Tugas Wol di istana sebenarnya adalah melenyapkan energi jahat di sekitar Hwon, yang mungkin mempengaruhi kesehatannya. Dan ketika kesehatan Hwon sudah membaik, ia memiliki kewajiban bersama Ratu untuk membuat keturunan sebagai penerusnya kelak. Hari yang baik akan segera ditentukan oleh para ahli perbintangan.
Namun kesehatan Hwon sama sekali tidak membaik. Ia tidak bisa duduk cukup lama tanpa menimbulkan kesulitan pernafasan. Hwon biasanya membahas satu atau dua dokumen kenegaraan dan kemudian merasa cemas kalau ayah mertuanya, Lord Papyeong, dan para bawahannya diam-diam mengawasinya. Ini artinya, Lord Papyeong-lah orang yang sebenarnya menguasai kerajaan.
Tujuan perjalanan Hwon ke luar istana adalah untuk menyembuhkan kondisi tubuhnya yang sakit-sakitan. Tapi bukannya sembuh, kesehatannya malah semakin buruk. Tabib istana tidak bisa mengetahui penyebab penyakit Hwon. Beberapa orang mengatakan kalau Hwon dirasuki oleh roh jahat. Orang lain pasti sulit percaya jika setiap malam, Hwon dengan kondisi normal menatap dan memandangi bulan.
Satu bulan telah berlalu sejak pertemuannya dengan Wol. Hwon menatap bulan lagi.
Dari luar jendela, Woon bisa jelas mendengar Hwon berkata, "Bulan memudar, lenyap, kemudian kembali lagi. Namun bulan yang seharusnya kembali itu tidak memperlihatkan tanda-tanda kalau ia akan kembali."
Hwon melihat Woon diam saja dan tidak menjawab. Ia mengulurkan tangannya keluar untuk menyentuh jubah Woon.
“Lihatlah kemari." kata Hwon. "Jangan berdiri saja disana dan memperlihatkan punggungmu padaku. Kau juga melihat bulan kan?"
Woon menoleh dan menjawab, “Ya, aku melihatnya, Yang Mulia."
“Bagaimana kelihatannya?" tanya Hwon. "Menurutmu, bagaimana bentuk bulan itu? Apa bulan itu hanya halusinasi?"
Woon tidak menjawab.
Hwon marah pada Woon dan mengancam akan menghukumnya, namun Woon tetap diam.
Tidak lama kemudian, kasim masuk ke ruangan bersama dengan tabib dan ahli perbintangan untuk mengantarkan teh dan jimat. Ruangan langsung dipenuhi oleh aroma bunga krisan.
Melihat jimat yang dibawa untuknya, Hwon langsung protes. "Apakah kalian juga menyiapkan jimat untukku?" tanyanya. "Aku sudah meminum obatku dengan teratur. Dan apakah aku harus minum teh ini juga?"
“Anda harus meminumnya, Yang Mulia." kata kasim. "Jimat ini mungkin berguna. Teh ini tidak pahit seperti obat. Namun aromanya bisa menenangkan."
Hwon meminum teh tersebut.
“Woon, apakah bulan selalu sebuk?" tanya Hwon. "Kenapa ia tidak pernah muncul di mimpiku walau hanya sekali saja? Aku bodoh sekali karena terus memikirkan orang yang baru kutemui dalam kegelapan. Aku benar-benar tidak normal. Ia pasti sudah memiliki kekasih. Pasti sangat sulit menolak permintaan seorang Raja yang memintanya ikut. Jadi keesokkan harinya, ia dan kekasihnya pergi melarikan diri. Woon, apakah menurutmu aku benar?"
“Aku tidak tahu, Yang Mulia." jawab Woon.
“Mungkin seharusnya aku menyerah." kata Hwon. "Tapi sebelum aku menyerah, pergilah ke pondok itu sekali lagi."
“Ya, Yang Mulia."
“Ah, tidak." Hwon berubah pikiran. "Lupakan saja. Kalau aku terus-terusan menyuruhmu pergi, orang-orang pasti curiga."
“Ya, Yang Mulia."
“Woon, jangan khawatir. Mulai saat ini, jangan bicarakan bulan lagi."
Mendadak Hwon merasa sangat mengantuk. Hwon sama sekali tidak sadar kalau teh itulah yang membuatnya mengantuk. Ia naik ke ranjangnya dan tidur.
Woon merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia mencium cangkir teh dan bertanya pada kasim kenapa Raja tidur dengan tiba-tiba.
Kasim menjelaskan bahwa obat tidur itu penting agar jimat bisa bekerja dengan baik.
Tidak lama, seorang ahli perbintangan dan seorang wanita bertudung putih muncul.
Woon menyentuh pedangnya, namun ketika si wanita mendekat, Woon merasakan sesuatu yang aneh. Seorang pengawal menghentikan langkah si ahli bintang dan wanita itu.
“Beraninya kau menggunakan tudung di istana!" seru pengawal.
"Kami tidak punya pilihan lain." ujar ahli perbintangan. "Ini adalah perintah khusus. Wanita ini bukan manusia, tapi jimat."
“Jimat? Dimataku dia adalah manusia." kata pengawal.
“Tidak semua jimat tertulis di kertas. Sekarang, jimat yang paling baik adalah wanita ini."
“Jadi wanita ini adalah seorang peramal..."
Woon mendekati mereka dan menyibakkan tudung yang menutupi kepala wanita itu. Tubuh Woon kaku ketika ia melihat wajah Wol berada dibalik tudung.
Wol memakai kembali tudungnya. Ia menatap bulan. “Awan yang menutupi bulan itu kelihatan sangat indah." katanya.
Suara Wol membuat jantung Woon bergetar. Ia mencengkeram pedangnya erat. Woon paham maksud perkataan Wol. Wol meminta Woon agar merahasiakan hal ini dari Raja. Wol kemudian berjalan melewati Woon. Woon bisa mencium bau bunga anggrek dari tubuh Wol.
Wol diantar ke tempat Raja. Begitu sampai di kamar, Wol menundukkan kepalanya agar tidak melihat Hwon. Rakyat jelata dilarang menatap Raja secara langsung tanpa izin. Wol berjalan perlahan mendekati ranjang tempat Hwon tertidur. Setelah itu, ia duduk di samping Hwon.
Para kasim dan dayang berjalan keluar dan membiarkan pintu terbuka. Setelah itu, Woon masuk dan duduk cukup jauh dari Hwon dan Wol.
Ketika semua orang sudah pergi, Wol diam-diam menatap Hwon. Ia melihat tangan Hwon dan melihat bagaimana selimut naik dan turun seiring dengan napas Hwon.
Disisi lain, Woon duduk dan mengamati Wol dari jauh. Baju putihnya, tangan yang berada teratur di atas lutut, lehernya yang kurus dan panjang, bibir dan hidungnya. Woon melihat mata Wol, yang saat itu sedang memandang Raja.
English Version Credited to: http://www.facebook.com/#!/TheSunAndTheMoon2012






3 comments:
uwahhhh keren2 p novel, aigato na terjemahannya :)
Makasih dah dibikinin versi indonesiany.. :)
Klo boleh tau,dsini kyakny woon ada ras y ma Wol??Hmmm Klo didramanya nanti gitu jg g y...
Makasih... ^_^
makasih translate nya :)
d tunggu lanjutannya.....
Post a Comment