adalah kakak Yi Hwon, yang lahir dari ayah yang sama namun ibu yang berbeda.

Yoon Bo Kyung (Kim Min Seo/Kim So Hyun)
adalah Ratu Hwon. Hwon menikahi Bo Kyung karena perintah dari neneknya.

Bab 1
Di suatu sore di musim gugur, hujan turun dengan sangat deras. Yi Hwon dan pengawal pribadinya, Woon, berteduh di sebuah pohon yang tinggi. Saat itu, Hwon sedang menyamar dengan mengenakan pakaian bangsawan. Sementara Woon kelihatan seperti seorang pendekar dengan rambut panjangnya diikat ke atas dan dua buah pedang besar tergantung di punggung dan pinggangnya.
Kedua pria itu berada sangat jauh dari desa terdekat, dan kelihatannya hujan tidak akan reda dalam waktu dekat. Tanpa sengaja, Hwon melihat sebuah pondok kecil di kaki bukit. Ia mengajak Woon untuk berteduh di pondok tersebut sampai hujan reda. Tanpa menunggu jawaban Woon, dengan cepat Hwon berjalan menuju pondok tersebut seakan sedang disihir oleh sesuatu. Woon tidak punya pilihan lain kecuali mengikutinya.
Ketika mereka tiba di pintu depan, Woon terdiam melihat sebuah galah yang dipasang di atas pagar. Ia meminta Hwon agar tidak masuk ke dalam pondok. Penghuni pondok itu pastilah seorang peramal.
Shaman sebenarnya bisa diartikan sebagai dukun/peramal/ahli roh. Tapi aku lebih menyukai kata "peramal" dibanding "dukun". Karena itu, aku akan menyebut mereka dengan "peramal".
Tidak lama kemudian, seorang gadis membuka pintu. Nantinya kita akan tahu bahwa nama gadis itu adalah Seol.
"Tunjukkan dirimu!" seru Woon.
“Apakah ada seorang pemilik rumah harus menunjukkan dirinya pada orang asing?" tanya Seol. "Seharusnya akulah yang mengatakan itu pada kalian.
“Lalu kenapa kau memiliki pedang?" tanya Woon lagi.
“Menakjubkan!" seru Seol. "Darimana kau tahu kalau aku memiliki pedang? Benar-benar sesuai dugaan.. Ah! Sepertinya aku bicara terlalu banyak. Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa Nonaku mengundang kalian masuk ke dalam."
“Aku bertanya padamu, kenapa kau memiliki pedang!" seru Woon bersikeras.
“Di tempat yang rawan ini, hanya ada dua orang wanita hidup sendirian Jadi, tidakkah menurutmu kami harus memiliki pedang untuk melindungi diri kami? Pertanyaanmu sangat bodoh. Ngomong-ngomong, apa kalian mau masuk ke dalam?"
Walaupun Hwon dengan senang hati ingin masuk ke pondok, namun ia tidak bisa memaksa Woon, yang bersikeras tetap tidak ingin masuk. Seol merasakan keragu-raguan tamunya. Karena itulah ia berkata, “Nonaku mengatakan padaku bahwa kemungkinan para tamu tidak akan berkenan masuk ke pondok kecil rendahan ini untuk mencari kehangatan dan lebih memilih untuk berdiri di depan pondok kecil rendahan."
Pernyataan Seol membuat Hwon memiliki alasan kuat bagi dirinya sendiri untuk masuk ke dalam pondok.
Seol mengantar para tamu ke sebuah ruangan kosong. Ruangan itu dipenuhi dengan aroma anggrek yang sangat menyengat, dan di lantai terdapat sebuah meja kecil dengan beberapa minuman dan makanan. Ruangan itu tidak ada bedanya dengan ruangan milik orang kebanyakan dan tidak punya ciri-ciri khusus bahwa pondok itu adalah milik seorang peramal. Justru kebalikannya, pondok itu kelihatan seperti milik seorang pelajar, dengan sebuah rak buku berisi buku-buku kuno seperti Reflections on the Five Classics dan Queries on the Great Learning.
Beberapa lama kemudian, terdengar suara langkah kaki. Nona pemilik rumah yang dipanggil oleh Seol sebagai "Nonaku" masuk ke dalam ruangan. Hwon duduk di lantai.
Ruangan itu dipisah oleh sebuah sekat dan Hwon hanya bisa melihat siluet seorang wanita anggun dibalik penyekat. Rambutnya diikat dengan sebuah daengi (pita), yang menunjukkan bahwa wanita itu belum menikah.
Dari seberang, si nona membungkuk pada Hwon. Ia membungkuk sekali, kemudian membungkuk lagi kedua kalinya. Secara tradisional, membungkuk kedua kali hanya ditujukan untuk orang yang sudah mati. Hwon dan Woon terkejut dengan tindakan si nona yang kurang ajar. Namun kemudian si nona membungkuk lagi ketiga kalinya, yang hanya ditujukan untuk Buddha. Hwon dan Woon lebih terkejut. Kemudian si nona membungkuk lagi keempat kalinya, yang hanya ditujukan untuk Raja. Setelah itu, si nona menekan keningnya di lantai dan merendahkan tubuhnya serendah mungkin.
“Angkat wajahmu.” ujar Hwon.
Si nona perlahan mengangkat tubuhnya dan meletakkan kedua tangannya di lutut. Hwon masih tidak bisa melihat wajah si nona.
Hwon bertanya kenapa si nona membungkuk empat kali padanya. "Apa kau tidak bisa menghitung?” tanya Hwon.
“Aku hanya ingin menunjukkan rasa hormatku pada Sang Matahari." jawab si nona.
Suara si nona rumah sangat merdu dan membuat Hwon kehilangan kata-kata.
“Apa maksudmu Sang Matahari?" tanya Hwon. "Bagi seorang wanita, Matahari menandakan suaminya."
“Seorang wanita juga adalah merupakan rakyat Joseon.” jawab Nona itu singkat.
Hwon tidak bisa berkata-kata lagi. Gadis ini jelas tahu bahwa ia adalah seorang Raja.
Hwon penasaran dengan Nona itu dan memintanya mengangkat wajahnya. Tapi Nona itu malah mempersilahkan Hwon minum. Hwon kemudian memerintahkan Woon agar memindahkan penyekat ruangan. Dalam satu sabetan pedang, Woon berhasil membuat penyekat itu rubuh ke lantai. Saat pedang Woon merubuhkan penyekat, saat itu juga awan hujan di langit tersibak memperlihatkan cahaya bulan yang memenuhi ruangan.
Sekali lagi, Hwon terkejut oleh kecantikan si Nona yang luar biasa. Tapi ia menutupi rasa terpesonanya dengan kemarahan.
“Tidak peduli serendah apapun tamumu, bukankah sudah menjadi kewajiban tuan rumah untuk menunjukkan diri dan menyambut tamunya? Kenapa kau tidak mengindahkan perintahku?" seru Hwon.
“Walaupun status sosialku adalah yang terendah, namun aku tetap seorang wanita yang berasal dari langit. Aku memang gagal menjalankan kewajibanku sebagai tuan rumah, namun aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai seorang wanita (yakni menjaga jarak dengan pria)."
“Kau mengikuti aturan walaupun kau bukan seorang bangsawan?" tanya Hwon.
“Aku tidak pernah mendengar peraturan yang melarang seorang rendahan untuk mengikuti aturan wanita." jawab Si Nona.
Hwon tertawa dan meraih sebuah botol arak. Sebelumnya ia tidak pernah menghadapi wanita seperti ini. Si nona tidak malu untuk mengungkapkan pemikirannya di depan seorang Raja, malah sebaliknya ia terlihat sangat percaya diri.
Hwon menuangkan minuman untuk Woon, tapi Woon tidak melihat ke arah gelas dan hanya melihat ke arah lantai, yang mengindikasikan bahwa ia tidak bisa minum ketika menjalankan tugas mengawal Raja.
Melihat hal itu, si Nona berkata pada Woon, “Kau tidak bisa menjalankan tugasmu dengan benar. Kau tidak tahu siapa aku dan minuman apa itu. Tapi kau menolak untuk minum? Apakah kau bisa mengawal Yang Mulia hanya dengan pedangmu saja?"
Mendengar itu, Woon tidak punya pilihan lain selain minum. Ia memalingkan kepalanya dari Hwon ketika minum. Ini adalah tradisi korea. Ketika melakukan hal itu, secara tidak sengaja mata Woon bertemu dengan mata si Nona.
Hwon bertanya pada si Nona bagaimana ia bisa tahu kalau Hwon adalah seorang Raja.
“Aku ingin bertanya pada Anda, Yang Mulia." ujar Si Nona. "Jika ada matahari yang bersinar di malam hari, itu matahari atau bulan?"
Hwon tidak menjawab.
Si Nona melanjutkan. “Matahari akan tetap bersinar sebagai matahari dimanapun ia berada. Sama halnya dengan Anda, Yang Mulia."
“Tapi, tak seorangpun di desa yang mengenalku. Jadi, bagaimana kau bisa mengenaliku?" tanya Hwon lagi.
Karena si Nona tidak menjawab, Hwon bergumam sendiri, "Meja dan minuman ini seperti sudah direncanakan. Apakah aku dihantui oleh roh?"
Setelah berkutat dengan pikirannya sendiri, si Nona menjawab bahwa ia mengenali Hwon dari pedang yang dibawa oleh Woon. Seol cukup banyak tahu mengenai pedang.
"Dia memiliki mata yang jeli." kata Hwon, memuji Seol. "Dari kejauhan dan kegelapan seperti itu ia bisa mengetahui pedang yang dimiliki oleh seorang pengawal Raja. Tidak, ia mungkin tahu sebelum melihat pedang itu. Apa aku sungguh bertemu dengan hantu?" Hwon menatap si Nona, lalu melanjutkan, “Mendekatlah. Bergabunglah disini. Aku tidak bisa melihat kalau-kalau kau menyembunyikan ekor dibalik bajumu."
Si Nona ragu sejenak, kemudian perlahan berjalan mendekati Hwon and Woon duduk. Ia juga duduk di dekat mereka.
“Kau hantu... atau manusia?" tanya Hwon.
“Banyak orang yang mengatakan bahwa aku bukan manusia." jawab Si Nona.
“Jadi kau hantu?" tanya Hwon lagi.
“Mungkin saja. Aku adalah jiwa dalam kepedihan yang mendalam." jawab Si Nona.
“Apa kau sedang mempermainkan aku?" tanya Hwon. "Mana ada di dunia ini hantu yang memiliki bayangan?"
“Aku tidak berbohong." ujar Si Nona. "Berapa banyak orang yang mengatakan bahwa seorang peramal lebih rendah dibandingkan budak? Karena itulah aku tidak berani menjawab kalau aku adalah seorang manusia."
“Seorang peramal..." gumam Hwon. "Jadi kau peramal dan tahu akan kedatanganku."
“Tidak, Yang Mulia. Walaupun aku seorang peramal, namun aku tidak punya kemampuan untuk melihat masa depan atau membaca pikiran orang. Aku tidak punya kemampuan itu."
“Adakah peramal yang seperti itu?" Hwon bertanya bingung.
“Aku malu untuk mengakui hal itu." jawab Si Nona. "Aku hanya punya kemampuan untuk hidup seperti ini di tempat ini."
“Aku sama sekali tidak mengerti semua ucapanmu." ujar Hwon. Ia kemudian berpaling pada Woon. "Woon, apa kau pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya?"
Woon melirik sekilas ke arah Si Nona dan merendahkan kepalanya, menandakan bahwa ia belum pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya.
Dengan bingung, Hwon bertanya lagi, "Apa kau benar-benar seorang peramal?"
“Aku hidup sebagai seorang peramal karena aku tidak bisa mengakhiri hidupku." jawab Si Nona penuh teka-teki. "Aku tidak bisa hidup selain sebagai seorang peramal. Karena itu aku hidup."
Melihat Si Nona yang bicara dengan sangat tenang, Hwon merasakan kesedihan yang luar biasa. "Siapa namamu?" tanyanya.
“Aku tidak pernah menyebut diriku sendiri." jawab Si Nona.
“Aku menanyakan namamu." ulang Hwon.
“Ada sebuah aturan ketat." ujar Si Nona. "Dibelakang Raja, orang lain hanyalah makhluk biasa. Izinkan aku untuk memperkenalkan diriku bukan sebagai apa-apa."
Hwon frustasi dan kesal. Ia bicara dengan nada tinggi. “Kau sangat kurang ajar!" serunya. "Beraninya kau membuatku mengulang-ulang perkataanku. Aku akan bertanya sekali lagi, siapa namamu? Jika kau manusia, seharusnya kau punya nama keluarga. Jika kau benar-benar hantu, maka beritahu namamu!"
“Sebuah nama keluarga diberikan pada orang yang memiliki ayah dan sebuah nama diberikan pada orang yang memiliki ibu." jawab Si Nona. "Aku tidak memiliki ayah dan ibu, karena itulah aku tidak memiliki nama dan nama keluarga."
“Maksudmu, kau tidak memiliki nama?"
“Aku... hidup tanpa nama."
“Sangat mengesalkan!" seru Hwon. "Apa kau mempermainkan aku lagi?"
“Aku sudah mengatakan padamu kalau aku tidak berbohong."
“Kudengar semua peramal memiliki ibu angkat." ujar Hwon. "Nama apa yang biasa digunakan ibu angkatmu padamu?"
“Ibu angkatku tidak pernah memanggilku dengan sebuah nama."
“Bagaimana mungkin?”
“Ia takut sebuah nama akan mengikat takdir kami. Karena itulah ia tidak memberiku nama."
“Berapa umurmu?" tanya Hwon.
“Aku tidak menghitung tahun-tahun hidupku, jadi aku tidak tahu jawabanya."
“Berapa lama kau hidup disini?”
“Sudah sejak lama aku hidup terpenjara disini." jawab Si Nona. "Sudah sangat lama..."
“Tapi gaya bicaramu tidak seperti penduduk sini." bantah Hwon. "Gaya bicaramu seperti orang yang tinggal di Hanyang (Ibu kota Joseon, sekarang Seoul). aku yakin kau bukan berasal dari sini. Sebelum berada di tempat ini, darimana kau berasal?"
Mata si Nona dipenuhi kesedihan yang mendalam, namun suaranya masih terdengar tenang.
“Itu adalah cerita lampau yang sudah tidak bisa lagi kuingat."
Hwon menggebrak meja dengan marah.“Aku menanyakan banyak hal padamu tapi kau tidak menjawab satupun!"
"Aku menjawab banyak pertanyaan, namun Yang Mulia tidak menerima satupun."
“Apa yang kau jawab? Namamu? Umurmu? Kau bahkan tidak menjawab peramal macam apa kau ini! Apa kau benar-benar peramal?"
“Jika jawabanku tidak membuatmu puas, apakah aku harus berbohong?" tanya Si Nona. "Jik aaku berbohong, apakah kau akan puas?”
Hwon kembali minum dan diam tanpa kata. Kesunyian menyelimuti ruangan itu hingga akhirnya Hwon kembali bicara.
“Kau duduk terlalu jauh." kata Hwon. "Mendekatlah."
Si Nona mendekat dua langkah ke arah Hwon dan duduk lagi.
“Kau masih terlalu jauh." protes Hwon. "Mendekatlah lagi."
Si Nona mendekat sampai hanya berjarak satu meter dari Hwon. Walaupun sudah tidak ada tempat lagi untuk mendekat, Hwon tetap merasa wanita itu duduk terlalu jauh.
Di hadapannya, Hwon melihat dengan jelas wajah Si Nona yang putih, lebih putih daripada giok putih. Ia punya bulu mata yang panjang dan matanya sangat hitam.
Woon hanya bisa melihat Si Nona dari samping. Walaupun kadang wajah seseorang bisa menipu, namun gadis ini tidak. Dan bagi Woon, gadis itu diselimuti kesedihan. Woon tidak ingin melihat wanita itu lagi. Ia menundukkan kepala dan menutup matanya.
Hwon menarik napas dalam dan berkata, “Apa kau merasakan kalau hatiku mengalir padamu?”
“Aku tidak bisa melihatnya." jawab Si Nona.
“Kau tidak melihat atau kau tidak mau melihat? Tidak bisakah aku meraihmu?" tanya Hwon.
“Aku takut hatimu akan lebih berat jika meninggalkan tempat ini, karena itulah aku akan tetap mempertahankan pitaku." jawab Si Nona.
“Aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Aku akan membawamu bersamaku." ujar Hwon. "Apa kau mengizinkanku?”
“Aku tidak bisa pergi." tolak Si Nona. "Aku terikat dengan tempat ini."
“Aku, Rajamu, memerintahkan agar kau ikut denganku."
“Di bawah langit, ada hal yang bisa disatukan dan ada hal yang tidak bisa disatukan." kata gadis itu. "Raja dan seorang peramal terlalu jauh berbeda dan tidak akan bisa bersatu."
Setelah mendapat menolakan, suara Hwon meninggi. "Katakan alasan kenapa kita tidak bisa bersama."
Gadis itu menyebutkan sebuah puisi yang menyatakan bahwa langit dan bumi harus tetap terpisah agar dunia damai. “Langit diibaratkan bangsawan sementara bumi diibaratkan rakyat jelata. Seperti musim gugur dan musim dingin mengikuti oleh musim semi dan musim panas. Itu adalah hukum alam yang tidak bisa diatur oleh manusia."“Jika aku meraihmu, aku tidak akan menjadi rakyat jelata. Kaulah yang akan menjadi bangsawan." ujar Hwon.
Hwon bercerita bahwa ia juga tidak memiliki nama. Sejak kecil, ia sudah dinyatakan sebagai Putra Mahkota, kemudian diangkat sebagai Raja. Tidak ada seorangpun yang pernah memanggil namanya.
"Itu tidak sama." bantah Si Nona. "Itulah perbedaan antara bumi dan langit."
Kali ini, gadis itu terlihat terkejut. "Tidak ada takdir yang baik di dunia ini. Kau tidak seharusnya memberiku nama. Tolong pertimbangkan baik-baik."
Hwon mengacuhkan ucapan Si Nona dan menatap bulan di luar jendela.
"Kau menyerupai bulan atau bulan yang menyerupaimu?" tanyanya. "kalau begitu, aku akan memberi nama Wol."
Wol artinya adalah bulan.
Dan sejak saat itu, Si Nona memiliki nama, yakni Wol.
Hwon sangat yakin kalau dengan nama yang diberikannya, takdirnya dengan gadis itu akan terus berlanjut. Hwon berharap bisa menyentuh Wol, namun takut gadis itu akan berubah menjadi abu. Hwon malah meraih gelasnya dan minum.
"Hari ini aku tahu namamu dan aku tahu kalau kau tidak bisa meninggalkan tempat ini." ujar Hwon. "Aku pasti bisa menemuimu lagi."
"Manusia selalu datang dan datang lagi, namun tidak semuanya datang." ujar Wol. "Hal yang selalu datang dan datang lagi adalah hal yang tidak memiliki awalan."
*Maaf, aku juga bingung nih maksudnya apa. Hahaha...
“Manusia kembali dan kembali lagi, namun tidak semuanya kembali." lanjut Wol. "Hal yang terus kembali dan kembali lagi adalah hal yang tidak memiliki akhir."
“Apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Hwon, bingung.
"Malam ini adalah akhir dari takdir pertemuan kita." ujar Wol.
Hwon merasa sedih karena Wol terus-menerus memaksanya pergi secara halus.
“Wol! Aku akan menemuimu lagi." janji Hwon. "Tolong tunggu aku."
"Malam ini adalah akhir dari takdir pertemuan kita." ulang Wol.
“Malam ini adalah awal dari takdir pertemuan kita." bantah Hwon. "Aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku akan membawa kenang-kenangan darimu."
Wol tersenyum. "Aku tidak memiliki apapun. "Bulan di langit malam itu, yang telah Yang Mulia berikan padaku sebagai nama, adalah satu-satunya hal yang kumiliki."
"Kalau begitu akan akan membawa bulanmu. Aku akan mengikat perasaanku padamu pada bulan itu."
Sebegai gantinya, Wol juga meminta kenang-kenangan dari Hwon. “Tolong hapus semua ingatanmu mengenai malam ini."
“Kau wanita kejam!" seru Hwon. "Kau tidak punya hati! Kau mengundangku kemari dan sekarang kau yang mengusirku! Walaupun aku pergi malam ini, kupastikan ini bukan akhir takdir kita."
"Ini adalah takdir yang tidak bermakna." kata Wol.
Hwon berjalan keluar pondok bersama Woon, meninggalkan Wol yang masih duduk di dalam ruangan. Hwon berkata pada Woon, "Hatiku sakit dan tidak bisa menoleh ke belakang. Tolong lihat untukku. Apakah Wol menyaksikan kepergianku?"
Woon melihat ke belakang. Walaupun ia sendiri tidak yakin apakah itu karena perintah Hwon atau karena keinginannya sendiri. Dibelakang, hanya Seol yang melihat ke arah mereka.
“Dia tidak melihat.” kata Woon.
“Ya Ya. Dan itu membuat kesedihanku berkurang." ujar Hwon. "Woon, aku tidak pernah menyadari sebelumnya bahwa cahaya bulan bisa juga menyilaukan.”
Di dalam ruangan, Wol masih duduk dengan tenang.
“Seol, bisakah kau melihatnya berjalan pergi?”
Seol menangis dan menjawab, “Ya, dia pergi. Dia benar-benar pergi!"
“Apakah ia menoleh ke belakang?” tanya Wol
“Tidak! Dia pergi tanpa menoleh sedikitpun!" jawab Seol.
Wol bergumam, “Ya, ya. Dan itu membuat kesedihanku berkurang. Seol, aku tidak pernah menyadari sebelumnya bahwa cahaya bulan bisa juga menyilaukan.”
“Kenapa kau tidak keluar untuk mengantarnya?" tanya Seol. "Kenapa kau hanya duduk disini?"
Wol tersenyum dan menjawab, “Air hujan yang membawanya kemari akan tetap berakhir di rerumputan, di tanah dan membawa angin segar. Dan disaat air hujan itu membasahi jubahnya, sepatunya dan topinya, hatiku juga terbawa bersamanya sehingga aku bisa terus melihatnya kembali dari perjanannya ke istana. ”
English Version Credited to: http://www.facebook.com/#!/TheSunAndTheMoon2012












16 comments:
waw..keren putri...akhirnya posting drama ini ^^,berharap putri juga akan buat sinopsis ini....makasih banget ya putri.^^
And
Happy New Years 2012
semoga impianmu dan kesuksesanmu tercapai ^^
akhhhh penasaran malam ini tayang :P, happy holiday p, and welcome back :) Han Ga In manis ya :P
^_^
Suka..suka..suka...
Makasih...
unni
di tgg sinopsisnya
kayanya bagus ceritanya
aq liat priviewnya
tq
Dilanjut dong, kak, versi Indonesianya, biar gampang dicerna.. Hehe :)
kok diputus tengah jalan?jd makin penasaran ja
ap ini sdh tamat? smp bab berapa baru tamat? kami tunggu updatenya...
hehe bagus banget mbak novelnya (gak nyangka ada yang nranslate ke bahasa inggris ckckckck)
MAKASIH, MAKASIH, MAKASIH!!! duh speechless dira,
ternyata kalo di awal novel mereka langsung ketemuan gitu ya? :P
kenapa mbak milih buat mentranslate novelnya?
maap, dira banyak tanya... T.T
hihihi baca novelnya versi bhs indonesia asyik juga...eh giliran lanjut ke yang english hahahaha bhs inggris saya terbata2 jadi capeeek deh. lanjut ya Put...pasti kutunggu teruus. makasih
hihihi baca novelnya versi bhs indonesia asyik juga...eh giliran lanjut ke yang english hahahaha bhs inggris saya terbata2 jadi capeeek deh. lanjut ya Put...pasti kutunggu teruus. makasih
mba putri ... dilanjut ea novelnya... ^u^
bagus banget mba.... ^u^b
domo arigatou gozaimasu p, kelar juga ni bab 1 muach2 keren banget ya novelnya hohoho
putri....aku sukaaaaa banget the moon that embraces ini...terusin ya novelnya... aku penasaran terus. makasih....
wahhhhhhhhhhhhhhhhhh
ceritanya bagus sekaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
aku sukaaaaa
waaaaaaaaaahhhhhhhhhhh
kerennnnn
ceritanya bagus sekaliiiii
hore, P comeback.... ^^
Post a Comment