Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Gu Family Book Episode 3

Tuesday, April 23, 2013

Sinopsis Gu Family Book Episode 3

Saat malam kelahiran Kang Chi, So Jung melihat cahaya beterbangan. Ia bergegas berlari menuju gua.
"Itu Wol Ryung!" serunya. "Aku yakin Wol Ryung sudah kembali!"
Sesampainya di gua, So Jung kecewa karena ia tidak bisa menemukan Wol Ryung disana.
"Siapa disana?" tanya So Jung, berusaha melihat menembus kegelapan.
So Jung terkejut melihat Seo Hwa ada disana bersama seorang bayi.
So Jung membuatkan sup untuk Seo Hwa.
"Matanya mirip mata Wol Ryung." kata So Jung.
"Benarkah?" gumam Seo Hwa. "Aku tidak tahu. Bagaimana wajahnya, bagaimana matanya, bagaimana senyumnya... aku tidak ingat."
So Jung mengeluarkan belati kayu dari balik bajunya dan menunjukkan pada Seo Hwa.
"Aku menyuruhnya menusukkan ini ke jantungmu." ujar So Jung. "Ia bisa selamat jika ia membunuhmu dengan belati itu."
"Lalu kenapa dia tidak menusukku?" tanya Seo Hwa.
"Kau membuat hatinya bergetar untuk pertama kali dalam ratusan tahun." jawab So Jung. "Aku yakin ia tidak akan menyakitimu untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Begitulah cinta Wol Ryung."
Seo Hwa menangis.
"Simpanlah belati itu." ujar So Jung. "Itu adalah milik terakhir Wol Ryung, orang yang benar-benar mencintai dan percaya padamu."
Seo Hwa mengambil belati itu dan mendekapnya.
Seo Hwa berjalan pulang dengan gontai.
"Aku berniat membunuhnya." Seo Hwa menulis sepucuk surat pada So Jung. "Aku pikir, aku akan melahirkan bayi monster, karena itu aku berniat membunuhnya."
Seo Hwa datang ke tempat Tuan Park. Ia menggenggam belatinya erat.
"Manusia adalah makhluk yang lemah." ujarnya. "Makhluk bodoh yang merasakan penyesalan saat kehilangan seseorang yang penting."
Seo Hwa berjalan perlahan mendekati Tuan Park.
"Jangan memaafkan wanita sepertiku."
Seo Hwa mengangkat belatinya dan menyerang wajah Tuan Park.
"Aku menyebabkan orang yang kucintai mati dan bahkan mencoba untuk membunuh anaknya. Jangan memaafkan wanita sepertiku. Aku akan menanggung semua beban ini."
Seo Hwa ingin membunuh Tuan Park dengan belati kayu itu, namun pengawal Tuan Park langsung mengeluarkan pedang dan menebas tubuh Seo Hwa.
"Tolong kasihani anak ini." ujar Seo Hwa. "Jangan biarkan ia sedih dan kesepian seperti Wol Ryung. Bantu dia agar hidup ditengah-tengah manusia yang lain."
Seo Hwa tewas.
"Ini adalah pemohonan terakhirku sebagai seseorang yang tidak pantas menjadi ibu."
So Jung menghanyutkan Kang Chi di sungai dan kemudian ditemukan oleh Tuan Park.
So Jung memasang gelang ke tangan Kang Chi.
"Maukah kau berjanji padaku bahwa ia tidak akan pernah melepas gelang itu sampai umurnya 20?" tanya So Jung.
"Apa ini?" Tuan Park balik bertanya.
"Itu akan menolak bencana." jawab So Jung. "Jika kau membesarkannya sampai ia berumur 20 tahun tanpa melepas gelang itu, semua keberuntungan akan kembali padamu. Kau akan berhasil dalam hal apapun yang kau lakukan."
"Kau pikir aku akan percaya dengan kata-katamu?"
"Hutan, pohon, angin... semuanya akan menjadi saksi kata-kataku." ujar So Jung.
Mendadak angin berhembus dengan kencang.
Saat itulah para bangsawan memberikan nama bayi itu, Choi Kang Chi.
Seorang pendongeng menceritakan mengenai Tuan Park setelah menemukan Kang Chi. Banyak warga yang mendengar cerita pendongeng itu, termasuk So Jung.
Diceritakan bahwa sejak saat itu, Tuan Park menjadi orang yang sangat kaya. Ia berhasil dalam melakukan hal apapun. Tuan Park memiliki sebuah penginapan besar dan ternama bernama, Penginapan Ribuan Tahun.
Banyak pencuri yang hendak mencuri hartanya, namun Tuan Park malah memberikan uang agar si pencuri bisa menjadi petani dan hidup dengan baik. Kebaikan hati Tuan Park membuat semua orang menaruh hormat padanya.
"Aku punya satu pertanyaan." Mendadak terdengar suara seorang wanita. "Apa yang terjadi pada bayi itu? Bayi yang dibawa Tuan Park dari sungai? Aku penasaran apa yang terjadi padanya."
"Itu..." Si pendongeng kebingungan menjawab pertanyaan itu.
Di sisi lain.
"Kang Chi!" Seorang pria berlari-lari mencari Kang Chi.
"Kang Chi?" tanya seorang pekerja. "Ia tidak disini."
"Apa maksudmu ia tidak disini?" Tanya pria itu panik.
"Kenapa?" tanya pekerja. "Apa Kang Chi menyebabkan masalah lagi?"
"Ya, dia menyebabkan masalah yang sangat besar!"
"Apa?!"
Seorang pria dan komplotan preman yang menyeramkan berteriak-teriak di penginapan Tuan Park untuk mencari Kang Chi. Ia kelihatan sangat marah dan membawa dua orang anak buahnya yang babak belur.
"Aku yang bertanggung jawab pada masalah penginapan ini." Keluar seorang pria muda dari dalam penginapan. Ia berperawakan tenang dan angkuh. "Kenapa kau menyebabkan keributan di penginapan kami?"
"Kau ingin tahu?" tanya pria preman itu. "Kau pikir siapa yang menyebabkan mereka babak belur seperti ini?" Ia menunjuk anak buahnya yang terkapar kesakitan di tanah."
"Maksudmu Choi Kang Chi yang melakukan ini?"
"Kalau kau sudah tahu, sekarang bawa Kang Chi kemari!" ujar pria preman. "Apapun yang terjadi, aku harus membuat perhitungan dengannya!"
"Aku mengerti, tapi kau harus pergi sekarang. Aku akan mencari tahu apa yang terjadi dan akan memanggilmu kembali."
"Aku tidak akan pergi sebelum membuat perhitungan dengannya!"
Di waktu yang sama, Choi Kang Chi bersembunyi di balik pohon. Ia masih mengenakan gelang dari So Jung.
Rupanya Kang Chi hendak mengintip seorang gadis cantik. Gadis itu bernama Chung Jo. Chung Jo adalah putri Tuan Park.
Saat itu, Chung Jo sedang menunggu kunjungan dari seorang wanita bangsawan yang akan menjadi calon ibu mertuanya.
Diam-diam, Kang Chi mengendap-endap masuk ke kamar Chung Jo saat gadis itu sedang berbincang dengan pelayannya. Namun sayang ia sudah ketahuan duluan.
"Sebentar lagi aku akan menjadi istri dari anak asisten menteri." kata Chung Jo bercerita pada Kang Chi.
"Tidak akan ada orang yang bahagia dengan hidup yang membosankan seperti itu." ujar Kang Chi, kelihatan tidak senang. "Aku yakin kau lebih tahu dari siapapun."
Chung Jo terdiam.
Mendadak terdengar suara dari luar yang memberitahukan mengenai kedatangan ibu Chung Jo.
Pelayan Chung Jo keluar dan berbohong dengan mengatakan kalau Chung Jo sedang bersiap-siap.
"Cepat, keluar lewat sini!" ujar Chung Jo seraya membuka jendela agar Kang Chi bisa kabur.
Kang Chi menarik lengan Chung Jo. "Apa kau serius?" tanyanya. "Kau bilang sendiri kalau pernikahan ini hanyalah untuk keuntungan kedua keluarga. Kau benar-benar menginginkan pernikahan seperti itu?"
Chung Jo terdiam.
Di luar, ibu Chung Jo memaksa masuk. Untung saat ibu Chung Jo masuk ke kamar, Kang Chi sudah keluar lewat jendela.
"Apa Kang Chi?" tanya Ibu Chung Jo curiga. "Apa dia kemari lagi?"
"Tentu saja bukan, ibu." jawab Chung Jo, berbohong. "Aku belum melihat Kang Chi."
"Aku sudah mengatakan padamu bahwa pernikahan ini penting untuk kita." ujar Ibu Chung Jo. "Walaupun kau tumbuh bersama Kang Chi, ia tetap saja bukan anak kandung. Kau sudah cukup dewasa untuk tahu mengenai perbedaan kelas. Kau mengerti?"
"Aku mengerti, ibu. Jangan khawatir."
Saat itu, Kang Chi sedang berada di atas atap mendengar percakapan mereka.
Kang Chi menarik napas panjang dan turun dari atap.
Di bawah, Kang Chi langsung disambut oleh pria angkuh yang tadi menghadapi preman. Pria itu bernama Tae Seo.
"Bukankah ibu sudah melarangmu datang kemari?" tanya Tae Seo.
"Mana mungkin aku lupa?" ujar Kang Chi berbohong. "Aku tidak datang berkunjung. Aku hanya kebetulan lewat."
Tae Seo menarik napas lega.
Kang Chi berjalan pergi, namun Tae Seo menarik lengannya.
"Ma Bong Chool datang kemari mencarimu."
Kang Chi menemui si preman yang ternyata bernama Bong Chool.
"Selesaikan ini baik-baik dan suruh mereka pergi." bisik Tae Seo pada Kang Chi.
Kang Chi tidak mendengar saran Tae Seo dan maju mendekati Bong Chool.
"Kau ingin mati?!" seru Kang Chi.
"Kang Chi!" seru Tae Seo melarang.
"Siapapun yang datang kemari dan mencari keributan, maka aku, Choi Kang Chi, akan membuat perhitungan." seru Kang Chi lantang.
"Lihat siapa yang bicara disini." kata Bong Chool merendahkan Kang Chi. "Kau bukan apa-apa selain anak yatim piatu yang diadopsi.
"Beraninya kau berkata begitu!" seru Tae Seo marah.
Bong Chool terus menghina jati diri Kang Chi.
Kang Chi mengepalkan tangannya dan menendang Bong Chool hingga jatuh terpelanting.
"Aku tidak akan bicara banyak!" seru Kang Chi. "Tutup mulutmu dan tinggalkan tempat ini dalam hitungan ketiga! Satu."
"Kubilang usir mereka baik-baik!" seru Tae Seo pada Kang Chi. Ia berbalik menghadapi Bong Chool. "Kita selesaikan ini dengan 10 koin, bagaimana?"
"Aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan 10 koin." ujar Bong Chool. "Bagaimana kalau 20?"
"Park Tae Seo!" teriak Kang Chi kesal, ia maju menarik baju Bong Chool. "Kau pikir 20 jumlah yang sedikit?"
"Kalau begitu 10 koin lagi jadi 30." kata Bong Chool.
"Kau ingin mati?!" teriak Kang Chi.
Tae Seo menjauhkan Kang Chi dari Bong Chool. "Baik, 30 koin! Itu sudah cukup kan?"
"Kau gila?!" seru Kang Chi. "30 koin untuknya?"
"Kau sudah menaikkan dari 20 menjadi 30." kata Tae Seo tajam. "Sekarang diamlah."
"50 koin!" teriak Kang Chi. "Kita akan selesaikan ini dengan 50 koin. Tapi... "
Kang Chi berbalik untuk mengambil sapu. Ia menusukkan sapu itu ke tanah, seketika itu juga gelang di tangannya bercahaya.
"Jika kau dapat menyeretku menuju sapu ini lagi, aku akan memberimu 50 koin." tantang Kang Chi. "Aku akan memberimu 50 koin dan berlutut meminta maaf padamu. Bagaimana?"
Bong Chool tersenyum licik. "Tunggu apa lagi?!" serunya pada anak buahnya. "Cepat tangkap anak itu!"
Kang Chi berlari kabur.
Di saat yang sama di tempat lain, Chung Jo sedang berbincang dengan ibu dan calon ibu mertuanya.
Mereka terkejut karena mendengar suara pria bertengkar. Para pria itu tidak lain adalah Kang Chi dan para kroni Bong Chool.
"Apa yang kalian lakukan?!" seru Ibu Chung Jo.
Namun kejar-kejaran dan pertarungan tidak kunjung berakhir.
Kang Chi di kepung dan terjatuh.
"Kita mendapatkannya! 50 koin!" seru Bong Chool. "Tunggu apa lagi? Cepat tangkap dia!"
"Berhenti!" seru Tae Seo. Ia datang bersama dengan beberapa pengawal. Di belakang mereka, muncul Tuan Park.
"Ah, Tuan!" ujar Kang Chi, ia berusaha berdiri namun jatuh lagi.
"Kang Chi, kau tidak apa-apa?" tanya Chung Jo.
Kang Chi hanya diam sambil memandang Chung Jo. Sepertinya Kang Chi jatuh cinta pada Chung Jo.
"Berdiri sekarang juga!" teriak Ibu Chung Jo marah.
Kang Chi dan Chung Jo langsung berdiri dengan cepat.
Tuan Park memberikan 50 koin pada Bong Chool dan menyuruh Kang Chi berlutut meminta maaf.
Kang Chi kesal sekali melihat Bong Chool mendapatkan uang itu.
Setelah mengambil uang dari Tuan Park, Bong Chool dan kroninya pergi meninggalkan penginapan.
"Apa sekarang?" tanya Tuan Park pada Kang Chi. "Jika kau berkelahi, ia akan datang ke penginapan dan membuat kerusakan atau menyakiti orang yang lemah. Mana yang ingin kau lihat?"
Kang Chi terdiam sejenak.
"Aku tidak akan membela diri dengan perbuatanku." kata Kang Chi. "Ini semua karena sifatku yang buruk dan tidak bisa menahan diri."
Tuan Park tersenyum. "Jika kau berkelahi saat kau masih remaja, itu hal yang lumrah." katanya. "Tapi sekarang kau sudah dewasa. Cepat atau lambat kau akan membantu Tae Seo menjalankan penginapan ini. Kau harus lebih bisa bertanggung jawab."
Tuan Park menyuruh Kang Chi berlutut agar menyadari kesalahannya.
Ibu Chung Jo sudah tidak tahan pada kelakuan Kang Chi dan meminta suaminya untuk menyuruh Kang Chi pergi.
"Hanya tinggal beberapa hari lagi sampai umurnya 20 tahun." kata Tuan Park pada istrinya.
"Jika waktunya sudah tiba, kau akan menyuruhnya pergi?" tanya Ibu Chung Jo. "Aku sudah tidak tahan menghadapi anak itu. Sejak pertama kali anak itu datang ke rumah itu, aku sudah tidak tahan."
Tuan Park teringat penolakan istrinya dulu ketika ia membawa Kang Chi pulang ke rumah.
Saat pertama kali dibawa ke rumah, kepala Kang Chi sepat terluka dan tidak sengaja gelang Kang Chi  terlepas. Luka itu dengan sendirinya sembuh. Tuan Park dan Nyonya Park terkejut melihat hal itu.
Tuan Park mengembalikan gelang itu ke tangan Kang Chi dan tidak lama setelah itu, ia mendapatkan kabar baik berturut-turut.
Kang Chi masih berlutut di halaman penginapan sampai larut malam. Perutnya terus-menerus berteriak-teriak minta makan.
"Aku sangat lapar." keluh Kang Chi.
Mendadak, Chung Jo datang dan memberikan sebuah apel.
"Chung Jo!" seru Kang Chi senang. "Mengapa kau kemari? Tidakkah kau tahu kalau wanita tidak boleh kemari?"
Chung Jo ikut berlutut di depan Kang Chi.
"Jadi kau tidak mau makan?" tanyanya.
Kang Chi tersenyum dan mengambil apel dari tangan Chung Jo. "Harusnya kau membawakan aku ayam." ujarnya.
Chung Jo tersenyum melihat Kang Chi makan dengan lahap.
"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Chung Jo. "Walaupun kau melakukan itu, pernikahan ini tidak akan dibatalkan. Kau tahu itu."
Kang Chi hanya diam.
"Di dunia ini, ada hal yang yang harus kau lakukan walaupun tidak mau." tambah Chung Jo. "Contohnya adalah pernikahan ini."
"Kenapa kau mau melakukan hal yang tidak kau sukai?" tanya Kang Chi.
"Kau harus sabar dan berkorban demi melindungi sesuatu yang kau sayangi." jawab Chung Jo.
"Apa yang kau coba untuk lindungi?" tanya Kang Chi.
"Keluargaku." jawab Chung Jo singkat. "Aku hanyalah seseorang yang tidak berguna di keluarga ini. Tapi jika pernikahan ini bisa menjamin kehidupan ayah dan keluargaku... Jika aku bisa membantu penginapan ini berkembang... Aku akan sangat senang."
"Aku bisa melakukan itu." ujar Kang Chi. "Aku akan melindungi penginapan ini, Tuan Besar, kau dan semua anggota keluargamu. Aku akan melindungi semua orang. Aku kuat, kau tahu."
Chung Jo tertawa. "Aku tahu, tapi kadang kekuatan saja tidak cukup." katanya. "Kekerabatan dan politik juga penting."
"Tanpa semua itu, apa hal yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Kang Chi. "Apa kau menyukaiku?"
"Kang Chi..."
"Katakan saja padaku." ujar Kang Chi sedih.
Chung Jo terdiam, maka Kang Chi mulai menghitung.
"Satu. Dua. Tiga."
Chung Jo tetap terdiam.
Kang Chi mulai menghitung lagi.
"Satu. Dua. Tiga."
Chung Jo langsung mengecup pipi Kang Chi.
Kang Chi terkejut.
Chung Jo kemudian menjauhkan diri.
"Diluar dingin." kata Chung Jo, tersenyum. "Ayo kita masuk."
Chung Jo bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh. Ia berbalik dan tersenyum pada Kang Chi.
Kang Chi masih duduk terpaku di tempatnya.
Ia mengentuh pipinya dan tersenyum-senyum sendiri. Ia kemudian tertawa dan melonjak-lonjak kegirangan.
Diam-diam, ibu Chung Jo melihat kejadian itu.
Ibu Chung Jo teringat percakapannya dengan Tuan Park.
"Hanya tinggal 1 bulan lagi sampai ia berumur 20 tahun." kata Tuan Park. "Biarkan dia disini sampai saat itu tiba."
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu?" tanya Ibu Chung Jo cemas. "Kau tahu kalau Kang Chi menyukai Chung Jo, kan?"
Tuan Park tersenyum. "Kang Chi dan Chung Jo tumbuh bersama seperti saudara." katanya. "Yang kau khawatirkan tidak akan terjadi."
Kini semua yang dikhawatirkan Ibu Chung Jo menjadi kenyataan. "Jika kau tidak mau melakukanya, maka aku sendiri yang akan mengusirnya."
Seorang gadis yang mengenakan topi cadar (entah namanya apa) minta diramal oleh seorang peramal wanita di kota. Kelihatannya ia sedang menyamar menjadi laki-laki. Gadis itu bernama Dam Yeo Wool.
"Kau tidak beruntung!" seru peramal. "Kau tidak punya keberuntungan soal jodoh."
Lelaki yang menemani Yeo Wool tersenyum tertahan. Lelaki itu adalah pengawalnya yang bernama Gon.
"Seorang lelaki harus memiliki rahang di wajahnya dan bahunya harus bidang." kata si peramal. "Maka gadis-gadis akan suka padanya. Kau sangat kurus dan kelihatan lemah."
"Bibi, aku ini wanita."
Peramal melepaskan topi Yeo Wool.
"Lebih buruk lagi!" ujar peramal itu. "Bagaimana lelaki akan menyukaimu kalau kau berpakaian seperti ini."
Si peramal menasehati Yeo Wool bagaimana seharusnya seorang wanita bersikap. Wanita harus feminin.
Yeo Wool mengeluh. "Kurasa sudah jadi takdirku untuk hidup sendiri sampai aku mati." katanya kesal. "Feminin? Obat apa yang bisa menjadikanku seperti itu?"
"Jangan terlalu memikirkan ramalan orang itu." hibur Gon.
"Apa wanita yang membawa pedang dan panah tidak menarik bagi pria?" tanya Yeo Wool.
"Aku tidak tahu." jawab Gon dengan ekspresi tidak nyaman.
"Ah, sudah kuduga..."
"Tidak, bukan seperti itu maksudku."
"Sudah, tidak usah menghiburku." kata Yeo Wool. "Aku juga akan mati seperti ini. Tidak usah mengkhawatirkanku."
"Sepatu tua saja punya pasangan." terdengar suara So Jung. "Kenapa manusia tidak punya pasangan?"
Yeo Wool menoleh dan mendekati So Jung.
"Apa kau bisa meramal?" tanya Yeo Wool.
"Kau punya jiwa yang bersih dan polos." kata So Jung.
"Ah, kau sangat hebat!" seru Yeo Wool. "Maukah kau meramalku? Apakah aku akan punya pasangan?"
"Nona..." Gon hendak menghentikan.
"Diam!" potong Yeo Wool.
"Mari kita lihat." ujar So Jung. Niatnya ia hanya iseng, tapi kemudian ia terkejut.
"Apa?" tanya Yeo Wool penasaran melihat perubahan ekspresi So Jung. "Apakah aku benar-benar akan sendirian sampai mati seperti yang dikatakan nenek peramal itu?"
"Tidak, itu tidak benar." jawab So Jung. "Kau akan segera bertemu jodohmu."
"Benarkah? Kapan?" tanya Yeo Wool senang. "Seperti apa dia?"
"Jika kau bisa, kau harus menghindari takdir ini." saran So Jung.
"Kau mengatakan bahwa ia adalah jodohku." kata Yeo Wool. "Bukankah itu sudah ditetapkan? Jika aku bisa menghindarinya, bagaimana itu bisa jadi takdirku?"
So Jung terdiam sejenak.
"Bertemu dengannya memang tidak dapat dihindari." ujar So Jung. "Tapi kau bisa menentukan takdirmu. Walaupun itu takdirmu, jika kau tidak memilih jalan itu maka takdirmu bisa berubah."
"Apa tidak ada yang bisa dilakukan?" tanya Yeo Wool. "Seperti jimat?"
"Teman baikku pernah bertemu dengan orang yang seharusnya tidak pernah ditemuinya." So Jung sedih mengingat Wol Ryung. "Pada akhirnya, ia tewas."
Yeo Wool terkejut.
"Tidak ada cara untuk menghentikan takdir cinta kecuali kau menghindarinya." lanjut So Jung.
"Jadi kau menyuruhku sendirian sampai mati?" tanya Yeo Wool kesal.
So Jung tersenyum. "Kau anak yang baik. Jika kau mau bersabar, aku yakin kau akan bertemu orang yang baik."
"Kau sama sekali tidak membuatku senang." Yeo Wool pergi meninggalkan So Jung dengan kecewa.
"Sebuah pohon peach di saat bulan sabit muncul adalah tanda yang buruk untukmu." ujar So Jung. "Jika kau bertemu seseorang disana, kau harus menghindarinya dengan cara apapun. Kau mengerti?"
Tuan Park menerima sepucuk surat dan bersiap-siap pergi dengan tergesa-gesa. Ia berpamitan dengan istrinya dan pergi.
Kelihatannya Nyonya Park punya rencana buruk untuk Kang Chi.
Di sisi lain, Tae Seo memaksa Kang Chi mengerjakan pekerjaan penginapan.
"Kita kehilangan 50 koin karena kau, jadi kau harus membayar hutangmu." ujar Tae Seo.
"Berikan aku pekerjaan fisik." ujar Kang Chi. "Bagaimana jika membersihkan kandang?"
"Duduk." kata Tae Seo, tenang namun menusuk.
Kang Chi langsung duduk diam.
"Jangan bergerak dari sana sampai kau menyelesaikan pekerjaanmu." ujar Tae Seo. "Kau mengerti?"
Kang Chi kesal dan menggebrak meja. Meja tersebut malah patah.
Pelayan Chung Jo menyerahkan sebuah surat pada Kang Chi. Ia tidak mengatakan apapun dan berjalan pergi.
Pelayan tersebut diperintahkan oleh Ibu Chung Jo.
Kang Chi membaca surat itu dan kelihatan terkejut.
Tuan Park datang ke kediaman Dam Pyung Joon.
Untuk mengingatkan, Dam Pyung Joon ini adalah orang yang membunuh Wol Ryung dan merupakan ayah dari Dam Yeo Wool.
Tae Seo tertawa memikirkan Kang Chi pasti sudah ketiduran di ruangan kerja.
Ketika ia masuk ke ruangan tersebut, ruangan itu kosong. Kang Chi tidak ada disana.
Tae Seo menarik napas panjang. "Dasar bocah itu..."
Saat itu, Kang Chi sedang berada disuatu tempat. Tempat tersebut gelap dan ada sebuah rumah tua seperti gudang.
"Chung Jo, ini aku." ujar Kang Chi. "Apa kau di dalam?"
Tidak lama, pelayan Chung Jo keluar dari dalam rumah.
"Gob Dan!" seru Kang Chi. "Ada apa ini? Kenapa Chung Jo ingin bertemu denganku disini?"
Gob Dan kelihatan takut. "Ia ada didalam." katanya. "Tanyakan saja sendiri."
Kang Chi masuk ke dalam mencari Chung Jo. Namun bukan Chung Jo yang ditemuinya, melainkan Ibu Chung Jo.
"Beraninya kau menyukai putriku!" ujar Nyonya Park.
"Maafkan aku." kata Kang Chi. "Aku tulus menyukai Chung Jo. Aku memang orang rendahan, tapi aku tetap memiliki ketulusan."
Nyonya Park bertambah marah mendengar penjelasan Kang Chi. Ia memanggil semua pengawalnya keluar.
Tuan Park berbincang dengan Pyung Joon.
"Apa katamu?!" seru Tuan Park terkejut. "Bi Joo menyebabkan masalah? Ia adalah asisten menteri di Hanyang, kenapa mendadak melakukan itu?"
"Bukan mendadak." ujar Pyung Joon. "Sejak dua bulan yang lalu, ada masalah pembunuhan di Jin Joo dan pembunuhan itu berlanjut ke propinsi di selatan. Kami mengirim orang untuk melakukan investigasi. Namun orang itu dibunuh secara brutal. Mayatnya ditemukan di dekat penginapanmu."
"Jadi, pembunuhan itu berkaitan dengan Bi Joo?" tanya Tuan Park.
Pyung Joon mengatakan bahwa sudah banyak orang yang mati. "Dan kurasa, kau yang selanjutnya. Penginapan Ribuan Tahun milikmu."
Di waktu yang sama, Jo Gwan Woong dan arak-arakannya tiba di kota.
Gon dan Yeo Wool melihat kedatangan mereka, kemudian mengirimkan pesan lewat burung merpati.
Kang Chi diikat dan dipukuli habis-habisan.
"Pilih salah satu." kata Nyonya Park. "Meninggalkan penginapan secara sukarela dan jangan pernah kembali."
"Penginapan itu adalah rumahku dan keluargaku. Kemana aku bisa pergi?" seru Kang Chi.
"Jika kau tidak mau pergi, maka akulah yang akan membuatmu tidak pernah kembali." ancam Nyonya Park.
Nyonya Park memerintahkan pengawalnya untuk memukuli Kang Chi kemudian membuangnya.
Kang Chi melarikan diri. Dengan kekuatannya, ia berhasil melepaskan dirinya dari ikatan.
Gon dan Yeo Wool berjalan pulang melewati hutan.
Mendadak Gon mendengar suara.
"Kelihatannya suara seseorang." ujar Yeo Wool. "Aku akan kesana, kau kesebelah sana."
Gon dan Yeo Wool berpisah jalan.
Suara tersebut tidak lain adalah suara Kang Chi yang sedag berkelahi dengan pengawal Nyonya Park.
"Tangkap dia tanpa menyakitinya terlalu parah." perintah Pimpinan Pengawal.
Kang Chi terjatuh karena serangan pengawal.
Tiba-tiba Yeo Wool datang dengan mengenakan topi cadar.
"Bisa-bisanya kalian mengepung orang tak bersenjata." kata Yeo Wool. "Apakah kalian berkaitan dengan pembunuhan di propinsi selatan?"
"Jangan ikut campur." ujar pimpinan pengawal.
"Maaf, tapi jika aku sudah ikut campur maka aku harus melihat akhirnya."
Terjadi pertarungan sengit antara Yeo Wool dan para pengawal.
Kang Chi berusaha mengembalikan kesadarannya yang hampir menghilang.
Ketika Kang Chi hampir jatuh pingsan, Yeo Wool menarik tangannya dan melarikan diri.
Para pengawal hendak mengejar, namun mendadak Gon muncul menghadang jalan mereka.
"Siapa kau?!"
"Aku akan menjawab dengan pedangku." ujar Gon.
Pyung Joon menawarkan anak buahnya untuk melindungi Tuan Park di penginapan.
Saat sedang melarikan diri, topi Yeo Wool terlepas dan rambut panjangnya terurai.
Samar-samar, Kang Chi melihatnya.
"Chung Jo.." pikirnya dalam hati. "Apakah kau Chung Jo?"
Tiba-tiba, seseorang menghadang jalan mereka.
Yeo Wool bersiap mengeluarkan pedang, namun Kang Chi langsung berbalik melindungi Yeo Wool sembari menusuk si penyerang.
Yeo Wool terkejut.
Kang Chi menyentuh wajah Yeo Wool, mengiranya Chung Jo.
"Jangan cemas." ujar Kang Chi. "Aku, Kang Chi, akan melindungimu."
Kang Chi lalu jatuh pingsan di pelukan Yeo Wool.
Yeo Wool terdiam, mengamati bulan sabit dan pohon peach dihadapannya.

3 comments:

Citra Apsara said...

Penasaran sma kelanjutanny ><
Ditunggu eps 4nya ^^

Chingu, tolong aku yaa..
Tolong tinggalkan komentar seperti ini : I like Citra Apsara's post. I vote her.
Tolong tinggalkan komentar itu di post ini http://myheavenofbooks.blogspot.com/2013/04/bbi-2nd-anniversary-giveaway-hop.html
Jebal :))

Aku sudah jadi followers dan sudah meninggalkan beberapa komentar di sini. Jadi, tolong bantu aku yaa :)
Jeongmal gomawo^^

enNa~Renessme said...

Oh tidakkkkk
Lamaran eh ramalan sujong terbuktiiiiiii
Seruuuu nexttt

ernimulyandari said...

Yang mau dibunuh Seo Hwa itu bukan Tuan Park tapi Tuan Jo Gwan Woong...??? *kalo liat dari picture-nya... ;)
Iya bukan chingu...????

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda