Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Giant Episode 40

Thursday, June 16, 2011

Sinopsis Giant Episode 40


Malam itu, So Tae mengendap-endap mendekati truk mengangkat pasir.
Seorang pria memberikan segepok uang pada So Tae. So Tae memberi pria tersebut komisi.
"Kalian bisa tutup mulut, kan?" tanya So Tae.
Pria itu tersenyum dan mengangguk.
So Tae memasukkan uang itu ke dalam saku jasnya.

So Tae menggunakan uang itu untuk berjudi bersama Jeong Shik dan teman-temannya.
"Siapa itu?" tanya Bucheol pada Jeong Shik, menunjuk So Tae.
"Dia adalah Direktur Perusahaan Hangang." jawab Jeong Shik.
"Perusahaan Hangang?" Bucheol terlihat senang. "Berarti, dia mengenal Lee Gang Mo dengan baik?"
"Dia salah satu pendiri perusahaan." kata Jeong Shik.
Bucheol memandang So Tae.

“Jadi Lee Gang Mo ingin mengganggu pelelanganmu terhadap perusahaan boiler itu?” tanya Pil Yeon pada Min Woo. “Darimana dia mendapat uang?”
“Kurasa dia didukung oleh Baekpa.” kata Min Woo.
Pil Yeon sangat marah mendengar hal itu. “Dengar.” katanya pada Bucheol. “Bisakah kau membujuk Hwang Jung Yeon untuk bekerja sama dengan Lee Gang Mo dalam pelelangan itu?”
“Kau ingin menarik Lee Gang Mo ke pihak kita?” tanya Bucheol.
“Jika kita bisa melakukan itu, kita bisa menyelesaikan semua masalah kita dengan satu pukulan.” kata Pil Yeon.
“Aku hanya ingin menjatuhkan Hwang Jung Yeon.” kata Bucheol.
“Rencanamu tidak akan berubah.” kata PIl Yeon menegaskan. “Kau hanya perlu bergabung dengan Lee Gang Mo dan membuat harga lelang yang lebih tinggi dibanding kami. Dan saat pelelangan selesai, kau bisa mengambil semua deposit dan melarikan diri di detik terakhir.”
“Setelah itu, kontrak Lee Gang Mo akan dibatalkan dan Perusahaan Manbo memenangkan pelelangan di tempat kedua.”

Bucheol meminta Jung Yeon membujuk Gang Mo agar mau bekerja sama dengan mereka di pelelangan.
“Aku akan bicara dulu dengannya.” kata Bucheol. “Jika ia menolak, kau cobalah untuk membujuknya.”
Jung Yeon ragu.
Gang Mo tertawa mendengar usulan Bucheol.
“Bekerja sama?” tanya Gang Mo. “Tindakan itu tidak membawa keuntungan apa-apa untuk kami.”
“Mungkin keputusanmu akan berubah setelah melihat ini.” ujar Bucheol seraya memberikan sebuah berkas pada Gang Mo.
Gang Mo membuka berkas itu. Proposal Gas Boiler.
“Gas Boiler Beaute adalah pembuat radiator.” kata Bucheol. “Jadi, mereka tidak benar-benra sesuai dengan kebiasaan ondol kita.” Ondol adalah pemanasan ruangan di bawah lantai. “Aku sudah melakukan penelitian untuk membuat gas boiler sesuai dengan kebiasaan orang Korea sehingga cocok untuk lantai ondol kita.”
“Jadi maksudmu, kau butuh teknologi Beaute untuk boilermu?” tanya Gang Mo.
“Ya.” jawab Bucheol. “Jika pelelangan selesai, aku akan membagi penemuanku padamu.”
“Ini bagus.” kata Gang Mo. “Tapi kurasa ini bukan sesuatu yang bisa diputuskan dengan mudah.”
Gang Mo berjalan pergi.

Jung Yeon dan Gang Mo bicara.Tidak diceritakan bagaimana negosiasi mereka, namun akhirnya Gang Mo setuju untuk bekerja sama dengan Bucheol.
“Direktur Hwang dan aku akan mengurus masalah deposit.” kata Bucheol.
“Kau mengatakan kalau kau memberikan investasi 300 jut a won?” tanya Gang Mo pada Jung Yeon.
“Ya.”
“Kau akan menerima 10 persen dari saham perusahaan dan akan diproklamirkan menjadi Direktur juga.” kata Gang Mo.
“Jadi kita mengajukan penawaran dengan nama Perusahaan Hangang?” tanya Bucheol.
“Karena kau yang ingin bekerja sama lebih dulu, kita gunakan saja nama Taeyang.” usul Gang Mo.
“Tidak masalah.” kata Bucheol.
Bucheol dan Jung Yeon kemudian menandatangani kontrak kerja sama. Gang Mo belum tanda tangan.
“Sesuai kesepakatan, aku akan menyiapkan semua berkas yang diperlukan untuk penawaran ini.” kata Gang Mo.
“Berapa harga penawaran yang ingin kau ajukan?” tanya Bucheol.
“Aku tidak bisa memberitahukan informasi itu padamu.” jawab Gang Mo. “Manbo pasti berusaha mencari tahu mengenai itu. Jadi kuharap kalian mengerti.”
Bucheol terlihat kesal. “Masih saja dingin seperti itu.” keluhnya sinis.
“Ingat, aku belum menandatangani kesepakatan ini.” ancam Gang Mo. “Jika kalian tidak setuju dengan caraku, maka anggap saja kesepakatan ini tidak pernah ada.”
Jung Yeon melirik ke arah Bucheol yang kelihatan marah. Namun akhirnya Bucheol setuju.

Jae Chun memata-matai Gang Mo ketika ia dan Baekpa sedang berbincang. di pinggir danau.
“Kelihatannya kau datang bukan untuk memancing ikan, tapi untuk memancing orang.” kata Baekpa.
“Darimana kau tahu?” tanya Gang Mo.
“Ada orang mencurigakan yang bersembunyi di belakang sana.” ujar Baekpa. “Bukankah kau yang memancingnya kemari?”
Gang Mo tertawa. “Dia bekerja untuk Jo Pil Yeon.”
“Jo Pil Yeon..” gumam Baekpa. “Jika kau menggunakan cukup umpan untuk memancingnya, aku yakin kau akan mendapatkan ikan yang besar.”
Gang Mo tertawa.

“Jadi kau gagal mengetahui harga penawarannya?!” seru Pil Yeon marah seraya menggebrak meja.
“Dia benar-benar tidak mau buka mulut.” kata Bucheol meminta maaf.
“Lee Gang Mo bertemu dengan Baekpa lagi.” kata Jae Chun melaporkan. “Mereka berdua kelihatan sangat akrab.”
“Jika ini hanya pertempuran uang, kita tidak perlu cemas.” kata Min Woo. “Tapi masalahnya adalah kita harus menjadi posisi kedua.”
“Aku punya ide.” kata Bucheol. “Park So Tae bekerja untuk Hangang. Dia menjual bahan baku bangunan dan menghabiskan uangnya di meja judi. Dari informasi yang kudapatkan, ia salah satu orang penting di Hangang. Dia bisa kita peralat untuk mengetahui harga penawaran Lee Gang Mo.”
Pil Yeon dan Min Woo kelihatan ragu. Ia takut So Tae akan menyebabkan masalah lain untuk mereka. Namun Bucheol meyakinkan bahwa ia punya cara sendiri untuk Park So Tae.

“Kenapa kau memintaku mencari tahu harga penawaran mereka juga?” tanya Sung Mo.
“Jika mereka tidak bisa menemukan harga penawaran kita terlebih dulu, maka mereka tidak akan mudah memutuskan harga penawaran mereka.” kata Gang Mo.
“Aku akan membohongi mereka lagi.” kata Sung Mo.
“Itu berbahaya kak.”
Sung Mo tersenyum. “Jika kau butuh bantuan, aku akan selalu ada untukmu.” janjinya.

Malam itu, seperti biasanya So Tae mengambil sebagian uang hasil penjualan pasir.
Mendadak, Young Chul datang dan memergoki So Tae.
“Berikan uang itu.” kata Young Chul.
“A… ada apa denganmu?” tanya So Tae seraya menjauhkan uang itu dari Young Chul.
“Kau lupa siapa orang yang membantu kita hidup layak seperti orang lain?” tanya Young Chul. “Kau pantas dihukum karena melakukan ini pada Gang Mo.”
“Siapa itu Gang Mo?” tanya So Tae. “Apa bagusnya dia? Kenapa semua orang memperlakukannya seperti Dewa?”

Young Chul memukul So Tae.
“Kau orang tidak tahu terima kasih!” serunya. “Aku selalu menganggapmu adik. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan hidup jujur bersamamu. Tapi kau malah seperti ini.”
“Aku memang begini!” seru So Tae. “Minggir!”
“Kau tidak boleh pergi!” seru Young Chul, menahan So Tae. “Kau minta maaflah pada Gang Mo dan mulai dari awal lagi, So Tae.”
So Tae mendorong Young Chul hingga terjatuh, lalu berlari pergi.
Tanpa mereka sadari, saat itu Min Woo dan Bucheol sedang memata-matai dari kejauhan.
“Bagaimana?” tanya Bucheol. “Apa itu cukup bagus untukmu?”
Min Woo tersenyum tipis, melihat So Tae pergi bersama uang itu.

So Tae membuang-buang uangnya di meja judi. Namun sayang ia hampir selalu kalah, karena partner So Tae yang bermain judi bersamanya adalah kroni-kroni Bucheol.
Bucheol menawarkan peminjaman uang.
"Kau bisa membayar tepat waktu, bukan?" tanya Bucheol.
"Jangan khawatir." kata So Tae. "Aku akan membayar semuanya sebelum besok pagi."
Setelah So Tae pergi, Bucheol tertawa. Ia memerintahkan anak buahnya agar mengalahkan So Tae hingga telak.
Dengan tidak nyaman, Young Chul menemui Gang Mo.
"Gang Mo, mulai saat ini, aku akan mengembalikan semua gajiku pada perusahaan." katanya.
"Apa maksudmu?" tanya Gang Mo bingung.
"Jangan marah dan dengarkan aku." ujar Young Chul. "So Tae... Si bodoh itu... Ia menjual pasir diam-diam."
"Pencurian." kata Gang Mo tenang saraya minum.
"Jadi karena itulah aku mengatakan padamu akan mengembalikan gajiku!" seru Young Chul cepat sebelum Gang Mo marah. "Ambil uangku dan berpura-puralah seakan itu hasil penjualan pasir. Lakukan itu untukku. Jangan pecat So Tae. Aku yakin ia akan sadar. Aku akan bertanggung jawab."
"Mulai sekarang, kau akan menangani masalah bahan baku bangunan." kata Gang Mo. "So tae akan kembali ke tugas kantor."
"Baiklah, jadi kau akan memaafkannya?" tanya Young Chul.
"Aku akan membeli kembali semua pasir yang dia jual dengan uangku sendiri." ujar Gang Mo.
"Terima kasih, Gang Mo!"

Mi Joo akan menerbitkan album pertamanya. Ia memakai nama samaran Cha Soo Jeong.
Malam itu di Royal Club, Mi Joo bertemu dengan salah seorang PD yang akan mempromosikan albumnya.
"Berdiri." kata PD itu.
Mi Joo langsung berdiri. "Apakah aku harus menyanyikan lagu?" tanyanya.
PD menggeleng. "Memutar." katanya.
Mi Joo kelihatan tidak nyaman, namun ia memutar tubuhnya.
PD melihat Mi Joo dengan pandangan mesum. Ia lalu menyuruh Mi Joo duduk di sampingnya.
Mi Joo kelihatan enggan.
"Duduk." perintah asisten PD.

Mi Joo duduk dan PD langsung merangkul pundaknya.
"Memutar lagu pendatang baru sepertimu di radio bukanlah lelucon." kata PD. "Di mejaku banyak sekali rekaman seperti ini. Kau mengerti? Tuangkan minum untukku."
"Apa?" tanya Mi Joo kaget.
"Apa kau tidak ingin menjadi penyanyi?" ancam PD.
Mi Joo ragu. Ia menarik napas dan menuangkan minuman pada pria itu.
Ketika sedang menuang minuman, PD membisikkan sesuatu ke telinga Mi Joo hingga Mi Joo menumpahkan minuman.
Setelah itu, Mi Joo berlari keluar.

"Direktur, maaf aku tidak bisa melakukannya." kata Mi Joo pada Gyeong Ok. "Aku keluar."
Gyeong Ok menampar wajah Mi Joo.
Tidak jauh, Myeong Seok terkejut melihat mereka.
Mi Joo menangis.
"Kembali ke dalam!" perintah Gyeong Ok. "Kembali kedalam dan katakan pada pria itu alasan kau tidak ingin melakukannya. Katakan bahwa ia melakukan kesalahan. Kau mengerti?"
Mi Joo diam.
"Aku tidak akan memaksa kau melakukan apa yang mereka inginkan." kata Gyeong Ok. "Tapi, aku tidak bisa mentorerir kenyataan bahwa kau melarikan diri jika kau tidak melakukan kesalahan! Aku mempertaruhkan namaku untuk membantumu menjadi penyanyi. Beraninya kau mempermalukan aku seperti itu! Ambil kembali rekamanmu. Jika ada orang yang bisa membuangnya, orang itu adalah aku."
Mi Joo masuk kembali ke dalam ruangan.
"Kenapa? Kau ingin minta maaf?" tanya PD.
"Kembalikan rekamanku." kata Mi Joo.
"Apa?"
Mi Joo mengambil tape rekamannya di meja. "Kau tidak pantas mendengar ini." katanya. "Bukankah kau datang kemari untuk bertemu dengan penyanyi? Jadi kau memilih penyanyi dengan cara seperti ini tanpa mendengar nyanyian mereka? Kau mungkin punya kekuatan untuk memilih penyanyi, tapi aku tidak akan membiarkan orang sepertimu mendengar laguku. Aku punya hak melakukan itu."
"Kau!" PD bangkit dari duduknya dengan marah.

Gyeong Ok masuk ke ruangan.
"Kau memanggilku datang kemari hanya untuk mendengar perempuan ini mengoceh?" tanya PD tajam pada Gyeong Ok.
"Apa kau sudah tidak bisa melihat orang yang punya bakat?" tanya Gyeong Ok tajam. "Kau tunggu saja. Lihat akan jadi apa Cha Soo Jeong satu tahun ke depan. Aku tidak ingin membiarkan orang yang tidak bisa membedakan antara permata dan batu untuk mengurus Soo Jeong."
"Cha Soo Jeong!" teriak PD. "Jangan berani bermimpi untuk menjadi bintang!"
Myong Seok memperhatikan semua kejadian itu.

Myeong Seok datang ke perusahaan tempat PD itu bekerja.
Direkturnya langsung memanggil pria itu.
"Kau pikir siapa dirimu?!" seru Direktur. "Komite Kedisiplinan akan segera memutus kontrakmu!"
"Tapi..."
"Tutup mulutmu!" bentak Direktur. "Enyah dari hadapanku!"
PD itu keluar dari ruangan.
Myeong Seok menyerahkan tape rekaman lagu Mi Joo pada Direktur.
"Dengarkan ini." katanya. "Dia keponakanku. Dia merekam album. Jika kau suka, hubungi aku."
"Ya." jawab Direktur. "Akhir-akhir ini kami kesulitan mendapatkan bakat baru."
"Bukan karena dia keponakanku, tapi aku yakin kau akan suka jika mendengar suaranya." kata Myeong Seok, tertawa.

Lagu Mi Joo diputar di radio.
Saat itu, Min Woo mendengar lagu Mi Joo di radio, namun tidak mengenali suara Mi Joo.

Karena tidak bisa membayar hutang, Bucheol dan kroninya menangkap dan mengikat So Tae dekat danau.
"Jangan bunuh aku!" seru So Tae. "Kumohon ampuni aku. Aku akan membayar uangmu."
"Kau sudah kalah 100 juta." ujar Bucheol. "Bagaimana kau akan membayarnya?"
"Bagaimana bisa 20 juta tiba-tiba menjadi 100 juta?" tanya So Tae ketakutan.

Tidak lama kemudian Min Woo datang.
"Jangan bunuh aku! Kumohon!" teriak So Tae. "Aku tidak mau mati seperti ini."
Min Woo mengancam dan menakut-nakuti So Tae.
"Apa kau mau melakukan sesuatu untukku sebagai gantinya?" tanya Min Woo.
"Ya. Yang penting aku hidup." kata So Tae.
"Kau tahu sedang melakukan penawaran terhadap perusahaan boiler kan?" tanya Min Woo. "Aku akan membayarkan 100 juta untukmu, tapi kau harus mencari tahu berapa harga penawaran perusahaanmu."
So Tae diam.
"Tenggelamkan dia di danau!" perintah Min Woo.
"Ya!" seru So Tae cepat. "Aku akan melakukannya."

So Tae murung di kantor.
Gyeong Ja menanyakan mengenai penampilannya. Biasanya So Tae sangat menyukai dan kagum pada Gyeong Ja, namun hari itu So Tae kelihatan tidak tertarik.
"Apa tidak ada yang speseial dariku?" tanya Gyeong Ja.
Ya." jawab So Tae lemah, tidak fokus.
Gyeong Ja sangat terpukul mendengarnya.

Gang Mo, So Tae, Young Chul dan Sideok mengadakan rapat mengenai pelelangan. Gang Mo menetapkan harga 12.7 miliar.
Sebelum bubar, Gang Mo memberikan satu lembar uang pada So Tae.
"Kurasa kau membutuhkannya." kata Gang Mo.

So Tae melaporkan harga penawaran Gang Mo pada Min Woo. Sebagai gantinya, Min Woo menyerahkan satu koper uang.
"Sampai pelelangan berakhir, kau harus tetap disini." kata Min Woo pada So Tae. "Jika 12.7 miliar itu bohong, maka kau tidak akan keluar hidup-hidup dari sini."
Min Woo menyatakan bahwa ia akan menetapkan harga kurang 50 juta dari penawaran Gang Mo.

Tae Sub menemui Baekpa untuk meminta bantuannya.
Tae Sub berlutut di hadapan Baekpa.
"Aku tidak memiliki apapun sebagai jaminan untukmu." katanya. "Yang kumiliki hanyalah ambisi dan semangat yang selalu menujukkanku jalan selama ini. Izinkan aku berteriak pada dunia sekali lagi."
"Untuk apa dan melawan siapa?" tanya Baekpa.
"Jo Pil Yeon." jawab Tae Sub. "Dia adalah iblis. Aku ingin menghukumnya dengan tanganku sendiri."
"Bangun." kata Baekpa. "Kau membuatku merasa bingung."
"Bingung?" tanya Tae Sub.
"Mendadak aku merasa ingin melakukan sesuatu yang penting." jawab Baekpa. "Aku menemukan keinginan baru."

Hari itu Oh Byeong Tak berulang tahun. Ia mengundang Pil Yeon, Hong Gi, Gyeong Ok dan Myeong Seok. Tidak lama kemudian, Baekpa datang bersama Tae Sub.
"Direktur Hwang, kapan kau kembali?" tanya Myeong Seok. "Apa keadaanmu lebih baik.
"Ya." jawab Tae Sub. "Waktu sudah cukup lama berlalu."
Disini, Baekpa dan Tae Sub mengumumkan bahwa mereka mengangkat saudara.
"Sekarang kami saudara angkat." kata Baekpa.
Semua terkejut.
Pil Yeon tertawa terbahak-bahak dan berjalan keluar ruangan.
"Ada apa dengannya?" tanya Byeong Tak.

Sideok menemui Gang Mo dengan cemas.
"Mereka masih terus menjaga So Tae." kata Sideok. "Apakah mereka bisa mencari tahu sebelum besok?"
"Kita hanya bisa percaya pada So Tae." ujar Gang Mo meyakinkan diri.

Jung Yeon duduk sendirian di ruangan kantornya. Ia membaca kembali fax yang disembunyikannya dari Bucheol dulu.
"Han Soo Jin. Nama Asli: Cha Bucheol. Lintah Darat, Pemimpin Gangster. 3 Percobaan Pembunuhan, 6 kasus Penipuan, dll. Jung Yeon, lakukan apa yang ia minta. Aku akan memberitahu semua rinciannya nanti." Begitulah Gang Mo menulis dalam faxnya.

Ketika Sung Mo sedang makan malam bersama Min Woo dan Bucheol, Gang Mo mengirim pesan lewat Chan Seong.
"Semangka apel plum pir alpukat melon"
"Bagaimana dengan Park So Tae?" tanya Sung Mo.
"Aku sudah berhasil mengetahui dimana mereka menyekapnya." jawab Chan Seong.

So Tae mengajak anak buah Bucheol bermain kartu.
Anak buah Bucheol kesal dan bosan setengah mati padanya.
"Cepat pesan makanan!" perintah salah satu anak buah.
"Kita makan saja diluar." kata So Tae.
"Kau tidak boleh keluar dari sini!"
"Siapa yang mau mengantar makanan subuh-subuh begini?" protes So Tae. "Lagipula kemarin aku sudah makan mie. Apa kalian tidak bosan?! Aku yang akan mentraktir kalian!"

So Tae akhirnya berhasil mengajak anak buah Bucheol keluar.
"Berikan kami buah." kata So Tae pada ibu-ibu penjual buah. Ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang kertas pemberian Gang Mo.
"Semangka (100), apel (10), plum (1)"
Tidak jauh dari ibu penjual buah, Sung Mo dan Chan Seong duduk mengamati.
Setelah So Tae pergi, Sung Mo mengatakan pada ibu penjual buah bahwa ia ingin membeli buah dengan jumlah yang sama dengan yang dibeli So Tae.

Hari pelelangan.
"Apa kau bermimpi indah tadi malam?" sapa Min Woo pada Jung Yeon.
"Aku bermimpi memakan buah yang lezat." jawab Jung Yeon.
Min Woo hanya tersenyum. "Dimana Gang Mo?" tanyanya.
Jung Yeon tidak menjawab, malah masuk ke dalam lift.

Pelelangan sudah hampir dimulai, namun Gang Mo tak juga muncul.
Saat itu Gang Mo sedang berada di dalam mobilnya, menunggu telepon Sung Mo.
"Berapa kak?" tanya Gang Mo.
"Satu semangka, dua apel, enam plum, lima pir." kata Sung Mo.
Gang Mo menulis itu di kertas.
"12.65 juta." gumam Gang Mo.

Pelelangan dimulai. Para pengusaha memasukkan harga penawaran mereka ke dalam box kaca.
Gang Mo tak juga datang.
Jung Yeon cemas.
"Biar aku yang tulis." kata Bucheol.
"Tunggu!" larang Jung Yeon.
Satu detik kemudian, Gang Mo tiba dan memasukkan harga penawarannya.
"Sekarang, bisakah kau memberitahu berapa harga penawaranmu?" tanya Bucheol.
"12.7 miliar." jawab Gang Mo.
Bucheol tersenyum. Berarti So Tae tidak berbohong. Ia mengangguk, memberi isyarat pada Min Woo bahwa semuanya terkendali.

Gang Mo memenangkan pelelangan atas nama Taeyang.
Min Woo tersenyum, lalu memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan So Tae.

Setelah melihat kontrak dengan Perusahaan Beaute, Gang Mo, Jung Yeon dan Bucheol keluar dari ruangan.
"Aku akan mengambil deposit." kata Bucheol pada Gang Mo. Ia berpaling pada Jung Yeon. "Kau sudah mentransfer 300 juta ke rekeningku, kan?"
"Ya." jawab Jung Yeon.
"Pergilah, kami akan menunggu disini." kata Gang Mo.

Bucheol berjalan pergi.
"Lewat dari jam 5, kontrak akan dibatalkan. Kau sudah menelepon polisi, kan?" tanya Jung Yeon pada Gang Mo.
"Tentu saja. Jam 5, polisi akan mengepung tempat itu."
"Tapi bagaimana kalau polisi gagal menangkap mereka?" tanya Jung Yeon lagi.
"Jangan cemas, aku mengirim orang yang tidak akan pernah gagal menjalankan misinya." jawab Gang Mo tenang. "Terima kasih, Jung Yeon."
Jung Yeon tersenyum. "Terima kasih padamu, aku lolos dari penipuan."
Gang Mo dan Jung Yeon bersalaman (berpegangan) tangan, pertanda bahwa mereka partner.

Bucheol mengambil yang 300 juta di bank. Sung Mo dan beberapa polisi sudah mengintainya.
Bucheol sengaja menunggu sampai jam 5, kemudian turun dari mobil dan menelepon rumah Baekpa.
"Baekpa sedang tidur." Gyeong Ok menerima telepon.
"Kalau begitu, sampaikan pesanku padanya." kata Bucheol. "Aku berhasil mencuri uang Jung Yeon. Aku memenangkan tes."
Beberapa saat kemudian, polisi datang dan langsung menangkap Bucheol.
Chan Seong dan Sung Mo mengamankan uang Jung Yeon.

Min Woo mendapat telepon dan mengatakan bahwa kontrak dibatalkan karena Gang Mo tidak bisa membawa deposit.
Min Woo dan Pil Yeon tersenyum senang.

So Tae, Sideok, Young Chul dan Gyeong Ja mengendarai mobil menuju ke tempat Gang Mo.
"So Tae, kau seharusnya tidak bersikap begitu pada temanmu." protes Young Chul. "Kau tahu bagaimana rasanya berpikir kau telah mengkhianati kami?"
"Memangnya aku masih Park So Tae yang lama? Aku tidak akan pernah mengkhianati Gang Mo lagi." kata So Tae.
"Apa kau tahu, Sideok?"
"Aku tidak tahu!" jawab Sideok cepat. "Gang Mo memberitahuku setelah So Tae pergi."
"Jadi aku yang paling terakhir tahu?!" seru Young Chul kesal.

"Kudengar kau tidak bisa membayar deposit." kata Min Woo pada Gang Mo, merasa menang. "Lalu, apa yang kau lakukan disini?"
"Aku hanya ingin memberi selamat padamu." kata Gang Mo tenang. "Kemarin kau melakukan hal yang sama padaku. Hutang harus selalu dibayar, bukan?"
Karena Gang Mo tidak bisa membayar, maka kontrak jatuh pada penawar tertinggi kedua.
"Pemilik Boiler Beaute yang baru dengan penawaran 12.651 miliar won..." ujar pihak Beaute.
Min Woo sudah bangkit dari duduknya, namun kemudian duduk lagi dengan terkejut.
"... adalah Perusahaan Hangang." lanjut pihak Beaute.
Min Woo sangat terpukul.
"Kau... bukankah kau menawar atas nama Taeyang?" tanya Min Woo.
Gang Mo tersenyum. Sebelumnya di mobil, ia membuat dua buah penawaran atas nama dua perusahaan yang berbeda, yakni Taeyang dan Hangang.


Min Woo kehabisan napas, saking shocknya menerima kekalahan yang telak.
"Selamat, Presiden Lee Gang Mo." Jung Yeon mengulurkan tangan untuk menjabat Gang Mo.
"Terima kasih." Gang Mo menyambut tangan Jung Yeon.
Saat itulah So Tae dan yang lainnya datang.
"Aku membawa depositnya." kata So Tae, menyerahkan koper pada Gang Mo. "Ayo kita menandatangi kontrak."
"Park So Tae..." gumam Min Woo.
"Terima kasih karena membiarkanku tahu harga penawaranmu." kata So Tae tajam.
Gang Mo tersenyum.

7 comments:

vanilaeru said...

wuahh, makin kerenn..
kumawo un P..
pnasaran sama episod2 selanjutnya.
udah punya dvdnya, tapi..
nunggu kelar skripsi..:P

mie rf said...

jiakakakakak

penghilang seteres ni eps40, menjelang uas besok

Anonymous said...

hem tinggal 20 episod lagi semangat....! complicated......sayg pasgn MinMi lum d ceritain lagi y.....! -eka kalbar-

cha_sya said...

Yups....Trims Putri...akhirnya tahu bahwa So Tae nggak jahat banget sm gangmo.

Kmrn nonton belum selesai diepisode ini,untung Putri buat sinopnya.

Trims banget ya putri

Warga WR 05 said...

Hwaaa... Gang Mo makin keren... Sukaaa... Thanks recapnya ya... Lanjuuttt... ^_^

Qhaisar Rain said...

Hwaaa... Gang Mo makin keren... Sukaaa... Thanks recapnya ya... Lanjuuttt... ^_^

Qhaisar Rain said...

Hwaaa... Gang Mo makin keren... Sukaaa... Thanks recapnya ya... Lanjuuttt... ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda