Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Giant Episode 32

Thursday, June 9, 2011

Sinopsis Giant Episode 32


"Jung Yeon memintaku untuk tidak membiarkanmu mendapatkan izin pembangunan." kata Pil Yeon. "Berlututlah padaku agar aku menyelamatkanmu. Kau harus menukar harga dirimu demi masa depan Perusahaan Hangang."
Gang Mo hanya diam mendengar Pil Yeon berusaha merendahkan dirinya.
Perlahan, Gang Mo berjalan mendekati Pil Yeon.
Sung Mo kaget, mengira Gang Mo benar-benar akan berlutut.
Pil Yeon tertawa terbahak-bahak.

Bukannya berlutut, Gang Mo malah duduk di hadapan Pil Yeon.
Tawa Pil Yeon menghilang.
Gang Mo duduk dan minum.
"Suatu saat nanti, kaulah yang akan berlutut di hadapanku dan memohon ampun." kata Gang Mo.
"Baik. Kita lihat saja sampai kapan keangkuhanmu itu akan bertahan." ancam Pil Yeon seraya berjalan pergi meninggalkan Gang Mo.

Sung Mo mengikuti Pil Yeon keluar.
"Jika ia berlutut, apakah kau akan memberikan izin pembangunan?" tanya Sung Mo.
"Semuanya sudah ditentukan sebelum dia datang." kata Pil Yeon. "Ia akan diberikan izin pembangunan apartemen."
"Apakah kau sudah memberikan persetujuan?" tanya Jae Chun.
Pil Yeon menyebut nama sebuah buku, Yiyi Jeyi.
"Itu artinya, kau akan menggunakan Perusahaan Hangang untuk melawan Perusahaan Manbo?" tanya Sung Mo.
"Kita akan menggunakan Lee Gang Mo untuk menjatuhkan Hwang Jung Yeon." kata Pil Yeon. "Saat itulah, Min Woo akan mengambil kesempatan itu untuk mengendalikan perusahaan. Perusahaan Hangang bukanlah apa-apa. Kalau Min Woo sudah mendapatkan Manbo, kita bisa mengirim Lee Gang Mo kembali ke asalnya."

Nam Suk dan Jeong Shik berusaha mencari tahu mengenai masa lalu Gyeong Ok.
"Kau tahu Baekpa?" tanya Jeong Shik pada ibunya. "Ia adalah putri angkat pria tua itu. Kelihatannya jika pria tua itu mati, ia akan mewarisi bisnisnya."
Nam Suk sangat terkejut mendengar informasi itu.

Tanpa persetujuan dokter, Nam Suk dan Jeong Shik membawa Tae Sub keluar dari rumah sakit.

Pil Yeon marah besar ketika mengetahui bahwa Min Woo jatuh cinta pada wanita miskin.
"Apa dia sudah gila?!" seru Pil Yeon. "Apa ini waktu yang tepat baginya untuk bermain cinta?!"
"Serahkan saja padaku." kata Myeong Ja menenangkan Pil Yeon. "Aku akan membereskan gadis itu."

Jung Yeon kelabakan setelah mengetahui bahwa Gang Mo berhasil mendapatkan izin pembangunan.
Ia menyuruh anak buahnya memanggil Min Woo untuk merapatkan rencana mereka. Namun Min Woo menolak.
"Aku ada janji." kata Min Woo. "Ia sudah mampu mengurus semuanya sendiri tanpa bantuanku."

Kru Perusahaan Hangang berpesta merayakan keberhasilan mereka mendapatkan izin pambangunan apartemen.
"Bersulang untuk Proyek Pembangunan Apartemen Perusahaan Hangang!" seru Gang Mo.
"Bersulang! Bersulang!"

Min Woo kembali ke apartemennya. Disana, ia sudah menemukan Pil Yeon sedang duduk.
"Biar aku langsung pada pokok permasalahan." kata Pil Yeon tajam. "Tinggalkan gadis yang kau kencani sekarang. Jika tidak, maka aku yang akan turun tangan. Jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi padanya!"
Pil Yeon beranjak pergi, namun Min Woo memanggilnya.
"Jika kau berani menyentuhnya, aku akan mati di hadapanmu!" ancam Min Woo.
"Apa? Mati?" tanya Pil Yeon.
"Aku akan bunuh diri!" ancam Min Woo. "Tanpa Mi Joo, hidupku tidak ada artinya lagi."

Pil Yeon sangat marah dan memukul Min Woo. Ia menghajar Min Woo habis-habisan.
Pil Yeon mengambil kursi. "Ingin bunuh diri, hah?!" teriaknya. "Aku akan membuatmu mati. Yang berhak memutuskan kau mati atau tidak adalah aku!"
Pil Yeon memukulkan kursi itu pada Min Woo.

Kepala Min Woo mengucurkan banyak darah.
Pil Yeon terus menendang dan menghajar Min Woo.
"Hentikan!" Jae Chun memegangi Pil Yeon.
"Kali ini, aku tidak akan menyerah!" kata Min Woo bertekad. "Aku tidak akan pernah melepaskan Mi Joo!"
"Mati saja kau!" Pil Yeon ingin memukulkan barang lagi pada Min Woo, namun Jae Chun menahannya. "Aku akan memberimu waktu tiga hari! Jika kau tidak bisa menyelesaikan urusanmu dengan perempuan itu, aku akan membunuhmu!"

Mi Joo berjalan menuju apartemen Min Woo.
Di jalan, ia berpapasan dengan Pil Yeon dan Jae Chun. Mereka tidak mengenal Mi Joo, tapi Mi Joo mengenal Pil Yeon.
Mi Joo jadi cemas.

Mi Joo kaget setengah mati ketika menemukan Min Woo terkapar dengan tubuh berlumuran darah di apartemennya,
"Min Woo, kumohon bukalah matamu." tangis Mi Joo panik.
Min Woo tersenyum. "Berhenti menangis." katanya. "Aku baik-baik saja."
"Baik bagaimana? Lihat darah ini..." tangis Mi Joo.
"Sudah kubilang jangan menangis." kata Min Woo.

Malam sudah larut. Sung Mo datang ke rumah Mi Joo, namun rumah itu kosong.


Mi Joo menginap di apartemen Min Woo.
"Apa kau sudah tidur?" tanya Mi Joo sambil membaca buku.
Min Woo tidak menjawab.
Mi Joo menyelimuti Min Woo.
Mendadak, Min Woo membaringkan Mi Joo di tempat tidur, lalu memeluknya.
"Lima menit, tidak, satu menit saja." kata Min Woo. "Berkat kau, hidupku kini berarti. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Jadi jangan bermimpi untuk pergi dariku. Tidak ada yang bisa kulakukan selain memilikimu."

Min Woo mengecup mata, kemudian bibir Mi Joo. And that night is their first nigh together.

Jung Yeon memikirkan cara menghancurkan Hangang. Ia ingin mendirikan sebuah apartemen di wilayah yang tak jauh dari Gaepo, yakni di Songpa.
"Kita harus membeli lahan disana." kata Jung Yeon. "Kita harus memberi tahu para pemegang saham. Kau tahu apa alasan kita harus membangun apartemen disana? Kita harus memancing para pembeli Gaepo agar lebih memilih kita. Pertempuran dengan Perusahaan Hangang baru akan dimulai."

Perusahaan Hangang mengadakan pesta.

Pil Yeon mengucapkan selamat pada Gang Mo.
"Kau seharusnya berterima kasih padaku." kata Pil Yeon.
"Apa yang kau rencanakan sebenarnya?" tanya Gang Mo.
"Apa kau bisa menebak?"
"Kau ingin membuat Hangang dan Manbo saling menjatuhkan." jawab Gang Mo.
"Kau pernah berkata bahwa kau akan bermain jujur dan adil." kata Pil Yeon. "Tapi kelihatannya Presiden Lee Gang Mo sudah merasa takut."
Gang Mo tersenyum. "Suatu saat nanti, kau akan menyesali keputusanmu untuk membantuku. Karena semuanya tidak akan berjalan sesuai dengan keinginanmu."

Jung Yeon datang bersama Jeong Shik dan Min Woo.
"Selamat." kata Jung Yeon, mengulurkan tangannya.
Gang Mo diam saja, tidak menyambut uluran tangan Jung Yeon.
"Kau akan datang ke pesta pembukaan pembangunan apartemen Songpa kami, bukan?" tanya Jung Yeon. "Kami berencana mendirikan apartemen tepat disamping apartemenmu di Gaepo. Sebelum berusaha menjatuhkan kami, lebih baik kau lindungi dulu apartemenmu."
Jung Yeon menggandeng lengan Min Woo untuk memanas-manasi Gang Mo.
"Aku ingin pulang, bisakah kau mengantarku?" pintanya.


Jeong Shik masuk ke toilet. Gang Mo mengikutinya ke dalam, lalu mengunci pintu.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Jeong Shik panik.
Gang Mo membuka jasnya dan menjatuhkan Jeong Shik ke lantai.
Jeong Shik berusaha memukul Gang Mo, namun Gang Mo menahannya dan balas menyerang.
"Gang Mo, maafkan aku." Jeong Shik memohon. "Jangan lakukan ini! Maafkan aku, Gang Mo!"
Namun Gang Mo ingin membalaskan semua dendamnya. Ia menghajar Jeong Shik habis-habisan.
Tanpa sengaja, So Tae mendengar suara mereka dari luar dan melarang orang lain masuk.

Sikap Jung Yeon di pesta membuat Min Joo merasa direndahkan. Ia berencana melakukan sesuatu.
"Lee Gang Mo, Hwang Jung Yeon, apakah Jo Min Woo bukan apa-apa bagi kalian?" gumamnya seorang diri. "Tunggu dan lihat saja. Yang tertawa terakhir dalam pertarungan ini adalah aku, bukan kalian. Demi Mi Joo, aku tidak akan kalah dari kalian."
Sung Mo memberikan hadiah penyetel musik untuk Mi Joo.
Mi Joo sangat senang dan langsung menyalakan.
"Cincin apa itu?" tanya Sung Mo.
Mi Joo menyembunyikan tangannya.
"Kenapa kau sembunyikan? Coba kulihat." kata Sung Mo. "Ini bagus sekali."
"Ini imitasi." kata Mi Joo berbohong.
"Kau ingin memberitahu aku dimana kau menginap tadi malam?" tanya Sung Mo santai. "Aku menunggumu sepanjang malam dan pergi pagi-pagi."
"Di rumah teman." jawab Mi Joo.
"Teman yang mana?"

"Kau tidak boleh memberitahu siapa-siapa ya kak." kata Mi Joo.
"Ada sesuatu yang ingin kau ceritakan?"
"Ya." jawab Mi Joo. "Aku..."
"Mi Joo." potong Sung Mo. "Sedekat apapun kau dengan seseorang, jangan pernah menceritakan tentang kami. Aku dan gang Mo punya rencana. Kau mempercayaiku, bukan?"
Mi Joo mengangguk. Ia mulai menyanyikan lagu dan menyuruh Sung Mo bertepuk tangan.
Sung Mo bertepuk tangan dengan kaku.
"Kau merusak temponya, kak!" protes Mi Joo. "Lakukan dengan benar."

Jung Yeon menanyakan dimana Nam Suk menyembunyikan ayahnya.
Nam Suk mengatakan bahwa ia takut Jung Yeon akan mengubah surat wasiat Tae Sub.
"Jadi kau tidak akan membiarkanku bertemu dengannya sebelum ia mati?" tanya Jung Yeon.
"Ya, kenapa tidak?" ancam Nam Suk.
"Kalian berdua akan dihukum karena melakukan ini." kata Jung Yeon.

Ketika Nam Suk datang ke kantor Pengacara Kim untuk menanyakan perubahan surat wasiat yang ia minta, seseorang memotretnya dengan diam-diam.
Setelah Nam Suk keluar, Pil Yeon muncul. Rupanya ia dan pengacara Kim bekerja sama.
"Lakukan saja yang ia minta." kata Pil Yeon. "Tidak masalah bagiku asal Lee Gang Mo tidak mewarisi kekayaan Hwang Tae Sub."
Paparazi itu juga memotret Pil Yeon ketika keluar dari kantor Pengacara Kim.

Ternyata, paparazi itu adalah anak buah Gyeong Ok. Ia curiga Nam Suk merencanakan sesuatu yang buruk.

Saat itu, Tae Sub sedang berada di sebuah rumah sakit, entah di daerah mana.

Min Woo dan Ketua Moon bekerja sama.
Min Woo memerintahkan Ketua Moon untuk membuat surat tanah Songpa dengan nama palsu.

Min Woo menceritakan rencana jahatnya itu pada Pil Yeon.
Pil Yeon tentu sangat senang mendengarnya.
Sebagai gantinya, Min Woo meminta Pil Yeon merestui hubungannya dengan Mi Joo.
"Aku akan menikahi gadis itu." kata Min Woo.
"Baik. Aku mengizinkan kalian berkencan." kata Pil Yeon. "Tapi, kau hanya boleh menikah jika rencana kita sudah berhasil."
"Aku juga ingin memperkenalkan ia padamu." kata Min Woo.
Pil Yeon setuju.
"Selamat." kata Sung Mo.


Gang Mo memulai konstruksi apartemennya. Min Woo dan Jung Yeon juga mulai melaksanakan rencana mereka masing-masing.
Jung Yeon memerintahkan anak buahnya untuk menempatkan iklan apartemennya tepat di samping iklan apartemen Gang Mo. Ia juga memerintahkan untuk membuat iklan yang dua kali lebih besar dari iklan Gang Mo walaupun hal itu membutuhkan banyak biaya.

Gang Mo berpikir. Jika Hangang kalah melawan Manbo di iklan surat kabar, mereka harus mencari cara yang lain untuk melakukan promosi.
Gang Mo ingin mempromosikan apartemennya sebagai apartemen untuk kelas menengah.

Mengetahui rencana promosi Gang Mo, Jung Yeon juga ingin mengubah konsep apartemannya.
"Tapi image kita adalah pembangunan apartemen mewah untuk kalangan atas." protes Min Woo. "Apa kau tidak tahu berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk menarik promosi ketika pembangunan sudah selesai?"
"Apa kau ingin menceramahi aku?!" bentak Jung Yeon. "Jika atasanmu menyuruhmu mengubah, maka lakukan saja!"
"Sebenarnya apa rencanamu?" tanya Min Woo. "Menjatuhkan Lee Gang Mo atau..."
"Menjatuhkan Lee Gang Mo akan membuat kita sukses." jawab Jung Yeon.

Perubahan surat wasiat Tae Sub selesai. Surat wasiat yang baru itu menunjuk Jeong Shik sebagai pemimpin Manbo.

Nam Suk membakar surat wasiat asli Tae Sub, kemudian menunjukkan surat wasiat barunya. Diam-diam, anak buah Gyeong Ok membuntutinya.
Nam Suk berniat membunuh Tae Sub.
"Kaulah yang membuatku seperti ini." kata Nam Suk. "Semua ini salahmu."
Tae Sub memandang Nam Suk dengan sedih.
"Jangan pandang aku seperti itu." kata Nam Suk. "Aku lebih suka kau memandangku dengan pandangan kebencian."

Tae Sub meneteskan air mata.
Melihat air mata Tae Sub membuat Nam Suk mengurungkan niatnya.
"Mati." katanya. "Jangan bertahan hidup. Mati saja."
Setelah berkata begitu, Nam Suk berjalan pergi.

Di Songpa, pihak Min Woo menemukan relik yang diperkirakan peninggalan dari benteng Baekje.
Min Woo memerintahkan pembangunan tetap dilakukan walaupun kemungkinan tempat tersebut adalah tempat bersejarah. Bisa jadi masalah kalau pemerintah tahu mengenai hal itu.
Kelihatannya Min Woo punya rencana jahat lagi.

Penjualan perusahaan Hangang kalah jauh dibanding Manbo. Gang Mo sangat kesal.
Jung Yeon menelepon dan mengajak Gang Mo bertemu.
"Yang kecil tidak akan bisa mengalahkan yang besar." kata Jung Yeon. "Kau tidak akan pernah mengalahkan aku."
"Kuakui, setiap kali melihatmu aku selalu merasa terkejut." kata Gang Mo. "Kau kelihatan seperti seseorang yang sudah siap tumbuh menjadi raksasa. Tapi, kau lebih mirip ayahmu. Ayahmu pernah mengatakan padaku bahwa ia selalu berlari dalam kegelapan tanpa bisa melihat dimana tujuan akhirnya."
"Aku berbeda dengan ayahku." kata Jung Yeon.
"Kuharap begitu."

"Serahkan Perusahaan Hangang padaku." kata Jung Yeon. "Serahkan perusahaanmu padaku dan keluar dari bisnis ini."
"Kau tahu apa impianku dan ingin menginjak-injaknya?" tanya Gang Mo.
"Karena aku tidak tahan pada kenyataan bahwa orang sepertimu memiliki impian yang sama denganku." jawab Jung Yeon sinis. "Aku akan menunggu jawabanmu."
"Bukan orang tinggi yang menjadi raksasa." kata Gang Mo. "Bahkan hal yang paling kecil sekalipun bisa mengalahkan hal yang luar biasa. Itulah kekuatanku."

Min Woo dan Pil Yeon berniat menggunakan relik benteng Baekje untuk menjatuhkan Jung Yeon.
Pil Yeon punya ide, yakni membuat Gang Mo menjadi orang yang menjatuhkan Jung Yeon.

Min Woo menelepon Gang Mo.
"Aku ingin memberi informasi berharga untukmu." kata Min Woo.
"Berniat menjual rahasia perdagangan?" tanya Gang Mo. "Aku bisa menebak rencanamu."
"Kau ingin mengalahkan Hwang Jung Yeon, bukan?"
"Termasuk dirimu." jawab Gang Mo.
"Kau akan menerima fax sebentar lagi." kata Min Woo. "Aku tidak sabar melihat bagaimana kau menyebabkan kehancuran Hwang Jung Yeon."
Gang Mo terkejut melihat fax yang dikirimkan Min Woo.

4 comments:

Anonymous said...

huh senengx sinop tbaru udah terbit....matahari kaleee...! seneng banget liat pasgn MinJoo...pi sayg bangt free sex skrg udh kbudayaan yg g bs dpishkn dr pasgn yg dmbuk asmra...huhuhu...sedih jadix...gmbran dr realita khdupn nyta, g sabr ign tau gmn reaksi Min Woo saat tau Mi Joo adlh adik Gang Mo n Sung Mo n gmn sblikx saat Mi Joo tau ayh Min Woo yg mbunh ayhx....huhuhhu..complicated....ni namax dendam tak berujung....semangat bwt Princess.....-eka kalbar-

cha_sya said...

hore ada sambungan giant.
Makasih Putri.aku sering ngikutin sinop ini.Ceritanya keren.
Fighting putri!!

Negeri Seribu Kata said...

Semua saling menjatuhkan. Hwaa... dimana pun, yg namanya balas dendam gak hanya akan saling menyakiti. Kyk Drama Bad Guy.

Hiksss... Jadi pada musuhan gitu.

Suka sama pasangan Mi-Min. :D

Negeri Seribu Kata said...

Hwaaa... Bacanya bikin geregetan. Semua saling balas dendam, padahal gak tega dalam hati kecilnya mah. Hihu... Bener2 complicated...

Kasian pasangan Mi-Min,,, :(

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda