Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Giant Episode 36

Saturday, June 11, 2011

Sinopsis Giant Episode 36


Nam Suk ditangkap polisi atas tuduhan pemalsuan surat wasiat.

Pil Yeon marah besar mengetahui kedatangan Tae Sub.
"Dimana Min Woo pada saat seperti ini?!" serunya marah. "Karena satu wanita sialan, semua rencana hancur berantakan! Cepat cari Min Woo!"

Min Woo memerintahkan Ketua Moon untuk pergi dan bersembunyi. Jika Min Woo sudah berhasil mendapatkan Manbo, ia berjanji akan menghubungi Ketua Moon lagi.
Min Woo kemudian membersihkan diri dan mulai bangkit. Ia berencana membuat Manbo bangkrut. Jika Manbo sudah bangkrut dan menjadi miliknya, ia akan meneruskan pembangunan apartemen Songpa untuk menutupi kebangkrutan itu.
Pil Yeon tersenyum. "Seharusnya kau begini sejak awal."
"Semua ini bukan demi kau." kata Min Woo tenang. "Ini demi diriku sendiri dan Mi Joo. Aku akan mencarinya walau ke ujung dunia sekalipun."

Di penjara, Nam Suk disiksa oleh teman satu selnya karena bersikap angkuh.
Jung Yeon datang menemui Nam Suk di penjara.
"Ini adalah surat cerai." kata Jung Yeon. "Ayah mengatakan bahwa ingin bercerai denganmu. Rumah akan ia serahkan atas namamu dan kau masih memiliki saham perusahaan. Jika aku jadi ayah, aku akan mengambil semua yang kau miliki. Tapi ayah tidak berpikir sebaliknya. Prosedur perceraian akan dilakukan saat kau keluar dari penjara."
"Dia ingin bercerai?" tanya Nam Suk. "Aku juga menginginkannya."
"Terima kasih karena sudah setuju."
Setelah Jung Yeon keluar, Nam Suk menangis.
Tae Sub dibawa kembali ke rumah sakit.
Tae Sub menuliskan, "Pemakaman Umum Yang Suri, Lee Dae Soo."
Ia membisikkan sesuatu di telinga Jung Yeon. "Gang Mo... Lee Gang Moo.." ujarnya pelan.

Gang Mo memeriksa area konstruksi apartemen Gaepo. Disana, ia melihat seorang pekerja yang sedang kesulitan membopong semen.
"Biar kubantu." kata Gang Mo. Ia mengambil satu karung semen dan mengangkatnya.
"Presiden! Tunggu!" seru pekerja, ingin menghentikan Gang Mo. Namun Gang Mo cuek saja.
Melihat Gang Mo bekerja, para kontraktor jadi ikut bekerja juga.

"Kudengar rehab Direktur Hwang berjalan lancar." kata Gang Mo.
"Darimana kau tahu?" tanya Jung Yeon. "Aku sendiri baru mengetahui kalau ayahku melakukan rehab."
"Selamat." kata Gang Mo. "Karena berhasil melindung Manbo. Aku harus segera kembali. Apa yang ingin kau bicarakan?"
Jung Yeon menyerahkan kertas yang ditulis oleh Tae Sub pada Gang Mo. "Ayahku ingin aku memberikan ini padamu."
Gang Mo membaca kertas itu.
"Bolehkah aku bertanya siapa Lee Dae Soo?" tanya Jung Yeon.
"Kau tidak perlu tahu."
"Ayahku akan segera pergi ke Amerika untuk melakukan perawatan." kata Jung Yeon. "Aku hanya merasa kau perlu tahu."


Gang Mo mengajak Sung Mo ke makam ayah mereka.
"Itu ayah, Kak." tangis Gang Mo. "Kita sudah menemukannya."
Gang Mo menyentuh makan ayahnya dan menangis.
"Ayah, kau ada disini?" tanyanya. "Aku Gang Mo."
Sung Mo dan Gang Mo menangis, meminta maaf pada ayahnya karena tidak bisa melindungi semua anggota keluarga.

"Jadi selama ini Direktur Hwang menjaga makan ayah kita?" tanya Sung Mo. "Tapi aku tetap tidak akan memaafkannya setelah apa yang telah ia lakukan pada ayah kita."
"Demi aku, Jung Yeon merelakan semuanya." kata GangMo. "Keluarga, ambisi, semuanya. Dan orang yang sama kini berusaha balas dendam padaku. Akulah yang bertanggung jawab atas semua itu. Aku tahu kita harus membalaskan dendam keluarga kita, Kak. Tapi aku... aku..." Gang Mo menangis.
"Jangan diteruskan." potong Sung Mo. "Lupakan mengenai pembalasan dendam. Kau hanya perlu memajukan Hangang. Kau berhak melakukan itu."

Jung Yeon bertanya pada ayahnya, "Ayah, apakah selama ini, Gang Mo yang merawatmu?"
Tae Sub mengangguk.
Jung Yeon terkejut.
"Jung Yeon... kau salah paham." kata Tae Sub. "Gang Mo... menyelamatkan nyawaku."
"Apa maksudmu? Kau ingin mengatakan bahwa bukan dia yang berusaha membunuhmu?"
Tae Sub mengangguk. "Dan kita bisa melindungi perusahaan... semua berkat Gang Mo." katanya. "Sebelum aku pergi ke Amerika, aku ingin bertemu Gang Mo."

Jung Yeon sangat terpukul mengetahui semua kenyataan mengenai Gang Mo. Rupanya selama ini ia salah.
"Gang Mo..." tangis Jung Yeon. "Kenapa kita berakhir seperti ini. Aku sangat bodoh. Kenapa kau tidak membenciku? Maafkan aku, Gang Mo... Maaf... Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang harus kita lakukan, Gang Mo?"

Keesokkan harinya, Jung Yeon menjemput Gang Mo di area konstruksi.
"Ayah ingin bertemu denganmu."
"Aku tidak punya alasan untuk menemuinya." tolak Gang Mo.
"Aku sudah mendengar semuanya dari ayah." kata Jung Yeon, mendadak terdiam.
"Aku tidak bisa mengakan terima kasih dan tidak bisa juga mengatakan maaf." ujar Jung Yeon dalam hati. "Karena aku tahu itu hanya akan membuat keadaan lebih buruk untukmu."
"Jangan khawatir." kata Jung Yeon. "Aku tidak akan membiarkan Jo Pil Yeon dan putranya menguasai Manbo. Bukankah itu yang kau inginkan? Aku akan melindungi perusahaan dan bersaing secara adil denganmu."

Gang Mo datang ke rumah Tae Sub.
"Gang Mo, aku minta maaf." kata Tae Sub. "Maukah kau memaafkanku atas semua yang telah kulakukan? Ayahmu, Dae Soo... sudah seperti saudaraku sendiri. Aku membiarkan Jo Pil Yeon membodohiku dan hanya bisa melihat ketika ia membunuh sahabatku. Jika kau ingin aku membayar semuanya, aku akan menghabiskan sisa hidupku dalam keadaan seperti ini. Aku tidak akan mengeluh. Gang Mo, jika aku tidak mendapatkan maafmu, tidak ada artinya lagi aku hidup. Tolong maafkan aku..."

Tae Sub mengulurkan tangannya pada Gang Mo. Gang Mo meraihnya.
Tae Sub menangis.
"Pergilah ke Amerika dan kembalilah dalam keadaan sehat." ujar Gang Mo.
"Terima kasih!" tangis Tae Sub seraya memeluk Gang Mo.
Perlahan, Gang Mo mengangkat tangannya untuk memeluk Tae Sub juga.

Min Woo mengatakan pada Jeong Shik bahwa perusahaan Manbo akan segera bangkrut.
"Sebelum harga saham semakin parah, kau harus menjual semua saham yang kau miliki." kata Min Woo. Ia sudah menemukan perusahaan yang mau membeli saham Manbo. "Aku membodohi mereka untuk membeli sahammu." katanya.

Jung Yeon dan para pegawai Manbo mengantarkan kepergian Tae Sub ke Amerika.
Seseorang mendadak datang dan membisikkan sesuatu pada Jung Yeon.
Jung Yeon terlihat sangat terkejut, namun berusaha menutupinya dari Tae Sub.
"Ayah, jangan cemaskan perusahaan dan kembalilah dalam keadaan sehat." katanya.

Penyandang dana utama Manbo, Bank Goryeo, menolak memberikan pinjaman lagi pada Manbo. Alasan mereka adalah karena konstruksi apartemen dihentikan.
Jung Yeon bergegas menemui Presdir bank tersebut, namun sayang Presdir menolak membicarakan hal itu lebih lanjut.

Min Woo mendapatkan beberapa investor. Ia mengumpulkan mereka dan mengatakan bahwa ia ingin mengambil alih Manbo.

Jung Yeon menemui Baekpa untuk meminjam uang, namun Baekpa menolak mentah-mentah dan mengusirnya pergi.
Baekpa juga mengatakan pada Gyeong Ok kalau ia sudah menjual semua saham mereka di Manbo.
"Tuan, demi aku dan semua yang sudah kulakukan, tolong bantu sekali ini saja." ujar Gyeong Ok, memohon untuk Jung Yeon. "Alasan aku bertahan selama ini adalah agar aku bisa membantu putriku."
"Jika kau ingin mendapatkan hati putrimu, maka lepaskan Manbo." kata Baekpa. "Jika kau ingin putri sukses, jatuhkan dia ke neraka dan biarkan dia bangkit dengan kekuatannya sendiri. Kau tidak bisa hanya mencarikan ikan untuknya. Tapi ajarilah ia memancing! Jung Yeon akan lebih kuat jika ia berada dalam tekanan. Aku juga tidak punya keinginan untuk membantu Manbo."
Gyeong Ok diam dan meneteskan air mata.

Min Woo berhasil membodohi Jeong Shik agar menjual semua sahamnya. Pada kenyataannya, bukan para investor yang membeli saham Jeong Shik melainkan ia sendiri yang membeli saham tersebut.

Gang Mo mengajak Myeong Seok, Byeong Yak dan Hong Gi minum bersamanya.
"Aku membutuhkan sedikit bantuan." kata Gang Mo.
Byeong Tak tertawa. Ia sudah bisa menebak maksud Gang Mo mengundang mereka minum.
"Tolong bantu perusahaan Manbo meneruskan proyek apartemennya." kata Gang Mo. "Jika Manbo jatuh, itu akan mempengaruhi banyak sektor."
"Kelihatannya kau belum mendengar berita." ujar Myeong Seok. "Hari ini, Manbo dinyatakan bangkrut. Dan kudengar dari pihak bank, Jo Min Woo akan mengambil alih perusahaan itu."
Gang Mo terkejut.

Min Woo membawa para investor bertemu dengan Jung Yeon. Mereka bersedia berinvestasi asalkan Hwang Tae Sub mengundurkan diri dan menyerahkan semua sahamnya.
"Dan tentu saja kepemilikan perusahaan akan diberikan padaku karena aku memegang 30 persen saham." kata Min Woo. "Itu juga termasuk persyaratan mereka."
"Tiga puluh persen?" tanya Jung Yeon.
"Periksalah sendiri kalau kau tidak percaya." tantang Min Woo. "Aku akan menunggu keputusanmu sampai besok."
Min Woo dan para investor keluar.

Jung Yeon mengejar Min Woo.
"Aku tahu, yang menghentikan pembangunan apartemen kami adalah kau dan ayahmu." kata Jung Yeon.
"Hanya ini yang bisa kau lakukan." ujar Min Woo tajam. "Kau tidak bisa mengalahkan aku ataupun Lee Gang Mo. Sebelum kau membenci kami karena itu, salahkan dirimu sendiri atas ketidakmampuanmu."
"Semua belum berakhir." kata Jung Yeon.
"Apa kau bisa mendapatkan uang 5 triliun besok?" tanya Min Woo merendahkan. "Kau sudah berakhir."
Min Woo berjalan pergi.
"Tidak." kata Jung Yeon, sangat terpukul. "Semua belum berakhir. Aku tidak akan kalah darimu."

"Hanya kau orang yang bisa menolong Jung Yeon!" teriak Gang Mo pada Gyeong Ok,
"Baekpa tidak mau membantu." kata Gyeong Ok.
"Kau yang melahirkan Jung Yeon! Kau adalah ibu yang selama ini ia cari! Tidakkah itu alasan cukup?"
"Jika Baekpa menentang, aku tidak bisa melakukan apapun!" seru Gyeong Tak.
"Aku akan menggunakan Perusahaan Hangang sebagai jaminan." ujar Gang Mo. "Gunakan itu untuk menyelamatkan Jung Yeon."
"Katakan itu padanya, dan ia akan langsung mengusirmu!" seru Gyeong Ok. "Akulah orang yang akan menjaga Jung Yeon. Kau tidak berhak dan tidak perlu melakukan itu."
"Ya, benar. Bagi Jung Yeon, aku bukan siapa-siapa."

Jung Yeon mabuk di Royal Club. Gang Mo menemuinya.
"Ketika masih kecil, kau sudah bermain lumpur." kata Gang Mo. "Semakin kuat kau menggenggam, maka lumpur itu akan semakin keluar di tanganmu. Itulah alasan kenapa kau gagal. Sejak awal, kau terlalu kuat mencengkeram sesuatu yang bukan milikmu. Kau harus merelakan semuanya."
"Kau ingin aku melepaskan Manbo?" tanya Jung yeon.
"Ya." jawab Gang Mo. "Jika kau meraih hal yang lain, maka kau akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Jadi jangan menoleh lagi."
Jung Yeon terdiam dengan mata berkaca.

"Haruskah aku memberitahukan padamu apa hal yang bisa kau lakukan?" tanya Gang Mo. "Tumbuh semakin kuat. Dengan begitu, mereka tidak akan lagi sanggup merenggut apapun darimu. Biarkan orang-orang tamak itu mendapatkan yang mereka inginkan. Lihat mata mereka, dan dengan bangga ucapkan selamat tinggal. Semarah apapun kau, jangan biarkan mereka melihat setetespun air matamu."
Jung Yeon menangis.
"Semua ini bukanlah akhir bagimu." tambah Gang Mo. "Kau baru akan memulai yang baru."

Keesokkan harinya, Jung Yeon datang ke kantor dengan ceria.
Ia terpaksa menandatangani kontrak mengalihan hak Perusahaan Manbo pada Min Woo. Kini Min Woo menjadi pemimpin Manbo.

Jung Yeon berusaha menahan air matanya.
"Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengembangkan Manbo." ujar Jung Yeon di podium, memberikan ucapan perpisahan. "Aku mungkin akan meninggalkan perusahaan ini, tapi demi Presiden Direktur sebelumnya, Hwang Tae Sub... aku yakin pemimpin yang baru akan melindungi perusahaan dan para pemegang saham sampai akhir."

Jung Yeon turun dari podium dan berjalan keluar.
"Nikmatilah kemenangan ini Jo Min Woo." ujar Gang Mo dalam hati. "Karena pada akhirnya, kaulah orang yang akan merasakan penderitaan yang paling besar."


Jung Yeon duduk di pinggir pantai sambil menatap fotonya dan Tae Sub. Ia mengenang ketika ayahnya pertama kali mendirikan Manbo.
"Ayah, maafkan aku." kata Jung Yeon sedih. "Aku kehilangan Manbo. Impianmu sepanjang hirup, hancur karena aku. Maaf, ayah."

Gang Mo mengantar Gyeong Ok menemui Jung Yeon.
Gyeong Ok berniat membantu Jung Yeon dengan syarat, Jung Yeon harus merelakan masa lalunya. Jung Yeon tidak boleh lagi mengingat bahwa ia adalah putri seorang pemilik perusahaan. Jung Yeon harus memulai dari dasar.
"Saat kau sudah melakukan semua itu, maka kau akan mulai mendapatkan uang koin pertamamu." kata Gyeong Ok. "Jika kau belum siap, jangan temui aku."

Empat tahun berlalu. Apartemen Gaepo telah selesai dibangun. Hangang mengadakan upacara peresmian.

Di sisi lain, Manbo mendapatkan proyek besar pembangunan jalan tol di Saudi Arabia.

Partai Pil Yeon memenangkan kongres di Gangnam.

Sung Mo aktif dalam pemberantasan kriminalitas.

Jung Yeon bekerja sebagai pengumpul uang di pasar untuk usaha Gyeong Ok.

Tahun 1986.
Tae Sub mengirimkan surat dari Amerika.
"Jung Yeon, keadaanku sudah membaik dan aku sudah tidak lagi terlalu merepotkan dokter." ujar Tae Sub dalam suratnya. "Pasti sangat berat untukmu disana, kan? Siapa yang peduli jika kita hanya kehilangan perusahaan? Jung Yeon, jangan mengkhawatirkan apapun."

Tae Sub juga mengirimkan surat pada Gyeong Ok. Ia mengatakan padanya agar mereka memulai lagi dari awal dan melupakan masa lalu.
Gyeong Ok menangis.

Mi Joo tidak juga kembali pada Gang Mo dan Sung Mo.
Di sisi lain, Min Woo juga tidak bisa menemukan Mi Joo.
Saat itu, Mi Joo sedang berada di sebuah club malam. Club itu bernama Club Bagdad.
Sebagai informasi, Gyeong Ok baru saja berhasil mengambil alih club tersebut dari pemilik sebelumnya. Myeong Seok juga datang malam itu.
Mi Joo ditampilkan di panggung sebagai pengganti penyanyi disana karena penyanyi tetap club tersebut berhalangan hadir.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda