Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis The Moon Embraces The Sun Episode 9

Sunday, February 5, 2012

Sinopsis The Moon Embraces The Sun Episode 9


Woon terkejut melihat Hwon ternyata tidak tidur.
"Siapa kau?" tanya Hwon. "Kenapa kau ada disini? Cepat jawab! Siapa sebenarnya kau?"
Wol hanya diam, masih terkejut.
"Bawakan lilin!" perintah Hwon pada para dayangnya di luar.

Kasim dan dayang masuk ke dalam kamar Hwon. Mereka sangat terkejut melihat Hwon dan Wol sedang berada bersama di atas ranjang.
"Apalagi yang kalian tunggu?!" teriak Hwon. "Cepat bawakan lilin dan lentera kemari!"

Cahaya lilin memenuhi ruangan itu.
Hwon terkejut melihat bahwa wanita itu adalah Wol.
"Kau..." gumam Hwon. "Kenapa kau ada disini?"

Di sisi lain, Seol merasakan ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.
"Jan Shil." panggilnya. "Apa kau merasakan sesuatu?"
Jan Shil sedang asyik menjahit. "Kegelapan muncul." ujar Jan Shil.
"Apa maksudmu?" tanya Seol panik.
Jan Shil mendorong Seol menjauh. "Kegelapan muncul karena kakak menutupi cahaya lilinku!" serunya kesal.

Wol hanya diam, ketakutan.
Hwon masih terus memegang tangan Wol dan enggan melepasnya.
"Siapa yang memerintahkanmu datang kemari?" tanya Hwon. "Apakah bertemu denganku malam itu juga atas perintah orang itu? Apa yang orang itu perintahkan? Merayuku? Jika tidak, apakah ia memerintahkanmu mencekik leherku dengan tanganmu ini? Atau kau ingin mengambil keuntungan ketika aku sedang tidur dan berusaha membunuhku?"
Wol hanya menunduk diam.
"Cepat jawab aku!" bentak Hwon. "Siapa yang memerintahkanmu untuk memata-matai aku?!"

"Yang Mulia, hamba bukan mata-mata." ujar Wol. "Aku hanyalah jimat."
"Jimat?"

Tidak lama kemudian, astrolog datang.
"Tolong redakan amarahmu, Yang Mulia." ujar astrolog. "Dia adalah shaman dari Balai Samawi untuk menyembuhkan penyakit Yang Mulia. Dia bukan mata-mata."
"Bukan mata-mata?" tanya Hwon.
"Benar! Perlakukan ia sebagai jimat, bukan sebagai manusia." ujar astrolog.
"Jika kau memang bukan manusia, kenapa kau berani menyentuh tubuhku?" tanya Hwon pada Wol. "Jawab! Siapa yang bisa menjamin kalau tangan ini tidak akan mencekikku?!"

"Aku memang pantas mati karena menyentuhmu." kata Wol. "Tapi paling beri aku kesempatan untuk menjelaskan."
"Kalau begitu, coba jelaskan." ujar Hwon.
"Walaupun musim yang membuat cuaca berubah, namun musim juga harus rehat agar bisa membuat bunga bermekaran." ujar Wol. "Seorang Raja yang bertanggung jawab dan memikul negaranya, juga harus beristirahat."
"Kau sudah banyak membaca buku klasik." kata Hwon. "Kau pasti punya banyak alasan."
"Yang Mulia adalah pondasi dari kedamaian dan kemakmuran negeri ini. Dengan tubuh yang lemah, bagimana Yang Mulia bisa menyelesaikan masalah yang menimpa rakyat? Aku hanya ingin Yang Mulia tertidur, lepas dari rasa lelah karena masalah kenegaraan dan lepas dari penderitaan di hati. Dengan begitu Yang Mulia bisa tidur dengan nyenyak."

"Penderitaan di hatiku, katamu?" tanya Hwon. "Karena kau seorang shaman, kau pasti bisa membaca pikiran seseorang. Karena itukah kau menyentuhku? Untuk membaca pikiranku?"
"Aku hanya mendengar Yang Mulia menyebut nama seorang gadis dalam mimpi. Kurasa hal itu adalah penyebab penderitaan di hatimu. Karena itulah aku ingin membuat Yang Mulia merasa lebih nyaman dan melanggar aturan dengan menyentuhmu."
'Tidak, ia bukan Yeon Woo." pikir Hwon dalam hati, memandang Wol lekat-lekat. "Jika ia memang Yeon Woo, lalu kenapa ia tidak tergerak ketika memanggil namanya disebut?"

Hwon bangkit dari duduknya dan berdiri membelakangi Wol. "Tangkap gadis ini." perintahnya. "Bawa ia keluar dari istana!"
Hwon kelihatan sangat marah.
Wol ditangkap dan dibawa keluar.
"Yang Mulia!" seru Wol. "Yang Mulia!"
Hwon menutup matanya, mencoba tidak merasa iba pada Wol.

"Beraninya kau menyentuh Raja!" seru astrolog. "Kurasa kau sudah bosan hidup! Cepat tangkap dia dan kurung dia di penjara!"
Nok Young memohon ampun untuk Wol, namun astrolog tidak mengacuhkannya.
"Aku akan membuat tulisan 'kriminal' di keningnya." ujar astrolog pada Nok Young. "Tanpa izinku, tidak ada yang boleh memberinya apapun termasuk air."

Wol di kurung di ruangan penjara yang kecil dan gelap.
"Buka pintu!" teriak Wol panik seraya menggedor-gedor pintu. "Kumohon buka pintunya!"
Wol terus-menerus berteriak dan menggedor pintu namun tak seorangpun yang menggubrisnya. Akhirnya Wol kelelahan dan terduduk lemah di lantai.

Wol terdiam di kamarnya, memikirkan Wol.
Ia sendiri bingung dengan apa yang ia lakukan.

Yang Myeong berjalan di desa sambil berpikir. Ia teringat para penculik berkata kalau astrolog telah menangkap Wol.
Kelihatanya ia berhasil menebak siapa dalang dari penculikan tersebut.

Astrolog memerintahkan pada anak buahnya agar tindakan mereka jangan sampai diketahui orang lain.
"Ya!" ujar anak buahnya seraya berjalan pergi.
Setelah astrolog sudah sendirian, mendadak Yang Myeong muncul.
"Sudah lama kita tidak bertemu." ujar Yang Myeong.

Si astrolog terlihat ketakutan ketika bertemu dengan Yang Myeong.
"Jangan gugup seperti itu." ujar Yang Myeong. "Aku tidak akan memakanmu."
"Anggota kerajaan tidak boleh menuduh pejabat." kata astrolog. "Kau tahu itu, bukan?"
"Tentu saja aku tahu!" seru Yang Myeong dengan nada tidak serius. "Tidak ada satupun hal di istana dimana Balai Samawi dan Ahli Perbintangan tidak terlibat. Itulah yang ingin kau katakan, bukan?"
"Maafkan aku, tapi bolehkah aku tahu alasanmu kemari?" tanya astrolog.
Yang Myeong memperlihatkan luka di kepalanya. "Kau lihat ini?" tanyanya.
"Pasti sangat menyakitkan." ujar astrolog, waswas.
"Tidakkah kau ingin tahu penyebab luka ini?"
"Bagaimana kau bisa terluka?" tanya astrolog, gugup.

"Aku terluka belum lama ini karena menyelamatkan seorang shaman." ujar Yang Myeong. "Dihadapannya aku berlagak hebat. Tapi beberapa orang asing datang dan membuat semuanya berantakan. Orang-orang itu menyebut 'Astrolog'. Astrolog itu menculik si shaman."
Si astrolog hanya bisa diam mendengar setiap ucapan Yang Myeong yang memojokkannya.
Akhirnya Yang Myeong langsung pada pokok permasalahan. "Dimana shaman itu sekarang?"
Mulanya astrolog mengatakan kalau ia tidak tahu. Tapi karena Yang Myeong terus memojokkan, akhirnya ia menjawab kalau Wol dikurung dipenjara karena merayu dan melecehkan."
Yang Myeong terkejut. "Dimana ia dikurung?"
"Dia penuh dengan energi jahat." kata astrolog. "Kami mengirimnya ke tempat yang jauh."

Yang Myeong berjalan dengan putus asa.
Tidak sengaja ia berpapasan dengan Ibu Suri (Ibu) dan Ibu Suri (Nenek).
"Kelihatannya kalian terburu-buru menuju ruangan Yang Mulia." ujar Yang Myeong. "Apakah ada hal yang terjadi pada Yang Mulia?"
"Untuk apa kau bertanya?" tanya Ibu Suri sinis. "Apa kau berharap sesuatu yang buruk menimpa Yang Mulia?"
"Ibu..."
"Selir Raja tidak lagi ada di istana ini." tambah Ibu Suri. "Lalu kenapa kau terus saja datang dan pergi dari istana? Aku sudah memperingatkanmu mengenai permintaan almarhum Raja. Apakah kau sudah lupa?"

"Kenapa kau berkata seperti itu, Ibu? Pangeran Yang Myeong datang ke istana karena ia mencemaskan Yang Mulia."
"Kau harus ingat ini baik-baik." Ibu Suri terus mengeluarkan kata-kata menyakitkan pada Yang Myeong. "Selama aku masih hidup, kau tidak akan pernah menjadi Raja. Kau mengerti?"
Yang Myeong hanya bisa diam.
"Ayo kita pergi."

Ketika Ibu Suri melewati Yang Myeong, Yang Myeong berkata, "Ibu Suri, semangat Anda tidak lagi seperti dulu dan Anda kelihatan tidak menikmati hidup. Aku sangat sedih melihatnya. Lalat tidak datang karena bau busuk, tapi karena Yang Mulia tidak bisa menghasilkan penerus. Jika Anda ingin Yang Mulia aman, maka Anda butuh waktu 100 tahun lagi untuk hidup. Tapi kelihatannya itu tidak mungkin karena aku akan hidup lebih lama dibandingkan Anda. Jadi selama kau hidup, kau akan dipenuhi oleh kekhawatiran."
Ibu Suri terpukul mendengar kekurangajaran Yang Myeong. Ia sampai tidak bisa berkata-kata.
Yang Myeong tersenyum. "Aku harap kau selalu sehat dan panjang umur, Ibu Suri." ujarnya seraya memohon diri untuk pergi.

Ibu Suri datang menjenguk Hwon.
Keadaan Hwon baik-baik saja dan itu membuat mereka lega.
"Kau harus tetap kuat agar pendukung Yang Myeong tidak lagi bertambah dan menimbulkan masalah." kata Ibu Suri.
Hwon kelihatan tidak senang mendengar ucapan Ibu Suri.
"Keberadaan Pangeran Yang Myeong mengancammu!" seru Ibu Suri marah. "Kau harus lebih sehat, Yang Mulia. Kau harus secepatnya menghasilkan penerus. Dan yang lebih penting lagi, kau harus menjaga jarak dengan Pangeran Yang Myeong. Hanya dengan cara itulah kau bisa mengamankan tahta kerajaan. Kau mengerti?"
Hwon hanya diam.

Yang Myeong mengunjungi ibunya di kuil.
"Untuk apa ibu berdoa sangat khusuk?" tanya Yang Myeong.
"Aku mendoakan Yang Mulia Raja agar selalu sehat dan aku juga meminta bantuan Budha agar memberikan seorang istri yang cantik untuk Pangeran Yang Myeong. Hanya itu. Lalu, untuk apa kau datang kemari?"
"Tanpa hiasan rambut, rambut ibu tetap saja kelihatan indah." kata Yang Myeong dengan mata berkaca-kaca.
"Walaupun sudah menjadi biksuni, namun aku masih belum bisa melupakan masa lalu jadi aku belum memotong rambutku." ujar Ibu Yang Myeong.

"Jangan potong rambut ibu." kata Yang Myeong penuh makna. "Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan. Jika Yang Mulia mengalami kejadian buruk, mungkin saja ibu bisa menjadi Ibu Suri."
"Pangeran Yang Myeong!" seru ibu Yang Myeong, terkejut. "Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Tidakkah kau tahu kalau keselamatan Raja adalah keselamatanmu juga?"
"Aku tahu." jawab Yang Myeong. "Sejak kecil, ibu selalu mengajarkan hal itu padaku.
"Pengeran, sebuah pohon punya keinginan untuk tetap tinggal namun angin terus saja bertiup. Pada akhirnya, angit itu akan membuat pohon tumbang. Apapun yang terjadi, tolong jangan terpengaruh pada badai. Hanya inilah cara agar Raja merasa aman di tahtanya. Dan Pangeran Yang Myeong juga akan aman."

Yang Myeong hampir menangis.
"Ibu, apa kau percaya reinkarnasi?" tanya Yang Myeong. "Hatiku kosong. Aku tidak menginginkan kekuasaan. Aku juga tidak menginginkan penghormatan ataupun kekayaan. Aku membersihkan diriku dari hal-hal itu. Hanya ada satu hal... orang itu. Jika aku hidup lagi, ada satu orang yang ingin kutemui lagi. Aku takut ia tidak akan bisa mengenaliku. Aku juga takut kalau ia tetap tidak akan memilihku, tapi memilih orang lain. Aku takut jika aku bertemu dengannya lagi, maka aku akan kehilangan dia lagi. Hanya itulah yang penting untukku."

Yang Myeong berjalan tanpa tujuan.
"Kemana aku harus pergi?" tanyanya pada diri sendiri. "Kemanakah aku harus pergi untuk menemukanmu?"

Malam itu, Hwon berbincang dengan Woon.
"Woon, apakah menurutmu Kak Yang Myeong akan melakukan itu?" tanya Hwon. "Kau orang yang paling mengerti kakakku. Tolong katakan padaku."
"Apakah Yang Mulia mencurigai Pangeran Yang Myeong?" tanya Woon.
"Mana mungkin aku mencurigai kakakku sendiri?" ujar Hwon. "Hanya saja... ada banyak orang yang membuatnya ragu. Aku takut suatu saat ia akan rapuh. Aku hanya khawatir. Bukankah ini sangat lucu? Jadi inilah yang dinamakan tahta. Bahkan kakak kandungku sendiri kuanggap sebagai saingan politik. Terutama hari ini. Aku merasakan kalau posisi ini sangatlah melelahkan."

Hwon terdiam, teringat perkataan Wol.
"Aku hanya ingin Yang Mulia tidur." ujar Wol. "Melupakan semua kelelahan karena urusan negara dan juga melupakan penderitaan dalam hati. Agar bisa tidur dengan nyenyak."
Hwon kemudian memerintahkan Woon untuk memeriksa catatan kegiatan Dae Hyeong.
"Anda ingin tahu apakah ia adalah mata-mata Menteri Yoon atau Anda ingin memastikan kalau ia bukanlah mata-mata?" tanya Woon.
Hwon terdiam.

Malam itu, ibu Yeon Woo memimpikannya.
"Yeon Woo... Yeon Woo!" panggil ibunya. Ia seakan melihat Yeon Woo duduk di sisinya. "Kau masih hidup. Udara sangat dingin, kenapa kau mengenakan pakaian tipis? Apakah kau kedinginan?"
Yeon Woo tersenyum dan menggeleng. Ia menyentuh wajah ibunya.
"Ibu." panggil Yeon Woo. "Jaga kesehatanmu."

Di sisi lain, Wol menangis dan bergumam dalam tidurnya.
"Ibu..."

Seol sangat mencemaskan Wol.
"Kita harus menemui Yang Mulia!" seru Seol. "Katakan padanya yang sebenarnya. Katakan kalah Shaman Wol sebenarnya adalah Heo Yeon Woo!"
"Tutup mulutmu!" seru Nok Young marah. "Jika kau berani berkata seperti itu lagi, aku akan memotong lidahmu. Aku sedang memikirkan pemecahan masalah. Jangan ganggu konsentrasiku dan keluar dari sini."

Yeom juga sedang teringat Yeon Woo. Ia datang ke rumah lamanya.
Matanya berkaca mengingat kenangan-kenangan bersama Yeon Woo.
Mendadak ia mendengar suara tangis dari dalam rumah. Yeom bergegas masuk.

Di dalam kamar lama Yeon Woo, ia melihat ibunya menangis.
"Ibu, kenapa kau menangis seperti ini lagi?" tanya Yeom.
"Yeon Woo datang menemuiku." tangis ibu. "Kelihatannya ia ingin mengatakan sesuatu. Dia... dia ingin mengatakan sesuatu padaku."
Yeom tak kuasa menahan air matanya.
"Anak itu terlalu baik, karena itu ia tidak mengatakan apa-apa padaku karena ia takut akan menyakitiku." tangis ibu. "Ia hanya menangis. Anak yang malang. Anakku!"

Yeom memapah ibunya pulang ke rumah.
"Ibu, ada apa denganmu?" tanya Min Hwa cemas.
"Aku baru saja membawa ibu kembali dari rumah lama." jawab Yeom.
"Kenapa mendadak kau pergi kesana lagi?"
"Maaf mereporkanmu, tolong jaga ibu." ujar Yeom tanpa menjawab pertanyaan Min Hwa.

Di istana, Bo Kyung juga memimpikan Yeon Woo.
Ia bermimpi ketika ia memberi hormat pada Yeon Woo, yang telah terpilih menjadi Putri Mahkota.
Bo Kyung terbangun dengan kaget. "Kenapa ia muncul di mimpiku?" pikirnya. "Ia sudah mati, tapi kenapa ia ada di mimpiku?"

Hwon sendiri tidak bisa tidur. Ia terus-menerus memikirkan Wol.

Pagi itu mood Hwon kelihatan tidak bagus.
"Apa kalian koki istana?" tanya Hwon pada tiga orang gadis.
"Benar." jawab mereka.
"Apakah kalian menyajikan sup yang sama lagi?"
"Benar."
"Jadi, apakah kalian mengharapkan aku makan itu setiap saat dan mati?" ujar Hwon sinis. "Jika kalian memberikan sup itu lagi, aku tidak akan melepaskan kalian. Ingat itu."

Para koki kecewa karena tidak bisa melihat senyum Hwon lagi.
Ketika mereka sedang membicarakan senyum Hwon, Bo Kyung muncul dihadapan mereka.
"Ratu, kami pantas mati!" seru mereka.
"Dayang dari mana kalian?" tanya Dayang Jang. "Kalian harus dihukum!"
"Lupakan saja, Dayang Jang." ujar Bo Kyung dengan ramah. "Keadaan Yang Mulia sudah lebih baik. Tidak ada berita yang lebih baik dari itu. Aku tidak keberatan, jadi kalian tidak perlu khawatir."
Bo Kyung pergi dengan wajah tersenyum, namun begitu melewati mereka, wajahnya berubah masam.

Bo Kyung menemui Ibu Suri (ibu Hwon).
"Aku mendengar desas-desus di istana mengenai hubungan Yang Mulia dan aku." kata Bo Kyung.
"Desas-desus apa?" tanya Ibu Suri.
"Mereka mengatakan kalau akulah penyebab sakitnya Yang Mulia." jawab Bo Kyung. "Dan Yang Mulia sehat karena menyembunyikan seorang wanita."
Ibu Suri tersenyum. "Untuk apa Yang Mulia menyembunyikan wanita?" tanyanya. "Kau seharusnya lebih tahu kalau Yang Mulia bukanlah orang seperti itu."
"Jika desas-desus ini sampai tersebar keluar istana, apa yang akan dipikirkan rakyat?" ujar Bo Kyung. "Tolong izinkan aku masuk ke kamar Yang Mulia kapanpun aku mau. Desas-desus itu muncul karena aku tidak bisa berada disisi Yang Mulia."

"Tapi astrolog dan Balai Samawi mengatakan kalau kalian lebih baik menjaga jarak terlebih dahulu." kata Ibu Suri.
Bo Kyung menangis. "Aku adalah istrinya yang sah. Sampai kapan aku akan menahan penghinaan ini?"
"Bersabarlah sebentar lagi, Ratu." ujar Ibu Suri menenangkan.
"Tapi bagaimana kalau ia jatuh sakit lagi?"
"Jangan cemas." ujar Ibu Suri. "Kami telah mengirim seorang shaman pada Yang Mulia sebagai jimat untuk menyerap energi jahat. Kesehatan Yang Mulia membaik berkat shaman itu. Bersabarlah sebentar lagi."
Bo Kyung terdiam.

Hwon melakukan rapat dengan para menterinya. Di depan para menteri, ia kelihatan seakan tahu sesuatu namun tidak menyatakannya secara langsung. Hwon ingin mengancam para menteri secara perlahan-lahan.

Bo Kyung meminta Dae Hyeong untuk menemuinya.
Bo Kyung bercerita mengenai jimat shaman yang dikirim untuk Raja. Ia memohon pada ayahnya untuk menemui Ibu Suri dan membuat petisi.
"Walaupun ia adalah jimat, tapi ia tetap seorang wanita." ujar Bo Kyung. "Aku tidak ingin membiarkan wanita itu tetap berada di sisi Yang Mulia."
"Kau ingin aku meminta Ibu Suri untuk melenyapkan shaman itu dari sisi Yang Mulia?" tanya Dae Hyeong.
"Akhir-akhir ini aku mendapat mimpi buruk." ujar Bo Kyung. "Bersamaan dengan itu, kesehatan Yang Mulia perlahan membaik. Aku tidak tahu kenapa tapi semua itu membuatku tidak tenang."
"Ratu, apa kau cemburu hanya karena seorang shaman?" tanya Dae Hyeong. "Walaupun Yang Mulia bersikap dingin padamu, tapi ia tidak akan pernah memiliki perasaan apapun pada seorang shaman rendahan."
Dae Hyeong menemui Ibu Suri. Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi Ibu Suri.
"Posisi menteri membuatku sangat sibuk hingga tidak memiliki waktu luang." kata Dae Hyeong.
"Kau pikir siapa yang membuatmu mencapai posisi ini?" ujar Ibu Suri dalam hati. "Beraninya kau bersikap sombong di depanku."
"Wanita tua itu masih berpikir bahwa ia memiliki kekuasaan besar di tangannya." ujar Dae Hyeong dalam hati.

Dae Hyeong mengatakan pada ibu suri bahwa sangat berbahaya membiarkan Nok Young kembali ke istana karena Nok Young berhubungan dengan kejadian delapan tahun yang lalu.
"Shaman Gwon juga berhubungan dengan kejadian mengenai ibu Pangeran Uiseong." ujar Ibu Suri. "Saat ini, kita membutuhkan kemampuannya. Tidak ada shaman di seluruh Joseon yang bisa menandingi Shaman Jang."
Apapun yang dikatakan Dae Hyeong tidak membuat keputusan Ibu Suri berubah.

Wol dibawa keluar dari penjara untuk dihukum. Keningnya akan di tato dengan tulisan 'kriminal'.
Wol gemetar ketakutan.



Nok Young, Seol dan Jan Shil tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya.

Woon melaporkan pada Hwon mengenai penyelidikannya tentang Wol. Wol sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Menterin Yoon.
"Tarik kembali perintah Anda, Yang Mulia." ujar Woon. "Wanita itu bukan mata-mata."
"Kau memohon untuknya, ini bukan seperti dirimu, Woon." ujar Hwon. "Aku mengerti. Orang yang berbahaya bukan gadis itu, tapi aku."

"Apa yang harus kulakukan, Ari?" tanya Nok Young panik. "Jika aku membuka identitasnya, ia akan selamat namun akan segera mati. Jika aku diam saja, ia akan hidup tapi hidupnya akan hancur. Apa yang harus kulakukan?"
Besi panas makin mendekati wajah Wol. Mendadak terdengar suara.
"Berhenti!"

Kasim datang.
"Ini adalah perintah Raja." serunya. "Mulai saat ini, Shaman Wol dimaafkan dan diizinkan kembali merawat kesehatan Yang Mulia."
"Kakak!" seru Jan Shil seraya berlari memeluk Wol.
"Nona!" seru Seol.
Wol menangis.

"Kau mengatakan kalau aku sudah disihir dan harus melepaskannya." ujar Hwon pada Woon. "Kurasa kau benar, namun aku tidak bisa melepaskannya."

Wol hanya duduk diam di kamarnya tanpa menyentuh makanan sedikitpun.
"Kepala Shaman, aku ingin pergi keluar." ujar Wol.
"Kau masih sakit." ujar Nok Young. "Mau kemana kau?"
"Hanya sebentar saja." ujar Wol. "Ada sesuatu yang harus kulakukan. Aku hanyalah seorang shaman rendahan. Aku mulai menyadari hal itu hari ini. Tapi aku ingin memperjelas kesalahpahaman ini. Tolong izinkan aku. Ini adalah permintaan pertama dan terakhirku."
Akhirnya Nok Young mengizinkan Wol pergi.

Wol berjalan di kota.

Di sisi lain, Min Hwa dan ibu mertuanya juga sedang berjalan-jalan di kota.
Min Hwa ingin membeli kertas untuk Yeom. Namun ibu mertuanya mengajaknya ke toko barang-barang tua terlebih dahulu.

Wol memilih-milih kertas di toko kertas.
"Kau pasti ingin menulis surat cinta." kata penjual.
"Bukan surat cinta." jawab Wol. "Tapi aku ingin menulis surat permintaan maaf."
"Bukan surat cinta, tapi surat permintaan maaf." Wol merasa seakan ia mendengar suara lain (atau ia pernah mengatakan hal yang sama sebelumnya).
Mendadak Wol teringat Yang Myeong. Ia pernah berjanji akan menunggu Yang Myeong di rumah kaca. Wol bergegas keluar.

Wol pergi ke tempat yang dijanjikan.
"Sudah beberapa hari berlalu, ia tidak mungkin masih disini." gumam Wol.
Namun ternyata pemikirannya salah. Saat itu Yang Myeong berada disana.

Yang Myeong mengantar Wol membeli kertas.
Wol berterima kasih pada Yang Myeong karena sudah menolongnya tempo hari. Ia juga meminta maaf karena tidak menepati janji.
Dengan sengaja, Yang Myeong membuat Wol tahu kalau ia terluka.

Yang Myeong melihat luka di wajah Wol.
"Kau pasti sangat menderita." katanya. "Jika kau ingin melarikan diri, katakan padaku. Aku akan menolongmu."
"Terima kasih atas tawaranmu." ujar Wol, tersenyum. "Tapi aku ada di tempat yang aman sekarang. Jadi kau tidak perlu cemas."
Lagi-lagi Wol mendengar suara. "Jika kau ingin lepas dari keadaan ini, aku akan melepaskan gelar Pangeran dan membawamu pergi jauh."

"Apakah kau kakak Raja?" tanya Wol.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Yang Myeong, terkejut.
"Aku punya kemampuan sihir." jawab Wol. "Aku baru saja melihat masa lalumu."
Yang Myeong kecewa. Ia sangat berharap kalau Wol adalah Yeon Woo.
"Bolehkah aku memberi sedikit nasehat untukmu?" tanya Wol. "Lepaskan orang yang terkubur di hatimu. Buka hatimu yang kosong untuk orang yang baru. Jangan berusaha keras menyembunyikan perasaanmu yang sesungguhnya dengan senyuman. Bukankah sangat menyiksa jika kau hidup dengan membohongi hati kecilmu sendiri?"

Mata Yang Myeong berkaca. "Bolehkah aku tahu namamu?"
"Maafkan aku, aku tidak memiliki na..." Mendadak Wol berhenti bicara.
"Aku memberimu nama 'Wol'." Wol teringat Hwon pernah berkata.
"Wol." jawab Wol. "Namaku Wol."
Wol memohon diri untuk pergi.
Yang Myeong melamun ketika Wol berjalan menjauh.
"Ah, tunggu!" seru Yang Myeong, hendak mengejar Wol.

Wol memakai tudungnya dan pergi dengan terburu-buru.
Tanpa sengaja, ia menabrak ibunya sendiri.
"Maafkan aku." ujar Wol. "Aku sedikit terburu-buru."
"Pergilah." ujar ibunya.

Yang Myeong keluar untuk mengejar Wol. Namun Min Hwa balas dendam mengganggunya.
"Jangan katakan kalau gadis itu adalah kekasihmu." ujar Min Hwa.
"Ya, memang." jawab Yang Myeong. "Kau puas sekarang?"
Yang Myeong buru-buru hendak pergi, namun Min Hwa terus memegangi tangannya.
"Sepertinya aku pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya." pikir ibu. "Mungkin umurnya sama dengan umur Yeon Woo."

Wol menulis surat permintaan maaf untuk Hwon.

Malam itu, Wol masuk ke kamar Hwon.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat Hwon tidak tidur, melainkan sengaja menunggunya.

Bo Kyung benar-benar tidak tenang dengan keberadaan Wol di sisi Hwon. Ia tidak tahan lagi. Ia ingin menemui Hwon sekarang juga.

"Aku tidak meminum teh yang dibawakan tabib." ujar Hwon. "Mulai saat ini aku tidak akan minum teh itu lagi. Kau harus bertanggung jawab atas perkataanmu. Bukankah kau ingin membantuku tidur dan membuatku melupakan semua permasalahan negara?"
Add Image
"Ya." jawab Wol.
"Bukankah kau mengatakan padaku agar melepas penderitaan dalam hatiku?" tanya Hwon lagi.
"Benar." jawab Wol.

"Saat ini aku berada dalam penderitaan yang hebat." ujar Hwon. "Aku ingin melenyapkan penderitaan ini. Jadi aku membutuhkan bantuanmu. Bisakah kau melakukannya?"
Wol diam.
"Jawab aku." kata Hwon. "Bisakah kau melakukannya?"
"Berikan hamba kesempatan, Yang Mulia." ujar Wol. "Jika Yang Mulia mengizinkan, aku akan melindungi Yang Mulia dari kesialan dan kematian. Aku juga ingin menghilangkan kecemasan dan penderitaan Yang Mulia. Walaupun kemampuanku masih kurang, tapi aku punya kewajiban untuk melindungimu. Dalam satu bulan ini, aku akan memenuhi tugasku."

Di luar, Ratu tiba di paviliun Raja.
Kasim ingin mengumumkan kehadiran Ratu, namun Bo Kyung melarang.
"Buka pintunya." perintah Bo Kyung.
"Tidak bisa..."
Tanpa berkata lagi, Bo Kyung maju hendak membuka pintu.
"Angkat kepalamu." Bo Kyung mendengar Hwon berkata.

"Angkat kepalamu." ulang Hwon.
Wol hanya diam.
"Ini perintah!" ujar Hwon tegas.

Bo Kyung membuka pintu dan mengintip ke dalam.
Di kamar Hwon, ia melihat Hwon sedang menghadapi seorang wanita.

9 comments:

atikk said...

mbak P daebak dah !!
ditunggu lanjutannya ^_^

Kimchi said...

Hwon udah mikir kalo Wol itu Yeon Woo ya, ckckck cinta pertama emang susah dilupakan^^

Anonymous said...

Kok Hwon jahat sih nuduh mata2 segala ke gadis secantik Wol? Pake acara nyuruh ditangkep pula... Jahat.. Jahat

fella said...

ahhhhhh true love ni..
lanjut kak p.

Anonymous said...

keren bgt kak putri,keren pisan sinopsisnya,detail.. Thanks kakak..

Anonymous said...

keren bgt kak putri,keren pisan sinopsisnya,detail,thanks kakak... I love your blog #ulliaini#

Anonymous said...

keren bgt kak putri,keren pisan sinopsisnya,detail.. Thanks kakak..

あり あきな said...

keren p mantap hahaha, jadi paham soalnya selama ini nonton tanpa sub jadi nunggu sinopsis punyamu wkwkwk, ekspresi Soo Hyun ckckckck

enNa -JusTone- said...

deg2degan mulu vtiap mau baca episode selanjutnya,,,kejutan apalagi ya....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda