Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Giant Episode 38

Sunday, June 12, 2011

Sinopsis Giant Episode 38


Gang Mo memukuli Min Woo habis-habisan di depan para wartawan.
Sung Mo berusaha menghentikan Gang Mo.
"Hentikan!" serunya. Ia menarik Gang Mo menjauh.
"Laporkan dia ke polisi!" perintah Min Woo pada Direktur Moon.
Gang Mo hendak maju menyerang Min Woo lagi, tapi satpam menangkap dan membawanya pergi.

Jung Yeon membaca surat kabar. Ia terkejut membaca judul di halaman depan, "Seorang Presiden Perusahaan Kontruksi Memukuli Pemimpin Perusahaan Manbo, Jo Min Woo". Karena tidak kekerasan itu, Jo Min Woo harus menjalani perawatan 4 minggu di rumah sakit.

Gang Mo ditahan di penjara.
"Ada apa?" seru Gyeong Ja, datang melihat Gang Mo di penjara bersama Sideok, So Tae, dan Young Chul.
"Maafkan aku." kata Gang Mo.
"Untuk apa minta maaf?!" seru Sideok. "Kau melakukan yang benar! Orang yang pantas berada dibalik jeruji itu adalah Jo Min Woo! Kau tidak melakukan kesalahan apapun!"
"Untuk sementara waktu, kalian berdua harus mengartur area konstruksi." kata Gang Mo pada So Tae dan Young Chul. "Sideok, kau harus mengatur segalanya di kantor. Walaupun tanpa aku, bisnis harus tetap berjalan seperti biasanya."

Pihak Min Woo dan Pil Yeon sudah merasa menang atas Gang Mo. Ditambah lagi karena pihak pemerintah memutuskan untuk menghentikan bantuan dana pada Hangang.
"Kau harus menjatuhkan Lee Gang Mo sampai dia tidak mungkin bangkit lagi." perintah Pil Yeon pada putranya.

Sung Mo menemui Gang Mo di penjara.
"Bertahanlah sebentar lagi." kata Sung Mo. "Kau akan segera dibebaskan dengan jaminan."
"Maafkan aku, Kak." kata Gang Mo. "Namun aku tidak menyesal. Jika aku tidak melakukannya, aku akan gila."
"Aku mengerti maksudmu." ujar Sung Mo. "Menteri Pembangunan memutuskan untuk menghentikan bantuan dana untukmu. Apakah kau akan menghentikan konstruksimu?"
'Tidak." jawab Gang Mo yakin. "Aku tidak akan menyerah. Aku akan berjuang sampai akhir."

Mi Joo berlatih keras untuk penampilannya di panggung. Gyeong Ok sengaja menyewa pelatih vokal dan koreografer untuk melatih Mi Joo.
"Apa kau benar-benar berencana untuk membuatnya menjadi bintang terkenal?" tanya pengelola club pada Gyeong Ok.
"Sangat disayangkan jika ia hanya terbatas di panggung club." jawab Gyeong Ok.

Mi Joo tinggal di Hannam bersama istri Hong Gi dan putranya, Woo Joo. Woo Joo sepertinya singkatan Min Woo dan Mi Joo.
Mi Joo menyanyikan sebuah lagu agar putranya tertidur. Lagu itu pernah dinyanyikan Min Woo untuknya ketika Mi Joo berbaring di pangkuan Min Woo.

Jung Yeon memeriksa dokumen milik pria yang bertemu dengannya di gym.
"Jadi, Han Soo Jin itu memiliki real estate di luar negeri?" tanya Jung Yeon pada temannya.
"Dia kelihatan muda." kata teman Jung Yeon. "Kelihatannya ia sangat kaya."
Han Soo Jin adalah nama orang lain yang digunakan Cha Bucheol untuk mengelabui Jung Yeon.
Bucheol ini adalah utusan yang dikirim Baekpa untuk memberi ujian pada Jung Yeon.

Bucheol duduk diam di kantor kecilnya.
"Kenapa mereka tidak menelepon?" tanya anak buahnya. "Apa dia menemukan sesuatu yang aneh?"
"Mereka akan segera menelepon." kata Bucheol. "Aku sudah memalsukan IDku menggunakan ID seorang pemilik tanah yang tinggal di luar negeri. Hwang Jung Yeon tidak mungkin bisa tahu."
Telepon berdering. Jung Yeon menelepon dan mengatakan bahwa ia setuju memberikan kredit.
"Pancingan berhasil." ujar Bucheol senang.
Bucheol kelihatan sangat tidak menyukai Gyeong Ok karena merasa Gyeong Ok telah merebut posisinya di hadapan Baekpa.
"Kau pikir aku tidak tahu kalau Hwang Jung Yeon adalah putrimu?" gumam Bucheol dengan kemarahan memuncak. "Putrimu itu akan membayar semua yang telah kau lakukan padaku."

Setelah keluar dari penjara, Gang Mo langsung menuju tempat konstruksi.
Keadaan konstruksi Hangang sangat buruk. Lahan yang mereka kerjakan kondisinya penuh batu dan menyebabkan sulit membuat pondasi. Kondisi keuangan mereka juga sekarat.
Semua orang menyarankan agar Gang Mo mundur, namun Gang Mo tetap tidak mau menyerah.
"Jika kita bertahan, aku yakin akan ada cara." ujar Gang Mo bertekad.

Di lain sisi, pihak konstruksi sedang agak kesulitan mengenai bahan baku bangunan. Manbo berniat memonopoli semua bahan bangunan.
"Beli semua bahan bangunan dengan harga berapapun." kata Min Woo.
"Tapi anggota komite lain pasti akan protes." kata Direktur Moon.
"Tidak masalah." ujar Min Wo. "Kita mungkin bekerja sama jika menyangkut masalah komite. Tapi di area konstruksi, kita semua adalah musuh."
"Baik." kata Direktur Moon.
"Apakah Hangang masih melanjutkan konstruksi?" tanya Min Woo.
"Sekarang mereka sedang meneruskan pembangunan."
Min Woo tersenyum. "Hubungi Bank Internasional dan buat janji pertemuan dengan Presiden Direkturnya. Kita harus memutus semua kemungkinan yang bisa membuat Hangang lolos dari kehancuran."

Tae Sub melihat 'mantan' perusahaannya dari depan dengan sedih. Sampai saat ini, ia belum mau menemui Jung Yeon karena takut Jung Yeon merasa bersalah jika melihat kondisi Tae Sub.
Tidak lama kemudian, Tae Sub melihat Pil Yeon keluar dari gedung. Kemarahannya memuncak. Di jas Pil Yeon, Tae Sub melihat lambang anggota kongres. Ah, rupanya Pil Yeon sudah berhasil menjadi anggota kongres.

Pil Yeon mendapat kabar penting dari pemerintah.
"Menteri Pembangunan akan segera mengumumkan deklarasi kesepakatan dengan Utara." kata Pil Yeon. "Agar dilibatkan dalam Olympic Games, Utara akan membuat sebuah bendungan di Gunung Geumgang. Mereka berencana memenuhi bendungan itu dengan air dan kemudian melepaskannya."
"Lalu apa yang akan terjadi pada kita?" tanya Jae Chun.
"Ibukota akan terkena luapan air sepanjang Bangunan 63." jawab Pil Yeon. "Tapi itu tidak masalah. Kita akan membuat struktur serupa di Sungai Bukhan untuk menghadapi mereka. Mereka akan memberikan dana yang besar untuk proyek bendungan itu."

Masalah terus-menerus datang pada Perusahaan Hangang milik Gang Mo. Sekarang, para pekerja mengancam akan menghentikan kerja mereka. Mereka tahu kalau pemerintah sudah menghentikan aliran dana dalam proyek Dolsan.
Gang Mo menanggapi masalah itu dengan tenang. "Baik, kalian sudah bekerja keras selama ini." katanya. "Aku akan memberikan waktu libur satu minggu."
"Jadi, semua masalah akan selesai dalam satu minggu?" tanya salah seorang pekerja.
'Tentu saja!" jawab Gang Mo meyakinkan. "Ini hanyalah penghentian sementara. Setelah satu minggu, kalian akan kembali bekerja, bukan? Nikmatilah waktu istirahat kalian karena setelah itu tidak akan ada hari libur sampai pembangunan selesai."
Para pekerja setuju.
Sebenarnya, Gang Mo belum punya rencana apa-apa.

Sung Mo memberi tahu Gang Mo mengenai proyek bendungan.
"Aku bisa membantumu terlibat dalam proyek itu." ujar Sung Mo menawarkan.
"Apa benar Seoul akan kebanjiran jika bendungan di Utara meledak?" tanya Gang Mo. "Jika tidak benar, aku tidak mau bergabung. Itu penipuan. Aku tidak mau mendapat uang hasil menipu."
"Jadi kau akan meneruskan pembangunan ini?" tanya Sung Mo.
"Aku punya waktu satu minggu." jawab Gang Mo. "Aku yakin bisa menemukan jalan."

"Aku kasihan pada Kak Gang Mo." tangis Gyeong Ja pada Jung Yeon. "Uangnya hanya tinggal sedikit. Kenapa ia masih saja bersikeras melanjutkan konstruksi disana? Ini semua karena Manbo. Jo Min Woo membuat kerja sama hancur! Dia bahkan membuat bank tidak mau meminjamkan uang."
"Jo Min Woo bajingan." kata Jung Yeon kesal.
"Kakak, kenapa kau putus dengan Kak Gang Mo?" tanya Gyeong Ja. "Jika kalian saling menyukai, katakan saja. Ada apa dengan kalian?"
"Apa Gang Mo mengatakan kalau ia menyukaiku?" tanya Jung Yeon berharap.
"Jadi kau tidak tahu?" tanya Gyeong Ja. "Aku datang untuk cicilan itu karena Kak Gang Mo penasaran bagaimana pekerjaanmu. Dia memang bodoh. Jika ia menerimaku, semuanya akan lebih baik."

Malam itu hujam lebat. Gang Mo marah karena tidak ada seorangpun yang mau membantunya, baik itu Myeong Seok, pihak bank ataupun kontraktor.
Gang Mo berjalan keluar di tengah hujan dan memukuli batu untuk melampiaskan kemarahannya.
"Aku tidak akan jatuh!" teriak Gang Mo. "Tidak akan kalah! Tidak akan pernah! Aku tidak akan menyerah! Tidak akan pernah!"
Tanpa Gang Mo ketahui, Jung Yeon memandangnya dari kejauhan dengan sedih. Mendadak, ia teringat pelanggannya yang pernah memberikan jaminan alat yang bisa memecah batu besar menjadi kerikil dengan mudah.


Keesokkan harinya, Jung Yeon menemui pria pemilik alat.
"Bagaimana dengan bisnismu?" tanya Jung Yeon.
"Jangan bertanya kalau kau tidak mau meminjamkan uang." kata pria itu.
"Apa alat ini bisa digunakan untuk gunung batu?" tanya Jung Yeon.
"Dengan pemecah hidrolik yang besar, tentu saja bisa." jawab pria itu.
"Kami akan meminjamkan uang padamu." kata Jung Yeon. "Bunga peminjaman sama dengan bunga normal bank."
"Bunga bank?! Kau benar-benar bersedia meminjamkan uang pada kami semurah itu?" Pria itu kelihatan sangat senang.
"Tapi kau punya satu syarat. Apa kau pernah mendengar mengenai Perusahaan Hangang?" tanya Jung Yeon, tersenyum.
Gang Mo tertidur putus asa di kantornya dengan tangan terluka. Kelihatannya ia sakit.
Tidak lama kemudian, So Tae dan Young Chul masuk dengan membawa alat pemecah batu.
"Apa itu?" tanya Gang Mo.
"Seseorang mengirimkan ini untukmu." kata So Tae.
"Ini dinamakan Pemecah Hidrolik." tambah Young Chul. "Mereka menggunakannya untuk memecah batu."
"Siapa yang mengirimkan ini?" tanya Gang Mo.
"Kurasa mereka mengirim ini untuk mempromosikan perusahaan mereka." jawab So Tae.
Gang Mo memejamkan matanya lagi.
So Tae kemudian menyerahkan sebuah dokumen lain pada Gang Mo. Yang satu adalah surat kabar mengenai pembelian kerikil dengan harga tinggi oleh Manbo dan yang lainnya adalah dokumen mengenai cara penggunaan alat pemecah batu.
Gang Mo terdiam sesaat, kemudian bangkit. "Ayo ikuti aku." katanya.

Gang Mo mencoba alat itu. Sideok, Young Chul dan So Tae cemas melihatnya.
"Gang Mo, kau harus istirahat!" seru Sideok khawatir.
Gang Mo menggunakan alat itu untuk memecah batu. Batu besar tersebut pecah menjadi kecil. Gang Mo tertawa senang.
"Panggil ambulans!" kata Young Chul pada So Tae.
"Kalian lihat ini?!" teriak Gang Mo.
Mereka mengira Gang Mo sudah gila.
"Ini batu, Bodoh!" seru So Tae.
"Ini emas!" teriak Gang Mo. "Kita menemukan tambang emas!"
"Butuh waktu berapa lama kita menghancurkan semua batu ini dengan menggunakan alat itu?!" tanya Young Chul.

Gang Mo menunjukkan dokumen yang dikirim bersama alat tersebut. Ada alat pemecah hidrolik yang besar. Dengan alat itu, mereka bisa menghancurkan batu dengan mudah.
"Gunung batu ini adalah tambang emas!" seru Young Chul ikut-ikutan.
So Tae bingung melihat mereka. "Ini semua batu, Bodoh!" serunya.
"Jika kita menghancurkan batu ini dan menjualnya sebagai kerikil, semua ini adalah uang!" teriak Gang Mo. "Kita selamat!"
Gang Mo, Sideok, Young Chul dan So Tae berpelukan gembira.
Gang Mo ingin menelepon perusahaan pembuat alat tersebut.
Mendadak, seorang pria datang. Pria itu adalah pemilik alat.
"Perkenalkan, namaku Go Cheol Su." ujar pria itu seraya menyerahkan kartu namanya pada Gang Mo.
"Berapa banyak pemecah hidrolik yang kau miliki saat ini?" tanya Gang Mo.
"Berapa banyak yang kau butuhkan?"
"Aku ingin membeli semuanya." jawab Gang Mo.
"Kau harus memberi kami potongan harga." kata Sideok.
"Kalian menyelamatkan kami juga!" kata Cheol Su. "Tentu saja kami akan memberikan potongan harga!"
"Dari mana kau tahu kami sedang kesulitan?" tanya Gang Mo.
"Kami membacanya di surat kabar." jawab Cheol Su berbohong. Jung Yeon melarangnya bicara.

Jung Yeon setuju memberikan pinjaman pada Bucheol sebanyak 30 juta won.

Gang Mo mengadakan pertemuan dengan para pekerja. Ia meminta mereka menjual kerikil dan merahasiakannya.
"Kenapa kita harus merahasiakannya, Gang Mo?" tanya Young Chul. "Seharusnya kita menyebarluaskan kabar ini!"
"Perusahaan Manbo sedang membeli kerikil dengan harga tinggi." kata Gang Mo.
"Jadi kita akan membuat Jo Min Woo memakan omong kosongnya sendiri?" tanya So Tae.
"Jo Min Woo sendiri yang memulai peperangan ini." jawab Gang Mo.

Gang Mo dan So Tae mengendarai truk mereka melewati area konstruksi Manbo.
"Kudengar kau membeli semua kerikil." kata Gang Mo.
Min Woo tertawa. "Jika kau ingin membeli kerikil itu, kau harus membayar dua kali lipat." katanya dengan nada suara menang.

Konstruksi Hangang berjalan lancar.
Jung Yeon tersenyum melihat Gang Mo di kejauhan.

Para anggota komite protes karena Min Woo memonopoli pembelian kerikil untuk bahan baku bangunan. Namun Min Woo tidak peduli. Baginya, bisnis adalah persaingan. Siapa yang kalah bersaing, maka dialah yang kalah.
Gang Mo menggunakan kesempatan itu untuk mengambil hati para anggota komite.

"Aku akan menjual kerikil untuk pembangunan apartemen kalian." kata Gang Mo menawarkan.
"Apa maksudmu?" tanya salah satu anggota. "Apa Perusahaan Hangang menjual kerikil?"
"Ya." jawab Gang Mo. "Kalian tidak akan menghadapi kesulitan dengan kelangkaan kerikil."
"Apa kami bisa mempercayaimu?" tanya anggota komite lega.
"Ya." jawab Gang Mo.

Sung Mo sedang mengerjakan sesuatu yang berbahaya.
Chan Seong masuk ke ruangan dan Sung Mo buru-buru menutup bukunya.
"Aku tahu apa isi buku itu." kata Chan Seong. "Aku tidak setuju. Itu tidak hanya membahayakan Jo Pil Yeon, tapi kau juga akan membahayakan nyawamu sendiri."
"Aku punya rencana." kata Sung Mo. "Sebentar lagi kita akan hidup di dunia tanpa dominasi Jo Pil Yeon. Maaf, Chan Seong."
Chan Seong tidak bisa mengatakan apa-apa. "Ada laporan dari seseorang kalau ia melihat Lee Mi Joo di Seoul." katanya. "Sepertinya di wilayah Hannam."
"Hannam?!" seru Sung Mo.

Myeong Seok pergi ke toko sepatu tempat Mi Joo bekerja untuk membeli sepatu.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Myeong Seok pada Mi Joo.
"Kurasa Anda tidak pernah datang kemari." jawab Mi Joo seraya membantu Myeong Seok memakai sepatu.
Belum sempat Myeong Seok membeli sepatu itu, anak buahnya datang dan dengan buru-buru mengajak Myeong Seok pergi.

Para wartawan datang ke Dolsan untuk meliput konstruksi Gang Mo yang bisa merubah gunung batu menjadi kerikil.
Keesokkan harinya, artikel tersebut langsung dipasang di halaman depan surat kabar dengan judul, "Mengubah Krisis Menjadi Peluang".

Pil Yeon marah besar setelah membaca artikel mengenai Hangang di surat kabar.
"Sudah kukatakan padamu agar tidak lengah!" bentak Pil Yeon pada Min Woo.
"Apa kau takut pada Lee Gang Mo?" tanya Min Woo datar. "Tidakkah kau bereaksi terlalu berlebihan? Jika ia melihatmu seperti ini, ia akan melompat senang."
"Kau!"
"Aku tidak melakukan kesalahan." kata Min Woo membela diri. "Apakah semua yang kulakukan hanyalah untuk menghancurkan dia?!"
Setelah berkata seperti itu, Min Woo berjalan pergi.
"Lee Gang Mo adalah orang yang paling menakutkan yang pernah kutemui." kata Pil Yeon.
Sung Mo tersenyum.

Min Woo masuk ke ruangannya dan langsung membanting vas bunga.
"Lee Gang Mo!" teriaknya marah.

Cheol Su dan Gang Mo saling mengucapkan terima kasih satu sama lain.
"Kau harus berterima kasih pada orang lain." kata Cheol Su. "Bukan aku yang mengirimkan contoh alat."
"Lalu siapa?" tanya Gang Mo.
"Hwang Jung Yeon." jawab Cheol Su. "Dia memintaku merahasiakannya padamu, tapi dialah orang yang mengirimku padamu. Kau memiliki teman yang sangat baik."
Gang Mo terkejut mendengar hal itu.
Nam Suk datang ke apartemen Tae Sub untuk mencari gara-gara. Ia menjambak rambut Gyeong Ok dengan marah.
"Apa kalian tinggal bersama?!" tanya Nam Suk.
Gyeong Ok melepaskan diri dari jambakan Nam Suk dan mendorongnya hingga jatuh.
"Apa yang kau lakukan?!" seru Gyeong Ok.
"Sejak kapan kalian tinggal bersama?!" tanya Nam Suk. "Aku yakin kau pasti senang karena kami bercerai! Ah, jangan bilang kalau kau adalah ibu Jung Yeon."
"Kau!" Tae Sub berteriak marah. "Kau tidak punya hak bersikap seperti ini! Keluar!"
"Kenapa aku tidak punya hak?" tanya Nam Suk. "Kau adalah ayah Jeong Shik! Ayah dari anakku! Aku memang bersalah karena tidak membesarkannya dengan benar! Tapi kau juga menghancurkannya! Kau lebih buruk dari aku!"
"Apa yang terjadi pada Jeong Shik?" tanya Tae Sub.
"Ia tenggelam dalam judi!" seru Nam Suk. "Ia tidak peduli lagi pada hidupnya sendiri!"
"Apa?"
Nam Suk menangis dan berlutut di kaki Tae Sub. "Kumohon padamu, tolong hentikan dia! Aku tidak bisa hidup tanpa dia! Kumohon bantu dia!"

Disaat yang sama, Jeong Shik sedang bermain judi, walau ia hampir selalu kalah.
"Kau membutuhkan uang?" tanya Bucheol menawarkan. "Tanda tangan disini."
Dengan mudah, Jeong Shik menandatangani surat pinjaman uang itu.

Gang Mo mengintip Jung Yeon ketika Jung Yeon pulang dari kantor.

Jung Yeon berjalan perlahan dan masuk ke kedai makanan.
Tidak lama kemudian, Gang Mo masuk juga ke kedai itu dan duduk di sampingnya.
"Kudengar kau membuka usaha." kata Gang Mo, memulai pembicaraan. "Apakah berjalan lancar?"
Jung Yeon terlihat kikuk. "Ya, lumayan." jawabnya. "Kau?"
"Aku sibuk." jawab Gang Mo singkat.
Mendadak Bucheol masuk ke kedai dan duduk disisi lain Jung Yeon.
"Sedang makan malam?" tanyanya pada Jung Yeon.
Jung Yeon dan Gang Mo menoleh pada Bucheol.
"Berkat kau, semuanya berjalan lancar." kata Bucheol.
"Apa besok kau ada acara?" tanya Bucheol. "Seorang temanku dari Amerika membawakanku sedikit hadiah. Tapi itu barang-barang wanita, jadi..."
Jung Yeon diam.
Gang Mo memberikan ikan goreng tusuknya pada Jung Yeon.
"Sejak kecil kau sangat menyukai ikan goreng." kata Gang Mo.
Jung Yeon kaget.
Bucheol melihat Gang Mo.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda