Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Giant Episode 34

Saturday, June 11, 2011

Sinopsis Giant Episode 34


Min Woo lega menemukan akunnya terjatuh di mobil.

"Kakak!" panggil Gyeong Ja panik. "Direktur Hwang Tae Sub menghilang!"
"Apa?!" seru Gang Mo.
"Tidak mungkin ia melarikan diri sendiri dalam kondisi seperti itu." kata So Tae.
"Cari tahu apa yang terjadi." perintah Gang Mo pada Sideok. "Cari tahu siapa yang membawanya pergi dan kenapa."
"Kenapa kau tidak bisa mengizinkan kami melanjutkan pembangunan apartemen Songpa?" tanya Jung Yeon pada Myeong Seok.
"Kelihatannya seseorang di posisi yang tinggi menentang." jawab Myeong Seok.
"Siapa dia?" tanya Jung Yeon.
"Aku tidak bisa mengatakannya." kata Myeong Seok. "Situasi ini sulit berhubungan dengan kampanye pembangunan Gangnam."
"Pasti Lee Gang Mo." gumam Jung Yeon.
"Presiden Lee tidak memiliki pengaruh sebesar itu." kata Myeong Seok.
"Aku kenal dia." kata Jung Yeon yakin. "Dia satu-satunya orang yang sanggup melakukan ini. Dia pasti punya koneksi."
"Aku mencurigai orang lain." ujar Myeong Seok. "Jika aku sudah punya bukti, aku akan memberitahukannya padamu."

Tae Sub menjalani perawatan akupuntur.
Entah siapa yang merawatnya.

Dari percakapan Min Woo dan Pil Yeon, Sung Mo tahu bahwa Nam Suk telah mengubah surat wasiat. Mereka akan membuat Jung Yeon jatuh dan Jeong Shik-lah yang menggantikan tempatnya.
Sung Mo menceritakan masalah itu pada Gang Mo.
"Uang yang kita ambil dari mereka bahkan tidak mencapai setengah dari total dana rahasia mereka." kata Sung Mo. "Mereka akan segera menjual sisa lahan dan meraup banyak uang."
"Dan aku yakin mereka tidak akan menggunakan akun yang sama." kata Gang Mo.
"Kelihatannya begitu." ujar Sung Mo. "Aku akan mencari tahu mengenai akun mereka yang lain."
"Mereka akan segera tahu bahwa aku mengambil uang mereka." kata Gang Mo. "Berhati-hatilah, Kak. Jika kita berhasil mendapatkan semua akun mereka, bahkan Jo Pil Yeon tidak akan mampu mengendalikan Manbo."

Min Woo datang ke bank dan terkejut melihat akunnya kosong.
"Penarikan dana dilakukan sesuai dengan prosedur." kata pihak bank.
"Itu tidak masuk akal!" seru Ketua Moon. "Kami memiliki buku dan segelnya."
"Itulah yang ingin aku tanyakan pada kalian." ujar pihak bank.
"Bisakah aku melihat rekaman CCTV hari itu?" tanya Min Woo.

Min Woo melihat rekaman CCTV.
Gang Mo terekam disana.
Gang Mo sudah bisa menebak kalau Min Woo pasti akan melihat rekaman CCTV.
"Jo Min Woo, lihatlah baik-baik." kata Gang Mo dalam CCTV.
"Apa Anda mengenalnya?" tanya pihak bank. "Apakah kami harus memanggil polisi?"
"Tidak perlu." jawab Min Woo. "Dia salah satu pegawai kami."
Min Woo tidak bisa berbuat apa-apa karena jika melapor polisi, ia juga yang akan susah.

Pil Yeon curiga ada seorang pengkhianat diantara mereka karena akun Min Woo hilang pada saat yang sama ketika Gang Mo menarik dana.
"Yang tahu mengenai akun itu hanya kau, aku, Kak Sung Mo, Kak Jae Chun dan Ketua Moon." kata Min Woo, berpikir. "Tidak mungkin Ketua Moon. Ia tidak akan bertindak sejauh ini hanya untuk mencuri uang. Kak Sung Mo juga tidak mungkin melakukan ini."
"Begitu juga dengan Jae Chun." tambah Pil Yeon. "Kita harus segera membereskan Lee Gang Mo. Min Woo, kau tahu bagaimana caranya menjebak musuh? Pancing mereka ke tempat terpercaya yang tidak mungkin mereka curigai."

Pil Yeon memerintahkan Sung Mo membereskan gadis yang disukai Min Woo.
"Kelihatannya Min Woo sangat menyukainya." kata Sung Mo.
"Jika kau peduli pada Min Woo, pisahkan mereka." kata Pil Yeon.
"Siapa perempuan itu?" tanya Sung Mo. "Aku harus tahu seperti apa dia..."
"Besok." potong Pil Yeon. "Ketua Moon akan menarik dana rahasia kita untuk dialihkan ke akun bank Swiss. Aku akan memberitahukan detailnya padamu saat itu. Ah, jangan lupa besok pagi datang ke kantorku untuk membicarakan wanita itu."

Sung Mo kelihatan berpikir keras dan mencurigai sesuatu mengenai Pil Yeon.

"Besok?" tanya Gang Mo. "Ini lebih mudah dari yang kuperkirakan."
"Kurasa ini terlalu mudah." kata Sung Mo curiga.
"Jangan cemas, Hyun." Gang Mo menenangkan.
"Aku tidak masalah, tapi aku takut terjadi sesuatu padamu." ujar Sung Mo. "Berhati-hatilah, Gang Mo."
Gang Mo tersenyum menenangkan.

Gang Mo memerintahkan So Tae dan Sideok untuk mengawasi gerak-gerik Ketua Moon.
"Ketua Moon akan menarik sisa dana rahasia Jo Min Woo besok pagi." kata Gang Mo.
"Jadi kita akan merebut dari mereka?" tanya So Tae. "Melakukan itu di pagi hari..."
"Ketua Moon memiliki akun dan segel." ujar Gang Mo. "Jika kita bisa mendapatkannya, permainan akan berakhir untuk sementara waktu."
So Tae dan Sideok terlihat ragu.
"Jangan cemas." kata Gang Mo menenangkan. "Walaupun mereka tahu siapa yang melakukannya, mereka tetap tidak akan bisa melapor ke polisi."

Keesokkan harinya, Sung Mo datang ke kantor Pil Yeon sesuai janji.
"Masuklah, Sung Mo." kata Pil Yeon mempersilahkan.
"Bisakah kita langsung pada pokok permasalahan?" pinta Sung Mo. "Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu padaku mengenai kekasih Min Woo?"
Telepon berdering. Min Woo bicara dari seberang saluran dan mengatakan kalau Ketua Moon sudah berangkat.
Pil Yeon menutup telepon. "Lee Gang Mo akan tertangkap hari ini." katanya.
"Apa maksudmu?" tanya Jae Chun.
"Walaupun Lee Gang Mo merampas uang itu dari Ketua Moon, ia tidak akan menyentuh uangku." ujar Pil Yeon. "Ia akan melakukan tindak kejahatan dengan mencuri dana rahasia presiden. Hanya butuh waktu dua jam untuk menyelesaikan semua ini. Jadi aku ingin kalian tetap berada di ruangan ini."
"Maksudmu, kau mencurigai Sung Mo dan aku?" tanya Jae Chun.
"Jika Lee Gang Mo berusaha mencuri uang itu hari ini, berarti memang ada pengkhianat di antara kita." kata Pil Yeon.
Sung Mo terlihat cemas.

Di sisi lain, Gang Mo, So Tae dan Sideok membuntuti Ketua Moon.
Pil Yeon mengawasi tindak-tanduk Sung Mo dan Jae Chun.
Setelah bermain catur, Jae Chun tertidur.
Sung Mo berjalan perlahan menuju jendela.
Dibawah, Chan Seong menunggu di mobil.
"Chan Seong, lihat aku." gumam Sung Mo dalam hati. "Tolong lihat aku!"
Beberapa saat kemudian, tanpa sengaja Chan Seong mendongak dan melihat Sung Mo.

Sung Mo berusaha memberi petunjuk dengan isyarat.
Chan Seong mengeluarkan kameranya untuk melihat Sung Mo lebih jelas. Ia lalu menulis setiap kode yang diberikan Sung Mo.
Mendadak Pil Yeon menyentuh pundak Sung Mo.
Sung Mo berpura-pura memijit keningnya.
"Lelah?" tanya Pil Yeon.
"Sedikit." jawab Sung Mo.
"Hanya tinggal 1 jam lagi." Pil Yeon melihat ke bawah.
Chan Seong berpura-pura tidur. Setelah Pil Yeon pergi, Chan Seong menerjemahkan pesan Sung Mo.
"Jebakan". Itulah isi pesannya.

Ketua Moon melewati jalan yang sepi.
"Ini saatnya!" seru Gang Mo.
Sideok menginjak pedal gas hingga full. Mendadak, sebuah mobil menghalangi jalan mereka.
Sideok buru-buru menginjak rem untuk menghindari kecelakan. Namun terlambat, mereka bertabrakan dengan mobil tersebut.
Chan Seong keluar dari mobil tersebut dan mendekati Gang Mo.
"Ini jebakan!" seru Chan Seong.
Gang Mo dan yang lainnya terkejut.

Telepon berdering di kantor Jo Pil Yeon. Setelah bicara sebentar, Pil Yeon menutup telepon.
"Aku memperoleh informasi bahwa Ketua Moon berhasil mentransfer uang itu." katanya pada Sung Mo dan Jae Chun. "Aku tidak tahu bagaimana Lee Gang Mo bisa mengambil ang itu, tapi sekarang sudah jelas bahwa tidak ada mata-mata diantara kita."

Gang Mo duduk sendirian di restoran, menunggu kedua saudaranya.
"Tebak siapa!" seru Mi Joo, menutup mata Gang Mo.
"Lee Mi Joo." jawab Gang Mo.
"Selamat, Kak!" kata Mi Joo. "Kudengar bisnismu berjalan lancar."
"Kau sudah menyiapkan satu apartemen untuk Mi Joo, bukan?" tanya Sung Mo pada Gang Mo.
"Jangankan satu apartemen, aku akan menuruti semua yang diminta adik bungsu kita." jawab Gang Mo.
"Katakan keinginanmu, Mi Joo." ujar Sung Mo.
Mi Joo cemberut. "Yang bungsu bukan aku, tapi Jun Mo." katanya sedih. "Kalian mengatakan itu, aku jadi sedih."

"Aku sudah mengirim orang untuk mencari Jun Mo di Amerika." kata Sung Mo. "Mungkin membutuhkan waktu lama, tapi kita akan menemukannya."
Mi Joo menghapus air matanya. "Jika kita menemukannya, aku akan memperlakukannya 10 kali.. tidak ratusan kali lebih baik dibanding aku memperlakukan kalian."
Sung Mo tersenyum. "Mau menyanyi di panggung?" tanyanya.
"Disana?" gumam Mi Joo ragu. Namun akhirnya ia naik ke atas panggung dan menyanyi.

Sambil mendengar Mi Joo bernyanyi, Gang Mo teringat masa lalunya bersama Jung Yeon.

Di sisi lain, Min Woo sedang menunggu Mi Joo pulang.
"Ini sudah jam 10 lewat." gumam Min Woo, melihat jam tangannya. "Kemana dia pergi?"

Mi Joo pulang bersama Sung Mo dan Gang Mo.
Mendadak Mi Joo mengeluh kakinya sakit. "Mungkin aku terlalu tegang saat menyanyi tadi." katanya.
Gang Mo dan Sung Mo menawarkan punggung mereka. "Biar kugendong." kata mereka bersamaan.
Mendadak, Gang Mo teringat sesuatu. "Kak, apakah kau sudah memasukkan dompetmu setelah selesai membayar?" tanyanya.
Sung Mo memeriksa saku jas dan celananya.
"Aku ingat kau menjatuhkan dompetmu saat berjalan keluar." kata Gang Mo.
Sung Mo terlihat malas untuk kembali ke restoran.
Gang Mo tertawa melihat kepergian Sung Mo dan menunjukkan dompet Sung Mo pada Mi Joo.
Mi Joo naik ke punggung Gang Mo.
"Kakak!" panggil Mi Joo pada Sung Mo seraya menunjukkan dompet itu.
Karena lelah menunggu, Min Woo pulang.
Satu detik kemudian, Mi Joo dan kedua kakaknya tiba di rumah Mi Joo.
"Kak, maafkan aku." kata Gang Mo. "Aku membuatmu dalam bahaya."
"Tidak apa-apa, asal kau selamat." ujar Sung Mo. "Tapi untuk apa kau menginginkan uang mereka?"
"Jo Min Woo akan mulai membeli saham Manbo." jawab Gang Mo.
"Jadi, kau tidak ingin menggunakan uang itu untuk menbangun apartemen melainkan ingin membeli saham Manbo?" tanya Sung Mo. "Kenapa kau terburu-buru? Kau belum cukup kuat..."
"Itulah yang selalu dilakukan Direktur Hwang." jawab Gang Mo. "Ketika musuhmu berada di atas angin, tusuk dia tanpa belas kasihan. Sebelum Jo Min Woo menusuk mereka, aku harus mendahuluinya."

Keadaan Manbo makin buruk, begitu juga posisi Jung Yeon. Para pemegang saham terus memojokkan Jung Yeon.
Jung Yeon hanya bisa berjanji bahwa konstruksi akan dimulai kembali dan meminta para pemegang saham agar percaya padanya.

"Kau berhasil meyakinkan para pemegang saham, namun aku tidak melihat situasi menjadi membaik." ujar Gyeong Ok pada Jung Yeon setelah semua pemegang saham keluar dari ruangan.
"Komisioner Han mengatakan bahwa seseorang sengaja mengulur waktu." kata Jung Yeon.
"Maksudmu adalah Presiden Lee Gang Mo?" tanya Gyeong Ok.
Jung Yeon terdiam.
"Apakah Direktur Hwang baik-baik saja?" tanya Gyeong Ok. "Kudengar ia menghilang. Aku tahu kaulah yang mengeluarkan dia."
"Siapa yang mengatakan itu?" Jung Yeon terkejut.
"Jadi bukan kau?! Lalu siapa?"

Setelah menjalani beberapa perawatan, kondisi Tae Sub mulai membaik.

Baekpa, Hong Gi, Pil Yeon, Byeong Tak dan Myeong Seok mengadakan pertemuan di Royal Club. Tidak lama kemudian, Gang Mo juga datang.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Pil Yeon.
"Aku yang mengundangnya." jawab Baekpa.
"Apakah ia pantas berada disini?!" tanya Pil Yeon merendahkan.
"Baekpa adalah salah satu pemegang saham perusahaanku." ujar Gang Mo tenang.
Baekpa mengangguk.
Gang Mo berterima kasih pada Byeong Tak karena telah memberikan izin mendirikan apartemen padanya.
"Kau harus berterima kasih pada Min Hong Gi." ujar Byeong Tak.
"Kudengar bisnis Hangang maju pesat." kata Hong Gi. "Kami sangat berharap pada apartemen barumu."

Gang Mo tersenyum. "Aku tidak akan mengecewakan Anda." janji Gang Mo.
Pil Yeon kelihatan kesal. "Kau sangat hebat bisa memiliki koneksi seperti ini." ujarnya tajam.
"Tuan Jo Pil Yeon memberikan banyak uang padaku." kata Gang Mo pada Baekpa.
"Maksudmu, ia berinvestasi di Hangang?" tanya Myeong Seok, terkejut.
Gang Mo tersenyum menang. "Bukan investasi." jawabnya. "Aku mempersilahkan Tuan Jo Pil Yeon untuk memberi tahu kami yang apa itu."
Gang Mo mengancam Pil Yeon secara halus.

Nam Suk dan Jeong Shik memutuskan bahwa mereka akan mengumumkan surat wasiat Tae Sub.
"Bagaimana mungkin kau mengumumkan surat wasiat ayahku padahal ia belum mati!" seru Jung Yeon marah.
"Kau tidak tahu apakah ia masih hidup atau sudah mati!" kata Nam Suk.
"Ayahku masih hidup." ujar Jung Yeon tegas. "Bagaimana bisa kau memutuskan ia sudah mati tanpa bukti?"
Beberapa saat kemudian ibu Gyeong Ja datang. "Ada surat dari Direktur Hwang!" serunya.
Jung Yeon, Nam Suk dan Jeong Shik terkejut. Mereka saling berebut surat.
Jung Yeon menarik surat itu terlebih dulu. "Ini untukku." katanya.

"Jung Yeon, aku belum mati." ujar Tae Sub dalam suratnya. "Aku masih hidup dan sehat. Tapi ibu tirimu mengubah surat wasiatku. Semuanya adalah konspirasi untuk menyerahkan semua harta dan perusahaanku pada Jeong Shik. Jangan pernah berikan semua itu pada mereka. Kau harus melindungi perusahaan."
Nam Suk merobek-robek surat Tae Sub.
"Aku yakin ayah akan datang dalam pertemuan itu." kata Jung Yeon yakin.
Setelah Jeong Shik dan ibunya pergi sambil marah-marah, Jung Yeon menangis.

Pil Yeon mengajak Mi Joo bertemu.
Pil Yeon dan Sung Mo menunggu Mi Joo di restoran.
"Dia akan datang sebentar lagi." kata Pil Yeon.
"Tapi kelihatannya Min Woo sangat menyukai gadis itu." kata Sung Mo.
"Gadis itu tidak pantas untuk Min Woo dari segi apapun." ujar Pil Yeon merendahkan. "Dia hamil. Kurasa, kaulah satu-satunya orang yang bisa membujuk Min Woo. Bawa gadis itu ke rumah sakit dan tetaplah disana sampai aborsinya selesai."
Sung Mo pergi ke toilet sebentar. "Jo Min Woo, malang sekali nasibmu." gumamnya.
Sung Mo kembali ke tempat Pil Yeon. Ia sangat terkejut melihat gadis yang ada di hadapan Pil Yeon. Gadis itu tidak lain adalah Mi Joo, adik kandungnya sendiri.
Sung Mo mengepalkan tangannya erat.

Pil Yeon menyerahkan akun bank pada Mi Joo.
"Aku sudah mengisi akun ini dengan uang." kata Pil Yeon. "Aku harap kau secepatnya menikah dengan orang lain."
"Apa maksudmu?" tanya Mi Joo.
"Pergi dari kehidupan Min Woo." ujar Pil Yeon tajam. "Aku tidak punya keinginan sedikitpun untuk menerimamu sebagai menantuku."

"Aku tidak bisa meninggalkan Min Woo." jawab Mi Joo, mendorong akun itu menjauh. "Jika ada yang kurang pada diriku, aku akan berusaha memperbaikinya, Ayah. Aku tulus mencintai Min..."
"Mulanya aku pikir kau hanya gadis tidak terpelajar." potong Pil Yeon. "Tapi kau lebih buruk dari itu. Jika kau benar-benar mencintai Min Woo, maka tinggalkan dia. Nanti akan ada orang yang mengurus segalanya. Lakukan apa yang ia perintahkan."
Dari jauh, Sung Mo menahan kemarahannya.
"Ayah, kumohon..." tangis Mi Joo.
Pil Yeon menyerahkan akun itu ke tangan Mi Joo. "Kau harus menghabiskan sisa hidupmu dengan berpura-pura mati. Jika kau berani muncul lagi di hadapanku atau Min Woo, mungkin kau tidak perlu berpura-pura mati lagi." ancamnya tajam.
Setelah Pil Yeon pergi, Sung Mo mendatangi Mi Joo.

Sung Mo menelepon Gang Mo dan mengatakan bahwa Mi Joo memiliki hubungan khusus dengan Min Woo.
"Aku akan menceritakan detailnya nantu." kata Sung Mo.

"Kau hamil!" seru Sung Mo marah pada Mi Joo.
"Aku... hamil?" tanya Mi Joo terkejut. "Aku akan punya bayi?"
"Ayah Min Woo mengirimku agar kau bisa aborsi." kata Sung Mo, menangis.

Sung Mo membawa Mi Joo ke apartemen Gang Mo.
"Aku tidak bisa meninggalkan Min Woo!" seru Mi Joo, memaksa pergi untuk menemui Min Woo.
"Kau harus meninggalkannya, Mi Joo!" teriak Sung Mo.
"Lalu bagaimana dengan bayiku?!"
Gang Mo terkejut mendengar perkataan Mi Joo.
"Relakan bayi itu." ujar Sung Mo.
"Aku percaya pada Min Woo." seru Mi Joo. "Ia akan menyelesaikan semuanya."
"Tidak ada yang bisa diselesaikan oleh Min Woo!" seru Sung Mo.
"Min Woo benar-benar mencintaiku. Ia tidak bisa hidup tanpaku. Jika ia tahu aku hamil, ayah akan..."

"Jangan sebut dia seperti itu!" bentak Gang Mo. "Jangan pernah memanggil bajingan itu 'Ayah' lagi!"
"Kami tidak bisa menerima kau dan Min Woo bersama." ujar Sung Mo.
"Kenapa dengan kalian?!" teriak Mi Joo. "Kenapa kami tidak boleh bersama?!"
"Karena ayah kita!" seru Gang Mo. "Dibunuh oleh Jo Pil Yeon."
"Apa? Ayah Min Woo..."
"Saat di Busan... orang-orang yang berusaha membunuh kita semua dikirim oleh Jo Pil Yeon." kata Sung Mo.
"Dan kau tahu dengan pasti, bagaimana ibu kita tewas karena mereka." tambah Gang Mo.
Mi Joo jatuh pingsan.

Gang Mo membaringkan Mi Joo di ranjang. Ia melihat adiknya dengan sedih, kemudian beranjak pergi dengan emosi memuncak.
"Mau kemana kau?" tanya Sung Mo, menarik lengan Gang Mo.
"Aku ingin membunuh Jo Min Woo." jawab Gang Mo.
"Gang Mo!" Sung Mo menghalangi Gang Mo.
"Apa kau tahu bagaimana aku dan Mi Joo tumbuh?!" seru Gang Mo. "Apa kau tahu bagaimana rasanya setelah kehilangan dia?! Kau tidak tahu!"
"Tenanglah, Gang Mo." Sung Mo berusaha menenangkan adiknya. "Jika ada orang yang akan membunuhnya, maka orang itu adalah aku. Tenanglah, Gang Mo."
Gang Mo menangis keras.

Tae Sub berusaha memulihkan kondisinya secara sempurna. Ia terus berlatih dan berlatih menggerakkan anggota tubuhnya.
"Kau harus bangkit." ujar Tae Sub pada dirinya sendiri. "Bangun dan selamatkan perusahaanmu! Demi Jung Yeon, kau harus bangkit."
Min Woo menunggu di depan rumah Mi Joo, namun Mi Joo tak juga muncul.
Di lain sisi, Sung Mo berusaha menyuapi Mi Joo. Mi Joo menolak untuk makan. Ia menangis.
Sung Mo memeluk adiknya.

Mi Joo menangis terus di kamar. "Bayi..." tangisnya. Ia harus siap kehilangan bayinya.
Gang Mo merasa kasihan pada Mi Joo dan memeluknya.
Mi Joo menulis sebuah surat dan meminta kakaknya meletakkan surat tersebut di rumahnya.

Ketika Min Woo masuk ke rumah Mi Joo, rumah itu sudah kosong.
"Min Woo, jangan mencariku lagi." kata Mi Joo dalam suratnya. "Kita tidak bisa kembali seperti dulu. Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa. Akulah yang salah, jadi aku harus meninggalkanmu. Kau pernah mengatakan bahwa kau tidak akan memaafkanku jika aku meninggalkanmu untuk ketiga kalinya, kan? Kau tidak perlu memaafkan aku. Kuharap kau bahagia, Min Woo."
"Lee Mi Joo!" teriak Min Woo.
Min Woo sangat marah pada kedua orang tuanya.
Pil Yeon mengatakan pada Min Woo bahwa Mi Joo punya lelaki lain selain Min Woo.
"Kau pikir aku akan percaya?!" seru Min Woo marah.
Tidak lama, Sung Mo menelepon dan mengajak Min Woo bertemu.

Sung Mo menyiapkan pistolnya.
"Kalian akan mati." kata Sung Mo. "Jo Pil Yeon, Jo Min Woo, aku akan membunuh mereka."
"Ada apa?" tanya Chan Seong.
"Mi Joo... satu-satunya alasanku untuk hidup... Mereka mengambilnya dariku." jawab Sung Mo. "Aku sudah tidak punya keinginan untuk hidup lebih lama lagi di dunia ini."
Sung Mo menemui Min Woo di atap sebuah gedung.
"Dimana Mi Joo?" tanya Min Woo. "Apa yang kau lakukan padanya..."
Tanpa berkata apa-apa, Sung Mo langsung menghajar Min Woo habis-habisan.
"Apa aku terlihat menyedihkan di matamu?" tanya Min Woo. "Tapi, tanpa Mi Joo, aku..."

Sung Mo memukul Min Woo lagi dan mencekiknya.
"Bunuh saja aku, Kak.." kata Min Woo. "Jika kau tidak ingin memberitahu dimana Mi Joo, bunuh saja aku. Tanpa dia... hidupku... tidak berarti... Aku ingin mati..."
Min Woo menangis.
Sung Mo teringat masa lalunya bersama Min Woo, juga perkataan Mi Joo bahwa Min Woo sangat mencintainya dan tidak bisa hidup tanpanya.
Sung Mo melepaskan Min Woo. Ia tidak sanggup membunuh Min Woo.

Gang Mo mengantar Min Woo melakukan aborsi di rumah sakit.
Mi Joo kelihatan sangat sedih dan tertekan.
"Tunggu!" seru Mi Joo ketika dokter sudah siap melakukan aborsi. "Aku tidak akan melakukan ini."
Mi Joo lalu melarikan diri.

Beberapa saat kemudian, dokter keluar.
"Bagaimana operasi Lee Mi Joo?" tanya Sung Mo pada Dokter.
Dokter mengatakan bahwa Mi Joo membatalkan aborsinya.
Gang Mo dan Sung Mo keluar untuk mencari Mi Joo, namun Mi Joo sudah tidak ada.
Saat itu, Mi Joo sudah berada di dalam taksi. "Maafkan aku, Kakak!"

4 comments:

mie rf said...

kasihan bgt ma minmi couple.
TT.TT

hikaru yamashita said...

waah kompleks bgt critanya...hmmm kaka mau tanya, giant ini brapa episode yah?

princess-chocolates.blogspot.com said...

sampai 60 episode, hikaru..

vanilaeru said...

kasian liat min woo..
orang tuanya diktator banget. hiks!
penasaran siapa yang bawa Direktur Hwang :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda