Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Giant Episode 37

Sunday, June 12, 2011

Sinopsis Giant Episode 37


Lampu panggung menyorot Mi Joo dan semua penonton melihatnya.
Mi Joo gugup. Ia berbalik, merasa tidak sanggup bernyanyi.
"Matikan lampu!" perintah pengelola club. "Dia tidak akan bisa menyanyi."


Lampu dimatikan. Mi Joo menunduk, kemudian mulai memberanikan diri untuk menyanyi.
Suaranya sangat indah dan penampilannya membuat semua penonton terpana.
Saking terlalu terpana, para penonton tidak ada yang bertepuk tangan saat Mi Joo sudah selesai menyanyi.
Mi Joo jadi merasa nyanyiannya buruk. Ia membungkuk untuk memberi hormat pada penonton, lalu berlari pergi.
Myoeng Seok-lah orang pertama yang bertepuk tangan, diikuti para penonton yang lain.
"Tunggu apa lagi?" ujar pengelola club pada anak buahnya. "Cepat suruh dia kemari."

Mi Joo merasa malu dan merasa sangat buruk. Ia berlari keluar, hendak pulang.
"Taksi!" teriak Mi Joo.
"Tunggu!' seru pegawai club memanggil.
Namun Mi Joo tetap melarikan diri.

"Apa? Dia menghilang?" tanya Gyeong Ok pada pengelola club. "Siapa namanya?"
"Mereka mengenalkan dia pada kami dengan terburu-buru, jadi kami tidak tahu..."
"Cari nomor teleponnya dan hubungi dia." perintah Gyeong Ok.
"Baik, Direktur."

Mi Joo menangis di dalam taksi.
"Padahal aku sudah susah payah mendapatkan kesempatan ini." keluhnya. "Seharusnya aku menyanyi lebih baik. Dasar bodoh!"
Selama ini, Mi Joo tinggal di Hannam.

Di tempat lain, Min Woo menonton rekaman Mi Joo yang ia buat. Ia kelihatan sangat sedih.

Pihak dewan kota memiliki proyek baru, yakni pembangunan area pemukiman Suseo.
"Dari perusahaan konstruksi yang hadir hari ini, hanya beberapa perusahaan yang akan terpilih dalam proyek ini." ujar Myeong Seok. "Kami akan melakukan penilaian yang adil dan seimbang. Jadi kami harap kalian juga melakukan persaingan yang jujur."
Min Woo melirik Gang Mo dan tersenyum. Kelihatannya ia sudah 100% yakin akan mengalahkan Gang Mo dan mendapatkan proyek ini.

Gang Mo keluar dari ruangan rapat.
Tiba-tiba Min Woo memanggilnya. "Lee Gang Mo!"
Gang Mo menoleh melihat Min Woo. Ia langsung teringat pada Mi Joo dan bayi dalam kandungannya.
Gang Mo mengepalkan tangan erat, berniat segenap jiwa untuk menghajar dan menghabisi Min Woo. Namun Sideok menahannya.
"Ikan kecil seperti kau tidak akan pernah masuk ke kolam Suseo." kata Min Woo.
"Kau hanyalah kompetitor kami." jawab Gang Mo, menahan emosi.
"Kompetitor? Kau masih berpikir begitu?"
"Kenapa? Apa kau mau melobi agar aku keluar lagi?" tanya Gang Mo.
"Melobi juga bisnis." jawab Min Woo. "Tapi mungkin kau masih terlalu hijau untuk mengerti hal itu."
"Orang yang hanya bisa melobi bukanlah pengusaha. Mereka hanyalah makelar." kata Gang Mo tajam.
"Disini, pertahanan hiduplah yang paling penting."
Setelah mengadakan rapat dengan anggota komite, Min Woo berjalan keluar.
Disana, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Jung Yeon.
Jung Yeon melirik Min Woo sekilas, lalu berjalan lagi tanpa menyapa.
"Sudah lama kita tidak bertemu." kata Min Woo. "Kita tidak bisa saling mengacuhkan terus, bukan? Apa ada hal yang bisa kubantu?"
"Apa kau ingin membantuku?" tanya Jung Yeon. "Jagalah Manbo, karena tidak lama lagi aku akan mengambilnya kembali."
"Aku senang semangatmu belum hilang." ujar Min Woo, tersenyum.

Jung Yeon menyerahkan uang yang dikumpulkannya dari pasar pada Gyeong Ok.
"Apa kau punya waktu besok?" tanya Gyeong Ok. "Baekpa ingin bertemu denganmu."

Jung Yeon menemui Baekpa.
"Orang hidup berbeda dengan orang mati karena impian." ujar Baekpa. "Jika kau tidak punya impian, maka sama saja dengan mayat. Apa impianmu?"
"Aku ingin semua uang di dunia ini." jawab Jung Yeon tanpa ragu.
"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?"
"Aku akan membeli impian yang tidak bisa kugapai." jawab Jung Yeon.
Baekpa tersenyum. "Sepertinya mengumpulkan uang bukan benar-benar membuang waktu bagimu."
Gyeong Ok menyerahkan akun bank pada Jung Yeon.
"Didalamnya ada 400 juta won." kata Baekpa. "Ambil uang itu dan belilah impianmu. Aku tidak akan membuat batas waktu pembayaran ataupun bunga. Tapi jika kau berakhir dengan kehilangan uang itu, kau harus meninggalkan bisnis itu. Yang kumaksudkan adalah bahwa kau tidak akan mendapatkan kesempatan lagi untuk menggapai impianmu."
"Ya." jawab Jung Yeon. "Aku akan menggunakan uang ini untuk sukses."

Jung Yeon membuka usaha peminjaman uang dengan bunga rendah serta membantu peminjam uang yang terjebak lintah darat.
Setelah memasang papan di kantor kecilnya, Jung Yeon dan seorang temannya memasang leaflet.

Ketika sedang memasang leaflet, Jung Yeon melihat Gang Mo di depan sebuah gedung.
Jung Yeon langsung bersembunyi.
Mendadak seorang pria datang. "Siapa yang mengizinkan kalian menempel itu disini?" omelnya. "Cepat lepas!"
"Iya, aku akan melepasnya sebentar lagi." kata Jung Yeon pelan.
"Cepat lepas sekarang!"
"Hushhh.." Jung Yeon menyuruh pria itu diam. "Aku akan melepasnya sebentar lagi."
Pria itu terus mengomel dan ribut-ribut.
Gang Mo melihat pria yang sedang mengomel itu sekilas, lalu masuk ke dalam mobil.

Gang Mo datang ke depan kantor kecil Jung Yeon dan memberikan buket bunga sebagai ucapan selamat.
Mendadak Sideok datang terburu-buru. Ia mengatakan bahwa proyek Suseo sudah diumumkan. Dan proyek tersebut jatuh pada semua anggota komite.

Tidak lama kemudian, Jung Yeon dan temannya tiba di kantor mereka.
"Siapa yang mengirim ini?" tanya teman Jung Yeon.
"Mungkin Direktur Yoo dari Royal Club." tebak Jung Yeon.

Para Presiden Direktur dari perusahaan kecil menyatakan protes mereka pada Myeong Seok.
"Lalu bagaimana dengan kami?" tanyanya.
"Yang tersisa hanyalah Suseo Area B." kata Myeong Seok. Area B adalah wilayah Dolsan.
"Tapi bukankah area itu dipenuhi bebatuan?" tanya salah satu Presdir.
"Dan kau ingin kami bekerja disana?!" tanya Presdir lain.
"Kami akan menerima surat permohonan sampai minggu depan." kata Myeong Seok.
Dunia ini benar-benar tidak adil. Orang kecil selalu diinjak-injak oleh orang yang berkuasa.
Tiba-tiba Gang Mo membuka pintu dan masuk. "Katakan padaku standar apa yang digunakan untuk memilih kandidat." tanyanya pada Myeong Seok. "Aku ingin tahu rincian kriteria penilaianmu. Jika tidak, aku dan orang-orang ini tidak akan menerima keputusanmu."
"Orang-orang Suseo dan lingkungan sekitar adalah bentuk perumahan kerjasama. Kami memilih sesuai dengan permintaan kerjasama." jawab Myeong Seok.
Gang Mo dan anak buahnya mengadakan rapat. Bagaimana jika ia mengerjakan proyek di Dolsan?
"Semua wilayah Dolsan dipenuhi batu!" kata Young Chul. "Jika kau ingin membuat pondasi, pertama-tama kau harus membuang semua bebatuan itu! Bagaimana kau akan membayar untuk itu?"
Gang Mo diam, berpikir.
"Anggaplah kita punya dana, lalu apa yang akan kau lakukan pada bebatuan itu?" tanya Young Chul. "Kau hanya akan membuang uang untuk biaya transportasi yang harganya sama dengan membangun beberapa apartemen!"
Gang Mo tetap tidak mau menyerah. "Pasti ada cara." katanya.

Gang Mo memilih beberapa perusahaan untuk bekerja sama dengannya, namun keadaan terlalu sulit.
"Jika kau mau melakukannya, lakukanlah sendiri." kata salah seorang dari mereka. "Kami tidak bisa melakukannya."
"Apa kalian ingin terus membiarkan mereka menginjak-injak kalian terus?!" seru Gang Mo. "Jika kita lebih lemah dari mereka, bukankah kita harus bergabung dan melawan bersama?!"
"Kami juga ingin melawan mereka?!" seru salah satu dari Presiden Direktur perusahaan. "Tapi jika proyek yang kita kerjakan gagal, kita bisa bangkrut!"
Semua Presdir pergi meninggalkan Gang Mo.

Malamnya, Gang Mo menemui salah seorang Presdir bernama Maeng Guk Hyeon dari Perusahaan Ogam. Presdir tersebut sangat miskin sampai-sampai harus tinggal di sebuah penginapan jelek.
Ia bercerita bahwa waktu seumur Gang Mo, ia juga pemberani dan memiliki semangat yang tinggu. Namun sekarang ia hanyalah seorang pengecut. Karena kesalahannya, ia terpaksa menjual rumah untuk membayar gaji para pekerjanya. Karena kesalahannya juga, keluarganya berpisah.
Dengan cerita di Presdir, Gang Mo semakin yakin dengan keputusan yang diambilnya. Ia tetap akan mengerjakan Proyek Dolsan walaupun hanya seorang diri.
Keesokkan harinya, semua Presdir datang dan setuju untuk bergabung dengan Gang Mo.

Mi Joo bekerja di sebuah toko sepatu.
Gyeong Ok dan pengelola club berhasil menemukannya disana.
"Beraninya kau pergi begitu saja." omel Pengelola Club. "Kau tahu berapa lama kami mencarimu?"
"Maafkan aku." kata Mi Joo. "Jika kau kehilangan banyak uang karena aku..."
"Siapa namamu?" tanya Gyeong Ok.
"Lee Mi Joo."
Gyeong Ok menawarkan kontrak eksklusif dengan Mi Joo. Syaratnya adalah catatan hidup Mi Joo harus bersih.

Gang Mo membawa semua alat berat untuk pembangunan apartemennya di Dolsan.
"Apa ini?" tanya Pil Yeon pada Min Woo.
"Aku tidak mengira mereka akan bergabung." jawab Min Woo.
"Kau harus menghentikannya." perintah Pil Yeon. "Jika Lee Gang Mo sampai berhasil, ia akan diikutsertakan dalam pembangunan Kota Baru."

Jung Yeon memulai usahanya.
Pelanggan pertamanya adalah sepasang suami istri tua yang terlibat hutang dengan lintah darat.
Baekpa tertawa mengetahui usaha yang didirikan Jung Yeon. Ia berniat memberikan ujian pada Jung Yeon.
Sebagai informasi, kesehatan Baekpa memburuk.

Ketika Jung Yeon sedang fitness, ada seorang pria yang kelihatannya mencari perhatiannya.
"Aku tidak terlalu suka wanita berotot." kata pria itu.
Jung Yeon kelihatan kesal dan pergi.

Gang Mo memulai pembangunan lahan Dolsan.

Byeong Ok, Min Woo, Hong Gi, Gang Mo, Myeong Seok, para anggota komite dan orang-orang penting lain uang berhubungan dengan Proyek Suseo minum bersama di Royal Club.
"Jika kau berhasil membangun lahan Dolsan, aku akan memberikan tanggung jawab penuh dan menyerahkan pembangunan Kota Baru padamu!" ujar Byeong Tak pada Gang Mo.
"Anggota Kongres, membuat pernyataan seperti itu di depan semua orang agak..." ujar Myeong Seok bicara pelan.
"Agak apa?" tanya Byeong Tak santai. "Aku selalu mengatakan ingin ini dan ingin itu."
Hong Gi setuju dengan Byeong Tak. "Jika ia memang berhasil, itu jelas membuktikan kemampuannya!"
"Betul, betul!" kata Byeong Tak.

Min Woo kelihatan tidak senang dengan penyataan para anggota kongres itu. Ia menatap Gang Mo tajam.
Gyeong Ok tersenyum tipis melihat Gang Mo.

Jung Yeon kedatangan seorang pelanggan. Ia menyerahkan sebuah dokumen dan sebuah alat sebagai jaminan peminjaman uang.
"Kami mengembangkan teknologi ini." katanya.
Jung Yeon melihat dokumen tersebut. Itu adalah dokumen mengenai pengembangan teknologi pembuat tembok batu.
Jung Yeon kelihatan enggan dengan jaminan tersebut namun di sisi lain juga kelihatan tidak tega. Ia menarik napas panjang.

Min Woo berniat mengganggu proyek Gang Mo.
Ia membuat pertemuan dengan salah satu anggota kerjasama Gang Mo, yakni Presiden Maeng Guk Hyeon dari Perusahaan Ogam.

"Aku tidak bisa merusak kerja sama kami." kata Guk Hyeon pada Min Woo. "Presiden Lee Gang Mo telah melakukan banyak hal untuk kami."
Selain membayar biaya hutang Guk Hyeon, Min Woo juga menyuap Guk Hyeon dengan bersedia membayar semua biata proyek konstruksi Perusahaan Ogam.
"Ini berlaku sama pada semua anggota kecuali Lee Gang Mo." kata Min Woo.
Guk Hyeon kelihatan ragu.

Jeong Shik menghabiskan waktunya dengan berjudi, namun ia hampir selalu kalah.
"Kelihatannya ia masih merasa menjadi seorang penerus Perusahaan Manbo." kata teman-temannya merendahkan.
Jeong Shik mencoba mencuri akun bank ibunya.
"Apa yang kau lakukan?!" seru Nam Suk.
"Aku berjanji ini yang terakhir." kata Jeong Shik, melarikan diri dengan akun Nam Suk.
Tae Sub kembali ke Korea dalam kondisi sehat dan normal.
Nam Suk menjemputnya di bandara. Namun sayang, Gyeong Ok sudah menjemput terlebih dulu.
Nam Suk merasa marah dan cemburu melihat Tae Sub memegang tangan Gyeong Ok.
"Aku sengaja tidak menelepon Jung Yeon." kata Tae Sub. "Kami masih punya banyak waktu untuk bertemu nanti."

Gyeong Ok menawarkan apartemennya untuk tempat tinggal Tae Sub.
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Gyeong Ok.
Tae Sub menunjukkan kopernya. "Kau lihat ini? Isinya adalah rencana bisnis." katanya. "Aku sudah mendapatkan investasi di Amerika. Jangan cemas, Gyeong Ok."

Tae Sub tiba di apartemen Gyeong Ok.
Ketika hendak masuk ke kamar, tanpa sengaja koper Tae Sub terbuka. Baju-bajunya terjatuh di lantai dan tak ada satupun dokumen rencana bisnis.
Gyeong Ok tidak berkomentar apa-apa.

Pria yang mencari perhatian Jung Yeon di gym datang ke kantor Jung Yeon.
"Berapa banyak yang ingin kau pinjam?" tanya Jung Yeon datar. "Kami hanya memberi pinjaman kecil."
"Bagaimana jika 500 juta?"
"Aku akan mengenalkanmu pada temanku." ujar Jung Yeon.
Pria itu tertawa. "Kalau begitu seratus juta saja."
"Itu juga terlalu besar untuk kami." jawab teman Jung Yeon.
"Kalau 50 juta?"
"Datanglah besok." kata Jung Yeon. "Setelah kami memeriksa dokumenmu, kami akan berusaha membantu."
Jung Yeon memiliki firasat buruk mengenai pria itu. Dan kenyataannya, pria itu memang mencurigakan.

Jo Min Woo berhasil membuat para Presdir yang bekerja sama dengan Gang Mo mundur dan membatalkan kerja sama. Hal itu membuat Gang Mo kesulitan.
Sung Mo memberi tahu Gang Mo bahwa semua itu adalah ulah Min Woo.
Gang Mo marah besar dan langsung mencari Min Woo.
"Aku tidak tahan lagi!" seru Gang Mo pada kakaknya. "Orang brengsek itu menghancurkan Mi Joo! Dan sekarang, ia berusaha menghancurkanku juga!"

Saat itu, Min Woo sedang diwawancarai oleh reporter.
Gang Mo datang. "Ini batas kesabaranku!" serunya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau akan memukulku?" tanya Min Woo.
"Kau pikir aku tidak bisa?!"
Min Woo tersenyum dan menoleh ke arah para wartawan. "Jika kau ingin wajahmu muncul di semua halaman depan surat kabar, silahkan saja."
Gang Mo diam.
"Kau tidak punya keberanian untuk melakukan itu." kata Min Woo sinis. "Kau tahu kenapa kau mudah tersapu angin seperti daun di musim gugur? Itu karena kau lemah."
Gang Mo mengepalkan tinjunya erat dan memukul Min Woo habis-habisan.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda