Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis The Moon Embraces The Sun Episode 12

Tuesday, February 21, 2012

Sinopsis The Moon Embraces The Sun Episode 12


Yang Myeong berjalan gontai, menjauhi tempat Hwon dan Wol menonton sandiwara boneka.
"Sejak kapan kau tahu?" gumam Yang Myeong.
Tidak jauh dari tempatnya, Woon menatapnya sejenak kemudian berjalan mendekati.
Yang Myeong sedikit terkejut melihat Woon.
"Kau tidak bertanya, berarti kelihatannya kau sudah tahu." ujar Yang Myeong pada Woon.
"Apakah mereka kelihatan mirip?" tanya Woon.
"Yang Mulia juga mengatakan itu?" tanya Yang Myeong kaget. "Bahwa mereka mirip? Karena itukah ia menyuruhmu diam dan memerintahkan agar kau merahasiakan hal ini dariku?"

"Pangeran..."
"Bahkan kini kau... sudah benar-benar menjadi bawahan Yang Mulia?" tanya Yang Myeong.
Woon hanya diam.
Yang Myeong kelihatan sangat sedih dan terpukul. Perlahan ia berjalan pergi.

Hwon dan Wol berjalan bersama setelah selesai menonton sandiwara boneka. Saat itu hari sudah gelap.
"Terima kasih, aku sangat menikmati pertunjukkannya." ujar Hwon.
"Syukurlah jika kau berpikir demikian." timpal Wol.

"Cerita itu hanyalah karangan dan omong kosong belaka." kata Hwon. "Seorang gadis desa biasa bertemu dengan seorang raja ketika sedang melakukan inspeksi rahasia. Gadis itu tidak tahu identitas si Raja dan jatuh cinta padanya. Mana mungkin ada hal seperti itu? Konyol sekali." Hwon tertawa. "Mana mungkin seorang Raja yang sangat sibuk bisa jatuh cinta pada seorang wanita? Jika Raja bersikap seperti itu, bagaimana ia bisa membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi negaranya? Aku hampir saja ingin menangkap mereka karena memperlihatkan omong kosong seperti itu di depan masyarakat."
Wol hanya diam mendengarkan celotehan Hwon.
"Semua hal yang terjadi diantara dua orang manusia... bisakah dijelaskan hanya dengan akal pikiran?"
Hwon kelihatan tidak nyaman mendengar ucapan Wol. Ia mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa ia pasti akan mengganti uang Wol.
"Aku selalu membayar hutangku." ujar Hwon. "Lagipula, kita akan segera bertemu lagi."
Hwon berjalan pergi.

Wol mengamati kepergian Hwon dari belakang.
"Mulai hari ini, aku tidak bisa melindungimu lagi." ujar Wol dalam hati. "Aku minta maaf, Yang Mulia, tapi aku harus meninggalkan Balai Samawi."

Wol berjalan pulang. Di tengah jalan, mendadak ia teringat sesuatu. Ia pergi ke kota karena ingin menemui Jan Shil, kenapa ia bisa lupa?
Wol hendak berbalik lagi, namun mendadak terdengar suara seseorang. Ia adalah Yang Myeong.
"Jan Shil sudah diantar kembali ke Balai Samawi." ujar Yang Myeong.
Wol menoleh.
"Dari mana kau bisa pulang selarut ini?" tanya Yang Myeong. "Hati-hati, kau bisa menjadi Jan Shil berikutnya. Kau bisa dijewer pulang oleh seniormu dari Balai Samawi."
"Jadi, orang yang menolong Jan Shil adalah..."
"Aku." jawab Yang Myeong.
Wol berterima kasih pada Yang Myeong karena telah menolong Jan Shil, kemudian ia memohon diri untuk pergi.

"Jika kau benar-benar khawatir..." panggil Yang Myeong. "Lalu kenapa kau hanya bisa mengingat Jan Shil?"
Wol menoleh lagi, menatap Yang Myeong. "Apa?"
"Kau melupakan orang yang mencarimu." ujar Yang Myeong. "Kau melupakan orang menunggumu."

Wol terlihat bingung. "Apa yang sedang kau bicarakan?" tanyanya.
"Aku tidak akan tinggal diam lagi melihat kau dibawa oleh orang lain." jawab Yang Myeong.
"Tuan..."
"Aku akan pergi sekarang." ujar Yang Myeong seraya berjalan menjauh.
"Tunggu, Tuan!" panggil Wol. Namun Yang Myeong terus berjalan pergi.

Kasim protes karena ia diperintahkan membuat boneka salju dengan cuma-cuma hanya untuk mengerjainya.
"Kenapa kau begitu tega, Yang Mulia?" keluh Kasim. "Memegang salju yang dingin membuat tanganku hampir mati rasa."
Hwon memegang tangan kasimnya.
"Apa yang Anda lakukan, Yang Mulia?" tanya kasim.
"Kemarilah." ujar Hwon, mendekatkan tangan kasim. "Biar kuhangatkan tanganmu dengan dadaku yang hangat."
Kasim langsung kabur dengan alasan membuat makan makan.
Setelah kasim pergi, Hwon melihat tumpukan uang koin di atas meja untuk mengganti uang Wol. Ia tersenyum.

Nok Young memberi instruksi pada Wol untuk segera meninggalkan ibu kota. Namun Wol hanya menunduk diam dengan wajah sedih.
Rupanya saat itu Wol sedang teringat Hwon.
"Hanya untuk malam ini..." ujar Wol. "Izinkan aku memasuki istana."
"Kenapa?" tanya Nok Young terkejut. "Kenapa hatimu lemah lagi?"
"Bukan begitu." ujar Wol cepat. "Aku hanya ingin... memberi tahu Yang Mulia kalau aku akan pergi."

"Apakah perlu ucapan selamat tinggal antara kau dan Yang Mulia?" tanya Nok Young tajam. "Karena kau sudah memutuskan untuk pergi, maka tegaskan hatimu!"
"Ada beberapa hal yang harus kukatakan pada Yang Mulia." kata Wol cepat. "Setelah mengatakan ini, aku pasti akan pergi. Kumohon, izinkan aku masuk ke istana lagi. Kumohon, Ibu..."
Nok Young menarik napas panjang.

Bo Kyung diam berpikir di kamarnya. Ia berpikir mengenai shaman yang merawat Hwon.
Bo Kyung akhirnya memutuskan sesuatu dan bangkit dari duduknya.

Malam itu, Wol masuk lagi ke dalam istana.
Di tengah perjalanan menuju kamar Hwon, ia berpapasan dengan Bo Kyung.
Bo Kyung mendekati Wol.
"Aku sengaja datang untuk memastikan sesuatu." kata Bo Kyung pada Wol. "Turunkan jubahmu."
Wol hanya diam.
"Cepat turunkan jubahmu." ulang Bo Kyung.
"Itu tidak boleh, Ratu." tolak pengawal. "Gadis ini tidak seharusnya dilihat."
Bo Kyung berusaha tetap mempertahankan senyumnya dan bicara lagi pada Wol. "Apa kau mendengar perkataanku barusan?" tanyanya. "Tunjukkan wajahmu padaku."

Wol menurunkan jubahnya. Ternyata shaman itu bukanlah Wol, melainkan gadis lain.
Bo Kyung tertawa.

Hwon duduk di kamarnya sambil mempelajari dokumen kenegaraan. Mendadak Bo Kyung masuk. Hwon terkejut melihatnya.
"Kelihatannya kau sedang menunggu seseorang." ujar Bo Kyung. "Apa kau kecewa?"
"Untuk apa kau kemari, Ratu?" tanya Hwon.
"Apa yang sedang kau tutupi?" tanya Bo Kyung. "Setelah melihat ekspresimu, aku mengerti. Delapan tahun yang lalu, ketika aku pertama kali melihatmu sebagai Putra Mahkota, kau menunjukkan ekspresi yang sama."
"Sebelumnya aku sudah jelas-jelas melarangmu masuk kemari!" seru Hwon marah.

"Apa hal yang mengganggumu?" tanya Bo Kyung marah. "Bagaimana mungkin seorang shaman rendahan seperti itu kau bilang mirip dengan gadis yang meninggal 8 tahun yang lalu?"
"Ratu!" seru Hwon.
"Bawalah dia ke pelukanmu!" ujar Bo Kyung, hampir menangis. "Bawalah dia ke hatimu. Aku sama sekali tidak keberatan. Bukankah Yang Mulia pernah mengatakan bahwa aku tidak akan pernah bisa mendapatkan hatimu? Itu tidak masalah. Aku tidak keberatan."
"Ratu!" bentak Hwon makin marah.
'Tapi!" Bo Kyung terus bicara. "Ada satu hal yang tidak boleh kau lupakan. Tak peduli siapapun yang mendapatkan hatimu dan siapapun yang ada dihatimu, Ibu Negara ini tetaplah aku! Kau mengerti? Posisi dibawahmu adalah milikku. Tidak lama lagi, Yang Mulia akan menyadari hal ini."
Bo Kyung berbalik dan berjalan keluar dari kamar Hwon.
Di dalam, Hwon menaham amarah.

Bo Kyung keluar dan bicara pada si shaman.
"Masuk dan dampingi Yang Mulia." ujarnya ramah.

Shaman itu masuk ke kamar Hwon.
"Siapa kau?" tanya Hwon datar ketika melihat si shaman.
"Hamba adalah jimat yang dikirim dari Balai Samawi." jawan shaman itu. "Jimat untuk keberhasilan malam perkawinan."
"Kenapa bukan shaman yang sebelumnya yang datang?" tanya Hwon.
"Gadis itu sudah berhasil memenuhi tugasnya dan akan segera meninggalkan Balai Samawi."
Hwon terlihat terpukul mendengarnya.

Wol merapikan pakaiannya dengan wajah sedih. Seol tahu persis kalau Wol sedang menahan tangisnya.
Mendadak Nok Young datang dan menyuruh Wol berganti pakaian.

Atas perintah Hwon, kasim datang menjemput Wol.
"Yang Mulia memerintahkanmu pasuk ke istana." kata Kasim pada Wol. "Tolong jangan salah paham. Yang Mulia salah mengira kau sebagai orang lain."
Wol tersenyum. "Kenapa Anda bicara dengan bahasa santun padaku?" tanyanya.
"Benarkah?" tanya kasim, tidak sadar.
"Kurasa Anda juga salah mengira aku sebagai orang lain." kata Wol. "Jangan takut. Aku sudah tahu apa yang kau cemaskan. Aku tidak akan salah paham pada Yang Mulia."
Kasim tersenyum.


Hwon menunggu Wol dengan gelisah di kamarnya.
"Siapa yang memperbolehkanmu pergi tanpa izinku?" tanya Hwon dengan nada marah. "Katakan padaku!"
"Aku sudah memenuhi tugasku, jadi aku harus pergi." ujar Wol.
"Siapa yang mengatakan kalau kau sudah memenuhi tugasmu?!" bentak Hwon.
"Orang yang Yang Mulia butuhkan bukan aku." kata Wol.
"Siapa yang dulu pernah mengatakan kalau ia ingin mengobati luka di hatiku?" tanya Hwon.
"Hamba tidak bisa menggantikan dia." ujar Wol.
"Siapa yang dulu pernah mengatakan kalau ia ingin meringankan beban di hatiku?" tanya Hwon lagi seakan tidak mendengar ucapan Wol.
"Kau memerintahkanku agar tidak berada di dekatmu." ujar Wol.
"Aku tidak pernah memerintahkanmu untuk pergi!" bentak Hwon.
Wol terkejut melihat Hwon menjadi sangat emosi.

Hwon berusaha menenangkan diri. "Apa yang kau katakan benar." ujarnya. "Apakah orang yang berada di hadapanku saat ini adalah dia... atau kau... aku benar-benar bingung. Jadi, sampai aku sudah tidak merasa bingung... sampai aku tahu apa yang kurasakan... jangan berani pergi dariku. Ini adalah perintah Raja."

Ibu Hwon memberitahu Bo Kyung bahwa 'malam pertama' Bo Kyung dengan Hwon akan dilaksanakan 3 hari lagi.
Bo Kyung, tentu saja, sangat senang mendengarnya.

Pejabat yang mengurus dokumen kerajaan akhirnya menyadari kalau ada beberapa dokumen yang hilang. Dokumen-dokumen itu tidak lain adalah dokumen mengenai kejadian delapan tahun yang lalu.
Dae Hyeong kelihatan menyadari sesuatu.
Tidak lama kemudian, si pejabat memeriksa lagi dan dokumen itu sudah kembali. Woon-lah orang yang diam-diam mengembalikan dokumen itu.

Kasim Hyeong Seon mengabarkan pada Hwon bahwa kasim yang melayani almarhum ayahnya sudah mati bunuh diri.
Para polisi datang ke TKP dan menyelidiki kematiannya.

Hwon berpikir, apa yang sebenarnya disembunyikan oleh kasim tersebut sampai-sampai ia bunuh diri untuk menutupi rahasia itu?
"Namun ada satu hal yang pasti." pikir Hwon. "Mereka tidak ingin aku tahu rahasia itu."

Hwon memanggil Mahasiswa Akademi, Hong Gyu Tae, yang dulu pernah membantunya berdemonstrasi saat pemilihan Putri Mahkota.
"Apa kau masih mengingatku?" tanya Hwon.
"Bagaimana hamba bisa melupakan Yang Mulia?" jawab Gyu Tae.
"Dulu kau adalah kepala akademi, sekarang kau menjadi pejabat pengadilan." ujar Hwon. "Kau pasti tahu kalau kasim yang melayani ayahku mati bunuh diri, bukan?"
"Tentu aku tahu, Yang Mulia." jawab Gyu Tae. "Kami baru saja kembali dari lokasi. Kami sudah sudah memerintahkan orang untuk menyelidiki area."

"Aku ingin meminta bantuanmu mengenai masalah ini." ujar Hwon. "Mulai hari ini, berpura-puralah kalau kau mendampingi Biro Investigasi untuk menyelidiki mengenai kematian kasim."
"Berpura-pura... menyelidiki?" tanya Gyu Tae hati-hati.
"Benar." jawab Hwon. "Tapi yang sesungguhnya akan kau selidiki adalah masalah lain. Aku ingin kau menyelidiki mengenai kematian Putri Mahkota 8 tahun yang lalu, mengenai penyakitnya dan bagaimana tiba-tiba ia terkena penyakit itu."
Gyu Tae terlonjak kaget.

Dae Hyeog mengatakan pada Ibu Suri bahwa ia curiga kalau Hwon mulai meragukan kejadian 8 tahun yang lalu. Namun sebaliknya, Ibu Suri tidak khawatir karena walaupun Hwon menyelidiki, namun Hwon tidak akan pernah berhasil menemukan apapun.

Min Hwa sangat merindukan Yeom sampai-sampai ia berhalusinasi melihat Hwon sedang membaca buku di hadapannya.

Sebelum pergi, Yeom berpesan pada Min Hwa agar menjaga ibunya, karena itulah Min Hwa pergi ke kamar ibu mertuanya.
Saat itu, ibu sedang membaca sesuatu. Surat itu adalah surat dari Ibu Min Hwa, yang menanyakan kabar putrinya dan memberitahukan kalau 'malam perkawinan' Bo Kyung dan Hwon akan diadakan 3 hari lagi.
Min Hwa langsung berniat ke istana untuk mengajarkan Bo Kyung beberapa trik.

Min Hwa datang ke istana. Disana, ia berpapasan dengan Ibu Suri.
Min Hwa kelihatan ketakutan ketika melihat neneknya itu.
Sepertinya, satu-satunya orang yang tersisa dan bisa menjadi saksi mengenai kejadian 8 tahun yang lalu hanyalah Min Hwa.

Hwon terus-menerus berpikir dan berpikir.
Tidak lama kemudian, para astrolog dan tabib masuk ke ruangan. Setelah tabib memeriksa denyut nadi Hwon dan hasilnya normal, para astrolog menyerahkan sebuah berkas. Berkas itu adalah tanggal ditetapkannya 'malam pertama' antara Hwon dan Bo Kyung.
"Tiga hari dari sekarang?" tanya Hwon, membaca berkas itu. "Aku masih belum sehat."
"Tapi kesehatan Anda sudah jauh lebih baik, jadi tidak perlu cemas." kata Tabib.
"Jika aku mengatakan sakit, itu artinya aku sakit." ujar Hwon tegas.
Namun tanggal sudah di tetapkan dan Hwon tidak bisa melakukan apapun mengenai hal itu.
Dengan marah, Hwon memerintahkan para astrolog dan tabib untuk pergi.

"Aku sedang memikirkan shaman itu." ujar Bo Kyung ketika ia sedang berbincang dengan ayahnya. "Dilihat dari sifat Yang Mulia, ia tidak akan mengizinkan apapun yang berhubungan dengan jimat. Selain itu, ia tidak memperbolehkan seorangpun kecuali Woon dan Hyeong Seon untuk berada di dekatnya. Ia sudah tahu mengenai keberadaan shaman, namun ia tetap membiarkan shaman itu berada di sisinya. Bagaimana pendapatmu? Aku yakin bukan karena faktor kesehatannya."

"Lalu?" tanya Dae Hyeong.
"Karena perasaannya." jawab Bo Kyung.
"Kalau itu memang benar, kita tidak boleh membiarkan ini terus berlanjut." ujar Dae Hyeong.
"Apa yang bisa kita lakukan?"
"Kita harus menjauhkan shaman itu dari Yang Mulia." ujar Dae Hyeong.
"Tidak." tolak Bo Kyung. "Sampai hari itu tiba, shaman itu harus tetap berada disisinya. Delapan tahun yang lalu, kau pernah mengatakan padaku bahwa pernikahan kerajaan bukan mengenai cinta. Itu memang benar. Namun mengenai perkawinan, aku akan mengambil manfaat dari perasaan cinta untuk tujuanku sendiri. Aku memang tidak bisa mendapatkan cintanya, tapi aku akan memanfaatkannya."

Wol termenung di kamarnya. Percakapan terakhirnya dengan Hwon terus terngiang di telinganya.

Wol keluar dari kamar. Disana, para shaman ribut melihat hadiah yang dikirimkan oleh pengagum rahasia Wol.
Jan Shil menyerahkan sebuah surat.
"Apakah kau suka?" Wol membaca surat itu. "Kuharap kau bisa menggunakan barang-barang ini bersama kekuatanmu."
Begitu selesai membaca surat itu, Wol berjalan keluar.

Wol berjalan seperti mencari sesuatu.
"Apa kau sedang mencariku?" Yang Myeong keluar dari persembunyiannya. "Apa kau suka hadiahnya? Aku tidak tahu barang seperti apa yang kau suka. Jadi aku meminta seorang shaman untuk memilih barang-barang itu."
"Kenapa kau melakukan ini, Tuan?" tanya Wol. "Aku hanyalah seorang shaman biasa."
"Karena itulah aku mengirim barang-barang itu sebagai hadiah untukmu." kata Yang Myeong.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Wol lagi.
"Kau tidak tahu?" Yang Myeong balik bertanya.
"Aku tidak tahu, karena itulah aku bertanya." ujar Wol.
"Karena aku menyukaimu." jawab Yang Myeong. "Aku menyukaimu."
"Leluconmu kelewatan." ujar Wol, terlihat marah.
"Ini bukan lelucon." jawab Yang Myeong. "Ini adalah cinta."
"Kau belum mengenalku, kenapa kau bisa memiliki perasaan itu?"

"Karena kau orang pertama yang mengatakan padaku agar tidak bersembunyi dibalik tawa dan janan membohongi hatiku sendiri." ujar Yang Myeong. "Aku harus melepaskan semua luka di hatiku. Kaulah orang pertama yang mengatakan itu padaku dan menghiburku. Mulanya aku tertarik padamu karena kau mirip dengan orang yang dulu pernah kucintai. Namun sekarang tidak lagi. Karena orang yang kulihat saat ini adalah kau."

Nok Young merasakan sesuatu. Semua takdir itu akan memicu pertumpahan darah. Tidak lama lagi akan ada pertumpahan darah.
"Tiga hari lagi, semua akan berakhir." ujar Nok Young. "Jika perkawinan berhasil, takdir itu akan terputus lagi. Aku akan mengirim Nona ke tempat yang jauh dan aman."

Malam itu, seperti biasanya, Wol menemani Hwon di kamarnya.
Hwon sedang serius membaca dokumen. Wol diam seraya hanya memandangnya.
"Aku tahu aku memang tampan." ujar Hwon. "Jadi berhenti memandangku."
Wol langsung menunduk.
"Ditambah lagi, seorang pria yang sedang serius belajar memang terlihat sangat menarik." kata Hwon. "Dan aku adalah seorang Raja. Bukankah itu sangat luar biasa?"

Wol secara spontan tertawa, namun buru-buru menutupinya.
"Kau tertawa?" tanya Hwon. "Apa kau menertawai aku?"
"Hamba pantas mati." kata Wol pelan.
Hwon melempar dokumennya ke meja. "Ikuti aku." katanya, terlihat kesal. "Aku ingin jalan-jalan."

"Apa ada hal yang mengganggumu?" tanya Wol pada Hwon. "Hari ini wajah Yang Mulia tidak kelihatan baik."
"Hari ini seseorang mati karena aku." jawab Hwon. "Karena aku membuat keputusan yang salah, orang itu memutuskan untuk bunuh diri. Sebenarnya, pembunuh orang itu adalah aku. Bayang kematian selalu mengikuti orang-orang yang berada di sekitarku dan aku tidak bisa melindungi mereka semua. Semua orang yang kusayangi jatuh dalam bahaya dan aku tidak bisa melindungi mereka semua. Karena itulah, mereka mendapat perlakukan yang tidak adil dan aku tidak bisa menghentikannya."

"Semua itu bukan kesalahan Yang Mulia." ujar Wol. "Semua orang itu tahu kalau Yang Mulia ingin melindungi mereka dan memperhatikan mereka. Jadi jangan salahkan dirimu sendiri."
"Gunakan kekuatanmu." kata Hwon. "Apakah kebenaran yang sedang kucari akan segera terungkap?"
Wol tersenyum. "Semua akan terungkap." jawabnya.
"Sekarang, gunakan perasaanmu dan jawab aku." kata Hwon. "Apakah kebenaran yang sedang kucari akan segera terungkap?"
"Semua akan terungkap." Wol menjawab tanpa ragu.

"Bagaimana kau bisa sangat yakin?" tanya Hwon.
"Karena aku yakin pada Yang Mulia." jawab Wol. "Semua jawaban itu tidak akan terungkap semua sekaligus. Tapi jika kau menariknya keluar satu demi satu, bukankah kebenaran yang sudah lama terpendam akan terlihat? Kau harus yakin pada dirimu sendiri."
"Terima kasih." ujar Hwon. "Sudah lama sekali aku tidak mendengar kata-kata yang menghibur."

Hwon bersikeras mengatakan bahwa ia masih sakit. Namun Dae Hyeong mengancamnya secara halus. Jika shaman Wol tidak bisa menyembuhkan Hwon, maka Wol tidak bisa menjalankan tugasnya dan harus dihukum mati.

Otak dibalik ancaman yang dilontarkan Dae Hyeong pada Hwon adalah Bo Kyung.
Bo Kyung memaksa Hwon dengan menggunakan perasaan Hwon pada Wol. Hwon tidak akan membiarkan Wol dihukum.

Hari itu, para shaman sibuk merapikan Balai Samawi karena hari itu adalah hari perkawinan antara Hwon dan Bo Kyung. Wol terpukul mendengar berita tersebut.

Di sisi lain, Hwon juga sangat frustasi. Di satu sisi ia tidak ingin perkawinan terjadi, namun disisi lain ia tidak ingin Wol berada dalam bahaya.
"Yang Mulia" ujar Kasim. "Cepat atau lambat, ritual itu harus tetap dijalankan. Semua ini demi keberlanjutan klan kerajaan untuk menghasilkan penerus."
"Jangan lanjutkan lagi." kata Hwon.
"Ini adalah tugas hamba untuk mengabdi pada Yang Mulia." kata Kasim. "Selain itu, semua ini juga menyangkut keselamatan shaman. Jadi Anda harus membuat keputusan yang hati-hati. Jika Yang Mulia membuat keputusan yang salah, bukan hanya Anda yang berada dalam bahaya, namun dia juga."
Hwon menarik napas panjang.
"Malam ini jangan biarkan ia datang kemari." ujar Hwon. "Aku tidak ingin ia berada disini sendirian."

Para tabib melakukan segala sesuatu agar kondisi Hwon fit untuk malam itu. Hwon kelihatan teramat sangat terpaksa melakukan semua ritual tersebut.
Di lain sisi, Bo Kyung dirias oleh para pelayannya agar terlihat cantik.

Malam itu, Hwon datang dan masuk ke kamar Bo Kyung. Bo Kyung sudah menunggu disana.

Wol tidak diizinkan datang ke istana Raja. Wol hanya berdiri diam di halaman Balai Samawi.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Yang Myeong. "Kenapa wajahmu terlihat sedih?"
Wol menoleh menatap Yang Myeong.
"Untuk apa kau datang?" tanyanya.
"Apa kau sedih karena mendengar hari Perkawinan Yang Mulia?" tanya Yang Myeong. "Ia adalah Raja negara ini, jadi ia harus memiliki keturunan."
"Aku tahu." jawab Wol.
"Jika terus memikirkan Yang Mulia, kau hanya akan sakit hati." ujar Yang Myeong.
"Aku juga tahu itu."

"Lalu kenapa kau menangis?" tanya Yang Myeong.
Wol menunduk dan meneteskan air mata.
"Tidak bisakah aku orangnya?" tanya Yang Myeong lagi. "Aku..."

"Yang Mulia, tolong lepas topimu." ujar Bo Kyung.
Hwon melepaskan topinya.
"Yang Mulia, tolong lepas sabukmu."
Hwon melepas sabuknya tanpa kata.Add Image"Akhirnya kau mendapatkan apa yang kau inginkan." ujar Hwon. "Selamat, Ratu."
"Semua ini bukan hanya keinginanku." kata Bo Kyung. "Ini adalah keinginan semua orang."
"Tidak bisakah aku orangnya?"
"Kumohon pergilah." ujar Wol dengan berlinang air mata.
"Apa kau mau pergi denganku?" tanya Yang Myeong. "Aku adalah orang yang memandang bahwa posisi Pangeran sangatlah menjijikkan. Aku sudah bersiap untuk melepas segalanya dan pergi sejak lama. Kau tidak ingin hidup sebagai shaman selamanya, bukan? Jika kau berniat pergi, apakah kau ingin pergi bersamaku?"
Wol menangis dan menoleh menatap Yang Myeong.

"Apapun yang Yang Mulia katakan, aku tetap istri Yang Mulia." ujar Bo Kyung.
Hwon menarik Bo Kyung ke pelukannya.
"Benar." ujar Hwon. "Karena kau tidak bisa mendapatkan cintaku, paling tidak kau bisa menjadi Ibu dari Raja selanjutnya."
Wajah Hwon mendekat pada wajah Bo Kyung, hendak menciumnya.

15 comments:

ibu-ibu yang suka drama korea said...

Hadeuhhhh riweuh bgt coba hwon bersikap kayak sukjong aja kan aman semua senang hehehe

enNa -JusTone- said...

ampun yachhhh..
dijadiin tameng,,,
belum tau dia siapa Wol,,heuheuheu
Fighting P....

Kimchi said...

Bapak sama anak sama2 jahatnya, ntar kalo misalkan Hwon punya anak dari Bo Kyung bisa2 anaknya jahat kayak emaknya lagi :p Andweee andweee andwee!!!! Hwon & Wol lama2 diliat kok mirip ya -_____-

Anonymous said...

maaaf mbk putri, yg k 13 blum ad ya?? mkasih sblumnya..

All About Drama said...

gak nerusin nulis lagi onnie..???

Just Recap said...

episode ini emang bikin aku sedih mbak,, :'(
gomawo,

Nicholas Akbar W said...

Sinopsisnya sangat menarik apalagi dgn gambar sbg hiasan posting..Please, kunjungi saya ya di http://nnt-store.blogspot.com
Thank's.

oleh oleh khas medan said...

Nice sharing

vanila_vane said...

fighting,,

vanila_vane said...

fighting

Anonymous said...

lanjutin nulisnya mbaaakk.....
tayang di indosiar pada jam kerja.jadi gak bisa nonton.kalo baca dr blog lain kurang rinci.pliiissss......

koreanchingu said...

annyeong haseyo chingu ^^
aku admin dari Korean Chingu
uri KC lagi ada program baru, berbagi sinopsis drama/film. Silahkan baca aja
http://koreanchingu.wordpress.com/2012/07/22/suka-nulis-sinopsis-jangan-lewatkan-kesempatan-ini/
kami juga ada bukti statistik dalam .pdf yg siap dikirim ke email chingu (:

koreanchingu said...

annyeong haseyo chingu ^^
aku admin dari Korean Chingu
uri KC lagi ada program baru, berbagi sinopsis drama/film. Silahkan baca aja
http://koreanchingu.wordpress.com/2012/07/22/suka-nulis-sinopsis-jangan-lewatkan-kesempatan-ini/
kami juga ada bukti statistik dalam .pdf yg siap dikirim ke email chingu (:

Outbound di Malang said...

nice post :)
ditunggu kunjungan baliknya yaah ,

Download K-Drama Subtitle Indonesia said...

Sinopsisnya gk diterusin yah???

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda