia pasti akan segera sadar."

Gang Mo memerintahkan So Tae dan Young Chul datang ke Seoul.
"Jo Pil Yeon sudah tahu bahwa aku masih hidup." kata Gang Mo.
"Apa?!" seru So Tae. "Kalau begitu, seharusnya kau tidak menyuruh kami datang.""Jika kita bersembunyi, semua yang sudah kita capai sampai sekarang akan lenyap."
"Lalu bagaimana sekarang?"
"Aku harus menemui Jo Pil Yeon." jawab Gang Mo yakin. "Ikutlah denganku."

Pil Yeon tertawa melihat Gang Mo menemuinya.
"Sekarang aku bisa mengirimmu ke penjara." kata Pil Yeon.
"Jo Min Woo dan Hwang Tae Sub yang akan pergi ke penjara sebelum aku." kata Gang Mo.
"Aku bisa mengatakan pada semua orang di pengadilan bahwa Gang Mo bukan pembunuhnya." kata So Tae. "Atau haruskah aku mengatakannya disini? Bahwa orang yang membunuh Direktur Hong adalah..."
Pil Yeon memotong perkataan So Tae dengan menyuruh penjaga pergi.
"Hwang Jeong Shik adalah pembunuhnya." kata Gang Mo. "Dan karena Jo Min Woo merencanakan pembunuhanku..."
"Percobaan pembunuhan." potong So Tae. "Aku sangat familiar dengan istilah itu."

"Kenapa kau tidak datang ke kantor polisi saja?" tanya Pil Yeon.
"Kelihatannya, kaulah orang yang seharusnya melarikan diri dariku." ujar Gang Mo tajam.
"Apa maksudmu?"
"Lee Dae Soo... pria yang telah kau dan Hwang Tae Sub bunuh demi mendapatkan batangan emas... Pria itu... adalah ayahku. Kau bilang, kau senang berada disini. Lalu apa artinya balas dendam jika penjara adalah hasil akhirnya? Selama ini aku bersembunyi karena tidak memiliki kekuatan, tapi sekarang aku mampu menghadapimu."
"Kau pikir bisa mengalahkan aku hanya dengan lahan itu?" tanya Pil Yeon.
"Ayo kita bertaruh." tantang Gang Mo. "Kau akan melihat bahwa senjata yang paling kuat adalah dengan bermain jujur dan adil."

"Jadi, karena itulah kau mencoba membunuh Hwang Tae Sub?" tanya Pil Yeon. "Dengan mencekiknya dari belakang?"
Gang Mo tersenyum. "Darimana kau tahu bahwa Hwang Tae Sub dicekik dari belakang? Aku tahu, memang kau."
"Kau pikir, disini tidak ada surat kabar?"
"Orang yang mencoba membunuh Hwang Tae Sub bukan aku." kata Gang Mo. "Tapi kau."
"Tanpa bukti, siapa yang akan percaya padamu?" tanya Pil Yeon. "Bukankah kau orang yang ingin membalaskan dendam ayahmu? Sepertinya, aku harus menelepon nona Jung Yeon dan memberitahunya kabar baik."
Pil Yeon tertawa menang.

Besok Mi Joo ikut tes. Min Woo sengaja datang ke rumahnya untuk membawakan kue beras dan mengajarinya belajar.
Min Woo merasa tidak nyaman karena Mi Joo saat itu menggunakan celana pendek.
"Tidakkah kau punya celana yang lebih panjang?" tanya Min Woo kaku.
"Disini panas, kenapa kau harus pakai celana panjang?" Mi Joo balik bertanya.
"Panas sekali disini." gumam Min Woo.
"Kau juga berpendapat yang sama." protes Mi Joo.
Min Woo mulai menjelaskan pelajaran lagi. Mi Joo mendekat untuk melihat.
"Kau membuatku lupa!" omel Min Woo.
Mi Joo bingung dengan sikap Min Woo.

Keesokkan harinya, Mi Joo mengerjakan tes.
Setelah selesai, Min Woo memeriksa kertas soal yang dikerjakan Mi Joo.
Min Woo menggebrak meja dengan marah. Mi Joo menyimpulkan bahwa artinya jawabannya banyak yang salah.
"Kau pasti sudah gila." kata Min Woo.

"Maaf." ujar Mi Joo. "Kau sudah banyak membantuku. Tapi, aku juga sudah berusaha keras.
"Bagaimana jika kau berada di urutan teratas?" tanya Min Woo.
"Apa?"
"Kau mungkin menjadi nomor 1." ulang Min Woo.
Mi Joo sangat senang dan memeluk Min Woo.
Mendadak satpam datang. "Kalian berdua!" serunya. "Apa yang kalian lakukan disini?! Cepat pergi!"

Malam itu, Sideok menelepon Gang Mo dari rumah sakit. Ia mengatakan bahwa Jung Yeon tidak akan datang hari itu, jadi Gang Mo berniat menjenguk.
So Tae sangat mencemaskan Gang Mo kalau Pil Yeon menfitnahnya melakukan pembunuhan terhadap Hwang Tae Sub. Walaupun di mulut Gang Mo seakan tidak peduli pada Tae Sub, tapi So Tae tahu bahwa Gang Mo sampai tidak bisa tidur karena khawatir.

Gang Mo menjenguk Tae Sub.
Belum lama Gang Mo masuk ke kamar, Jung Yeon datang.
Sideok, yang saat itu sedang menunggu di luar, sangat terkejut.
"Aku tidak pernah mau melihatmu dalam kondisi seperti ini." ujar Gang Mo dalam hati. "Bangun. Jika kau mati sekarang, aku hanya akan menjadi pelayanmu. Bangun dan lihat aku. Lihat putra pria yang telah kau bunuh. Lihat Lee Gang Mo. Bangun dan mintalah maaf!"
Mendadak Tae Sub kejang-kejang, lalu pingsan lagi. Alat menunjukkan bahwa Tae Sub tewas.
Gang Mo panik dan berteriak memanggil Sideok.
"Sideok!"

Pintu terbuka dan Jung Yeon masuk ke dalam kamar.
Jung Yeon menatap Gang Mo dengan kaget, namun tidak mengatakan apapun.
Dokter dan para suster berlarian datang.
"Ayah..." Jung Yeon menghampiri ayahnya. "Ayah! Ayah, bangun! Kau tidak boleh mati, Ayah!"
Gang Mo bergegas pergi.

Setelah kondisi Tae Sub stabil, Jung Yeon baru tersadar.
"Gang Mo..." gumamnya. Ia berlari keluar untuk mencari Gang Mo.
Namun sayang Gang Mo sudah tidak ada.
"Sideok, aku tidak salah lihat kan?" tanya Jung Yeon. "Dimana Gang Mo?"
Sideok hanya diam.
"Aku yakin kalau aku melihatnya!" seru Jung Yeon. "Dimana dia?!"
Gang Mo muncul dari belakang Jung Yeon.
Jung Yeon menoleh. Ia tersenyum, perlahan berjalan mendekati Gang Mo.

"Gang Mo, ini benar-benar kau, kan?" tanya Jung Yeon pelan. Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Gang Mo. "Kau masih hidup..."
Gang Mo menghempaskan tangan Jung Yeon.
"Paling tidak kau menjadi lebih kuat." kata Gang Mo sinis. "Hanya jika kau menjadi lebih kuat seperti ayahmu, maka kau akan mampu melawanku."
"Gang Mo, ada apa denganmu?"
"Mulai saat ini, kau dan aku adalah musuh." kata Gang Mo. "Kau akan melindungi Perusahaan Manbo dariku."
Gang Mo berjalan pergi.
"Gang Mo!" panggil Jung Yeon, menangis.
"Namaku bukan Lee Gang Mo. Namaku adalah James Lee."
Jung Yeon terjatuh lemah di lantai.

Jung Yeon bertanya pada Sideok kenapa Gang Mo bisa bersikap seperti itu padanya.
Sideok menjawab, "Ayah Gang Mo dibunuh oleh Direktur Hwang. Karena Direktur Hwang dan Jo Pil Yeon, ia hidup menderita. Dan sekarang, kurasa aku harus meninggalkanmu juga. Gang Mo menyuruhku untuk berada disisimu dan menjagamu. Tapi, aku ingin kembali padanya."
Sideok berjalan pergi.
Jung Yeon menangis.

Ketika Mi Joo dan Min Woo sedang makan siang di sebuah restoran mewah, ibu Min Woo, Myeong Ja, memergoki mereka.
"Dari keluarga mana kau berasal?" tanya Myeong Ja.
"Ibu..." Min Woo berusaha menghentikan ibunya.
"Keluargaku Lee." jawab Mi Joo, bingung.
"Maksudku, apa pekerjaan keluargamu?" tanya Myeong Ja tajam.
"Mereka sudah meninggal." jawab Mi Joo.
"Kita bicara di rumah saja, Ibu." ajak Min Woo menengahi.
"Di universitas mana kau kuliah?" tanya Myeong Ja lagi, tidak mengacuhkan Min Woo. "Kalau kau tidak kuliah, apa kau bekerja?"
"Cukup ibu!" seru Min Woo.
"Aku akan segera mendapat GED." jawab Mi Joo.
Myeong Ja menampar wajah Mi Joo.
"Kau pengemis, beraninya mendekati putraku!" seru Myeong Ja marah. Ia mengangkat tangannya lagi untuk memukul Mi Joo, namun Min Woo menahan tangan ibunya.
"Pergi." kata Min Woo pada Mi Joo.
Mi Joo berlari pergi.
"Kau menolak penerus Perusahaan Hwaseong hanya karena perempuan murahan itu?!" seru Myeong Ja.
"Apakah Ibu harus ikut campur dalam urusan pernikahanku juga?!" seru Min Woo.
"Kau tidak ingin menikahinya, kan?"
"Kenapa tidak?!" tantang Min Woo. Selama ini, Min Woo selalu menuruti keinginan kedua orang tuanya.

Mi Joo menangis di rumahnya.
"Mi Joo." terdengar suara Min Woo, mengetuk pintu.
Mi Joo membukakan pintu.
"Apa kau menangis?" tanya Min Woo.
"Tidak." jawab Mi Joo berbohong.
"Aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi. Maafkan aku." kata Min Woo sedih.
"Kau harus menyelesaikan kesalahpahaman antara kau dan ibumu." kata Mi Joo. "Katakan padanya tidak ada apa-apa diantara kita. Aku lelah. Pulanglah."
Min Woo menarik tangan Mi Joo. "Ikut denganku!" katanya.

Tanpa Min Woo ketahui, Myeong Ja membuntutinya sampai rumah Mi Joo.

"Apa benar tidak ada apa-apa diantara kita?" tanya Min Woo, mabuk. "Kau menciumku. Kau bahkan mengatakan kalau kau menyukaiku."
"Aku tidak pernah mengatakan itu." kata Mi Joo, mengelak.
"Apa kau mencium laki-laki yang tidak kau sukai?"
"Aku tidak mau membuatmu terkena masalah lagi." kata Mi Joo. "Kita berasal dari dunia yang berbeda. Seseorang harus mendapatkan pendamping yang cocok untuknya. Menikahlah dengan seseorang yang diinginkan oleh keluargamu."


Mi Joo bangkit berdiri dan berjalan pergi.
"Lee Mi Joo!" panggil Min Woo seraya mengejar Mi Joo. Ia memeluk Mi Joo.
Mi Joo melepaskan pelukan Min Woo. "Kita tidak perlu bertemu lagi." katanya. "Aku tidak ingin melihatmu lagi."
Min Woo menarik tangan Mi Joo. "Kau pikir siapa dirimu? Berani mencampakkan aku dua kali?! Jangan pikirkan yang lain! Percayalah padaku! Kau masih belum mengerti juga? Yang kubutuhkan adalah kau!"
Mi Joo menangis.
Min Woo memeluknya. "Jika kau berani melakukan ini untuk ketiga kalinya, aku tidak akan memaafkanmu."

Jung Yeon ingin mengkonfirmasi perkataan Sideok tadi malam pada Pil Yeon.
Pil Yeon tidak menyangkal bahwa dialah yang telah membutuh Dae Soo. Ia juga mengatakan, jika ia menjadi Gang Mo, ia akan berusaha menjatuhkan orang yang telah membunuh ayahnya.
"Kau tidak tahu kapan Lee Gang Mo akan masuk ke kamar rumah sakit itu lagi." kata Pil Yeon.
Jung Yeon teringat kemarin malam saat keadaan Tae Sub memburuk. Gang Mo ada disana.
"Ayahmu masih hidup, tapi bagaimana kalau ia melakukan sesuatu untuk mengakhiri segalanya?" Pil Yeon mengadu-domba Jung Yeon dan Gang Mo.

Gang Mo punya kantor yang baru di Seoul.
Jung Yeon menelepon dan meminta Gang Mo menemuinya.

Di lain sisi, berkat bantuan para anggota kongres, Pil Yeon berhasil keluar lebih cepat dari penjara.

Pil Yeon datang ke rumah sakit untuk melihat Tae Sub.
Ia tertawa senang melihat kondisi Tae Sub. "Kau lihat saja bagaimana Min Woo melahap perusahaan Manbo milikmu. Hahaha."
Pil Yeon tertawa terbahak-bahak dan berjalan pergi. Saat itulah, Tae Sub menggerakkan sedikit jarinya dan meneteskan air mata.

Gang Mo menemui Jung Yeon di Royal Club.
"Aku tahu apa yang kau rasakan." kata Jung Yeon. "Tapi aku ragu kau tahu apa yang kurasakan. Perasaan dikhianati oleh orang yang kau cintai."
"Aku tidak peduli pada apa yang kau rasakan." ujar Gang Mo.
"Kau harus mulai peduli, karena kini aku punya alasan untuk melawanmu."

Diam-diam, Gyeongok mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Orang yang berusaha membunuh ayahku adalah kau, Lee Gang Mo." kata Jung Yeon. "Aku tahu itu kau."
"Terserah kau mau berpikir apa." kata Gang Mo tenang. "Karena tujuanku adalah untuk mengalahkan Perusahaan Manbo."
"Kau ingin membalaskan dendam ayahmu, bukan?" tanya Jung Yeon. "Jadi, kini giliranku untuk balas dendam. Jangan pernah memaafkan ayahku, karena aku sendiri tidak akan pernah memaafkanmu."

4 comments:

vanilaeru said...

lah, jadi saling membalas!
ah, Tae Sub hiduplah kembali.luruskan kesalahpahaman yg ada. T_T
btw, make up Jung Yeon di dua piku terakhir jadi agak berlebihan ya..:P

mie rf said...

makin suka ama minmi couple.
tp serem bgt jung yeon..

Anonymous said...

complicated....tambah 1 dendam lagi....huhuhuuuuu!

-eka kalbar=

Anonymous said...

Wah jadiny antara dendam dan cinta. Gimana ya kl mi joo tau tau kl yg bunuh orang tuany ternyata ayahny min woo, tambah lg 1 dendam.
=Poo_jee=

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda