Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Giant Episode 31

Thursday, June 9, 2011

Sinopsis Giant Episode 31


"Aku akan mengejarmu untuk membalas dendam." kata Jung Yeon tajam pada Gang Mo. "Tapi, melihatmu membodohiku, membuatku merasa sangat malu. Jika aku teringat saat-saat dimana aku membuang waktuku untuk memikirkanmu atau mengenang masa lalu kita, tulangku terasa remuk."
"Apa kau sudah selesai bicara?" tanya Gang Mo acuh. "Kalau sudah, aku akan pergi. Aku harus menyelesaikan banyak hal di kantor."
"Sejak kapan?" tanya Jung Yeon. "Apa sejak awal kau datang ke keluarga kami memang berniat untuk balas dendam? Sejak kau berpura-pura menjadi teman, pelindung dan kekasihku? Aku meninggalkan ayah dan ambisiku demi kau."

"Apa kau masih memiliki perasaan padaku?" tanya Gang Mo. "Dimataku, kau hanya terlihat sebagai orang yang tenggelam dalam nostalgia yang indah. Biasakanlah untuk membenciku dan berhentilah membicarakan masa lalu."
Jung Yeon berjanji akan menghalangi Gang Mo untuk mendapatkan izin mendirikan apartemen.
"Coba saja." tantang Gang Mo. "Akan kutunggu."
Gang Mo pergi meninggalkan Jung Yeon yang menangis.

Jung Yeon mengemudikan mobilnya ke pinggir danau.
Diam-diam, Gang Mo mengikutinya.
Jung Yeon memandang buku kecil milik Gang Mo dan hendak membuangnya ke danau.
"Buang itu, Jung Yeon." ujar Gang Mo dalam hati. "Biarkan tenggelam bersama perasaan yang kau miliki untukku. Hanya dengan begitu, kau tidak akan terluka."
Jung Yeon menangis dan membuang buku itu ke dalam.
Gang Mo berbalik pergi dengan sedih.

Pil Yeon mengatakan pada Min Woo bahwa James Lee adalah Lee Gang Mo.
"Ia memendam dendam pada Tae Sub dan akan berusaha menjatuhkan Manbo." kata Pil Yeon. "Kau harus memanfaatkan semua itu untuk mendapatkan perusahaan dengan sekali pukulan."
"Tidakkah kau bisa berhenti mencoba mendapatkan Perusahaan Manbo?" tanya Min Woo pada ayahnya.
"Apa kau sudah lupa, siapa orang yang membuat Manbo berkembang menjadi seperti sekarang ini?!" seru Pil Yeon.
"Apakah kau terlibat dalam kejadian yang menimpa Direktur Hwang?" tanya Min Woo curiga. "Jujurlah padaku. Apa kau yang ada dibelakang semua itu?"
"Semua itu adalah tindakan Tuhan." jawab Pil Yeon. "Ia ingin memberi kita kesempatan emas. Jadi, kita tidak boleh menyia-nyiakannya."

Nam Suk membantu Tae Sub memotong kukunya sambil berbincang palan.
Mendadak, Tae Sub menggerakkan sedikit jarinya kemudian membuka matanya sedikit.
"Kau bisa melihatku?" tanya Nam Suk.
Nam Suk langsung memanggil dokter. Dokter mengatakan bahwa Tae Sub mengalami kelumpuhan mental. Ia tidak akan bisa bergerak ataupun bicara. Kemungkinan sembuh hanya 50%.
Hal ini membuat Nam Suk sangat senang. Ia memerintahkan Jeong Shik memanggil Pengacara Kim. Ia ingin mengubah surat wasiat Tae Sub.

Tae Sub ingin menandatangani dokumen liabilitas komite yang mengizinkan Perusahaan Hangang mendirikan apartemen. Namun, Jung Yeon tidak berpikiran demikian.
"Aku tidak akan membiarkan Gang Mo mengalahkan aku." katanya tajam.
Sebagai wakil sementara Tae Sub, Ia memutuskan untuk mengganti surat persetujuan Tae Sub dengan surat ketidaksetujuannya. Tanpa persetujuan liabilitas komite, Gang Mo tidak akan bisa membangun tanahnya di Gaepo dan dengan begitu Gang Mo terpaksa menjual tanahnya.
"Jika Lee Gang Mo gagal memperoleh liabilitas, maka Komisioner Han akan memberikan izin pembangunan lahan Gaepo padaku." kata Jung Yeon pada anggota komite.
Malam itu, Myeong Ja datang ke rumah Mi Joo tanpa sepengetahuan Min Woo.
Mi Joo sangat terkejut melihat Myeong Ja.
"Apa aku harus berdiri disini terus?" tanya Myeong Ja dingin.
Mi Joo tersadar. "Silahkan masuk." katanya mempersilahkan.
"Seberapa jauh hubunganmu dan Min Woo?" tanya Myeong Ja.
"Kami..."
"Tidak." potong Myeong Ja. "Aku sebenarnya juga tidak ingin tahu. Kau mengerti kan, kalau seseorang sepertimu tidak pantas bermimpi mendapatkan Min Woo?"
Mi Joo diam.
"Kau tahu atau tidak?" Myeong Ja bertanya ulang.
"Aku tahu." jawab Mi Joo.
"Kalau kau tahu, kenapa kau masih saja mendekatinya?" tanya Myeong Ja sinis. "Gadis yatim piatu sepertimu ingin menikahi Min Woo demi kemewahan, bukan? Kau mencoba memetik buah di pohon yang salah. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan untuk menggoda putraku. Tapi Min Woo tidak akan pernah jatuh cinta pada orang sepertimu."
"Ibu..."
"Apa?! Ibu?!" seru Myeong Ja. "Beraninya kau memanggilku seperti itu!"
"Bibi..."
"Apa?! Bibi?!" seru Myeong Ja.

Mi Joo kelihatan kesal dan hampir menangis. Ia meraih panci mienya dan makan tanpa memedulikan Myeong Ja.
Myeong Ja marah-marah. "Kuperingatkan padamu!" bentaknya. "Berhenti menemui Min Woo!"
"Aku tidak tahu, aku bisa atau tidak." kata Mi Joo. "Sejujurnya, aku merasa tidak sanggup bisa berpisah dengannya."
Myeong Ja menumpahkan mie Mi Joo dan menampar wajah Mi Joo dengan kemarahan memuncak.
"Kau ingin mempermainkan aku?!" bentaknya keras. "Jadi, kau tidak mau berpisah dengannya?!"
"Ada apa denganmu?" tanya Mi Joo, menangis.
Myeong Ja malah semakin marah. Ia menjambak rambut Mi Joo. Dan mendorong-dorong Mi Joo hingga terjatuh.

Kebetulan saat itu Min Woo menelepon. Mi Joo terjatuh dekat telepon hingga gagang telepon tersebut terbuka dan Min Woo bisa mendengar keributan di rumah Mi Joo.
"Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini? Apa kesalahanku?" tanya Mi Joo.
Myeong Ja menyiksa dan menghina Mi Joo habis-habisan.
Min Woo panik. "Mi Joo?! Ibu?!"
Ia bergegas menuju ke rumah Mi Joo.

Setelah puas, Myeong Ja pergi.
Mi Joo menangis keras. "Kakak...!"

Sesampainya di rumah Mi Joo, Min Woo melihat Mi Joo sedang membereskan rumahnya yang berantakan.
"Jangan kaget." kata Mi Joo, mencoba tersenyum. "Aku hanya sedang membersihkan rumah. Aku sering membuat barang-barang berantakan, jadi..."
"Kenapa kau berbohong padaku?!" seru Min Woo cemas. "Aku tahu ibuku datang kesini. Apa kau mengatakan padanya bahwa kau akan berpisah denganku?"
Mi Joo diam.


"Mi Joo, aku menyesal membuatmu seperti ini, tapi..."
"Aku mengatakan padanya bahwa aku tidak sanggup berpisah denganmu." kata Mi Joo. "Kau pernah mengatakan, kalau aku meninggalkanmu untuk ketiga kalinya, kau tidak akan memaafkan aku. Aku takut kehilanganmu."
Min Woo memeluk Mi Joo.

Min Woo pulang ke rumah, lalu memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Myeong Ja. "Kau ingin ayahmu marah?"
"Kediktatoran ayah telah menghancurkan hidupku." kata Min Woo tegas. "Mulai sekarang, baik masalah pernikahan atau apapun, aku akan memutuskannya sendiri! Jadi berhenti selalu ikut campur urusanku!"

Saat turun dari tangga, Min Woo berpapasan dengan Pil Yeon yang baru saja datang bersama Jae Chun dan Sung Mo.
"Mau kemana kau tengah malam begini?" tanya Pil Yeon.
Tanpa mengatakan apapun, Min Woo berjalan keluar.
"Min Woo bukan tipe orang yang akan bereaksi seperti itu." kata Pil Yeon apda Myeong Ja. "Apa yang terjadi?"
Myeong Ja menolak menjelaskan.

Min Woo tinggal di apartemennya.

So Tae, Sideok dan Gyeong Ja bekerja di kantor Hangang.
Gyeong Ja bekerja sambil menyanyi dan menggoyangkan pinggulnya.
So Tae merasa tertarik dan berusaha mengajak Gyeong Ja keluar, namun ditolak tentu saja.
Tidak lama kemudian Young Chil datang dan menyentuh pantat Gyeong Ja.
Gyeong Ja marah. Ia mengira yang menyentuhnya adalah So Tae. Ia mengomel dan menampar So Tae.

Gang Mo keluar dari ruangannya dan mengajak anak buahnya merapatkan rencana pembangunan apartemen. Gang Mo yakin pembangunan apartemennya ini akan berjalan lancar.

Malamnya, semua anggota komite datang ke Royal Club.
Jung Yeon menunjukkan tanda tangan persetujuan Tae Sub.
"Ia ingin seseorang yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri sukses." ujar Jung Yeon. "Tapi aku tidak setuju."
Jung Yeon menyobek kertas persetujuan Tae Sub.
Berdasarkan hasil voting, Gang Mo ditolak masuk dalam komite.

Gang Mo tersenyum.
"Kuakui." katanya, menatap Jung Yeon. "Kali ini, aku kalah padamu. Kau mengagumkan, Jung Yeon."
"Nikmatilah ketenanganmu selagi bisa karena itu tidak akan berlangsung lama." ancam Jung Yeon.

Jung Yeon mengunjungi ayahnya di rumah sakit.
"Aku mengatakan pada Gang Mo, bahwa aku akan membalaskan dendammu." katanya.
"Jangan, Jung Yeon." ujar Tae Sub dalam hati. "Bukan Gang Mo yang melakukan ini padaku."
"Aku juga akan mengambil kembali lahan yang kau berikan padanya." janji Jung Yeon. "Lihat saja ayah. Aku akan menjatuhkan Gang Mo dengan segenap kekuatanku."
"Bukan Gang Mo!" seru Tae Sub dalam hati. "Jika bukan karena Gang Mo, aku pasti sudah mati sekarang!"
Namun sayang Jung Yeon tidak bisa mendengar perkataan Tae Sub.

Berkat bantuan salah seorang anggota kongres, Pil Yeon berjasil masuk dalam kelompok Konsultasi Konstruksi Panel Anggota Komite.
Mulanya pada anggota tidak setuju dengan keterlibatan Pil Yeon. Namun Pil Yeon mengancam mereka dengan dokumen yang didapatnya mengenai catatan kegiatan 'terlarang' yang pernah dilakukan oleh para anggota.
Jika ada yang berani menentang, Pil Yeon memukul mereka hingga jatuh terjerembab ke lantai. Ia mengancam akan membunuh mereka.

"Pil Yeon sudah memulai langkahnya." kata Sung Mo pada Chan Seong. "Ia berusaha mengendalikan dektor konstruksi."
"Tapi dia tidak diperbolehkan...."
Sung Mo sangat marah pada Pil Yeon. "Dia bukan manusia!" serunya. "Dia monster! Aku akan menjadi monster yang lebih mengerikan darinya dan menghancurkannya seperti serangga."

Min Woo duduk diam, memegangi tempat cincin.
"Lee Mi Joo." panggil Min Woo. "Oy Lee Mi Joo!"
Mi Joo sedang asyik memotong steak dan tidak mendengarkan Min Woo.
Min Woo kesal dan meletakkan tempat cincin dengan kasar ke meja.
"Bukalah." katanya.
Mi Joo membuka tempat cincin itu dan menemukan sebuah cincin. "Ini indah." katanya. "Walaupun palsu tapi kelihatan seperti asli."
"Itu milikmu." kata Min Woo jutek.
"Kenapa? Hari ini bukan hari ulang tahunku." kata Mi Joo.
"Apa kau tidak mengerti apa artinya jika seorang pria memberikan cincin padamu?" tanya Min Woo kesal.
"Aku tidak bisa menerimanya." kata Mi Joo seraya mengembalikan cincin. "Kau membuat keputusan gegabah karena orang tuamu melarang."
"Lalu?"
"Aku akan menjadi seseorang yang tidak akan membuatmu malu." janji Mi Joo. "Dengan begitu, orang tuamu akan memberikan restu."
"Itu tidak akan pernah terjadi." kata Min Woo. "Kemarikan tanganmu."
"Kau akan mengorbankan orang tuamu demi aku?" tanya Mi Joo.


Karena Mi Joo terus menolak, Min Woo berdiri dan memaksa memakaikan cincin itu ke tangan Mi Joo.
Mi Joo terus mengelak hingga cincin tersebut terlempar ke rumput.
"Itu permata asli." kata Min Woo.
"Apa? Kenapa tidak bilang dari tadi?" seru Mi Joo kaget. Ia lalu merangkak untuk mencari cincin.
Min Woo menarik napas panjang. "Apakah permata lebih penting dari...."
"Ketemu!" seru Mi Joo. "Kalau hilang, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."
Min Woo akhirnya tertawa juga karena tingkah Mi Joo. Ia mengambil cincin tersebut dan mengenakannya di jari Mi Joo.
"Kau harus mengenakan cincin ini sepanjang sisa hidupmu." kata Min Woo. "Jika sampai hilang, aku tidak akan memaafkanmu."

Jung Yeon menelepon Gang Mo.
"Lebih baik kau jaga lahanmu di Gaepo." ancam Jung Yeon. "Kau mendapatkan tanah itu setelah menjualku. Aku tidak akan membiarkan hal itu. Camkan itu baik-baik."
Jung Yeon menutup telepon.
Gang Mo berpikir, cara apa lagi yang bisa ia lakukan demi mendapatkan izin mendirikan apartemen.

Keesokkan harinya, Gang Mo menemui Baekpa.
Baekpa memperingatkan Gang Mo. Jika Gang Mo gagal dalam bisnisnya, maka Gang Mo akan kehilangan seluruh tubuhnya.

Perusahaan Hangang kebanjiran telepon ingin membeli lahan Gaepo.
"Sudah kami bilang, kami tidak menjualnya." kata semua anak buah Gang Mo pada penelepon. Mereka malah bertengkar dan saling mencaci maki dengan orang di telepon.
"Seperti berita bahwa kita tidak bisa membangun apartemen menyebar dengan cepat." kata Sideok pada Gang Mo. "Semua orang meminta kita menjual lahan itu. Bahkan para pekerja membatalkan kesepakatan kita."
Gang Mo menarik napas panjang, lalu masuk ke ruangannya.

Gang Mo menelepon Sung Mo.
"Ini aku, Kak." ujar Gang Mo. "Aku butuh sedikit bantuanmu."
Sung Mo membantu Gang Mo menemui Oh Byeong Tak. Byeong Tak sudah seperti guru bagi Han Myeong Seok.
Saat itu, Byeong Tak dan Myeong Seok sedang melihat-lihat lahan Gaepo.
"Siapa dia?" tanya Byeong Tak.
"Aku adalah Presiden Perusahaan Hangang, Lee Gang Mo." ujar Gang Mo memperkenalkan diri.
"Jadi tanah ini adalah milikmu?" tanya Byeong Tak.
"Lahan ini sudah ditetapkan menjadi area pemukiman." kata Myeong Seok. "Jadi ia harus menjual semua lahannya. Jika ia tidak bisa membangun apartemen, sesuai dengan kebijakan, ia harus menjual lahan ini."
"Izinkan aku bicara berdua dengan Tuan Byeong Tak." kata Gang Mo.
"Tidak ada gunanya." kata Myeong Seok. "Pembangunan area ini akan menjadi milik Manbo."
Mereka pergi meninggalkan Gang Mo sendirian.

Gyeongok menjenguk Tae Sub di rumah sakit. Ia kelihatan sangat sedih melihat kondisi Tae Sub.
"Kau harus sembuh demi Jung Yeon." kata Gyeongok. "Jika kau tetap terbaring disini, mungkin aku akan berakhir dengan membencimu seumur hidup."
Tidak lama kemudian, Nam Suk dan Jeong Shik masuk ke kamar.
Gyeongok menghapus air matanya dan buru-buru menggunakan kacamata hitam.
Nam Suk marah-marah pada Gyeongok.
Gyeongok mengancam Nam Suk. "Sebaiknya kau mulai merawat Direktur Hwang dengan benar." katanya. "Jika tidak, aku bukan hanya akan menjual semua sahamku. Aku juga akan membuat Perusahaan Manbo mencapai kehancuran."
Tae Sub hanya bisa menyaksikan semuanya tanpa sanggup melakukan apapun.

Gang Mo bekerja semalaman suntuk mencari artikel mengenai kegagalan pembangunan apartemen atau kehancuran apartemen di surat kabar. Ia menemukan satu judul, "Putra Anggota Kongres Oh Byeong Tak Ditemukan Terbunuh Karena Kebocoran Gas Briket".
Beberapa waktu berselang, Sung Mo menelepon.
"Aku berhasil membuatkan janji pertemuanmu dengan Oh Byeong Tak besok jam 2." kata Sung Mo.
"Terima kasih, Kak."

Gang Mo berusaha bicara dengan Byeong Tak, namun Byeong Tak mengusirnya.
Atas permintaan Sung Mo, Min Hong Gi menelepon Byeong Tak untuk membantu Gang Mo.
"Untuk apa kau kirim dia kemari?!" seru Byeong Tak.
"Aku belum pernah mengecewakanmu, bukan?" tanya Hong Gi. "Percayalah padaku. Kau harus bicara dengannya. Aku pasti akan membalas kebaikanmu."
Gang Mo menunjukkan sebuah koper pada Byeong Tak.
Byeong Tak menertawakan Gang Mo, mengira isi koper itu adalah uang.
Gang Mo membuka koper itu, yang ternyata isinya adalah artikel kehancuran apartemen dari koran.
"Kau menjatuhkan sebuah perusahaan, lalu membantu perusahaan yang lain." kata Gang Mo tajam.
"Apa maksudmu sebenarnya?" tanya Byeong Tak.
"Semua itu adalah tanggung jawabmu." kata Gang Mo. "Karena kau yang mengambil semua uang itu."
Byeong Tak sangat marah dan hampir melempar Gang Mo dengan asbak.
"Aku kehilangan ibuku karena kebocoran gas briket." tambah Gang Mo. "Itulah satu-satunya alasan kenapa aku ingin membangun apartemen. Aku ingin orang-orang itu tidak mati karena kebocoran gas briket dan mereka mampu hidup bahagia di apartemen bagus dan yang tidak mahal. Dengan menggunakan dana politik, kau bisa dengan mudah mengembangkan teknologi baru. Jika kau merasa bersalah atas apa yang pernah kau lakukan, mohon bantu aku mendapatkan izin pembangunan."
"Keluar!" bentak Byeong Tak. Ia kelihatan sedih, teringat putranya yang tewas akibat kebocoran gas briket.
Setelah Gang Mo keluar, Byeong Tak menangis.

Gang Mo menatap lahan Gaepo miliknya dengan sedih. Haruskah ia kehilangan lahan itu?

Gang Mo kembali ke kantornya.
"Sepertinya kita harus menjual lahan itu." kata Gang Mo putus asa. "Aku minta maaf pada kalian semua."
So Tae dan yang lainnya sedih dan kecewa.
Tidak lama kemudian, telepon berdering. Gyeong Ja mengangkat telepon itu, bicara sebentar kemudian menutup telepon.
"Telepon dari Dewan Kota." kata Gyeong Ja santai sambil mengecat kukunya. "Mereka mengatakan kalau mereka akan memberi kita sesuatu."
"Memberi kita apa?" tanya Gang Mo kaget.
"Apa ya... izin pembangunan." jawab Gyeong Ja. "Mereka akan memberi kita itu."
"Apa kau yakin mereka mengatakan 'izin pembangunan'?" tanya Gang Mo. Ia langsung berlari keluar. Sideok mengikutinya.

Gang Mo menemui Myeong Seok dan berterima kasih padanya.
"Tapi, ada sedikit masalah." kata Myeong Seok. "Aku sudah mengajukan izin itu, tapi keputusan akhir ada pada Menteri Pembangunan."
"Bukankah jika Dewan Kota sudah mengajukan izin berarti izin tersebut sudah resmi?" tanya Gang Mo.
"Ya, namun ada faktor lain." jawab Myeong Sok. "Akhir-akhir ini, Menteri sangat percaya pada panel konsultasi. Dan yang pemimpin panel itu adalah Jo Pil Yeon. Jika Jo Pil Yeon menolak, Menteri Pembangunan akan menolak izinmu."

Sudah sejauh ini, Gang Mo tidak mau menyerah. Ia ingin menemui Pil Yeon.
"Jangan masuk." kata Sung Mo.
Gang Mo tetap bersikeras untuk masuk. Ia membuka pintu dan melihat Jung Yeon ada disana bersama Pil Yeon. Ia tersenyum menang.
"Kau terlambat satu langkah, Lee Gang Mo." kata Jung Yeon tajam.

1 comments:

Anonymous said...

wow jumlah episode giant banyak banget y ampe 60 episode...penasaran jadix....huh pzti complicated bget...semangat bwt yg merecapx

-eka kalbar-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda