Hime no Sarange: All about Korean Drama: Sinopsis Gu Family Book Episode 6

Sunday, April 28, 2013

Sinopsis Gu Family Book Episode 6

"Kang Chi, kenapa kau memukuli teman-temanmu?" tanya Tuan Park pada kang Chi kecil.
"Mereka memanggilku anak yatim sungai." jawab Kang Chi dengan wajah babak belur.
"Apa kau malu karena ditemukan di sungai?" tanya Tuan Park.
"Ya." jawab Kang Chi.
Tuan Park mendekati Kang Chi dan menggenggam tangannya.
"Dengar, Kang Chi." ujarnya lembut. "Kurasa itu adalah anugerah. Jika kau tidak ada di sungai itu, aku tidak akan pernah bertemu denganmu."
Kang Chi menangis.
"Keluarga bukan hanya ada di darah, namun juga ada di hati." kata Tuan Park. "Dan di hatiku, kau adalah putraku. Kau mengerti?"
Kang Chi mengangguk.
Tuan Park berkata pada anak-anak yang mengejek Kang Chi.
"Jangan panggil Kang Chi anak yatim piatu." ujarnya. "Jika kalian mengejeknya, maka kalian juga mengejekku."
Kini, Tuan Park tewas di depan mata Kang Chi.
"Jangan lupa kau adalah putraku." ujar Tuan Park sebelum meninggal. "Jaga Tae Seo dan Chung Jo."
"Ayaaahh!" teriak Tae Seo.
Chung Jo menangis dan Nyonya Park jatuh pingsan.
Kang Chi marah besar dan matanya berubah.
Muncul angin yang sangat kencang.
Sung Jo, Yeo Wool dan Gon merasakan hal itu.
Yeo Wool dan Gon bergegas pergi untuk melihat.
"Aku akan membunuhmu." ujar Kang Chi, memandang tajam pada Gwan Woong. "Aku akan membunuh kalian semua!!"
Kang Chi maju untuk menyerang, namun ia dihentikan oleh So Jung yang mendadak muncul.
Kekuatan Kang Chi tidak terkendali.
So Jung menusukkan punggung tongkatnya ke perut Kang Chi.
Perlahan, angin kencang menghilang. Semua orang mulai bisa membuka mata. Dan disana, Kang Chi sudah menghilang bersama So Jung.
Tae Seo tidak mempedulikan apa-apa. Ia berjalan gontai mendekati tubuh ayahnya yang tidak bergerak.
"Ayah..." tangisnya. "Ayah!"
Tae Seo menutup mata ayahnya.
Keesokkan harinya, Pyung Joon menerima kabar bahwa Park Moo Sol sudah tewas karena dituduh memberontak.
Pyung Joon langsung menyampaikan kabar ini pada Lee Soo Shin.
Seluruh keluarga Park di tangkap.
"Cepat jalan!" seorang polisi menarik tangan Chung Jo hingga gadis itu terjatuh di tanah.
Tae Seo hendak menolong adiknya, tapi prajurit melarang.
Seorang polisi lain menarik kerah baju Chung Jo. "Lakukan apa yang kuperintahkan!"
"Jauhkan tanganmu dariku!" seru Chung Jo.
Polisi itu menampar wajah Chung Jo.
"Jangan bercanda!" seru seorang warga. "Park Moo Sol seorang pemberontak? Tidak mungkin!"
Polisi itu mengeluarkan pedangnya. "Apa kalian berpihak pada pemberontak?!" serunya. "Jika ada yang berani membuka mulut, maka aku akan memenggal kepalanya!"
Warga takut dan bungkam.
"Ayo jalan!" perintah polisi.
Gerobak untuk mengangkut jenazah Tuan Park hendak di jalankan, namun sapi enggan membawa gerobak tersebut. Sapi itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.
"Kubilang jalan!" perintah si polisi.
"Tapi sapinya tidak mau bergerak!"
Polisi memerintahkan keempat anak buahnya yang lain untuk mendorong gerobak, namun gerobak itu tetap tidak bergerak sejengkal pun.
"Minggir kalian!' teriak Nyonya Park, berjalan mendekati jenazah Tuan Park.
"Kau tidak mau pergi?" tanya Nyonya Park pada suaminya. "Kau ingin tetap bersama kami? Semua sudah berakhir. Sudah waktunya untuk pergi. Semua luka dan penderitaanmu sudah lenyap sekarang. Waktunya untuk pergi."
Semua orang menangis sedih.
Chung Jo mendekati dan menyentuh jenazah ayahnya.
Tae Seo dan Han Woo maju untuk mendorong gerobak jenazah ayahnya. Perlahan, gerobak itu berjalan.
Semua warga menangis dan menghormati jenazah Tuan Park ketika gerobak itu berjalan melewati mereka.
Polisi di kota memasang pengumuman buronan. Mereka mencari Choi Kang Chi dan menuduhnya sebagai pembunuh Tuan Park.
"Choi Kang Chi yang membunuh Tuan Park?!" seru Yeo Wool kaget. "Tapi semua orang melihat yang menusuknya adalah anak buah Jo Gwan Woong!"
"Mereka memanipulasi publik." ujar Gon. "Tuan Park adalah orang yang ternama di kota. Pemberontak atau bukan, mereka harus menemukan seseorang yang bertanggung jawab atas kematiannya."
"Jadi mereka menggunakan Kang Chi untuk menutupi hal yang sebenarnya." ujar Yeo Wool.
"Dia meghilang tiba-tiba." ujar Gon. "Hal itu tidak baik."
Pihak kepolisian membuat pengumuman bahwa mereka akan memberi hadiah bagi siapa yang bisa menyerahkan kepala Choi Kang Chi.
Warga mempercayai berita bohong itu dengan mudah.
So Jung hanya bisa mengamati diam-diam.
Yeo Wool bersikeras untuk mencari Kang Chi.
Gon mengatakan agar mereka seharusnya menyusun rencana terlebih dahulu bersama Pyung Joon, namun Yeo Wool menolak. Terlalu memakan banyak waktu jika mereka harus menyusun rencana dulu.
"Tadi malam kita gagal menyelamatkan Tuan Park!" seru Yeo Wool emosi. "Jika Kang Chi sampai tertangkap, kita akan lebih terlihat tidak berguna!"
"Lalu mau apa jika kau menemukannya?" tanya Gon. "Kau akan menyembunyikannya?"
"Iya, jika aku bisa."
"Dan kau akan tertangkap juga sebagai komplotan?" tanya Gon lagi. "Dan tentu saja akan melibatkan ayahmu dan lembaga pelatihan. Apa kau berpikir mengenai itu?"
"Pertama-tama, aku harus menemukannya dulu." ujar Yeo Wool bersikeras. "Setelah itu, aku baru akan mencari solusi."
"Kenapa?" tanya Gon. "Kenapa kau begitu peduli padanya?"
"Karena aku berhutang nyawa padanya. Dua kali. Aku tidak bisa tidak peduli."
Pihak kepolisian ingin membawa Tae Seo untuk diinterogasi.
Nyonya Park melarang mati-matian.
"Tidakkah cukup kalian membuat suamiku yang tidak bersalah tewas?!" serunya histeris. "Sekarang kalian ingin mengambil putraku!"
Nyonya Park maju melindungi Tae Seo. "Bawa aku saja!" teriaknya. "Bunuh aku saja!"
"Aku tidak apa-apa, Ibu." Tae Seo menenangkan. "Aku akan baik-baik saja."
Nyonya Park menangis, memeluk Tae Seo.
Tae Seo dibawa ke suatu tempat. Disana banyak sekali peralatan untuk menyiksa.
Diam-diam, Gwan Woong juga berada disana untuk menyaksikan 'interogasi' Tae Seo.
Semua anggota penginapan Tuan Park dikurung dalam penjara.
"Kenapa Kang Chi pergi?" gumam Han Noh.
Han Woo hanya bisa menarik napas panjang.
Mendadak terdengar suara teriakan Tae Seo.
Nyonya Park menangis dan berteriak-teriak pada penjaga, namun penjaga tidak memedulikanya.
Chung Jo menutup telinga ibunya. "Jangan dengar, Ibu." ujarnya. "Kuatlah, Ibu. Kita harus kuat."
"Bunuh saja aku!" teriak Nyonya Park. "Aku sudah tidak tahan lagi! Tae Seo!"
Nyonya Park jatuh pingsan.
Semua pelayan menangis.
"Diam kalian!" teriak Chung Jo. "Jangan menangis lagi! Jangan menangis! Kita tidak boleh lemah! Kita harus kuat! Kita harus bertahan!"
Teriakan Tae Seo terus terdengar kencang.
"Kang Chi, dimana kau?" ujar Chung Jo dalam hati, menghapus setiap tetesan air mata yang keluar.
Kang Chi terbangun di sebuah gua di hutan. Gua tempat tinggal ayahnya, Wol Ryung.
Ia keluar untuk melihat tempat apa itu.
"Jadi kau sudah bangun?" So Jung muncul dari belakang. "Bagaimana perutmu? Pasti sakit."
Kang Chi teringat kejadian tadi malam.
"Tuan Besar!" serunya. "Bagaimana keadaan Tuan? Tae Seo? Chung Jo? Bagaimana dengan anggota keluarga yang lain? Kenapa kau membawaku kemari?"
"Aku membawa makanan dari kota." ujar So Jung, seakan tidak mendengar perkataan Kang Chi. "Kau pasti lapar."
Kang Chi berbalik, beranjak pergi.
"Tidak ada yang bisa kau lakukan saat ini!" seru So Jung. "Kembali kesana tidak akan merubah apapun. Lupakan soal penginapan itu. Tinggallah disini sampai 10 hari kedepan."
"Penginapan itu adalah rumah dan keluargaku!" seru Kang Chi marah. "Melupakan dan diam disini tanpa melakukan apa-apa?!"
"Aku sudah memperingatkanmu tapi kau tidak mau mendengar!" seru So Jung. "Aku sudah mengatakan padamu agar meninggalkan penginapan sebelum matahari tenggelam. Tapi, apa kau mau mendengarkan? Jika kau melakukan itu, Tuan Park tidak akan mati. Kini saatnya kau mendengarkan perkataanku, sebelum semuanya memburuk."
"Tidak!" jawab Kang Chi, berbalik pergi.
"Itu adalah keinginan terakhir ibumu!" teriak So Jung.
Kang Chi berhenti berjalan.
"Ibuku?" ulang Kang Chi. "Kau mengenal ibuku?"
"Bukan hanya itu. Aku adalah sahabat ayahmu."
Tae Seo disiksa habis-habisan.
"Ck ck ck... Lihat dirimu." ujar Gwan Woong mengejek. "Seharusnya waktu itu kau berpikir dulu sebelum bicara denganku. Keputusanmu yang salah menyebabkan ayahmu mati."
"Aku akan membunuhmu!" seru Tae Seo. "Aku akan membuatmu membayar kematian ayahku."
"Banyak orang yang mengatakan itu padaku." ujar Gwan Woong santai. "Mereka juga selalu mengatakan akan membunuhku."
Gwan Woong menanyakan apakah anak buahnya berhasil menemukan Kang Chi. Ia merasa penasaran dengan mata Kang Chi yang mendadak berubah.
Pengawal Gwan Woong menebak kekuatanya itu adalah berkat gelang jimat untuk meningkatkan kekuatan.
"Aku penasaran mengenai dia." ujar Gwan Woong. "Aku ingin ia ditangkap, bukan dibunuh."
Gwan Woong ingin anggota keluarga Park dijual sebagai budak dan ia ingin membeli Penginapan Ribuan Tahun. Gwan Woong menyogok Kepala Polisi untuk melakukan hal itu.
Tae Seo dibawa ke penjara. Ia bermandikan darah.
"Dimana Kang Chi?" tanya Tae Seo.
"Ia melarikan diri meninggalkan kita." kata pelayan penginapan.
Chung Jo dan Tae Seo hanya bisa diam.
Bong Chool mengincar Kang Chi untuk mendapatkan hadiah. Ia mengikuti Yeo Seo dan Gon. Tapi tentu saja mereka ketahuan.
Ketika Gon sedang mengurusi Bong Chool, Yeo Wool merasa ada orang lain yang bergerak di sekitar mereka. Ia bergegas mengikuti orang itu.
Rupanya itu jebakan.
Orang tersebut sengaja membuat Yeo Wool mengikutinya, kemudian mengepungnya.
Yeo Wool berlari menyelamatkan diri.
Mendadak seseorang membekap mulutnya dan menariknya. Dengan sigap, Yeo Wool menangkis dan mengeluarkan belatinya. Tapi ia berhenti karena orang tersebut rupanya adalah Kang Chi.
Kang Chi menarik Yeo Wool dan bersembunyi di balik batu.
Para pengejar tidak bisa menemukan mereka dan pergi.
"Tuan Dam, kau terlihat cantik dari dekat." kata Kang Chi. "Semua orang pasti mengira kau wanita."
Yeo Wool berkata bahwa Kang Chi sedang dicari-cari oleh polisi dengan poster buronan.
Gon tiba-tiba datang dan memukul Kang Chi.
"Bukan saatnya berkelahi!" seru Yeo Wool. "Jenazah Tuan Park sudah berada diluar dua hari dan keluarganya hampir mati karena interogasi. Semua orang berpikir kau yang membunuhnya kemudian melarikan diri. Semua orang ingin menangkapmu!"
Kang Chi melepaskan Gon. Ia meneteskan air mata.
"Kita cari tempat aman untuk beristirahat." ujar Yeo Wool. "Setelah itu, kita cari cara membuktikan kalau kau tidak bersalah."
Kang Chi tidak memedulikan ajakan Yeo Wool. Ia tetap bersikeras pergi ke penginapan.
"10 hari." ujar So Jung. "Tinggallah sepuluh hari disini dan aku akan menjelaskan semuanya."
"Aku tidak peduli." Kang Chi teringat percakapannya dengan So Jung. "Mereka sudah mencampakkan aku selama 20 tahun. Dan sekarang aku harus melupakan keluarga yang sudah mengasuhku?"
"Mereka tidak menyampakkanmu!" seru So Jung. "Semua diluar kendali mereka!"
"Apapun itu, aku tidak peduli!" teriak Kang Chi. "Biarkan aku pergi! Aku harus menyelamatkan keluargaku!"
Kang Chi kembali ke penginapan. Keadaan disana sangat berantakan.
Dari Eok Man, Kang Chi mengetahui kalau seluruh anggota keluarga dikurung dalam penjara.
Eok Man meyakinkan Kang Chi kalau kematian Tuan Park bukan salah Kang Chi.
Kang Chi hanya mengepalkan tangannya erat dan pergi menuju penjara.
Para polisi datang dan menyeret Chung Jo dan ibunya keluar.
"Lepaskan aku!" seru Chung Jo. "Apa yang kalian lakukan?!"
"Putra Park Moo Sol akan dieksekusi hari ini." kata polisi. "Kau akan dijual ke rumah gisaeng. Semua pelayan akan dijual sebagai budak."
"Aku tidak mau!" seru Chung Jo. "Aku menjadi saksi mata! Kau menjatuhkan hukuman tanpa pengadilan yang adil! Kirim kasus ini ke pemerintah dan aku akan membersihkan nama ayahku!"
"Kami sudah mendapatkan satu bukti." kata polisi. "Bukti apa lagi yang kami butuhkan."
"Kau menjatuhkan hukuman hanya berdasarkan satu bukti?" tanya Tae Seo. "Keadilan macam apa itu?!"
"Kau tidak mengerti juga!" seru polisi. "Hukum dibuat oleh orang yang berkuasa. Hanya ada satu keadilan disini, karena itulah kau akan mati besok.
Chung Jo diseret pergi.
"Kakak!" teriak Chung Jo. "Kakak!"
"Chung Jo!" Tae Seo tidak dapat berbuat apa-apa. Ia jatuh lemas. "Chung Jo... Adikku..." Kemudian jatuh pingsan.
Bong Chool sempat melihat Kang Chi di hutan. Ia menemui Gwan Woong untuk melapor keberadaan Kang Chi.
Chung Jo dikurung di kereta kurungan. Karena si penjaga mules, ia ditinggal dulu ke toilet.
"Kang Chi, tolong aku..." rintih Chung Jo.
Seketika itu juga, tangan Kang Chi menyentuh tangannya.
"Maaf aku terlambat." kata Kang Chi. "Aku akan membebaskanmu."
"Bebaskan Tae So dulu." kata Chung Jo. "Ia akan dieksekusi besok pagi. Ia akan mati."
"Aku akan menyelamatkanmu dulu." tolak Kang Chi.
"Tidak ada waktu lagi. Jika kau menyelamatkanku, kau mungkin akan tertangkap. Dengan begitu, kita akan gagal." kata Chung Jo. "Jadi, selamatkan kakakku dulu. Tolonglah..."
Dengan berat hati, Kang Chi terpaksa setuju.
"Tunggulah aku, aku akan menyelamatkanmu." janji Kang Chi. "Apapun yang terjadi, aku akan menyelamatkanmu."
Chung Jo sebenarnya ketakutan untuk melepas Kang Chi. Ia mencengkeram tangan Kang Chi.
Kang Chi mengecup keningnya dan pergi.
"Aku akan menunggu." ujar Chung Jo.
Diam-diam, ada seseorang yang mengintai mereka.
Kang Chi menerobos penjara.
"Aku akan menggendongmu jika kau tidak keberatan." kata Kang Chi pada Nyonya Park.
"Tinggalkan saja aku." ujar Nyonya Park. "Aku hanya akan memperlambat kalian. Aku lebih memilih menjadi budak daripada melihat kalian semua tertangkap."
Semua pelayan memberi hormat pada Nyonya Park.
"Lupakan soal aku dan bersihkan nama ayah kalian. Dengan begitu, arwahnya bisa tenang." ujar Nyonya Park.
"Aku akan melindungi mereka." janji Kang Chi. "Aku akan melindungi Tae Seo dan Chung Jo dengan nyawaku. Aku berjanji."
"Kumohon padamu, Kang Chi... Tolong lindungi Tae Seo dan Chung Jo."
Han Noh juga memutuskan untuk menemani Nyonya Park.
Kang Chi dan Han Woo memapah Tae Seo keluar.
Di luar, mereka dihadang oleh pasukan.
Kang Chi dan Han Woo terpaksa melawan mereka.
Han Woo menyuruh Kang Chi pergi membawa Tae Seo sementara ia akan melawan pasukan.
Kang Chi melarikan diri, menghindari pasukan pengejar.
Han Woo terbunuh oleh anak buah Gwan Woong.
Tanpa disangka-sangka, datang bantuan dari pengemis yang dulu pernah ditolong Tuan Park dan juga Yeo Wool. Pengemis itu menawarkan tempat untuk bersembunyi.
"Bisakah kau menyembunyikan mereka satu atau dua hari?" tanya Yeo Wool pada si pengemis. "Anak buahku akan segera datang."
"Tentu saja." jawab pengemis.
Yeo Wool berpaling pada Kang Chi. "Kau dan aku akan mengalihkan perhatian mereka." ujarnya.
Kang Chi merasa sangat berterima kasih pada Yeo Wool.
Mereka berlari untuk mengalihkan perhatian para prajurit dari Tae Seo.
"Tunggulah aku, Chung Jo." janji Kang Chi. "Aku akan segera menyelamatkanmu."
Polisi yang akan membawa Chung Jo sudah kembali dari toilet.
"Kang Chi..." Chung Jo mulai panik.
"Ayo kita jalan." ujar polisi itu.
"Cepatlah Kang Chi!" teriak Chung Jo dalam hati.
Di lain sisi, Kang Chi dikepung oleh prajurit.
Salah seorang prajurit mengincar gelang Kang Chi, kemudian memutuskan gelang tersebut.
Seketika itu juga, bumi bergoncang, angin bertiup sangat kencang dan terjadi gerhana.
Para prajurit menusuk kaki, tangan, dada dan punggung Kang Chi.
"Hentikan." seru Kang Chi, namun suaranya tidak bisa keluar. "Aku harus pergi. Chung Jo menungguku. Apa yang terjadi? Apa aku akan mati? Tubuhku merasa panas."
Yeo Wool melihat Kang Chi sekarat dan hendak menolongnya. Namun muncul cahaya beterbangan seperti kunang-kunang. Cahaya itu mengelilingi tubuh Kang Chi.
Kang Chi berubah menjadi siluman. Luka-lukanya pun sembuh seketika.
Yeo Wool terlonjak. "Choi Kang Chi..."

6 comments:

anni said...

whaaaaaaa tambah penasaran kelanjutannya,,unni smangat y wat lanjutin sinopsisny d tungguuuu bgt hehe

fiyah hun said...

semangattt....

fiyah hun said...

semangatt.....

fiyah hun said...

semangatt....
trusssss buat bikin sinopsinya...

fiyah hun said...

semangat......

fiyah hun said...

semangattttt...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Copyright 2009 Phe Phe All Right Reserved. Crafted by Putri Fitriananda