Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Giant Episode 35

Saturday, June 11, 2011

Sinopsis Giant Episode 35

Mi Joo menelepon Sung Mo dan Gang Mo. Gang Mo yang mengangkat telepon.
"Maaf, Kak." kata Mi Joo. "Aku sudah membuatmu sangat marah, kan?"
"Tidak Mi Joo." jawab Gang Mo. "Kau tidak membuat kami marah."
Sung Mo mengambil telepon dari tangan Gang Mo.
"Mi Joo, dimana kau?" tanyanya. "Kami akan segera menjemputmu kesana."
"Beri aku sedikit waktu." kata Mi Joo.
Sung Mo meminta maaf karena telah membuat Mi Joo bingung dan takut karena semua berita mengejutkan mengenai ayah mereka.
Mi Joo berjanji akan segera pulang beberapa hari lagi setelah menenangkan diri.

Min Woo merasa sangat marah pada Min Woo.
"Jo Min Woo bajingan! Aku tidak akan melepaskannya!" seru Gang Mo.
"Mereka hanya saling jatuh cinta." kata Sung Mo menenangkan. "Demi Mi Joo, lebih baik lupakan semuanya."

Seseorang menulis surat atas nama Tae Sub, lalu mengirimkan surat-surat itu kepada semua pemegang saham.
Dalam surat tersebut, Tae Sub mengatakan bahwa keadaannya sudah lebih baik dan meminta pemegang saham untuk membatalkan pertemuan. Jika Tae Sub sudah benar-benar sembuh, ia akan menemui mereka dan mengadakan pertemuan.

Nam Suk tetap tidak percaya kalau Tae Sub sudah sembuh.
"Jika ia memang benar-benar sembuh, ia akan pulang dan tidak hanya mengancam kita semua dengan surat seperti ini." ujar Nam Suk.
Telepon berdering.
Supir Tae Sub mengangkat telepon.
"Ah, Direktur Hwang!" seru supir kaget.
Nam Suk langsung merebut telepon.
"Halo? Apa ini benar-benar kau?" tanya Nam Suk. "Katakan sesuatu!"
Tidak ada suara dari seberang.

Yang sesungguhnya, kondisi Tae Sub memang lebih membaik, namun ia masih belum bisa bicara.
Tae Sub hampir putus asa.
Perawat Kim menyuapinya, namun Tae Sub menolak untuk makan.

Pintu terbuka dan seorang pria masuk kedalamnya.
Pria itu mengambil mangkok bubur dan menyuapi Tae Sub.
Tae Sub membuka mulutnya dan makan.

Min Woo berusaha mencari tahu keberadaan Mi Joo.
Atas perintah Pil Yeon, Sung Mo mengikutinya.

Mi Joo duduk di tempat dimana dulu ia pernah berkencan dengan Min Woo.
"Berkat kau, aku menemukan kebahagiaan." Mi Joo teringat Min Woo pernah berkata. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Demi mendapatkanmu, tidak ada hal yang tak bisa kulakukan."
Mi Joo menangis. Ia melepas cincin dan berniat membuangnya, namun membatalkan niatnya.

Tidak lama kemudian, Mi Joo melihat Min Woo berjalan tidak jauh dari tempatnya duduk. Saat itu Min Woo sedang mabuk berat.
Mi Joo buru-buru bersembunyi.
"Mi Joo! Lee Mi Joo!" teriak Min Woo. "Aku tidak bisa hidup tanpamu! Dimana kau sekarang?! Kenapa kau pergi?! Lee Mi Joo!"
"Aku tidak bisa bertemu denganmu lagi." ujar Mi Joo dalam hati, menangis. "Maafkan aku.. Maafkan aku.. Aku mencintaimu, Min Woo."
Pembangunan apartemen Hangang berjalan dengan lancar.
Gang Mo memperlakukan para pekerjanya dengan baik.
Di lain sisi, saham perusahaan Manbo terus menurun.
Gang Mo tidak tega melihat hal itu.
"Ini adalah saham Perusahaan Manbo yang kubeli dengan uang yang kau berikan padaku." kata Gi Hoon, menyerahkan dokumen pada Gang Mo.
"Terima kasih." kata Gang Mo.
"Tapi, kenapa kau membeli banyak sekali saham atas nama Hwang Tae Sub?" tanya Gi Hoon.
"Ceritanya panjang." jawab Gang Mo.

Para pemegang saham menunda pertemuan mereka.
"Kenapa kau menunda pertemuan?" tanya Pil Yeon pada Pengacara Kim.
Pengacara Kim memberi surat dari Tae Sub.
"Jika kau berani mengumumkan surat wasiat palsu itu, aku akan membunuhmu." ancam Tae Sub dalam suratnya.
"Apa benar ini tulisan tangan Hwang Tae Sub?" tanya Pil Yeon.
"Ya." jawab Pengacara Kim. "Aku sudah menyocokkannya dengan tulisan tangannya di surat wasiat asli. Memang itu tulisannya."

Pil Yeon merasa semua kejadian itu aneh. Ia lalu membawa surat Tae Sub ke seorang ahli tulisan tangan.
"Ini palsu." kata si ahli.
Pil Yeon tersenyum. "Aku tahu siapa yang membantu Hwang Tae Sub, tapi dia cukup cerdas."

Supir Tae Sub menelepon Gang Mo dari rumah sakit.
"Semuanya terkendali disini." katanya. "Jangan khawatir."
"Terima kasih atas bantuanmu, Paman." ujar Gang Mo. "Aku akan kesana sebentar lagi."
Rupanya orang yang menolong Tae Sub adalah Gang Mo.

Gang Mo menemui Tae Sub dan menyerahkan berkas saham yang berhasil dibelinya atas nama Tae Sub.
"Jo Pil Yeon mengambil properti yang kau miliki dengan diam-diam." kata Gang Mo. "Dan ini adalah saham yang kubeli dengan yang yang kucuri darinya. Jika kau merasa marah, maka bangkitlah. Lindungi Manbo dari Jo Pil Yeon."
Tae Sub menggeleng. "Gang Mo, semua sudah berakhir untukku." katanya dalam hati.
"Kau mungkin menyerah, tapi aku tidak akan menyerah!" seru Gang Mo. "Aku tidak akan membiarkan Jo Pil Yeon mengendalikan Manbo!"

Gang Mo membawa Tae Sub keluar dan menyuruhnya berlatih lagi.
"Jika kau ingin muncul dalam kondisi sehat, kau harus sepuluh kali, ratusan kali mengeluarkan banyak keringat dan air mata." kata Gang Mo menyemangati.

Gyeong Ok berhasil mengetahui kalau surat Tae Sub dikirim dari Gangnam. Ia memerintahkan anak buahnya mencari TaeSub di seluruh pelosok Gangnam.
Gyeong Ok membaca ulang surat Tae Sub dan mengatakan pada Jung Yeon bahwa surat itu palsu.
"Aku tidak tahu siapa yang membawa Direktur Hwang, tapi satu yang aku yakin. Orang itu ingin membantumu." kata Gyeong Ok pada Jung Yeon. "Apa kau bisa mengira siapa orang itu?"
"Aku sudah berpikir, namun tetap tidak terpikir siapa orang itu." jawab Jung Yeon. "Siapa orang yang berusaha menolongku?"

Sung Mo merasa curiga bahwa Gang Mo-lah orang yang sudah menolong Tae Sub.
"Aku tahu kau yang menolongnya." kata Sung Mo. "Hentikan sekarang juga."
Gang Mo tersenyum. "Bukan aku, Kak." jawabnya berbohong.
Sung Mo kelihatan tidak percaya.

"Apakah ada cara supaya konstruksi Manbo bisa dilanjutkan?" tanya Gang Mo pada Myeong Seok.
"Sangat mengejutkan. Kupikir kau dan Manbo adalah musuh." ujar Myeong Seok.
"Aku hanya ingin bersaing dengan mereka secara jujur." jawab Gang Mo.
"Menarik." kata Myeong Seok. "Hwang Jung Yeon kelihatannya percaya bahwa kaulah orang dibalik kegagalan pelanjutan konstruksi Manbo. Aku harus meluruskan kesalahpahaman ini."
"Tidak perlu." larang Gang Mo.

Gang Mo keluar dari ruangan Myeong Seok.
Di depan pintu, ia berpapasan dengan Jung Yeon.
"Pertempuran belum berakhir." kata Jung Yeon.
Sideok kesal. "Nona, Gang Mo adalah orang yang..."
Gang Mo melarang Sideok bicara.
"Sebaiknya kau bangun, Hwang Jung Yeon. " kata Gang Mo tenang. "Jangan biarkan orang lain mendapatkan Manbo sebelum aku menjatuhkanmu."
Gang Mo berjalan pergi.
Sideok tidak tahan untuk tidak bicara. "Nona, Jo Pil Yeon-lah orang yang menghambat kelanjutan pembangunan Manbo. Tanya saja pada Komisioner jika kau tidak percaya padaku."

Min Woo membuat hidupnya sendiri berantakan. Ia seperti kehilangan keinginan untuk hidup.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu mengatur hidupku lagi." kata Min Woo pada ayahnya.
Pil Yeon mengambil cermin dan menghadapkan cermin itu di depan wajah Min Woo.
"Lihat wajahmu!" serunya,
"Kenapa kau tidak lihat sendiri?" tanya Min Woo datar. "Lihatlah betapa kejam dan kejinya dirimu."
"Kau masih berpikir bahwa akulah orang yang menyebabkan kau kehilangan kekasihmu?" tanya Pil Yeon. "Yang kulakukan hanyalah melindungi putraku. Ada perbedaan diantara kita. Aku berhasil melindungimu dan kau kehilangan dia. Itu karena kau bukan tandinganku. Aku berharap suatu saat nanti orang yang menjatuhkan aku adalah kau, Min Woo. Jika kau kalah dariku, kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau inginkan sepanjang hidupmu."
Pil Yeon pergi.

Min Woo menangis. Ia bangkit dan menghancurkan semua barang di kamarnya.
Kasihan Min Woo. Stress kali ya punya ayah kayak gtu...
Min Woo teringat ketika Mi Joo menutup telinganya agar Min Woo merasa tenang.
Min Woo lalu menutup telinganya sendiri.
"Mi Joo... Mi Joo..." gumamnya pelan. "Mi Joo, maafkan aku karena aku tidak bisa melindungimu. Aku pasti akan menemukanmu lagi. Dan jika saat itu tiba, kau tidak boleh melihatku dalam kondisi seperti ini."


Mi Joo datang ke Jeju untuk menemui istri Hong Gi. Ia ingin menenangkan diri disana.

Dengan marah, Jung Yeon menemui Pil Yeon.
Tanpa mengatakan apapun, ia langsung menyiram wajah Pil Yeon.
"Sejak awal kau ingin memiliki Manbo." kata Jung Yeon. "Jangan membohongiku lagi. Komisioner Han sudah..."
"Manbo... sejak awal adalah milikku." ujar Pil Yeon tenang.
"Apa?"
"Dulu, demi menyelamatkan perusahaannya, Direktur Hwang membunuh ayah Lee Gang Mo dan mencuri batangan emas." kata Pil Yeon bercerita. "Dan apa kau tahu? Batangan emas itu adalah milikku. Aku menggunakan emas itu untuk menyelamatkan Manbo. Lalu, ayahmu berjanji bahwa ia akan mengabdi padaku sepanjang hidupnya. Karena itulah ia memberikan segalanya untuk membantuku. Kau mengerti sekarang? Manbo akan dikembalikan pada pemilik yang sebenarnya."
Jung Yeon kelihatan terpukul. "Aku tidak akan membiarkan hal itu." katanya. "Aku tidak akan pernah membiarkan kau dan putramu menyentuh Manbo. Ayahku belum mati. Tunggu saja, ia akan datang dan mengungkap segalanya."
Pil Yeon tertawa terbahak-bahak.

Gang Mo melatih Tae Sub.
Tae Sub belum juga bisa pulih sempurna. Ia terjatuh ketika sedang belajar berjalan dan putus asa.
"Bangun!" teriak Gang Mo. "Orang yang ingin kukalahkan di perusahaan M anbo adalah kau, bukan Pil Yeon! Biarkan aku mengalahkanmu dengan adil! Setelah kau mengambil ayah dan Jung Yeon dariku, paling tidak lakukan itu untukku!"
Tae Sub diam.
"Baik, menyerah saja!" teriak Gang Mo. "Aku tidak akan menemuimu lagi."
Gang Mo beranjak pergi.
Tae Sub bangkit lagi dan berusaha berjalan.
Gang Mo tersenyum. Ketika ia berbalik, Sung Mo muncul dihadapannya.

Keinginan Sung Mo adalah melenyapkan Tae Sub.
Namun Gang Mo menjelaskan pada kakaknya bahwa ia ingin menjatuhkan Manbo dengan tangannya sendiri dan tidak akan membiarkan Pil Yeon memiliki Manbo.
Sung Mo tidak setuju dengan Gang Mo.

Anak buah Gyeong Ok berhasil mengetahui keberadaan Tae Sub.
Gyeong Ok bergegas menemui Tae Sub.
Perlahan, Gyeong Ok masuk ke kamar Tae Sub dan langsung memeluknya.
"Terima kasih karena bertahan hidup." tangis Gyeong Ok. "Terima kasih."
Tidak lama kemudian, Gang Mo membuka pintu. Ia mendengar percakapan Gyeong Ok yang menyebutkan bahwa Jung Yeon adalah putri kandung Gyeong Ok dan Tae Sub.

"Siapa yang telah menolongmu?" tanya Gyeong Ok pada Tae Sub. "Bisakah kau menuliskan namanya?"
Tae Sub memandang lurus ke belakang Gyeong Ok.
Gyeong Ok menoleh dan terkejut melihat Gang Mo.

"Jung Yeon telah mencarimu selama bertahun-tahun." kata Gang Mo. "Kenapa tidak kau katakan padanya bahwa kau adalah ibunya?"
"Jung Yeon tidak boleh tahu kalau aku ibunya." jawab Gyeong Ok.
"Berjanjilah kau tidak akan memberi tahu siapapun bahwa aku menolong Direktur." kata Gang Mo.
Mendadak, Sideok datang berlari-lari dan melapor kalau para pemegang saham akan mengadakan pertemuan sesuai dengan waktu yang dijadwalkan. Mereka sudah tahu kalau surat Tae Sub palsu.
"Ini gawat." kata Gyeong Ok. "Dia belum bisa berkomunikasi. Satu-satunya jalan adalah membiarkan Jung Yeon bertemu dengannya."
"Telepon dia." kata Gang Mo setuju.

Gang Mo meminta Tae Sub agar tidak memberitahu Jung Yeon bahwa dialah yang telah menolong Tae Sub.
Ketika Gang Mo hendak pergi, Tae Sub bersuara. Ia menunjuk kertas dan pulpen.
Gang Mo mengambilkan kertas dan pulpen di meja.
"Yang..." Dengan susah payah, Tae Sub berusaha menuliskan kata Yangsuri. Yangsuri adalah nama tempat dimana Dae Soo dikuburkan.
"Jangan dipaksa." kata Gang Mo, mengambil pulpen dan kertas dari tangan Tae Sub. "Jika kau sudah sembuh, aku akan datang padamu."
Tae Sub berusaha mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.
"Jung Yeon akan segera datang. Aku harus pergi." kata Gang Mo.

Jung Yeon datang berlari-lari dan memeluk ayahnya sambil menangis.
"Ini bukan mimpi, kan Ayah?" tangisnya.
Gang Mo melihat mereka dari pintu.

Gyeong Ok menawarkan pada Jung Yeon sebuah apartemen miliknya. Disana, Tae Sub bisa melanjutkan latihannya.

Hari pertemuan para pemegang saham.
Tae Sub belum juga bisa bicara.

"Untuk apa kau disini?" tanya Jeong Shik ketika melihat Gang Mo datang ke pertemuan.
"Aku membeli beberapa saham Manbo." jawab Gang Mo. "Jadi, kalian akan mengumumkan pemimpin Manbo yang baru?"
"Kenapa? Kau ingin memberi selamat padaku?"
Gang Mo tersenyum. "Tidak." jawabnya. "Aku adalah orang yang akan menjatuhkan Manbo. Jadi aku ingin tahu siapa yang mendapat kehormatan untuk itu."
Gang Mo berjalan pergi.
"Jika aku sudah menjadi pemimpin Manbo, kau yangakan kusingkirkan terlebih dulu." gumam Jeong Shik.

Pengacara Kim mengumumkan surat wasiat Tae Sub.
"Aku, Hwang Tae Sub, akan menyerahkan semua saham perusahaanku pada putraku Hwang Jeong Shik." kata Pengacara. "Semua harta benda dan properti yang kumiliki akan jatuh ke tangan istriku, Oh Nam Suk. Karena Hwang Jeong Shik memiliki saham terbesar, maka ia akan diproklamirkan menjadi pemimpin Manbo yang baru."

Para pemegang saham riuh.
"Apapun isi surat wasiat itu, bukankah seharusnya Hwang Jung Yeon yang menjadi penerus Manbo?" tanya Park Gidong.
"Keputusan ini tidak akan berubah." kata Nam Suk.
Jeong Shik dipersilahkan bicara di podium sebagai pemimpin Manbo yang baru.
Ketika sedang berpidato, mendadak pintu terbuka.
Jung Yeon mendorong kursi roda Tae Sub, masuk ke dalam ruangan.

Jung Yeon membantu Tae Sub naik ke atas panggung.
"Seperti yang kalian lihat, Pemimpin Perusahaan Manbo masih sehat." kata Jung Yeon dari podium. "Direktur Hwang bertanya pada pengacara kenapa surat wasiat yang diumumkan hari ini sangat berbeda dengan yang ia tulis? Mungkinkah pengacara dan Oh Nam Suk bekerja sama untuk merubah surat wasiat tersebut?"


Nam Suk bangun dari duduknya dengan marah.
"Hentikan omong kosong ini!" serunya pada Jung Yeon. "Tidakkah seharusnya kita tanya sendiri pada Direktur Hwang apa yang ingin ia tanyakan?"
Nam Suk mendekati Tae Sub. "Apakah benar kau mengira aku dan pengacara mengubah surat wasiatmu?" tanyanya.
Tae Sub hanya diam.
"Lihat, dia tidak mengatakan apa-apa!" seru Nam Suk pada para pemegang saham. Ia bepaling pada Jung Yeon. "Apa kau begitu menginginkan kursi kepemimpinan Manbo?! Tidakkah kau merasa malu pada dirimu sendiri?! Tidakkah kau merasa bertanggung jawab karena kegagalan pembangunan apartemen..."

Tae Sub sangat marah mendengar Nam Suk mencaci-maki Jung Yeon. Ia berdiri dari duduknya.
"Mereka... memalsukannya!" teriak Tae Sub, menunjuk Nam Suk. "Kau... memalsukan... surat wasiatku! Aku... belum... mati... Hwang Tae Sub, baik-baik saja!"
Para pemegang saham bangkit dari duduknya dan bertepuk tangan.
"Ayah..." tangis Jung Yeon.
Gang Mo bangkit dari duduknya dan pergi sambil tersenyum.

3 comments:

Dian said...

Tambah keren nih gang mo...

Negeri Seribu Kata said...

Huhu,,, Gang Mo keren... Kasihan Mi-min couple... Hiks... T_T

yakuza_emina said...

ngebut dr semalam baru nyampe episode 35 p, hahahahaha ngebut bacanya jadi pengen lihat akting ahjusi lbs wkwkkw

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda