Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Giant Episode 33

Friday, June 10, 2011

Sinopsis Giant Episode 33


Gang Mo membaca fax yang dikirimkan Min Woo.
"Apa yang ia rencanakan?" gumamnya.

Atas perintah Gang Mo, Young Chul dan So Tae menggali di tanah Songpa untuk mencari relik.
Mereka berdua menemukan beberapa relik disana.
"Jo Min Woo benar!" seru Sideok.
"Jo Min Woo mungkin mencoba untuk mengendalikan Manbo." kata Gang Mo. "Siapa karyawan yang paling dekat dengan Jo Min Woo di perusahaan?"
"Ketua Moon Seong Joong selalu berada didekatnya." jawab Sideok.
"Awasi dia untuk sementara ini." perintah Gang Mo.
"Baiklah." kata Sideok. "Tapi, apakah kau baik-baik saja? Apakah kau tetap ingin melawan Jung Yeon sampai akhir?"
Gang Mo hanya menarik napas panjang.

Gang Mo berusaha mencari pinjaman di bank, namun tak ada satupun bank yang mau memberikan pinjaman.
Jung Yeon datang ke bank yang sama yang didatangi Gang Mo. Presiden Direktur bank tersebut menolak bertemu dengan Gang Mo.
"Apa kau yang menghentikan peminjaman bank pada kami?" tanya Gang Mo pada Jung Yeon.
"Kau pikir siapa lagi?" jawab Jung Yeon angkuh.

"Kusarankan agar kau berhenti mengganggu bisnisku." kata Gang Mo tajam. "Ini peringatan."
"Kita dalam peperangan." tantang Jung Yeon. "Peperangan hanya akan berakhir jika salah satu dari kita mati. Kau memperingatkan aku? Sepertinya kau masih saja membuang-buang waktu. Mungkin kau menolak tawaranku kemarin. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan itu. Situasi kini berubah. Kau akan berakhir di jalanan karena aku akan menghancurkan Perusahaan Hangang."
Presiden Direktur bank menyambut Jung Yeon dengan ramah.
Gang Mo terlihat kesal.

So Tae tahu Gang Mo tidak tega menjatuhkan Jung Yeon.
"Jika kau tidak sanggup melakukannya karena Jung Yeon, biar aku saja." kata So Tae.
"Jika harus melakukan itu, akulah orangnya." kata Gang Mo tegas.
"Kau tahu bahwa aku tidak akan sanggup melihatmu hancur, bukan?" tanya So Tae. "Kau tahu kenapa bajingan sepertiku selalu ingin berada didekatmu selama ini? Itu karena aku ingin melihatmu sukses. Aku ingin melihat impianmu menjadi kenyataan. Biarkan aku yang melakukan pekerjaan kotor. Demi Lee Gang Mo, aku siap mati. Pulanglah duluan, aku akan pergi ke kantor surat kabar."
Gang Mo menahan So Tae. "Sudah kubilang, aku yang akan melakukannya." ujarnya. Ia berbalik lagi masuk ke bank.

Gang Mo masuk ke ruangan Presdir bank dengan seenaknya.
"Berapa banyak pinjaman yang kau berikan pada Manbo?" tanya Gang Mo.
"Kenapa kau..."
Gang Mo membuka tasnya dan mengeluarkan relik yang ditemukannya di Songpa.
"Semua ini adalah relik Baekje yang ditemukan di area konstruksi Manbo." kata Gang Mo. "Jika pers tahu mengenai hal ini, konstruksi akan langsung dihentikan."
Tanpa berkata apa-apa, Jung Yeon langsung berjalan pergi ke area konstruksi.


Jung Yeon langsung menuju Songpa.
"Mulai gali." perintahnya pada para pekerja.
Para pekerja menggali dan mulai menemukan relik-relik Baekje.
Jung Yeon terjatuh di tanah dengan shock.
Gang Mo melihat Jung Yeon dengan pandangan sedih dan kasihan.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Gi Hoon.
"Serahkan laporan ini pada pres." jawab Gang Mo pelan.

Keesokkan harinya, laporan mengenai relik Baekje di area konstruksi Manbo dimuat di surat kabar.
Min Woo dan Pil Yeon merasa menang.
"Kau akan segera memiliki Manbo." kata Min Woo pada ayahnya.
Pil Yeon tertawa senang.

Gyeong Ok mendapat telepon dari perawat yang merawat Tae Sub. Ia mengatakan bahwa Tae Sub sudah mulai bisa bicara.
"Nam Suk tidak tahu mengenai hal ini, bukan." tanya Gyeong Ok.
"Tidak." jawab perawat.
"Dia tidak boleh tahu. Kau mengerti?"

Nam Suk datang ke rumah sakit untuk melihat Tae Sub. Ia menunjukkan sebuah surat. Dengan surat itu, surat wasiat Tae Sub bisa dilaksanakan walaupun Tae Sub belum mati.
Tidak lama kemudian. perawat masuk.
Tae Sub langsung bersuara.
Nam Suk terkejut mendengar suara Tae Sub. Ia lalu menyogok si perawat.

Min Woo mengajak Mi Joo berbelanja baju dan sepatu sebelum memperkenalkan Mi Joo pada orang tuanya.
Mi Joo terlihat sangat gugup, namun Min Woo menenangkannya.
"Mereka sudah memberi restu, apa lagi yang kau khawatirkan?" ujar Min Woo, tersenyum.
Mi Joo menarik napas panjang.

Pil Yeon menyambut Mi Joo dengan ramah, namun Myeong Ja sebaliknya.
"Tolong siapkan teh." pinta Pil Yeon pada istrinya.
Myeong Ja pergi sambil cemberut.
Mi Joo, Min Woo dan Pil Yeon berbincang.
"Jadi kedua orang tuamu sudah meninggal?" tanya Pil Yeon. "Apa kau punya kakak atau adik?"
Mi Joo ragu sejenak.
"Dia tidak sebatang kara." jawab Min Woo. "Aku ingin menikah dengannya secepat mungkin."
"Aku menitipkan Min Woo padamu." kata Pil Yeon pada Mi Joo.
"Ya, a... yah..." jawab Mi Joo.
Myeong Ja kelihatan sangat tidak suka.
Pil Yeon punya rencana khusus untuk Min Woo.
"Serahkan Min Woo padaku." kata Pil Yeon pada istrinya. "Sementara ini, biarkan ia melakukan apa yang ia suka."

Para wartawan mulai datang ke Songpa untuk melihat relik Baekje.
"Bagaimana dengan Jung Yeon?" tanya Gang Mo pada Sideok.
"Jika aku memberitahukanmu, kau hanya akan merasa bersalah." kata Sideok.
"Katakan saja." perintah Gang Mo.
"Pada pertemuan para pemegang saham hari ini... mereka mungkin akan mengusirnya dari perusahaan." jawab Sideok.

Jung Yeon sedikit cemas.
"Bangun, Jung Yeon." ujarnya pada diri sendiri. "Tidak akan ada yang membantumu sekarang. Jika kau kalah dari para pemegang saham, Manbo akan berakhir. Aku tidak boleh menghancurkan kerja keras ayahku selama ini hanya karena Lee Gang Mo."

Para pemegang saham ribut-ribut karena kegagalan proyek apartemen Jung Yeon. Mereka menuntut pertanggungjawaban Jung Yeon.
"Aku penasaran apa yang akan dilakukan oleh Direktur Hwang untuk mengatasi krisis ini." kata Gyeong Ok, membantu Jung Yeon. "Selama ini, krisis selalu datang dan bisa diatasi. Masalah ini mungkin bisa menjadi kesempatan yang tepat untuk membuktikan kemampuannya."
"Dan jika kita membiarkannya melangkah sebagai pemimpin dan membuat perusahaan berada dalam bahaya, apa yang akan kau lakukan?" tantang Gyeong Ok.
"Bagaimana jika ia gagal?" tanya pemegang saham.
"Jika konstruksi ini gagal, aku akan menyerahkan semua saham yang kumiliki." kata Jung Yeon.

Sejak kejatuhan proyek Manbo, Hangang menjadi ramai. Banyak sekali orang yang ingin membeli apartemen Gang Mo. Bahkan Ibu Gyeong Ja-pun ingin ikut membeli apartemen.

Gyeong Ja ngomel-ngomel pada ibunya karena uang mereka tidak cukup untuk membeli apartemen.
"Bagaimana bisa kau membeli apartemen dengan uang ini?!" seru Gyeong Ja.
"Aku akan membelikan apartemen itu untukmu, Ibu." ujar So Tae menawarkan.
"Ibu?!" seru Ibu Gyeong Ja bingung.
Gang Mo mengizinkan Ibu Gyeong Ja memiliki apartemen dengan uang berapapun yang ia punya.
"Mereka sudah menjaga Mi Joo dan aku ketika kami masih kecil." kata Gang Mo. "Aku ingin membalas kebaikanmu."
Ibu Gyeong Ja menangis. "Keluarga Jung Yeon tidak pernah memberi kami cukup uang untuk membeli rumah sendiri." tangisnya. "Aku sangat berterima kasih, Gang Mo."

Jung Yeon berusaha melobi Myeong Seok perihal apartemen Manbo, namun Myeong Seok sulit untuk membantu karena pres sudah tahu.
Pil Yeon datang. "Bagaimana kondisi pembangunan apartemen Manbo?" tanyanya.
"Para petinggi belum memberikan keputusan." jawab Myeong Seok.
"Bukan hanya Songpa, tapi lahan Jamshil dan Pungnap juga merupakan area sejarah." kata Pil Yeon. "Jika kita melihat buku sejarah, wilayah mana yang bukan merupakan area sejarah?"
"Ya, kau benar." kata Myeong Seok.
"Maksudmu, kau akan membantu kami melanjutkan konstruksi?" tanya Jung Yeon berharap.
Pil Yeon meminta bantuan Myeong Seok.
Myeong Seok berjanji akan berusaha maksimal untuk membantu Jung Yeon.

Nam Suk menelepon perawat dan memerintahkannya untuk mengirim Tae Sub ke 'tempat yang lebih baik' alias membunuh Tae Sub. Tanpa sengaja, Jeong Shik mendengar pembicaraan mereka.
"Apa maksudmu?!" tanya Jeong Shik pada ibunya. "Kau akan mengirim dia ke 'tempat yang lebih baik'?!"
"Ayahmu akan menghabiskan sisa hidupnya dalam keadaan lumpuh." kata Nam Suk.
"Ibu!" seru Jeong Shik cemas. "Teganya kau melakukan itu pada ayah!"
"Kau pikir aku suka?" ujar Nam Suk. "Aku melakukannya demi kau!"
"Haruskah kau melakukan sejauh ini?" tangis Jeong Shik.
"Apa yang kau tahu?!" seru Nam Suk. "Kau tidak tahu apapun! Anggap saja kau tidak pernah mendengar mengenai hal ini. Aku akan mengurus segalanya."
Jeong Shik marah pada ibunya dan menangis pergi.

Perawat menelepon Gyeong Ok dan menceritakan perintah Nam Suk padanya.
"Aku akan datang kesana." ujar Gyeong Ok.

Jeong Shik menangisi ayahnya.
"Aku hanyalah seorang pria bodoh." tangis Jeong Shik. "Aku tidak tahu kalau ibu akan berbuat sejauh ini."
Ia menangis keras, namun mendadak berhenti.
"Tidak!" seru Jeong Shik. "Aku tidak boleh membiarkan ia melakukan ini pada ayahku!"

Jeong Shik menyusul ayahnya ke rumah sakit dengan cemas. Di lain sisi, perawat Kim membawa Tae Sub ke luar. Mereka tidak bertemu.
Perawat Kim membantu Tae Sub masuk ke sebuah mini bus. Mini bus itu pergi.
Tidak lama kemudian, Gyeong Ok baru tiba ke rumah sakit.
Didalam mini bus, Tae Sub terkejut melihat pria yang ada disampingnya. Perlahan dan dengan gemetar, ia menggerakkan tangannya, ingin menyentuh pria itu.
Pria itu meraih tangan Tae Sub.

Nam Suk terkejut mengetahui Tae Sub menghilang dan si perawat keluar dari pekerjaannya.


Para pembeli apartemen Manbo marah-marah di depan kantor Manbo.
"Jika pembangunan dihentikan, kami akan kehilangan uang!" teriak mereka.
"Percayalah padaku, kami..."
Belum sempat Jung Yeon menyelesaikan perkataannya, seorang pembeli maju dan menarik kerahnya dengan kasar.
"Tolong tenanglah!" seru Jung Yeon.
Pembeli itu marah besar dan tidak mau melepaskan Jung Yeon.
Mendadak Gang Mo datang dan membantu Jung Yeon lepas dari pria itu. Pria tersebut terjatuh ke lantai.
Jung Yeon langsung menampar Gang Mo. "Beraninya kau menyentuh konsumenku!"
Jung Yeon meminta maaf pada pembeli itu.
Min Woo datang. Ia memperlihatkan dokumen kontrak baru yang berisikan perlindungan terhadap pembeli agar tidak kehilangan uang mereka.

"Kenapa kau ingin bertemu denganku?" tanya Jung Yeon pada Gang Mo. "Langsung saja ke pokok pembicaraan."
"Jika kau ingin melindungi perusahaanmu, pertama-tama cari tahu apa yang diincar Jo Min Woo." kata Gang Mo.
"Apa kau punya bukti?" tanya Jung Yeon.
"Orang yang memberitahu mengenai relik itu padaku adalah Jo Min Woo." jawab Gang Mo. "Jika perkiraanku benar, ia ingin mendapatkan Manbo. Dan Jo Pil Yeon ada dibelakangnya."
"Benarkah?" tanya Jung Yeon. "Lalu bagaimana denganmu? Jika perkiraanmu benar, berarti kau telah membiarkan Jo Min Woo memperalatmu. Kenapa kau mengatakan ini padaku?"
"Karena aku tidak ingin melihat Manbo jatuh karena orang lain selain aku."
Jung Yeon tidak mau mempercayai perkataan Gang Mo karena baginya, sekarang ini yang membantunya adalah Min Woo dan Pil Yeon.
"Aku merasa malu karena pernah mencintai pria sepertimu." kata Jung Yeon tajam.

Ketika makan, Mi Joo muntah-muntah.
Jangan-jangan Mi Joo hamil?!

Pil Yeon mengancam para anggota komite untuk memberinya uang.
"Kaulah satu-satunya anggota yang tidak memberikan uang padaku!" seru Pil Yeon pada Direktur Cheon.
"Kami mengalami kesulitan disana sini." kata Direktur Cheon. "Kumohon beri sedikit waktu lagi."
Uang yang dikumpulkan Pil Yeon itu disimpan di rekening Presiden di bank Swiss untuk membangun Gangnam.

Sideok memata-matai Ketua Moon dan menemukan bukti kuat.
"Gang Mo!" seru Sideok. "Aku menemukan bahwa Ketua Moon menjual lahan itu secara diam-diam!"
"Tapi tanah ini milik Perusahaan Manbo." kata Gang Mo. "Mereka memanfaatkan keadaan Direktur Hwang."
Gang Mo memutuskan akan menemui Min Woo untuk mencari tahu apa rencana Min Woo dan Pil Yeon.

Dengan bersemangat, Min Woo menceritakan mengenai wanita yang dicintainya pada Sung Mo. Namun Min Woo belum sempat menyebutkan nama Mi Joo.
Gang Mo datang menemui Min Woo.
"Kita harus bicara." katanya.

"Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan Manbo." kata Gang Mo pada Min Woo.
"Aku yakin kau tahu siapa orang yang berusaha keras membuat perusahaan itu dalam masalah." ujar Min Woo tajam.
"Aku tahu apa yang kau rencanakan ketika aku dan Jung Yeon berperang." kata Gang Mo. "Kau ingin menghancurkan Manbo, lalu mengambil alih perusahaan, bukan?"
"Kau sangat pintar." kata Min Woo, tersenyum. "Lalu apa rencanamu untuk menghentikanku? Kau telah membiarkan aku memanfaatkanmu seperti boneka."
Gang Mo tersenyum. "Jo Min Woo, pembalasan dariku baru akan kau rasakan mulai sekarang."

Min Woo mengajak Sung Mo pergi.
"Kak, kau pernah menangkapnya, bukan?" tanya Min Woo pada Sung Mo. "Maukah kau mengawasinya untukku? Kita tidak akan pernah tahu kapan ia akan kembali seperti dulu."
Gang Mo bangkit dari duduknya, hendak memukul Min Woo. Namun Sung Mo menahannya.
"Jagalah Kak Sung Mo." kata Min Woo. "Ia sudah seperti kakakku sendiri."
Min Woo berjalan pergi.
Sung Mo menggeleng pada Gang Mo dan menepuk pundaknya, melarang Gang Mo bertindak gegabah.

Min Wo pulang ke apartemennya, disana ia menemukan Mi Joo sedang tertidur pulas.

Keesokkan harinya, Mi Joo makan bersama keluarga Min Woo.
"Kenapa kau hanya makan salad?" tanya Myeong Ja pada Mi Joo. "Kau tidak suka daging?"
Untuk menghormati calon mertuanya, Mi Joo makan daging. Namun mendadak ia mual dan berlari ke toilet untuk muntah. Min Woo mengejarnya, cemas.
"Apakah dia...." Myeong Ja berpikir.

"Hamil?!" seru Pil Yeon.
"Ia hanya makan salad dan mual-mual." kata Myoeng Ja. "Ia mungkin sedang hamil. Bagaimana jika ia benar-benar hamil?"
"Serahkan saja padaku." ujar Pil Yeon.
Mi Joo dan Min Woo kembali ke meja makan.
"Maafkan aku." kata Mi Joo. "Akhir-akhir ini aku mengalami masalah pencernaan."
"Temanku punya tonik yang sangat manjur untuk masalah pencernaan." kata Pil Yeon menawarkan.
"Tonik?" tanya Mi Joo. "Ayah tidak perlu repot."
"Aku ingin wanita sehat yang mendampingi putraku." kata Pil Yeon.
Mi Joo akhirnya setuju.

Pil Yeon membawa Mi Joo ke seorang tabib.
"Apakah ia hamil?" tanya PIl Yeon ketika Mi Joo dan Min Woo sudah keluar.
"Tidak salah lagi." kata tabib, tersenyum.

Gang Mo dan Sung Mo berusaha mencari rekening akun Min Woo yang digunakan untuk menyimpan uang hasil penjualan lahan Manbo.
Chan Seong berhasil mendapatkannya.
Kini giliran Sung Mo untuk beraksi.

Ketua Moon Seong Joon menyerahkan akun tempat ia menyimpan hasil penjualan lahan Manbo pada Min Woo.
Tidak lama kemudian, Sung Mo datang. Ketua Moon langsung pamit.
Tanpa sepengetahuan Min Woo, Sung Mo memasukkan sesuatu di teko minuman hingga membuat Min Woo mabuk berat.

Tae Sub belum juga ditemukan. Jung Yeon hendak melaporkan masalah ini pada polisi, namun Nam Suk melarang.
"Jika semua orang mengetahui masalah ini, apa yang akan terjadi pada perusahaan?!" seru Nam Suk.

Min Woo mabuk berat dan tertidur dalam perjalanan pulang.
Sung Mo mengambil akun Min Woo, kemudian menyembunyikan akun tersebut dibawah jok mobil.

Sung Mo merebahkan Min Woo di ranjang. Ia duduk di meja belajar Min Woo dan melihat fotonya bersama Min Woo.
Sung Mo jadi teringat ketika ia dan Min Woo dipukuli habis-habisan oleh Pil Yeon karena Min Woo tidak menuruti keinginan ayahnya.
"Kalau saja kita tidak bertemu dalam kondisi seperti ini..." gumam Sung Mo.

Tengah malam, Gang Mo membobol mobil Min Woo dan mengambil akun yang disembunyikan Sung Mo dibawah jok.

Keesokkan paginya, Gang Mo datang ke bank untuk mengambil uang di akun Min Woo.
Disisi lain, Sung Mo melirik jam tangannya. Sebentar lagi Min Woo akan bangun. Gang Mo harus secepatnya menyelesaikan misi mereka.

Min Woo bangun dan menyadari bahwa akunnya menghilang.
"Ayah, apa kau melihat akunku?" tanya Min Woo.
"Akun?" tanya Pil Yeon.
"Akun apa?" tanya Sung Mo pura-pura tidak tahu. "Mungkin terjatuh di kamarmu."
"Aku sudah mencari dimana-mana dan tidak menemukannya." kata Min Woo.
"Mungkin terjatuh di mobil." kata Pil Yeon.
Jae Chun memberikan kunci mobil pada Min Woo.

Gang Mo mengendarai motornya dan membobol mobil Min Woo lagi untuk mengembalikan akun yang telah kosong.
Disisi lain, Min Woo berjalan cepat menuju mobil.
Gang Mo berhasil membuka kunci mobil, melempar akun Min Woo kedalamnya lalu bergegas pergi.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda