"Kenapa kau lakukan ini?!" teriaknya pada Seung Hye. "Bisa-bisanya kau melakukan ini padak!"
"Aku lebih suka kau pergi selama 2 tahun dibandingkan diasingkan dari lingkungan." kata Seung Hye.
Cheol Su menendang-nendang rak buku Seung Hye dengan emosi.
"Ini tidak berlaku karena aku tidak mendaftar sendiri." ujar Cheol Su seraya merobek-robek surat wajib militer. "Mulai saat ini, aku tidak akan memanggilmu kakak lagi."
Keesokkan harinya, Cheol Su datang ke kantor pemerintahan untuk membatalkan wajib militernya. Namun usahanya itu gagal. Wajib militer tidak bisa dibatalkan.
Cheol Su malah mengamuk di kantor pemerintahan.
Cheol Su sangat sedih karena harus pergi meninggalkan Byung Hee selama dua tahun.
Tapi Byung Hee menenangkannya. Ia berjanji akan menunggu Cheol Su kembali.
Cheol Su tersenyum senang.
Byung Hee sebenarnya sangat sedih, namun ia mencoba tetap terlihat ceria di depan Cheol Su.
Dalam 14 hari sebelum kepergian Cheol Su, Byung Hee ingin bersenang-senang dengannya.
"Hari ini kau bersikap aneh." kata Cheol Su pada Byung Hee. "Kenapa kau tidak katakan saja kalau kau cemas?"
"Ya, aku cemas!" seru Byung Hee. "Aku takut! Kau pikir 2 tahun adalah waktu yang singkat? Kau bisa saja berubah!"
"Apa kau takut aku berubah?" tanya Cheol Su.
"Ya, aku takut!" seru Byung Hee. "Hati manusia bisa berubah 100 kali setiap hari! Dan ini dua tahun! Dua tahun!"
Cheol Su berjalan pergi.
Lagi-lagi majalah tempat Byung Hee bekerja mendapat masalah lagi dari ibu-ibu yang complaint. Pihak majalah dibantu oleh Hee Myung berusaha menyelesaikan masalah itu secara baik-baik di kantor polisi.
Tapi ibu-ibu tersebut malah ribut-ribut dan menjambak rambut Byung Hee.
Cheol Su datang dan melihat keributan itu. Ia langsung mendorong di ibu-ibu hingga terjatuh.
Hee Myung hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kenapa kau ikut campur?!" seru Byung Hee seraya menarik Cheol Su keluar dari kantor polisi.
"Lalu kau menyuruhku hanya diam dan melihat?" Cheol Su bertanya balik.
"Kau hanya membuat segalanya menjadi semakin buruk!" seru Byung Hee. "Hee Myung hampir saja menyelesaikan segalanya!"
Byung Hee mengatakan kalau Cheol Su belum dewasa. "Kembalilah menjadi pria yang dewasa setelah wajib militer!"
"Jadi karena itu kau menelepon Dr.Bae?" tanya Cheol Su.
"Ya, aku meneleponnya."
"Bagus, kau bisa meneleponnya setiap hari ketika aku wajib militer!"
"Memangnya kau bisa datang kalau aku menelepon?"
"Lalu kenapa kau mengatakan kalau kau akan menungguku?!" seru Cheol Su.
"Aku menyesal mengatakannya! Itu kesalahan!" teriak Byung Hee emosi. "Semua itu menggelikan! Aku tidak tahan lagi!"
Cheol Su diam. Ia pergi mengendarai motornya.
Beberapa hari kemudian, Cheol Su menelepon dan mengajak Byung Hee bertemu.
"Kenapa beberapa hari ini kau tidak meneleponku?" tanya Cheol Su.
"Kenapa kau tidak menelepon?" Byung Hee bertanya balik.
"Kupikir kau akan menelepon jika senggang." jawab Cheol Su.
"Kupikir kau juga akan menelepon kalau sedang senggang." Byung Hee menjawab dengan jawaban yang sama.
Cheol Su tertawa.
Cheol Su mengajak Byung Hee makan di sebuah restoran mewah, setelah itu mengantarnya pulang.
Byung Hee memeluk Cheol Su sebelum masuk ke rumah.
Cheol Su meminta Byung Hee agar melepon seseorang jika merasa sedih atau ingin menangis. Ia mengatakan semua pesan-pesannya pada Byung Hee sebelum pergi wajib militer.
"Hubungi teman-temanmu saat hari natal dan saat ulang tahunmu." katanya. "Jangan sedih ketika hujan. Jika terkena flu, pergilah ke rumah sakit. Jika ingin minum, temui Dr. Bae."
"Ada apa denganmu?" tanya Byung Hee, mulai cemas.
"Kita... kita putus saja." ujar Cheol Su. Jangan menungguku."
Dalam 14 hari sebelum kepergian Cheol Su, Byung Hee ingin bersenang-senang dengannya.
"Hari ini kau bersikap aneh." kata Cheol Su pada Byung Hee. "Kenapa kau tidak katakan saja kalau kau cemas?"
"Ya, aku cemas!" seru Byung Hee. "Aku takut! Kau pikir 2 tahun adalah waktu yang singkat? Kau bisa saja berubah!"
"Apa kau takut aku berubah?" tanya Cheol Su.
"Ya, aku takut!" seru Byung Hee. "Hati manusia bisa berubah 100 kali setiap hari! Dan ini dua tahun! Dua tahun!"
Cheol Su berjalan pergi.
Lagi-lagi majalah tempat Byung Hee bekerja mendapat masalah lagi dari ibu-ibu yang complaint. Pihak majalah dibantu oleh Hee Myung berusaha menyelesaikan masalah itu secara baik-baik di kantor polisi.
Tapi ibu-ibu tersebut malah ribut-ribut dan menjambak rambut Byung Hee.
Cheol Su datang dan melihat keributan itu. Ia langsung mendorong di ibu-ibu hingga terjatuh.
Hee Myung hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kenapa kau ikut campur?!" seru Byung Hee seraya menarik Cheol Su keluar dari kantor polisi.
"Lalu kau menyuruhku hanya diam dan melihat?" Cheol Su bertanya balik.
"Kau hanya membuat segalanya menjadi semakin buruk!" seru Byung Hee. "Hee Myung hampir saja menyelesaikan segalanya!"
Byung Hee mengatakan kalau Cheol Su belum dewasa. "Kembalilah menjadi pria yang dewasa setelah wajib militer!"
"Jadi karena itu kau menelepon Dr.Bae?" tanya Cheol Su.
"Ya, aku meneleponnya."
"Bagus, kau bisa meneleponnya setiap hari ketika aku wajib militer!"
"Memangnya kau bisa datang kalau aku menelepon?"
"Lalu kenapa kau mengatakan kalau kau akan menungguku?!" seru Cheol Su.
"Aku menyesal mengatakannya! Itu kesalahan!" teriak Byung Hee emosi. "Semua itu menggelikan! Aku tidak tahan lagi!"
Cheol Su diam. Ia pergi mengendarai motornya.
Beberapa hari kemudian, Cheol Su menelepon dan mengajak Byung Hee bertemu.
"Kenapa beberapa hari ini kau tidak meneleponku?" tanya Cheol Su.
"Kenapa kau tidak menelepon?" Byung Hee bertanya balik.
"Kupikir kau akan menelepon jika senggang." jawab Cheol Su.
"Kupikir kau juga akan menelepon kalau sedang senggang." Byung Hee menjawab dengan jawaban yang sama.
Cheol Su tertawa.
Cheol Su mengajak Byung Hee makan di sebuah restoran mewah, setelah itu mengantarnya pulang.
Byung Hee memeluk Cheol Su sebelum masuk ke rumah.
Cheol Su meminta Byung Hee agar melepon seseorang jika merasa sedih atau ingin menangis. Ia mengatakan semua pesan-pesannya pada Byung Hee sebelum pergi wajib militer.
"Hubungi teman-temanmu saat hari natal dan saat ulang tahunmu." katanya. "Jangan sedih ketika hujan. Jika terkena flu, pergilah ke rumah sakit. Jika ingin minum, temui Dr. Bae."
"Ada apa denganmu?" tanya Byung Hee, mulai cemas.
"Kita... kita putus saja." ujar Cheol Su. Jangan menungguku."























0 comments:
Post a Comment